Tangan Irfan terasa dingin saat bersentuhan dengan kulitku. Sebuah sengatan halus menjalar ke seluruh tubuh, membuat bulu kudukku meremang. Ini bukan sentuhan romantis yang biasa digambarkan dalam novel-novel, melainkan sebuah sentuhan transaksional, sebuah kesepakatan bisu yang mengikat kami berdua dalam jaring kebohongan.
Aku menatap tanganku yang berada dalam genggamannya dengan perasaan campur aduk. Ragu, takut, dan sedikit... nyaman? Nggak, nggak boleh ada perasaan nyaman, batinku tegas, mencoba menepis perasaan aneh yang mulai menyusup. Ini cuma kontrak. Cuma akting.
Kami berjalan beriringan menuju area kampus yang lebih ramai. Irfan menggenggam tanganku dengan erat, seolah-olah kami adalah pasangan kekasih yang paling bahagia di dunia. Dia bahkan sesekali melemparkan senyum tulus ke arahku, senyum yang berhasil membuat beberapa mahasiswi yang kami lewati menatap kami dengan tatapan iri.
Gila, batinku heran. Dia jago banget aktingnya.
Aku sendiri mencoba menyesuaikan diri dengan peran baruku. Aku mencoba membalas senyumnya, mencoba terlihat nyaman berada di dekatnya, mencoba mengabaikan debaran jantung yang semakin menggila setiap kali kulit kami bersentuhan.
Kami tiba di sebuah kafe kecil di dekat kampus, tempat yang Irfan pilih untuk menyusun detail kontrak kami. Suasana kafe cukup tenang, hanya ada beberapa pengunjung yang sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
Irfan memesan dua cangkir kopi hitam dan sebuah roti bakar cokelat. Setelah pelayan pergi, dia mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dan sebuah pulpen dari tasnya.
"Oke, mari kita buat aturannya," katanya, suaranya kembali terdengar datar dan serius, tanpa jejak senyum hangat yang tadi ditunjukkannya di depan umum.
Aku mengangguk, siap mendengarkan syarat-syarat yang akan diajukannya.
"Pasal satu: Batasan fisik," Irfan mulai menulis. "Pegangan tangan boleh, tapi cuma di depan umum. Pelukan? Mungkin kalau ada momen yang benar-benar mendukung, kayak saat pengumuman beasiswa atau di acara formal kampus. Ciuman? Nggak ada. Kecuali kalau keadaan mendesak dan benar-benar terpaksa buat akting kita."
Aku setuju dengan aturan itu. Sentuhan fisik yang minimal akan membuatku lebih mudah menjaga jarak emosional.
"Pasal dua: Aturan komunikasi," Irfan melanjutkan. "Di depan umum, kita harus panggil dengan sebutan 'Sayang' atau apa pun yang terdengar romantis. Kita harus sering interact di media sosial, saling komen di foto satu sama lain, atau bahkan posting foto bareng sesekali. Tapi di belakang layar, komunikasi kita cuma sebatas koordinasi soal jadwal akting dan info soal beasiswa."
Sekali lagi, aku mengangguk. Aturan ini masuk akal. Kita perlu menciptakan ilusi kemesraan di media sosial untuk meyakinkan pihak kampus dan mahasiswa lain.
"Pasal tiga: Waktu kontrak," Irfan menulis lagi. "Kontrak ini berlaku sampai beasiswa 'Pasangan Inspiratif' diumumkan. Kalau kita dapet, kontrak berlanjut sampai masa beasiswa habis. Kalau nggak, kontrak langsung batal."
Aku menarik napas panjang. Ini adalah pasal yang paling penting bagiku. Kelangsungan hidupku di kampus ini bergantung pada beasiswa itu.
"Pasal empat: Larangan baper," kata Irfan, suaranya terdengar sedikit lebih berat. "Siapa pun yang jatuh cinta duluan, harus membayar ganti rugi sebesar dua kali lipat dari nilai beasiswa yang bakal kita dapet."
Kalimat itu seperti palu godam yang menghantam dadaku. Jatuh cinta? Dengan Irfan? Hahaha, konyol, batinku tertawa miris. Irfan adalah tipe pria yang paling kuhindariβpopuler, kaya, dan menyimpan rahasia besar dari masa lalu. Dia adalah paket lengkap penderitaan yang tidak akan pernah sudi kumasuki.
"Gue setuju," jawabku tegas, menatap matanya dengan tatapan penuh keyakinan. "Gue nggak akan pernah jatuh cinta sama lo."
Irfan menatapku lama, seolah-olah sedang mencari tanda-tanda keraguan di matanya. Sesaat kemudian, dia tersenyum tipis, senyum yang berbeda dari senyum aktingnya tadi. Senyum ini terasa lebih... tulus?
"Bagus," katanya singkat. Dia kemudian menyodorkan buku catatan dan pulpennya ke arahku. "Tanda tangan di sini."
Aku mengambil pulpen dan menandatangani di bawah aturan-aturan yang telah kami sepakati. Tanda tangan itu terasa seperti stempel kesepakatan kami dengan iblis. Sebuah kesepakatan yang mungkin akan membawaku menuju masa depan yang cerah, atau justru menjerumuskanku ke dalam jurang penderitaan yang lebih dalam.
Irfan mengambil kembali buku catatannya dan memasukkannya ke dalam tas. "Oke, kesepakatan sudah dibuat. Sekarang, ayo kita mulai akting kita."
Dia berdiri dari duduknya dan mengulurkan tangannya lagi. Kali ini, genggamannya terasa lebih hangat, seolah-olah dia benar-benar ingin melindungiku.
Nggak, Ta. Jangan tertipu, aku mengingatkan diri sendiri. Ini cuma akting. Cuma peran.
Kami berjalan keluar dari kafe, beriringan menuju kampus. Irfan kembali menggenggam tanganku dengan erat, sesekali merangkul bahuku dengan lembut. Di depan umum, kami adalah pasangan kekasih yang paling sempurna. Tapi di balik semua itu, ada jurang pemisah yang lebar, jurang pemisah yang penuh dengan rahasia, ketakutan, dan larangan untuk saling mencintai.
Saat kami berjalan melewati gerbang kampus, aku tanpa sengaja melihat seorang mahasiswi menatap kami dengan tatapan penuh rasa ingin tahu. Wajahnya terlihat familiar, seolah aku pernah melihatnya di panitia seleksi beasiswa.
Debaran jantungku kembali menggila. Panitia beasiswa? Apakah dia mencurigai kita?
Aku melirik Irfan, tapi wajahnya terlihat tenang dan percaya diri, seolah-olah dia sudah terbiasa dengan sorotan publik.
"Kenapa?" tanyanya lembut, suaranya terdengar penuh perhatian, akting yang sempurna untuk peran pacar idaman.
"Nggak apa-apa," jawabku, mencoba tersenyum, meski senyumku terasa kaku.
Irfan semakin mempererat rangkulannya di bahuku. "Tenang aja," bisiknya pelan, hanya aku yang bisa mendengarnya. "Selama kita kompak, nggak ada yang perlu lo khawatirin."
Kata-katanya seharusnya menenangkanku, tapi entah kenapa, justru membuatku semakin merasa bersalah. Kami sedang bermain-main dengan api, dan aku takut, cepat atau lambat, api itu akan membakar kami berdua.
Aku mendongak, menatap wajahnya yang diterpa sinar matahari sore yang mulai meredup. Wajah yang tampan, karismatik, tapi juga misterius. Wajah seorang pria yang telah membuatku terikat dalam perjanjian tanpa perasaan.
Tiba-tiba, Irfan menghentikan langkahnya. Kami sedang berada di tengah-tengah taman kampus yang cukup ramai. Dia menundukkan wajahnya, mendekatkannya ke wajahku. Jarak di antara kami kini sangat dekat, aku bisa merasakan napasnya yang hangat menerpa kulit wajahku.
Rongga dadaku seolah berhenti berdetak. Apa yang mau dia lakukan? batinku panik.
"Pegang tangan gue lebih erat lagi, Ta," bisiknya lembut, suaranya terdengar seperti sebuah permohonan yang sulit ditolak.
Aku menuruti perintahnya, menggenggam tangannya dengan lebih erat, mencoba menciptakan ilusi kemesraan yang lebih nyata.
Irfan tersenyum tipis, sebuah senyum yang sulit diartikan. Dia kemudian menatap ke arah kerumunan mahasiswa yang sedang memperhatikan kami.
"Kita mulai sekarangβdi depan mereka semua."
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar