Sudah dua minggu sejak namaku dan Irfan resmi tercatat sebagai pendaftar program "Beasiswa Pasangan Inspiratif". Dua minggu pula aku hidup dalam simulasi realitas yang menguras kewarasan.
Rutinitasku berubah drastis. Jika dulu pagiku hanya diisi dengan buru-buru mengejar bus kota dan duduk menyendiri di sudut perpustakaan, kini setiap pukul tujuh pagi, sebuah sedan hitam Eropa selalu sudah terparkir rapi di ujung gang kosanku. Irfan tidak pernah absen. Dia akan berdiri bersandar di pintu mobilnya, mengenakan kemeja yang selalu terlihat licin sempurna, menyodorkan sekotak susu full cream dan sebungkus roti isi untuk sarapanku.
Awalnya, aku menolak keras. Aku berargumen bahwa tidak ada panitia beasiswa yang akan mengawasi kami di gang sempit ini. Namun Irfan, dengan segala keras kepalanya, hanya menjawab singkat, "Panitia punya mata di mana-mana. Biasakan diri lo."
Kini, aku terpaksa terbiasa. Dan kata 'terbiasa' itu adalah racun yang paling mematikan.
Siang ini, kampus terasa lebih terik dari biasanya. Daun-daun pohon ketapang di pelataran fakultas tampak layu, seolah ikut kelelahan menghadapi hawa panas yang menyengat kulit. Aku sedang duduk di gazebo taman tengah, mencoba merevisi draft artikel untuk klien freelance-ku yang lain. Layar laptopku sedikit silau karena pantulan matahari.
Tiba-tiba, bayangan seseorang menutupi layar laptopku. Aku mendongak dan menemukan Irfan berdiri di sana, membawa dua botol minuman isotonik dingin yang bulir-bulir airnya mengembun di permukaan plastik.
"Mata lo bisa rusak kalau ngetik sambil nantang matahari begitu," tegurnya, suaranya mengalun santai. Dia meletakkan satu botol di dekat mousepad-ku, lalu duduk di seberang meja kayu gazebo.
"Di dalam penuh. Kantin berisik. Perpus lagi dibersihin," jawabku seadanya, menggeser layarku sedikit agar tidak terlalu silau. Tanganku refleks meraih botol minuman yang dia bawakan. Sensasi dinginnya langsung menyejukkan telapak tanganku. "Makasih."
"Lo ada kelas lagi habis ini?" tanya Irfan. Dia membuka tutup botolnya dan meneguk isinya. Jakunnya naik turun, sebuah pemandangan yang entah mengapa membuat beberapa mahasiswi di gazebo seberang terang-terangan mencuri pandang sambil berbisik-bisik.
Aku menelan ludah, berusaha mengalihkan pandanganku kembali ke layar laptop. "Ada. Kelas Pak Haryono. Manajemen Strategi. Kenapa?"
"Gue tungguin. Nanti pulangnya bareng. Gue ada jadwal rapat BEM, tapi cuma sebentar."
"Irfan, lo nggak harusβ"
"Sst," potong Irfan cepat, matanya tiba-tiba menatap lurus ke arah jam dua belasku. Ekspresi santainya seketika berubah. Senyum memuja yang selalu ia pakai saat berakting mendadak terpasang sempurna di wajahnya. Tangannya terulur ke seberang meja, mengusap puncak kepalaku dengan lembut. "Ada Vanya sama Riko arah jam dua. Smile, babe."
Dadaku mencelos mendengar panggilan itu, tapi instingku langsung bekerja. Aku mengulas senyum semanis mungkin, menatap matanya dengan pandangan yang kubuat sehangat mungkin.
Vanya dan Riko. Mereka adalah mahasiswa dari Fakultas Hukum yang juga mendaftar program beasiswa yang sama. Vanya, dengan barang-barang branded dari ujung kepala hingga kaki, dan Riko, mahasiswa berprestasi langganan juara debat nasional. Mereka adalah pesaing terberat kami. Dan dari cara mereka berjalan mendekati gazebo kami, aku tahu ini bukan sekadar sapaan basa-basi.
"Wah, wah. Lihat siapa yang lagi pacaran di bawah terik matahari," sapa Vanya dengan nada suara yang dibuat-buat ceria. Dia berdiri di samping meja kami, melipat tangan di depan dada. Riko berdiri di belakangnya, tersenyum simpul yang entah kenapa terlihat sangat merendahkan.
Irfan tidak menarik tangannya dari kepalaku. Dia justru membelai rambutku perlahan sebelum menoleh menatap Vanya. "Hai, Van. Rik. Panas-panas gini tumben kalian keluar dari sarang ber-AC kalian."
"Bosan aja," sahut Riko, suaranya berat dan tertata. Matanya yang tajam menatapku dari balik kacamata frameless-nya. "Gue dengar-dengar kalian berdua makin lengket. Hebat juga lo, Fan, bisa bikin Regita yang terkenal 'anti-sosial' dan cuma peduli sama IPK, sekarang rela buang waktu nongkrong di taman."
Itu bukan pujian. Itu hinaan terselubung. Riko sedang menyudutkanku, mencoba menggoyahkan mental pertahananku.
Aku merasakan rahang Irfan mengeras, tapi sebelum dia sempat membalas, aku meletakkan tanganku di atas tangannya yang berada di atas meja. Sentuhanku menghentikan ketegangannya. Aku menatap Riko dengan senyum yang tak kalah tenang.
"Justru karena Irfan yang minta, Rik," jawabku halus, mengatur nada suaraku agar terdengar seperti wanita yang sedang dimabuk asmara. "Buku-buku sama IPK emang penting buat masa depan. Tapi punya support system yang selalu ada, jauh lebih berharga. Lo pasti ngerti kan rasanya? Secara lo sama Vanya juga selalu kelihatan bareng."
Vanya mendengus pelan, matanya menyipit menilai penampilanku. "Tentu saja. Kami kan memang udah bareng dari maba. Hubungan kami dibangun dari fondasi yang kuat. Bukan yang... tiba-tiba muncul dari hΖ°kuman sosial atau semacamnya."
Skakmat. Vanya tahu soal rumor poin PKAS-ku yang kurang. Dia sengaja melempar umpan untuk melihat apakah kami akan terpancing emosi.
Namun Irfan tertawa pelan. Tawa yang sangat renyah dan terdengar begitu natural. Dia menautkan jari-jarinya di sela-sela jariku, menggenggam tanganku erat di atas meja, mempertontonkannya dengan bangga pada Vanya dan Riko.
"Cinta itu nggak butuh timeline, Van," ucap Irfan santai, namun matanya menatap Vanya dengan peringatan tajam. "Ada yang udah bareng bertahun-tahun tapi ternyata cuma jalan di tempat. Ada yang baru sebentar, tapi rasanya udah kayak nemu rumah. Gue rasa panitia beasiswa juga cukup pintar buat nilai mana pasangan yang beneran saling dukung, dan mana yang cuma... show off."
Wajah Vanya sedikit memerah. Dia kehilangan kata-kata, sementara Riko mendehem canggung, mencoba menyelamatkan situasi.
"Ya, good luck deh buat kalian," kata Riko kaku. "Kita lihat aja nanti pas evaluasi tahap pertama. Duluan, Fan, Ta."
Vanya dan Riko berbalik pergi, langkah mereka terlihat lebih terburu-buru dari sebelumnya.
Begitu punggung mereka menghilang di balik tikungan koridor, aku langsung menarik napas panjang yang sedari tadi kutahan. Bahuku merosot. Aku mencoba melepaskan tautan tangan kami, tapi Irfan menahannya sejenak sebelum perlahan melonggarkan genggamannya.
"Lo keren tadi," puji Irfan tulus. Dia menatapku dengan sorot mata yang berbeda dari tatapan aktingnya barusan. "Gue kira lo bakal ciut digertak si Riko."
"Gue udah terlalu sering direndahkan orang, Fan. Kalau cuma gertakan anak hukum pakai bahasa baku begitu, mental gue udah kebal," jawabku sambil tersenyum kecut. Aku kembali menarik mouse-ku, mencoba fokus pada layar laptop. Namun, tanganku sedikit gemetar. Genggaman tangan Irfan tadi... terasa terlalu nyata. Terlalu melindungi.
Suasana kembali hening. Hanya terdengar ketukan keyboard dan sayup-sayup suara kendaraan dari luar gerbang kampus. Irfan tidak beranjak dari kursinya. Dia malah menyandarkan punggung, melipat tangan di dada, dan memperhatikanku bekerja.
Lima belas menit berlalu. Aku mulai salah tingkah.
"Lo nggak ada kerjaan lain selain ngelihatin gue ngetik kode?" tanyaku tanpa menoleh padanya.
"Nggak," jawabnya santai. "Gue lagi mencoba memahami apa asyiknya layar hitam penuh tulisan alien itu sampai lo betah berjam-jam natap itu daripada natap muka gue."
Sontak aku menghentikan ketikanku dan menatapnya. "Lo sadar nggak sih tingkat kepedean lo itu udah di tahap yang butuh penanganan medis?"
Irfan tertawa. Kali ini bukan tawa yang dibuat-buat untuk menarik perhatian publik. Tawanya lepas, matanya menyipit hingga membentuk lengkungan sempurna, dan ada lesung pipi samar yang muncul di sebelah kiri wajahnya. Dia terlihat... sangat manusiawi. Sangat biasa. Bukan Irfan si bintang kampus yang arogan, melainkan hanya seorang laki-laki biasa yang sedang menggoda teman duduknya.
"Gue serius, Ta. Tadi gue baca sedikit sebelum lo geser layarnya. Const, function, return... kepala gue langsung muter. Gue mending disuruh baca pasal-pasal undang-undang perpajakan ratusan halaman daripada disuruh nyari titik koma yang hilang di barisan kode lo itu." Irfan memijat pelipisnya dengan gaya teatrikal, seolah-olah dia benar-benar pusing. "Gue nggak ngerti gimana otak lo bekerja. Lo itu semacam robot atau apa?"
Aku terdiam. Mataku terpaku pada wajahnya. Pada senyumnya yang masih tersisa, pada rambut depannya yang sedikit jatuh menutupi dahi karena tertiup angin sepoi-sepoi, pada cara bahunya yang lebar terlihat rileks saat berada di dekatku.
Rongga dadaku dipenuhi oleh sensasi hangat yang menjalar perlahan. Rasa lelahku menguap begitu saja. Segala beban pikiranku tentang uang sewa kos, nilai yang terancam, dan tekanan hidup, seolah lenyap tersapu oleh tawa renyahnya. Aku merasa... aman. Aku merasa dijaga. Sesuatu yang sudah lama sekali tidak kurasakan sejak ayah pergi.
Dan sebelum aku menyadarinya, sudut-sudut bibirku tertarik ke atas. Aku tersenyum. Bukan senyum tipis untuk membalas sapaan, bukan senyum palsu untuk mengelabui panitia beasiswa. Sebuah senyum tulus, lebar, dan penuh kelegaan yang murni. Aku menatap matanya, membiarkan diriku tenggelam dalam momen kecil ini.
Irfan yang sedang mengusap tengkuknya tiba-tiba membeku. Tawanya berhenti. Matanya terkunci pada wajahku. Sorot matanya berubah drastis, dari yang penuh canda menjadi tatapan intens yang menyita seluruh oksigen di sekitarku. Dia menatap senyumku seolah itu adalah hal paling langka yang pernah dia lihat di dunia ini.
Hening. Angin seolah berhenti berhembus. Waktu serasa membeku di antara kami berdua.
Di detik itulah, realitas menghantamku dengan keras bak palu godam.
Mataku membelalak pelan. Senyum di bibirku perlahan luntur. Tanganku yang berada di atas keyboard mendadak terasa kebas. Napasku tercekat di tenggorokan.
Apa yang baru saja kulakukan?
Aku baru saja merasa nyaman. Aku baru saja menikmati kehadirannya tanpa memikirkan embel-embel kontrak. Aku baru saja menatapnya sebagai seorang pria, bukan sebagai alat tawar-menawar untuk masa depanku.
Pasal empat terlintas di kepalaku dengan huruf kapital menyala-nyala: Siapa pun yang jatuh cinta duluan, harus membayar ganti rugi sebesar dua kali lipat.
Aku buru-buru menundukkan wajah, menutup paksa layar laptopku dengan gerakan kasar hingga menimbulkan bunyi debuman keras. Irfan terkejut, bahunya sedikit tersentak.
"G-gue harus ke kelas sekarang. Dosennya galak," ucapku terbata-bata, meraup tasku dan memasukkan laptop dengan tangan yang bergetar. Aku bahkan tidak berani menatap matanya lagi.
"Ta? Kelas lo masih setengah jam lagi," suara Irfan terdengar bingung, dia setengah berdiri, mencoba menghentikanku.
"Gue harus ke toilet. Duluan, Fan!"
Tanpa menunggu jawabannya, aku membalikkan badan dan berjalan setengah berlari menjauhi gazebo. Langkahku terburu-buru, mencoba melarikan diri dari tatapannya, dari kehadirannya, tapi yang paling utama... aku mencoba melarikan diri dari perasaanku sendiri yang mulai berkhianat.
Ini gila. Ini tidak boleh terjadi. Aku tidak boleh jatuh cinta pada Irfan. Tidak pada pria yang memiliki segalanya sementara aku tidak punya apa-apa. Tidak pada pria yang menyembunyikan rahasia gelap di balik senyum sempurnanya.
Karena jika aku jatuh, aku tahu pasti... dialah yang akan menghancurkanku hingga tak bersisa.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar