Sinar matahari pagi yang menembus celah gorden kamarku terasa seperti sorot lampu interogasi. Aku mengerjap, menatap langit-langit kamar kosku yang mulai mengelupas akibat rembesan air hujan. Jam di layar ponsel retakku menunjukkan pukul enam pagi. Perutku bergejolak, perpaduan antara asam lambung yang naik karena belum sarapan dan rasa mulas luar biasa akibat kenyataan yang baru saja menghantamku.

Hari ini adalah hari pertamaku menjadi pacar pura-pura seorang Irfan.

Aku bangkit dengan gontai, menyeret langkah menuju meja kayu kecil di sudut ruangan yang merangkap sebagai meja makan, meja rias, sekaligus meja kerjaku. Layar laptop tuaku masih menyala, menampilkan deretan baris kode React dengan latar belakang gelap pekat. Semalaman aku nyaris tidak tidur, mencoba menyelesaikan proyek freelance dari seorang klienβ€”membangun sebuah platform e-commerce untuk membaca novel online. Lumayan, bayarannya bisa kugunakan untuk menyambung hidup bulan ini, sekaligus menabung demi membeli laptop yang lebih mumpuni. Ah, seandainya saja aku punya Macbook Pro keluaran terbaru, proses rendering desain antarmuka ini pasti tidak akan membuat laptopku hang setiap lima belas menit.

Tapi khayalan itu harus kutepis jauh-jauh. Realitasku sekarang adalah: aku butuh beasiswa itu agar tidak diusir dari kampus, dan satu-satunya caraku mendapatkannya adalah dengan membohongi satu fakultas.

Setelah mandi dan mengenakan kemeja flanel kebesaran favoritkuβ€”satu-satunya kemeja yang warnanya belum pudarβ€”serta celana jeans sederhana, aku berjalan menuju halte bus. Udara pagi Tasikmalaya terasa lebih dingin dari biasanya, menyelinap masuk melalui sela-sela kerah bajuku. Sepanjang perjalanan di dalam bus kota yang sesak, kepalaku sibuk menyusun skenario. Bagaimana aku harus bersikap? Bagaimana cara menatap matanya tanpa terlihat seperti sedang menahan napas? Apakah aku harus menggandeng tangannya lebih dulu?

Tiba di gerbang utama kampus, langkahku terasa seberat beton. Ratusan mahasiswa berlalu lalang, mengobrol, tertawa, seolah dunia ini baik-baik saja. Dan di sanalah dia.

Irfan berdiri bersandar di pilar gedung fakultas bisnis. Penampilannya pagi ini benar-benar mendefinisikan kata 'sempurna'. Kemeja navy berlengan pendek yang pas di tubuhnya, celana chino berwarna khaki, dan rambut yang ditata rapi namun terkesan natural. Dia sedang mengecek ponselnya, rahangnya yang tegas terlihat menonjol dari sudut pandangku. Dia bukan pria yang seharusnya berada dalam jangkauanku. Kami hidup di dua orbit yang berbeda; dia matahari yang dikelilingi banyak planet, dan aku hanyalah debu kosmik yang tidak terlihat.

Seolah memiliki radar, Irfan mengangkat wajahnya. Matanya mengunci keberadaanku di antara kerumunan. Selama sepersekian detik, aku melihat tatapan datar dan dingin yang sama seperti kemarin. Namun, hanya dalam sekejap mata, raut wajahnya berubah total. Ujung bibirnya tertarik membentuk senyum lebar yang memancarkan kehangatan luar biasa. Matanya sedikit menyipit, menciptakan lengkungan bulan sabit yang membuat beberapa mahasiswi di dekatnya refleks menoleh dan berbisik-bisik.

Dia berjalan menghampiriku. Setiap langkahnya penuh percaya diri. Aroma sandalwood dan bergamot menyapu indra penciumanku bahkan sebelum dia benar-benar berdiri di hadapanku.

"Pagi, Ta," sapanya, suaranya sedikit direndahkan, memberikan kesan intim yang membuat bulu kudukku meremang.

"P-pagi," balasku terbata. Sialan. Mengapa suaraku harus bergetar?

Tanpa aba-aba, tangan kanannya terulur dan langsung merengkuh jemariku. Hangat. Kontras dengan telapak tanganku yang sedingin es karena gugup. Irfan menundukkan sedikit kepalanya, mendekatkan bibirnya ke telingaku hingga aku bisa merasakan hembusan napasnya.

"Rileks. Jangan kaku kayak kanebo kering. Senyum sedikit, kita lagi ditonton," bisiknya, sangat pelan hingga hanya aku yang bisa mendengarnya. Nadanya memerintah, jauh dari kesan hangat yang dia tampilkan di wajahnya.

Aku menarik napas panjang, memaksa otot-otot wajahku untuk rileks. Kuulas senyum tipis, menatap matanya seolah aku benar-benar senang melihatnya. "Oke," bisikku balik.

"Bagus," balasnya pelan. "Ayo kita mulai pertunjukannya."

Kami berjalan menyusuri koridor utama menuju kantin tengah, rute yang sengaja dipilih Irfan karena itu adalah titik paling ramai di pagi hari. Genggaman tangannya mengerat, sesekali ibu jarinya mengusap punggung tanganku. Sebuah gerakan kecil yang terlalu natural, membuatku nyaris lupa bahwa ini semua sudah tertulis di atas kertas kontrak.

Bisik-bisik mulai terdengar. Seperti dengungan lebah yang perlahan membesar.

"Itu Irfan, kan? Sama siapa dia?"

"Gila, itu cewek anak beasiswa fakultas sebelah bukan sih?"

"Mereka pacaran? Sejak kapan?"

"Bukannya Irfan lagi deket sama anak kedokteran?"

Aku menundukkan pandangan, merasa risih dengan ratusan pasang mata yang menelanjangi penampilanku. Dibandingkan dengan mantan-mantan Irfan yang mungkin memakai barang-barang branded dari ujung kepala hingga kaki, penampilanku benar-benar seperti asisten dosen magang. Namun Irfan justru melakukan hal sebaliknya. Dia menegakkan kepalanya, berjalan dengan bangga, dan sesekali menoleh ke arahku dengan tatapan memuja.

"Jangan nunduk," bisik Irfan lagi sambil merangkul bahuku, menarikku lebih dekat ke tubuhnya. "Lo pacar gue sekarang. Lo berhak jalan dengan kepala tegak."

Entah mengapa, kata-kata itu memberiku sedikit keberanian. Aku menegakkan daguku, membalas tatapan beberapa mahasiswi yang menatapku sinis. Ya, aku pacar Irfan. Setidaknya di atas kertas.

Setibanya di kantin, tantangan sesungguhnya baru dimulai. Di meja sudut yang paling strategis, duduklah sekumpulan mahasiswa populer yang merupakan teman-teman terdekat Irfan. Ada Dimas si kapten futsal yang suaranya selalu paling keras, dan Andien, mahasiswi fashion design dengan lipstik merah merona yang menatapku seolah aku adalah noda di atas karpet putihnya.

Langkahku sempat tertahan, ragu untuk mendekat. Namun Irfan menarikku tanpa henti, membawa kami langsung ke sarang singa.

"Woi, Fan! Sini lo!" panggil Dimas, melambaikan tangan sebelum tawanya terhenti mendadak saat menyadari siapa yang dibawa Irfan. Mulut Dimas setengah terbuka.

Kami tiba di meja mereka. Suasana mendadak hening. Semua mata di meja itu tertuju padaku, memindai dari ujung sepatu ketsku yang sedikit kotor hingga ujung rambutku yang hanya kuikat asal.

"Kenalin," suara Irfan memecah kesunyian, tenang dan penuh kebanggaan. "Ini Regita. Pacar gue."

Hening berlanjut selama tiga detik penuh. Tidak ada yang berkedip.

"Bercanda lo, Fan?" Andien akhirnya bersuara, nada bicaranya penuh dengan ketidakpercayaan. Dia melipat tangan di dada, menyandarkan punggungnya ke kursi. "Sejak kapan lo... downgrade?"

Kalimat tajam itu sukses membuat dadaku berdenyut nyeri. Aku sudah menduga penolakan ini, tapi mendengarnya langsung tetap saja menyakitkan. Aku ingin melepaskan tangan Irfan dan berlari ke perpustakaan, tempat di mana aku tidak akan dihakimi. Aku mencoba menarik tanganku perlahan, tapi genggaman Irfan justru semakin kuat. Dia menolak melepaskanku.

"Andien, jaga mulut lo," desis Irfan. Suaranya tidak tinggi, tapi nada ancaman di dalamnya begitu pekat hingga membuat atmosfer meja itu berubah mencekam. Matanya menatap Andien tajam. "Regita pacar gue. Kalau lo nggak bisa ngehargai dia, berarti lo nggak ngehargai gue."

Andien mendengus, membuang muka, terlihat salah tingkah karena baru kali ini Irfan membelanya dengan nada sekeras itu di depan teman-temannya.

Dimas buru-buru mencairkan suasana. "Wush, santai bos, santai! Gila, kaget aja kita. Lo nggak pernah cerita tiba-tiba udah gandeng cewek aja. Duduk, duduk, Regita, selamat datang di tongkrongan orang-orang stres." Dimas menggeser kursinya, memberiku ruang.

Aku duduk dengan kaku di sebelah Irfan. Jantungku masih berdebar tak karuan. Ini sangat melelahkan. Kami baru melakukan akting ini selama sepuluh menit, dan energiku sudah terkuras habis.

"Jadi, Regita," seorang pria berkacamata di seberang meja yang kuketahui bernama Kevin, menatapku penuh selidik. "Kalian ketemunya di mana? Secara, tongkrongan lo sama Irfan kan beda benua. Irfan anak party, lo... kelihatannya lebih sering pacaran sama jurnal akademik."

Itu pertanyaan jebakan. Kami belum menyusun skenario sedetail itu! Aku menoleh sedikit ke arah Irfan, mengirimkan sinyal bahaya melalui mataku. Namun Irfan justru balas menatapku dengan tatapan geli, seolah sengaja melemparkan bola panas ini kepadaku untuk melihat caraku bertahan. Sialan, umpatku dalam hati.

Aku menarik napas perlahan, mencoba menata suaraku agar tidak bergetar. "Kami ketemu di perpusnas minggu lalu," jawabku, mengarang cerita on the spot dengan wajah seyakin mungkin. "Irfan lagi nyari referensi buat makalah hukum bisnisnya, dan kebetulan buku yang dia cari cuma tersisa satu. Buku itu ada di tanganku."

Irfan mengangkat sebelah alisnya, sedikit terkejut dengan kebohonganku yang mengalir lancar, tapi bibirnya mengulas senyum. Dia ikut masuk ke dalam skenario.

"Bener," sahut Irfan, memajukan tubuhnya ke meja. "Gue minta baik-baik, dia malah ngotot nggak mau ngasih karena dia butuh buat tugas juga. Galak banget, sumpah. Tapi di situ justru gue ngerasa... beda. Biasanya cewek-cewek langsung ngasih apa aja yang gue minta." Irfan menatapku, kali ini matanya menyiratkan pujian terselubung atas keahlian ngeles-ku. "Dari debat rebutan buku, akhirnya kita mutusin buat baca bareng. Dan, yah... sisanya mengalir gitu aja."

Kevin dan Dimas saling berpandangan, lalu mengangguk-angguk percaya. Cerita tentang 'musuh jadi cinta' memang selalu laku di pasaran.

Selama setengah jam berikutnya, aku dipaksa duduk di sana, mendengarkan obrolan mereka yang tidak kumengertiβ€”tentang klub malam terbaru, harga velg mobil, hingga liburan musim panas. Aku hanya tersenyum secukupnya. Irfan sesekali mengajakku bicara, membelai pelan rambutku yang jatuh ke dahi, atau memindahkan potongan sosis dari piringnya ke piringku. Dia melakukan semua itu dengan sangat natural. Begitu naturalnya, hingga aku hampir percaya bahwa dia benar-benar menyayangiku.

Hampir. Aku terus mengingatkan diriku pada pasal empat: dilarang baper.

"Gue ada kelas pagi ini," bisikku pada Irfan setelah melirik jam tangan murahan di pergelangan tanganku. Aku benar-benar harus pergi sebelum kepalaku meledak karena kelelahan emosional ini.

Irfan mengangguk. Dia pamit pada teman-temannya. "Gue anter Regita dulu. Nanti siang gue gabung lagi."

Kami berjalan menjauh dari kantin. Begitu kami berbelok ke koridor sepi yang menuju fakultasku, Irfan melepaskan genggaman tangannya secara tiba-tiba, seolah tanganku tiba-tiba berubah menjadi besi panas. Kehilangan sentuhan hangat itu membuat ada sedikit ruang kosong yang aneh di tanganku, tapi aku segera menyembunyikannya dengan memasukkan tanganku ke dalam saku jaket.

"Kerja bagus," kata Irfan, suaranya kembali ke mode datar dan dingin yang biasa. Tidak ada lagi senyum memuja. Tidak ada lagi tatapan hangat. Pria sempurna di kantin tadi sudah menghilang. "Cerita soal perpustakaan tadi lumayan pinter. Lo jago juga bohong."

"Terpaksa," balasku ketus, masih kesal karena dia sempat melempariku ke kandang singa sendirian. "Lain kali, kita harus bikin skenario latar belakang yang jelas biar gue nggak usah mikir dadakan."

"Nggak seru kalau terlalu di-skrip. Kadang spontanitas bikin semuanya kelihatan lebih nyata," Irfan mengangkat bahu tak acuh. "Masuk sana. Nanti jam makan siang gue jemput di lobi fakultas lo. Jangan coba-coba makan sendirian."

Aku hanya mengangguk pelan, berbalik meninggalkannya menuju kelasku. Dadaku terasa sesak. Kehidupan ganda ini ternyata lebih menakutkan dari yang kubayangkan. Berpindah dari peran 'pacar yang dicintai' menjadi 'orang asing yang terikat kontrak' dalam hitungan detik membuat kewarasanku diuji.

Aku masuk ke dalam ruang kelas, mengambil tempat duduk paling belakang. Saat aku membuka tas untuk mengeluarkan buku catatan, tatapanku tanpa sengaja tertuju ke arah jendela kelas yang menghadap koridor.

Di sana, tidak jauh dari tempat Irfan berdiri sebelumnya, seorang wanita dengan kemeja rapi dan lanyard panitia kampus melingkar di lehernya sedang berdiri bersandar pada pilar. Dia sedang menulis sesuatu di buku catatannya, tapi tatapannya lurus mengarah padaku. Tatapan yang tajam, menyelidik, dan penuh kecurigaan.

Jantungku anjlok ke dasar perut.

Itu Bu Rina, salah satu staf rektorat yang menangani validasi beasiswa. Tanganku gemetar pelan saat menyadari bahwa sejak kami di kantin tadi, kemungkinan besar dia sudah mengawasi setiap gerak-gerik kami. Jika dia melihat momen di mana Irfan tiba-tiba melepaskan tanganku dan wajah kami berubah sedingin es di koridor sepi tadi... tamatlah riwayatku.