Malam ulang tahun pernikahan yang kedua puluh satu harusnya dirayakan.

Setidaknya itulah yang selalu aku bayangkan kalau aku punya waktu untuk membayangkan hal-hal seperti itu — yang sudah lama tidak aku lakukan. Dua puluh satu tahun. Cukup panjang untuk membangun sebuah rumah, menghancurkannya, dan membangunnya lagi dua kali lipat. Cukup panjang untuk lupa bahwa dulu, sebelum rumah ini, ada aku yang lain — yang menghabiskan malamnya dengan kalkir dan pensil teknik, bukan dengan buku resep dan jadwal arisan.

Tapi malam ini, aku duduk sendirian di ruang tamu dengan secangkir teh yang sudah dingin.

Bayu membatalkan reservasi restoran pukul tujuh. Pesan WhatsApp singkat: "Sayang, ada meeting darurat sama investor Singapura. Nanti kita reschedule ya." Diikuti emoji hati kecil. Lalu sepi.

Aku tidak marah. Sudah kehabisan marah untuk hal-hal semacam ini sejak tahun ke-tujuh.

Aku taruh HP di meja. Aku minum teh. Aku nyalakan TV dan tidak menonton isinya. Di lantai atas, suara dari kamar Keisya bocor turun — anakku yang kedua rupanya sedang live streaming lagi, suaranya berganti antara kaki tertawa dan kaki serius, tergantung komentarnya. Di kamar sebelah, Akbar pasti sedang belajar — anak itu baru masuk teknik sipil dan sudah mengumpulkan tiga buku tebal tentang mekanika struktur yang bahan bacaannya saja membuatku pusing.

Ayra tadi bilang mau pulang malam. Ada gathering angkatan.

Jadi aku sendirian. Di ulang tahun pernikahan ke-dua puluh satu.

Aku tertawa pelan. Tidak ada yang mendengar.


Pukul sembilan malam, aku naik ke kamar.

Biasanya aku langsung tidur kalau Bayu tidak ada. Tidur lebih nyenyak, sebenarnya — tapi itu informasi yang tidak perlu diketahui siapa pun. Tapi malam ini aku iseng membereskan sisi lemari Bayu yang sudah seminggu berantakan. Baju-bajunya menumpuk. Dasi bergelantungan di gagang pintu. Ada kuitansi-kuitansi dari dompetnya yang terjatuh di laci.

Dan di pojok lemari — tertimbun di bawah tumpukan kemeja — ada sebuah HP.

HP lama. Model dua generasi sebelumnya. Yang dulu Bayu bilang sudah rusak dan dibuang tahun lalu.

Aku menatapnya beberapa detik. Lalu aku ambil.

Layarnya mati. Tapi saat aku pencet tombol samping, dia menyala. Baterai masih 34%. Tidak ada password baru — passwordnya masih tanggal ulang tahun Akbar, angka yang sudah jadi password semua akun lama Bayu sejak anak itu lahir.

Aku masukkan angkanya.

Layar terbuka.

Ada enam puluh tujuh notifikasi dari satu kontak. Nama kontak itu hanya inisial: T.R.

Aku tidak langsung membuka. Aku duduk di tepi tempat tidur. Aku tarik napas. Aku ingatkan diriku bahwa aku sudah empat puluh tujuh tahun, sudah dua puluh satu tahun menikah, sudah melahirkan tiga anak, dan sudah cukup dewasa untuk menghadapi apapun yang akan aku baca di sini.

Lalu aku buka.


Pesan paling atas, tiga hari lalu:

"Kamu sibuk minggu ini? Aku kangen."

Bayu: "Iya, ada dinner anniversary sama istri. Sabtu aku free."

T.R.: "Istri dulu deh, hehe. Nanti giliran aku."

Bayu: "Kamu tahu kamu nomor satu buat aku."

Aku scroll ke atas. Ke atas. Ke atas.

Bulan lalu. Dua bulan lalu. Empat bulan. Setahun. Dua tahun ke belakang, pesan demi pesan, foto demi foto. Nama T.R. itu bernama lengkap — aku temukan di satu pesan yang Bayu sebut nama lengkapnya: Tiara. Asisten pribadinya.

Aku baca semuanya. Aku tidak tahu kenapa aku tidak berhenti. Mungkin karena berhenti terasa seperti membiarkan sesuatu yang belum selesai. Mungkin karena ada bagian dari aku yang selama dua puluh satu tahun sudah curiga dan selalu memilih tidak tahu.

Malam ini aku memilih tahu.

Satu pesan, dikirim Bayu tiga bulan lalu, membuatku berhenti scroll.

"Kadang aku pikir hidup kita bisa dimulai lagi. Tanpa beban. Tanpa rutinitas yang itu-itu saja."

Tiara menjawab: "Kamu mau mulai lagi sama aku?"

Bayu: "Kalau bisa."

Tiara: "Terus istrimu?"

Bayu: "Dia baik-baik saja. Dia selalu baik-baik saja. Itu sifat dia memang."

Aku membaca kalimat itu tiga kali.

Dia selalu baik-baik saja.

Dua puluh satu tahun aku mengurus rumah ini, mengurus anak-anak ini, mengurus kehidupan ini — dan yang diingat suamiku tentang aku adalah bahwa aku selalu baik-baik saja.

Bukan bahwa aku lulusan terbaik ITB. Bukan bahwa dulu aku pernah magang di Singapura dan desainku dipajang di pameran internasional. Bukan bahwa aku merelakan semua itu demi dirinya, demi anak-anak, demi rumah yang berdiri di atas fondasi yang ternyata sudah lama retak.

Dia selalu baik-baik saja.

Aku menaruh HP itu di pangkuanku. Aku menatap dinding di depan. Ada foto keluarga besar di sana — foto saat Akbar wisuda SMA tahun lalu. Bayu di tengah, jas abu-abu, senyum kamera. Aku di sampingnya, kebaya hijau toska. Ayra di sebelah kanan dengan gaunnya yang kemerahan karena di foto tidak mau pakai kebaya. Keisya di sebelah kiri dengan rok model terkini yang entah apa namanya. Akbar di depan, toga hitam, ekspresinya serius seperti biasa.

Keluarga sempurna.

Fondasi K-100.

Aku tertawa lagi. Kali ini agak panjang. Agak kencang.


"Bunda?"

Aku menoleh cepat.

Ayra berdiri di pintu kamar. Masih pakai jaket — baru pulang. Matanya langsung ke tanganku, ke HP yang ada di sana, ke ekspresi wajahku yang rupanya tidak berhasil aku netralkan tepat waktu.

Dia masuk. Menutup pintu.

"Bunda kenapa?"

Aku menatap anak sulungku. Dua puluh tiga tahun. Baru lulus arsitektur. Matanya tajam seperti Bayu tapi curiganya mirip aku. Rambutnya dikucir sembarangan, ada tanah entah dari mana di lengan jaketnya, dan seperti biasa dia kelihatan siap untuk berdebat tentang apapun kapanpun.

Aku tidak menjawab langsung. Aku menatapnya beberapa detik.

Lalu aku bilang, dengan suara yang terdengar lebih tenang dari yang seharusnya: "Bunda nemu sesuatu, Yra."

Ayra mendekat. Duduk di sebelahku. Matanya ke HP.

"Boleh aku lihat?"

Aku pikir beberapa detik.

Lalu aku kasih HP itu kepadanya.

Aku menatap wajah Ayra saat dia membaca. Aku melihat detik-demi-detik ekspresinya berubah — dari bingung, ke paham, ke terkejut, ke sesuatu yang tidak bisa aku namai tapi yang aku kenal: itu wajah seseorang yang baru saja melihat lantai runtuh di bawah kakinya.

Ayra berhenti di pesan yang sama dengan yang membuatku berhenti tadi.

Dia selalu baik-baik saja.

Ayra mengembalikan HP itu ke pangkuanku. Dia tidak bicara. Dia tidak menangis. Tapi rahangnya mengeras — persis seperti Bayu kalau sedang menahan emosi — dan matanya merah tapi kering.

"Bunda mau apa?" suaranya pelan. Pelan sekali.

Aku menatap foto keluarga di dinding.

"Bunda belum tahu. Tapi Bunda mau kamu bangunkan adik-adikmu dulu."

Ayra berdiri. Berjalan ke pintu.

"Yra."

Dia berhenti.

"Jangan bilang dulu ke mereka soal apa. Bilang Bunda minta kumpul di ruang makan. Itu saja."


Lima menit kemudian, kami berempat duduk di meja makan. Akbar dengan rambut berantakan karena baru dari kamar. Keisya masih memegang HP-nya — live stream-nya terpotong di tengah jalan dan dia kelihatan setengah panik setengah penasaran. Ayra duduk di sebelahku, diam.

Aku menaruh HP Bayu di tengah meja.

"Bunda mau kalian baca ini," kataku. "Dari atas. Ambil waktu kalian."

Keisya yang paling cepat meraih HP. Membaca. Lima detik kemudian: "YA TUHAN—"

"Keisya." Aku memotong. "Pelan."

Keisya menelan kata-katanya. Meneruskan membaca. Ayra tidak perlu membaca lagi — dia sudah tahu. Akbar membaca dengan tenang, tapi aku perhatikan tangannya menggenggam tepi meja makin lama makin erat.

Mereka bertiga selesai membaca hampir bersamaan.

Keheningan.

Keisya membuka mulut — pasti mau bilang sesuatu. Ayra langsung menatapnya. Keisya menutup mulut.

Akbar yang bicara duluan.

Bukan sepatah kata yang dramatis. Bukan pertanyaan. Bukan ekspresi kaget.

Dia hanya berkata, dengan suara yang sangat, sangat tenang:

"Aku sudah tahu dua tahun."

Semua kepala menoleh ke Akbar.

Aku menatap anak bungsuku. Anak yang paling pendiam. Anak yang selama ini paling banyak di kamarnya, paling sedikit bicara di meja makan, paling sering aku anggap tidak memperhatikan apa yang terjadi di sekitarnya.

"Apa?" suaraku nyaris tidak keluar.

Akbar menatapku. Matanya tidak berkedip.

"Dua tahun lalu, aku lihat Ayah sama perempuan itu di parkiran Grand Indonesia. Aku pulang sendiri naik GoCar. Aku nggak bilang ke siapapun karena aku nggak tahu harus bilang apa."

Keisya: "AKBAR—"

Ayra: "Diam, Keisya."

Keisya diam. Tapi ekspresinya seperti orang yang baru disiram air es.

Aku menatap Akbar lama sekali.

Anak bungsu kami. Delapan belas tahun. Selama dua tahun menyimpan sesuatu yang bahkan aku saja baru tahu malam ini. Sendirian. Tanpa bicara ke siapapun.

Dadaku sesak dengan cara yang berbeda dari tadi. Bukan karena Bayu. Bukan karena Tiara. Tapi karena anakku — anak lelakiku yang masih delapan belas tahun — sudah menanggung ini sendirian dua tahun lebih lama dari yang seharusnya.

"Akbar," kataku.

"Iya, Bun."

"Kamu nggak apa-apa?"

Akbar diam sebentar.

Lalu, dengan cara yang sangat khas Akbar — singkat, tidak dramatis, tapi tepat sasaran — dia menjawab:

"Bukan aku yang harus ditanya itu, Bun."


Malam itu kami duduk di ruang makan sampai pukul dua belas malam. Berbicara. Menangis — Keisya yang paling keras, Ayra yang paling keras mencoba tidak menangis, Akbar yang tidak menangis tapi terdiam lebih lama dari biasanya.

Dan aku, yang duduk di ujung meja, menatap ketiga anak yang sudah dewasa ini — anak-anak yang selama ini aku pikir masih perlu aku jaga — dan menyadari bahwa malam ini, justru merekalah yang menjagaku.

Pukul dua belas lewat, saat Keisya sudah tertidur di sofa dan Akbar sudah naik ke kamarnya, Ayra duduk di sisiku di dapur. Kami minum teh bersama. Tidak bicara untuk beberapa saat.

Lalu Ayra bertanya pelan: "Bunda mau apa setelah ini?"

Aku menggenggam cangkir tehku.

"Bunda mau kerja lagi," jawabku. "Bunda mau jadi arsitek lagi."

Ayra menatapku.

"Beneran?"

"Beneran."

Senyap lagi. Lalu Ayra mengangguk — lambat, tapi pasti. Seperti seseorang yang baru saja memahami sesuatu yang seharusnya sudah dia pahami jauh lebih lama.

"Oke," katanya. "Aku bantu."

Di luar, suara mobil masuk ke garasi.

Bayu pulang.

Aku dan Ayra bertatapan.

"Bunda siap?" bisik Ayra.

Aku menghela napas. Mengambil cangkir. Berdiri.

"Kamu masuk kamar dulu, Yra. Ini bukan malam yang tepat."

"Tapi—"

"Yra."

Ayra mengerutkan dahi. Tapi dia menurut. Berdiri. Berjalan ke tangga. Berhenti.

"Bun."

"Apa?"

"Bunda nggak harus selalu baik-baik saja, tau."

Lalu dia naik tangga. Menghilang di balik lorong gelap.

Suara kunci pintu depan.

Suara langkah kaki Bayu.

Aku berdiri di dapur, memegang cangkir teh, dengan satu kalimat yang baru saja diucapkan anak sulungku masih bergema di telinga.

Bunda nggak harus selalu baik-baik saja.


Bersambung ke Chapter 2 — "Tiga Anak Dewasa yang Terlalu Dramatis"