Aku memberitahu Bayu bahwa aku akan ikut kelas memasak.
Bukan kebohongan yang paling elegan, tapi yang paling masuk akal mengingat konteksnya. Kelas memasak yang diadakan dua kali seminggu, di daerah Cipete, dimulai jam sembilan pagi. Bayu mengangguk tanpa terlalu banyak pertanyaan. Dia tidak pernah terlalu banyak bertanya tentang jadwal harianku — selama bertahun-tahun aku menafsirkan ini sebagai kepercayaan. Sekarang aku menafsirkannya sebagai ketidaktertarikan.
Ini beda. Terasa berbeda. Tapi tidak cukup berbeda untuk membuatku menghentikan langkah.
Sertifikasinya selesai tiga bulan lebih cepat dari yang Desi prediksi. Aku belajar enam jam sehari selama dua bulan. Tutorial YouTube, modul IAI, software yang macet dan harus di-restart berkali-kali. Ayra mengajari aku shortcut AutoCAD yang baru di akhir pekan. Akbar mencarikan jurnal referensi regulasi bangunan terbaru dari perpustakaan kampusnya. Keisya tidak tahu cara membantu tapi menyediakan camilan dan sesekali berteriak dari ruang sebelah: "SEMANGAT BUNDA!" dengan volume yang tidak proporsional.
Hari ujian, aku berangkat sendiri. Tidak memberitahu anak-anak agar mereka tidak ikut "memantau situasi" lagi.
Hasilnya: lulus.
Tidak dengan skor tertinggi. Tapi lulus. Cukup.
Dan sekarang, tiga minggu setelah itu, aku berdiri di depan gedung Arkitekta Nusantara di kawasan SCBD, dengan binder portofolio di bawah lengan dan ID card karyawan baru yang masih plastik bungkusnya belum dilepas.
Hari pertama.
Jam delapan pagi. Aku masuk lift, lantai dua belas, berjalan ke area open plan yang dipenuhi meja, monitor besar, dan rolling whiteboard dengan coret-coretan diagram. Bau kopi dan cetak biru. Suara printer dan percakapan cepat tentang hal-hal yang dua bulan lalu aku tidak tahu setengahnya.
Rangga menungguku di depan pantry. Tangannya memegang dua cangkir kopi.
"Tepat waktu," katanya.
"Aku selalu tepat waktu."
"Dua puluh satu tahun lalu kamu tidak tepat waktu ke sesi magang hari pertama."
Aku mengambil salah satu cangkir kopi dari tangannya. "Itu bukan relevan."
"Relevan untuk kasus kontradiksi."
"Tidak."
Dia setengah tersenyum — ekspresi yang sama persis dengan dua puluh satu tahun lalu, yang dulu membuatku tidak bisa menentukan apakah dia sedang serius atau menggoda. Sekarang situasinya persis sama dan aku masih tidak bisa menentukan.
Aku minum kopinya. Pahit sekali. Cara Rangga minum kopi tidak berubah.
Rangga memperkenalkanku ke tim. Lima belas orang. Rata-rata tiga puluhan, beberapa dua puluhan. Mereka semua ramah — ramah tapi menatapku dengan cara yang tidak bisa sepenuhnya menyembunyikan pertanyaan: siapa perempuan empat puluhan ini dan kenapa dia masuk sebagai junior consultant?
Satu orang yang paling jujur adalah Bima, dua puluh empat tahun, yang bertanya langsung setelah Rangga pergi ke rapat: "Teh Arini, maaf ya, tapi Teh sebelumnya kerja di mana?"
"Di rumah," jawabku.
"Oh, firma home-based?"
"Tidak. Di rumah sendiri. Ibu rumah tangga."
Bima diam. Proses. "Oh."
"Dua puluh satu tahun."
"Oh." Diam lebih lama. "Oke."
Dia tidak bertanya lagi setelah itu, tapi aku bisa melihat informasi itu sedang beredar ke orang-orang di sekitarnya melalui tatapan-tatapan yang saling bersilangan.
Tidak apa-apa. Aku sudah mempersiapkan ini.
Yang tidak aku persiapkan adalah seberapa banyak hal yang sudah berubah.
Software: aku tahu. Regulasi: aku tahu. Proses: aku tahu.
Tapi ekosistemnya — cara orang-orang muda ini bekerja, tempo mereka, bahasa yang mereka gunakan dalam meeting, cara mereka berpindah antara sketsa tangan dan model 3D dalam hitungan menit — itu yang tidak bisa aku pelajari dari tutorial YouTube.
Jam sepuluh pagi, aku tidak bisa masuk ke sistem cloud kantor karena credential-ku belum selesai disetup IT.
Jam sebelas, credential sudah jalan tapi aku lupa cara kerja sistem folder kantor yang berbeda dari yang aku pelajari sendiri di rumah.
Jam dua belas, aku pergi ke kantin dan tidak tahu menu apa yang ada karena ternyata menunya digital dan harus di-scan QR code, yang aku tidak punya aplikasinya.
Bima muncul di sebelahku, sudah memegang nampan. "Teh, mau aku bantuin?"
Aku menatap QR code itu.
Harga diriku mengatakan tidak.
Kenyataan berkata sesuatu yang lebih pragmatis.
"Tolong," kataku.
Bima tersenyum — senyum yang tidak mengolok, hanya ramah — dan membantu aku memesan makanan. Nasi campur dengan ayam bakar. Murah. Enak. Aku tidak menyangka ini bisa membuat hari terasa sedikit lebih ringan.
Kami duduk makan bersama. Bima cerita tentang proyek-proyek yang sedang berjalan. Aku mendengarkan dan sesekali bertanya. Di titik tertentu, aku mengomentari sesuatu tentang konsep sirkulasi di proyek yang dia ceritakan — berdasarkan deskripsi verbal, bukan gambar — dan Bima berhenti makan.
"Teh bisa visualisasi denah cuma dari deskripsi?"
"Kebiasaan lama."
"Akurat?"
"Umumnya."
Bima menatapku dengan cara yang berbeda dari tadi pagi. Masih ada pertanyaan di sana, tapi pertanyaannya sudah berubah jenis.
Sore jam empat, Rangga memanggil aku ke ruangannya.
Ruangan kecil di sudut, kaca dari lantai ke langit-langit menghadap open plan. Meja penuh gambar, tidak ada dekorasi kecuali satu foto kecil di pojok kanan atas layar laptop — yang dari jarakku tidak bisa aku lihat dengan jelas, tapi cukup untuk menebak isinya.
"Duduk," katanya.
Aku duduk.
"Hari pertama," kata Rangga. "Kesan umum?"
"Banyak yang harus dipelajari."
"Itu jawaban yang jujur atau diplomatis?"
"Keduanya."
Dia mengangguk. Menaruh pulpennya. "Arini. Aku mau kasih tahu sesuatu yang mungkin tidak nyaman."
"Langsung saja."
"Firma kami sekarang punya kontrak konsultasi dengan Pradipta Development. Suamimu adalah klien kami."
Aku tahu ini. Desi sudah memberitahuku sebelum interview. Tapi mendengarnya diucapkan langsung berbeda rasanya.
"Aku tahu," kataku.
"Proyek yang sedang berjalan: Pradipta Tower 2. Kemungkinan kamu akan terlibat — bukan dalam posisi yang langsung berhadapan dengan klien, tapi dalam tim desain yang mendukung."
"Bayu tidak tahu aku di sini."
"Aku tahu."
"Kamu tidak berencana memberitahunya?"
"Bukan urusanku." Rangga menatapku. "Tapi ini akan menjadi situasi yang kompleks. Dan aku butuh tahu sebelum itu terjadi: kamu bisa tetap profesional kalau suatu hari dia muncul di ruang meeting yang sama?"
Aku menatap Rangga.
Dua puluh satu tahun. Dia tidak banyak berubah dalam cara berbicara — langsung, tidak membuang waktu, tidak menggunakan kalimat lebih panjang dari yang diperlukan.
"Bisa," jawabku.
"Yakin?"
"Aku sudah duduk semeja dengannya setiap hari selama dua puluh satu tahun sambil menyimpan banyak hal. Satu ruang meeting bukan hal yang lebih sulit."
Rangga menatapku beberapa detik.
Lalu mengangguk.
"Oke." Dia mengambil pulpennya kembali. "Ada satu hal lagi."
"Apa?"
"Proyek Pradipta Tower 2 — aku melihat brief-nya minggu lalu. Ada konsep pavilion menggantung di bagian atrium utama yang sangat spesifik." Dia menatapku dengan cara yang tidak bisa aku baca. "Aku pernah melihat konsep itu sebelumnya. Dua puluh satu tahun lalu, di meja studio magang kita di Singapura."
Dadaku berhenti sebentar.
"Kamu pernah lihat sketsa itu?" suaraku tidak bergetar, tapi usahanya tidak kecil.
"Kamu menggambarnya di atas meja studio selama tiga malam berturut-turut. Kamu bilang itu akan jadi proyek pertamamu kalau kamu buka firma sendiri." Rangga menaruh pulpen lagi. Tangannya terlipat di atas meja. "Sekarang konsep itu ada di brief proyek suamimu. Dengan tidak ada nama lain selain nama firmanya."
Keheningan kantor terasa lebih sunyi dari biasanya.
"Rangga," kataku akhirnya.
"Iya."
"Terima kasih sudah bilang."
"Aku belum bilang apa-apa." Dia berdiri. "Aku bilang aku pernah lihat sketsa itu. Aku tidak bilang apa yang harus kamu lakukan dengan informasi itu." Dia berjalan ke pintu, lalu berhenti. "Itu urusanmu, bukan urusanku."
Tapi saat dia membuka pintu, dia menambahkan — dengan nada yang begitu datar sampai aku hampir tidak yakin mendengarnya:
"Tapi kalau kamu butuh saksi yang pernah melihat sketsa aslinya dua puluh satu tahun lalu... aku di sini."
Pintu tertutup.
Aku pulang jam enam sore.
Parkiran bawah gedung, mobil aku di pojok, aku duduk di dalam mobil beberapa menit sebelum starter mesin. Kepala aku penuh dengan terlalu banyak hal sekaligus — brief proyek, Rangga, suami di rumah yang tidak tahu istrinya baru saja menemukan seorang saksi untuk sesuatu yang belum aku putuskan akan aku bawa ke mana.
HP bergetar.
Grup WhatsApp: "Anak Pradipta yang Ganteng Ganteng 🏠" — nama grup yang Keisya buat sendiri tiga hari setelah malam HP lama itu, yang Akbar protes tapi tidak sempat ganti karena Keisya langsung jadikan itu admin.
Keisya 🌟: "BUNDA GIMANA HARI PERTAMANYA?? CERITAAA" Ayra: "Bunda oke? Sudah pulang?" Akbar: "Makan siang?" Keisya 🌟: "AKBAR ITU YANG DITANYA PERTAMA?? ADA YANG SALAH DENGAN KAMU" Akbar: "Nutrisi penting." Ayra: "Keisya benar untuk sekali ini. Bunda gimana?"
Aku tersenyum. Mengetik.
Aku: "Bunda baik-baik saja. Makan siang nasi campur. Hari yang panjang. Pulang sebentar lagi."
Keisya 🌟: "YESSS PROUD OF YOU BUNDA 🎉🎉🎉" Ayra: "Hati-hati di jalan." Akbar: "Nasi campur enak?" Keisya 🌟: "AKBAR." Akbar: "Pertanyaan valid."
Aku tertawa. Benar-benar tertawa, di dalam mobil yang terparkir di basement gedung SCBD, sendirian.
Lalu HP bergetar lagi. Bukan dari grup anak-anak.
Nomor yang tidak aku kenal.
Aku angkat.
"Halo?"
Hening sebentar.
Lalu suara perempuan. Muda. Tenang — terlalu tenang untuk orang yang rupanya menelepon setelah berpikir lama.
"Mbak Arini?"
"Iya. Siapa?"
"Nama saya Tiara. Tiara Raharja." Jeda. "Asisten pribadi Pak Bayu."
Aku tidak menjawab selama tiga detik.
"Mbak, maaf menghubungi tiba-tiba. Saya dapat nomor Mbak dari... dari kontak yang Mbak tidak perlu tahu dulu. Yang penting, saya ingin ketemu. Bukan untuk konfrontasi atau apapun yang Mbak mungkin pikirkan sekarang." Suaranya tidak gemetar. "Saya ingin ketemu karena ada hal yang harus Mbak tahu. Tentang suami Mbak. Dan tentang ayah saya."
Aku menatap kemudi di depan.
"Tiara," kataku akhirnya.
"Iya, Mbak."
"Kamu tahu di mana Filosofi Kopi Melawai?"
"Tahu."
"Sabtu, jam dua siang. Datang sendiri."
Hening sebentar.
Lalu: "Iya, Mbak. Terima kasih."
Aku menutup telepon.
Starter mobil.
Di luar, langit Jakarta sudah mulai jingga di batas gedung-gedung tinggi. Macet sudah menunggu di pintu keluar basement. Anak-anak sedang menunggu di rumah. Bayu sedang entah di mana dengan entah siapa.
Dan di dalam dadaku — di antara semua yang melelahkan dan menyesakkan dan belum selesai — ada sesuatu yang baru saja bertambah satu langkah lebih kuat.
Bukan bahagia. Bukan tenang.
Tapi siap.
Bersambung ke Chapter 6 — "Sabtu, Jam Dua"
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar