Sepuluh hari setelah malam HP lama itu, hidup di rumah kami mengembangkan ritme baru yang tidak pernah direncanakan siapapun.

Pagi: Bayu sarapan, anak-anak bergantian berpura-pura normal, aku menyeduh teh dan mengelap meja dan menjawab pertanyaan Bayu soal jadwal dan rencana akhir pekan dengan ekspresi yang sudah aku sempurnakan selama dua puluh satu tahun.

Siang: Aku ke workshop IAI. Diam-diam. Bayu kira aku ke arisan atau ke salon atau ke mana pun yang selama ini dia asumsikan mengisi waktu istrinya yang tidak kerja.

Sore: Salah satu dari tiga anak secara bergiliran "kebetulan" ada di rumah saat Bayu pulang, memastikan aku tidak sendirian menghadapi percakapan yang tidak perlu terjadi sebelum waktunya.

Malam: Bayu menonton berita di ruang keluarga. Aku di kamar, belajar AutoCAD versi terbaru dengan bantuan tutorial YouTube yang dicarikan Ayra — dan sesekali, Ayra sendiri yang duduk di sebelahku dengan sabar menjelaskan fitur yang berubah.

Pola ini tidak nyaman. Tapi lebih nyaman dari alternatifnya.


Workshop IAI diadakan di gedung berlantai empat di Cipete.

Pesertanya, seperti yang sudah aku prediksi dengan cukup akurat, mayoritas berusia dua puluh sampai tiga puluhan. Ada beberapa yang empat puluhan — tapi mereka arsitek aktif yang butuh renewal atau spesialisasi tambahan. Bukan yang kembali dari dua puluh satu tahun absen total.

Aku duduk di baris kedua dari depan. Terlambat lima menit di hari pertama karena macet.

Saat aku masuk, pembicara sudah mulai. Dua puluh kepala menoleh. Pembicara mempersilakan aku masuk dengan senyum profesional. Aku duduk di kursi kosong yang tersedia.

Perempuan di sebelahku — kira-kira dua puluh enam, rambut dikuncir, laptop sudah terbuka dengan tiga puluh tab — berbisik ramah: "Baru juga? Saya Nisa."

"Arini," bisikku.

"Arini dari firma mana?"

"Belum dari firma mana-mana."

Nisa mengerutkan dahi. "Oh, mau bikin firma sendiri?"

"Belum juga."

Nisa tampak bingung tapi terlalu sopan untuk bertanya lebih jauh. Dia mengangguk dan kembali ke laptopnya.

Pembicara menampilkan slide tentang regulasi IAI terbaru. Aku mencatat. Tanganku sudah terbiasa memegang pulpen — dua puluh satu tahun mencatat daftar belanja, jadwal anak, notulen arisan — tapi mencatat hal yang bukan daftar belanja terasa seperti otot yang baru dipakai lagi setelah lama tidak bergerak.

Sakit. Tapi sakit yang benar.


Sesi kedua: review portofolio mandiri.

Fasilitator meminta peserta membuka portofolio masing-masing — untuk review internal, bukan penilaian. Sekadar melihat kondisi awal.

Seluruh peserta membuka laptop atau tablet atau folder digital.

Aku membuka tas. Mengeluarkan sebuah binder hitam yang sudah tidak tersentuh bertahun-tahun — binder berisi print-out foto dari buku sketsa lamaku yang sudah aku scan dua minggu lalu.

Nisa di sebelahku melirik. Matanya ke binder. Lalu ke aku. Lalu ke binder lagi.

"Itu... portofolio fisik?" tanyanya. Bukan meremehkan — benar-benar penasaran.

"Iya."

"Wah. Belum pernah lihat yang print fisik."

Fasilitator mendekati mejaku. Minta izin melihat. Aku sodorkan.

Dia membuka. Berhenti di halaman pavilion menggantung. Matanya bergerak mengikuti garis-garis desain di sana — bukan sebagai penilaian, tapi sebagai seseorang yang terbiasa membaca gambar teknik dan sedang menemukan sesuatu yang tidak dia duga.

Dia menutup binder. Mengembalikan ke aku.

"Ini karya Ibu?" tanyanya pelan.

"Iya."

"Kapan?"

"Dua puluh satu tahun lalu. Yang terakhir aku kerjakan sebelum berhenti."

Fasilitator menatapku beberapa detik. Lalu mengangguk — bukan anggukan basa-basi, tapi anggukan seseorang yang baru saja merevisi asumsinya.

"Selamat datang kembali, Bu Arini."

Aku tidak menjawab. Tapi tenggorokanku terasa sempit.


Hari ketiga workshop, aku pulang jam lima sore.

Rumah sepi — Bayu belum pulang, Bibi Rini sedang memasak di dapur, Keisya entah di mana, Akbar di kampus. Hanya Ayra yang ada, sedang duduk di lantai ruang tamu dengan laptop di depannya dan selembar kertas gambar yang setengah jadi.

Tugas kantor, mungkin. Ayra baru saja diterima magang di sebuah firma kecil di Bandung — tapi minggu ini masih dari Jakarta.

Aku meletakkan tas di sofa. Duduk di sebelah Ayra. Aku melirik gambarnya.

Desain rumah tinggal. Konsep minimalis tropis. Garis-garisnya bersih, proporsinya baik. Tapi ada sesuatu di bagian sirkulasi antar ruang yang tidak efisien.

Tanpa berpikir dua kali, aku bilang: "Koridor servis-nya terlalu sempit untuk dua arah. Kalau mau tetap minimalis, coba geser dinding ini lima belas sentimeter ke barat dan gunakan bukaan ganda di sini—" aku menunjuk bagian di kertas, "—supaya sirkulasi udara tetap jalan tanpa harus tambah jendela baru."

Ayra berhenti.

Menatap gambarnya.

Menatap aku.

"...Bunda tahu ini salah dari sekali lihat?"

"Aku arsitek," kataku. Refleks. Lalu sadar itu kalimat yang sudah lama tidak aku ucapkan — bukan dalam konteks ini, bukan dengan kepastian ini. "Dulu."

"Dulu dan sekarang," kata Ayra pelan.

Aku tidak menjawab.

Ayra melihat ke gambarnya lagi. Lama. Lalu, dengan suara yang berubah — tidak lagi nada kakak sulung yang biasanya sedikit bos-bosan: "Bunda, boleh aku tanya sesuatu yang mungkin agak... personal?"

"Tanya."

"Bunda menyesal? Menikah sama Ayah waktu itu?"

Aku terdiam.

Pertanyaan yang terlalu besar untuk dijawab dengan cepat.

"Bunda nggak menyesal punya kalian," kataku akhirnya. "Bunda menyesal tidak pernah bisa punya keduanya."

Ayra mengangguk. Pelan.

"Tapi Bunda bisa punya keduanya, kan? Banyak arsitek yang nikah dan punya anak."

"Bisa. Harusnya bisa."

"Terus kenapa Bunda waktu itu—"

"Karena Ayahmu minta Bunda berhenti 'sebentar'." Suaraku keluar lebih datar dari yang aku rencanakan. "Dan Bunda setuju. Dan 'sebentar' itu jadi dua puluh satu tahun."

Ayra diam.

Aku menatap gambar di kertas itu — garis-garis yang ada di sana karena anak sulungku belajar hal yang sama dengan yang pernah aku pelajari, di universitas yang berbeda, di dunia yang sudah berubah, tapi dengan bahasa yang sama persis. Bahasa denah. Bahasa proporsi. Bahasa ruang.

"Yra," kataku.

"Iya, Bun."

"Kamu sudah lihat portofolio Bunda yang lama?"

"Pernah sekilas. Tapi nggak detail."

"Ada di gudang. Kotak kardus cokelat, label 'Arini — ITB'. Kalau mau lihat, boleh."


Aku tidak menemaninya ke gudang. Ada yang ingin aku biarkan dia alami sendiri.

Aku masuk ke dapur, membantu Bibi Rini. Kami memasak soto ayam untuk makan malam. Aku mengiris bawang, memotong tomat, mengaduk kuah sambil mendengar suara-suara rumah yang familiar: kipas angin di kamar Akbar yang baru saja pulang, suara motor Keisya masuk garasi, suara pintu depan yang khasnya berbunyi serak.

Bayu pulang jam tujuh. Mencium pipi aku. Memuji bau soto. Duduk di meja makan dan mulai bicara soal meeting hari ini dengan cara yang sama persis dengan setiap hari selama dua puluh satu tahun.

Aku mengangguk. Menyendok soto ke mangkuk. Memanggil anak-anak turun.

Keisya datang duluan. Lalu Akbar. Lalu Ayra — paling terakhir, turun dari arah gudang.

Aku melihat matanya saat dia duduk.

Merah.

Tidak menangis sekarang. Sudah berhenti. Tapi jelas baru saja menangis.

Bayu tidak memperhatikan. Dia sedang bercerita ke Akbar tentang sesuatu yang berhubungan dengan struktur gedung — topik yang biasanya membuat Akbar antusias. Keisya sibuk nyenduk soto tambahan.

Tapi di bawah meja, kaki Ayra menyentuh kakiku pelan.

Aku tidak menoleh ke arahnya. Tapi aku mengerti.

Di tengah makan malam yang biasa itu — Bayu yang bicara, Keisya yang ribut, Akbar yang diam tapi mendengar, soto yang mengepul — Ayra dan aku berbagi sesuatu yang tidak perlu kata-kata.

Selesai makan, saat Bibi Rini membereskan piring dan Bayu sudah masuk ke ruang keluarga, Ayra muncul di pintu dapur.

"Bun."

Aku menoleh.

Ekspresinya tidak bisa aku namai dengan satu kata. Ada banyak hal di sana sekaligus — kagum, marah, sedih, dan sesuatu yang di bawah itu semua: rasa bersalah. Seperti seseorang yang baru saja menemukan sesuatu yang harusnya mereka temukan lebih awal.

"Desain Bunda di portofolio itu," katanya, suaranya lebih rendah dari biasa. "Yang pavilion menggantung."

"Iya?"

"Itu..." Ayra menelan. "Itu ada di website Pradipta Development, Bun. Di bawah portfolio unggulan. Dengan nama firm Ayah."

Suara piring yang Bibi Rini cuci berhenti sedetik.

Lalu mulai lagi.

Aku tidak berbalik dari wastafel. "Aku tahu."

"Bunda... sudah tahu dari awal?"

"Baru tahu beberapa minggu lalu."

"Dan Bunda diam?"

"Belum saatnya, Yra."

Ayra tidak bicara selama beberapa detik. Aku mendengar napasnya — satu, dua, tiga.

"Bunda," akhirnya dia berkata. Suaranya pecah sedikit di ujung. "Aku baru lulus arsitektur. Aku baru belajar bahwa desain itu... itu bukan cuma gambar. Itu pikiran kamu. Itu waktu kamu. Itu kamu."

Aku menaruh spons di wastafel.

"Aku tahu, Sayang."

"Dan dia ambil itu."

"Iya."

"Dan kamu diam dua puluh satu tahun."

Ini bukan pertanyaan. Ini kalimat yang sedang Ayra coba cerna. Kalimat yang terlalu besar untuknya tapi dia paksa masuk.

"Bun." Suaranya sekarang seperti anak kecil. Seperti Ayra yang umur tujuh tahun, bukan yang dua puluh tiga. "Aku... aku nggak pernah tahu Bunda sepintar itu. Aku nggak pernah tanya. Aku dua puluh tiga tahun, aku kuliah empat tahun di jurusan yang sama, dan aku baru sadar malam ini bahwa aku nggak pernah tanya Bunda pernah ngapain sebelum jadi Bunda."

Aku menoleh.

Ayra berdiri di pintu dapur, matanya merah lagi.

"Maafin Ayra, Bun."

Aku berjalan ke arahnya. Memeluknya.

Bukan pelukan ibu yang menghibur anak — bukan itu. Ini pelukan dua orang yang baru saja menemukan sesuatu yang seharusnya tidak pernah perlu mereka temukan, karena seharusnya tidak pernah hilang.

Ayra menangis pelan di bahuku. Aku mengusap punggungnya.

"Kamu nggak salah," bisikku. "Kamu baru dua puluh tiga. Bunda yang harusnya cerita lebih awal."

"Tapi Bunda nggak cerita karena Bunda sibuk ngurusin semua orang."

Aku tidak menjawab. Karena itu benar.

Dari ruang keluarga, suara TV. Suara Bayu tertawa kecil menonton sesuatu yang lucu.

Aku dan Ayra berdiri di pintu dapur, tidak bergerak, mendengar suara tawa itu.

Terasa seperti suara dari dunia yang berbeda.


Malam itu, pukul sepuluh, saat semuanya sudah di kamar masing-masing, aku duduk di meja kerja belakang.

Membuka laptop. Membuka AutoCAD.

Aku mulai menggambar. Bukan untuk tugas, bukan untuk workshop, bukan untuk siapapun.

Aku menggambar rumah kecil — satu lantai, lahan miring, dengan teras yang menggantung ke arah lembah. Konsep yang sudah ada di kepalaku sejak lama, sejak sebelum Bayu ada, sejak sebelum anak-anak ada.

Ide yang tidak pernah aku gambar karena tidak pernah ada waktu.

Sekarang ada waktu.

Aku menggambar sampai jam dua belas malam. Tangan kaku. Mata lelah. Software macet dua kali dan aku harus restart. Hasilnya belum sempurna — masih jauh dari portofolio lama yang ada di gudang itu.

Tapi di pojok kanan bawah gambar itu, aku tulis seperti yang selalu aku tulis dulu:

Arini Wardani — 2025

Dan di sampingnya, kecil sekali, seperti kebiasaan dua puluh satu tahun lalu yang ternyata belum benar-benar mati:

Satu smiley kecil.


Bersambung ke Chapter 5 — "Hari Pertama"