Keesokan paginya, Bayu sarapan dengan tenang.
Dia tidak tahu apa-apa. Dia pulang semalam, cium pipi aku, minta maaf soal dinner yang batal, bilang meetingnya sangat penting dan akan diganti minggu depan dengan yang lebih spesial. Aku mengangguk, mencuci cangkir, naik ke kamar. Bayu tidur. Aku berbaring di sebelahnya dan menatap langit-langit sampai jam tiga pagi.
Sekarang dia duduk di meja makan. Koran di tangan kiri, kopi di tangan kanan. Bibi Rini sudah menyiapkan nasi goreng kesukaannya. Semuanya seperti biasa.
Yang tidak biasa adalah tiga sosok yang duduk di hadapannya.
Ayra duduk lurus seperti papan setrika. Rahangnya mengeras. Matanya menatap nasi goreng di piringnya tapi tidak menyentuhnya. Sesekali dia angkat kopi, minum seteguk, taruh kembali — dengan gerakan yang terlalu terkontrol untuk seseorang yang sedang tenang.
Keisya, di sebelah Ayra, sudah empat kali membuka dan menutup HP-nya tanpa tujuan jelas. Dia masih belum bisa menatap Bayu lebih dari dua detik. Setiap kali Bayu bicara, Keisya menunduk ke piringnya dengan ekspresi orang yang melihat sesuatu yang tidak ingin dia lihat.
Akbar makan dengan normal. Itu yang paling menakutkan.
"Ayo dong, makan," kata Bayu. Dia menatap Ayra. "Kenapa nggak dimakan, Yra? Sakit?"
"Nggak," jawab Ayra. Singkat.
"Kenapa kelihatan pucat?"
"Begadang."
"Begadang ngapain?"
"Nggak ngapa-ngapain."
Aku menangkap mata Keisya di seberang meja. Keisya menatapku dengan ekspresi memohon — seperti anak kecil yang mau tanya sesuatu di pelajaran tapi takut ditunjuk. Aku menggeleng pelan. Keisya menunduk lagi.
Bayu beralih ke Keisya. "Kamu kenapa, Kei? Tumben diam."
"Nggak apa-apa, Yah," jawab Keisya. Suaranya terlalu tinggi. "Biasa aja. Normal. Aku baik-baik aja. Kita semua baik-baik aja."
Hening.
Bayu menatap Keisya dengan ekspresi bingung yang wajar. Aku menatap Keisya dengan ekspresi yang tidak wajar.
"Keisya," kataku pelan.
"Iya Bun?" suaranya masih satu oktaf terlalu tinggi.
"Makan dulu."
"Iya. Makan. Aku makan." Keisya menusuk nasi gorengnya dengan garpu terlalu keras sampai piringnya berbunyi cling. "Makan aja."
Bayu menatap putri tengahnya, lalu menatap aku, lalu menatap Ayra, lalu kembali ke korannya.
Akbar mengambil lauk tambahan dengan tenang.
Ini bertahan selama dua puluh menit.
Dua puluh menit yang paling menegangkan dalam sejarah keluarga kami — dan aku sudah pernah melewati momen saat Akbar menelan uang logam ketika umur tiga tahun.
Bayu cerita soal proyek baru — Pradipta Tower 2, katanya, akan jadi landmark Jakarta Selatan. Investor Singapura sangat antusias. Desainnya luar biasa, kata dia — fresh, inovatif, akan jadi karya terbaik Pradipta Development.
Aku minum teh.
Ayra menggigit bagian dalam pipinya.
Keisya menunduk ke piring.
Akbar mengangguk ke arah Bayu. "Desainnya dari tim mana, Yah?"
Bayu menjawab panjang — tentang tim in-house, tentang konsultan eksternal, tentang proses kreatif yang memakan waktu berbulan-bulan. Kata-katanya mengalir lancar seperti presentasi ke investor.
Aku menatap Akbar. Akbar menatap aku.
Di mata Akbar ada sesuatu yang tidak bisa aku namai — bukan kemarahan, bukan kesedihan. Semacam kesadaran. Semacam seseorang yang sudah lama tahu suatu hal dan baru menemukan kata untuk mendeskripsikannya.
"Menarik," kata Akbar. Kembali makan.
Bayu puas. Melanjutkan cerita.
Di bawah meja, kaki Ayra menendang kaki Keisya dengan cukup keras.
Keisya mendesis pelan.
Bayu tidak mendengar.
Sarapan selesai. Bayu minta aku bikinin teh tambahan untuk dibawa ke ruang kerja. Aku buatkan. Bayu masuk ke ruang kerja, pintu tertutup.
Tiga anak aku langsung meledak.
Bukan serentak — karena mereka bertiga punya cara meledak yang berbeda.
Ayra berdiri dari kursi, menarik tanganku ke dapur, berbisik sangat cepat: "Bunda, aku nggak bisa tahan lebih lama. Aku mau masuk ke ruang kerja itu dan—"
"Kamu tidak akan ke mana-mana," potongku.
"Tapi—"
"Ayra."
Ayra menutup mulut. Ekspresinya seperti kucing yang dilarang keluar rumah padahal sudah di depan pintu.
Sementara itu Keisya — yang ternyata sudah membuka aplikasi Instagram sejak tadi — tiba-tiba mendongak dan berbisik: "Bun, menurutku ini bisa jadi konten yang—"
Dua tangan serentak merebut HP Keisya. Tangan Ayra dari kiri, tangan Akbar dari kanan.
Keisya menatap kedua kakak-adiknya bergantian.
"Aku cuma mau bilang—"
"Tidak," kata Ayra.
"Tidak," kata Akbar.
"Ini penting untuk—"
"TIDAK," kata mereka berdua.
Keisya menyerah. Mengambil kembali HP-nya. Menekannya ke dadanya seperti anak kecil memeluk boneka.
Aku menatap ketiga mereka bertiga bergantian.
"Dengarkan Bunda," kataku pelan. "Tidak ada yang konfrontasi Ayah hari ini. Tidak ada yang screenshot apapun, tidak ada yang posting apapun, tidak ada yang—" aku tatap Ayra, "—masuk ke ruang kerja dengan niat apapun kecuali minta izin lewat. Paham?"
"Bunda mau apa dulu?" tanya Ayra.
"Bunda mau mikir."
"Berapa lama?"
"Selama yang Bunda butuh."
Ayra tidak puas dengan jawaban itu. Tapi dia tidak punya pilihan selain menerima. Dia berbalik, menarik kursi, duduk di meja dapur dengan ekspresi orang yang sedang menahan banyak hal sekaligus.
Akbar mengambil minum dari kulkas. "Bun."
"Apa, Bar?"
"Bunda mau cerita ke Mbah Mama?"
Mbah Mama — ibu mertua aku. Nyonya Pradipta.
Aku diam sebentar.
"Kenapa kamu tanya?"
Akbar meminum air putihnya. "Karena Mbah Mama tahu."
Keisya dan Ayra berbalik serentak ke Akbar.
"Apa?" kata Ayra.
Akbar menaruh botol minumnya di meja. Tenang. Tidak dramatis.
"Dua tahun lalu, sebulan setelah aku lihat Ayah di parkiran — aku cerita ke Mbah Mama."
Keheningan dapur itu terasa seperti dinding yang menutup dari empat sisi.
Aku menatap Akbar.
"Kamu... cerita ke Mbah Mama?"
"Iya."
"Dan Mbah Mama bilang apa?"
Akbar mengangkat bahu. Gerakan yang kelihatan santai, tapi matanya tidak ikut santai. "Mbah Mama bilang 'sudah tahu' dan minta aku diam. Katanya ini urusan orang dewasa."
Ayra menarik napas panjang lewat hidung dengan cara yang sangat spesifik — cara yang sudah aku kenal sejak dia umur lima tahun, cara yang artinya dia sedang menahan diri untuk tidak bicara sesuatu yang akan menyesal dia ucapkan.
Keisya tidak punya cara menahan diri seperti itu.
"MBAH MAMA TAHU DAN DIAM AJA?!"
"Keisya—"
"ITU—"
"KEISYA."
Keisya tutup mulut. Tapi tangannya menutup mukanya sendiri dengan cara yang sangat dramatis — dengan sepuluh jari, seperti orang yang baru menonton adegan paling syok di drama Korea.
Aku menghela napas panjang.
Tiga puluh menit kemudian, Bayu keluar dari ruang kerja, ambil tas, bilang mau ke kantor, dan pergi.
Pintu depan tertutup.
Mobil keluar dari garasi.
Suara mesin menghilang di ujung jalan.
Kami bertiga — aku, Ayra, Keisya, Akbar — berdiri di ruang tamu dalam posisi masing-masing yang berbeda. Ayra di dekat jendela. Keisya di sofa. Akbar berdiri di tengah.
Tidak ada yang bicara selama hampir satu menit penuh.
Lalu Keisya, dari sofa, dengan suara yang sudah tidak dramatis lagi — suara yang lebih kecil, lebih redup, lebih mirip anak kecil daripada content creator yang biasanya — berkata:
"Bunda, maaf. Selama ini Keisya nggak tahu Bunda lagi... lagi nanggung seberat ini."
Aku menatap anak tengahku.
Dua puluh tahun. Biasanya mulutnya tidak bisa diam. Biasanya ada aja yang mau dia komentari, posting, atau dramatisir jadi konten. Tapi sekarang dia duduk di sofa dengan kaki disilangkan ke dadanya — posisi yang sama persis seperti saat dia masih SD dan habis jatuh dari sepeda dan tidak mau bilang kesakitan.
Matanya merah.
"Keisya," kataku pelan.
"Iya, Bun?"
"Nggak ada yang salah dari kamu."
"Aku harusnya lebih peka—"
"Keisya." Aku duduk di sebelahnya. "Kamu dua puluh tahun. Bukan tugasmu untuk jadi peka soal pernikahan orangtuamu."
Keisya mengangguk. Tapi matanya masih merah.
Ayra berdehem dari dekat jendela — cara dia menyembunyikan emosi yang selalu gagal dia sembunyikan. "Jadi sekarang kita mau ngapain, Bun? Benar-benar."
"Bunda akan hubungi Desi dulu," kataku. "Teman lama Bunda. Dia arsitek aktif. Bunda perlu bantuan untuk sesuatu."
"Untuk apa?" tanya Ayra.
"Bunda mau ikut ujian sertifikasi arsitek lagi."
Hening.
Ayra menatapku.
Keisya menatapku.
Akbar — yang dari tadi diam — mengangkat kepalanya.
"Bunda serius?" tanya Ayra.
"Serius."
Ayra diam beberapa detik. Lalu, perlahan, sesuatu di wajahnya berubah. Bukan kaget. Bukan ragu. Sesuatu yang lebih menyerupai... pengakuan. Seperti seseorang yang baru saja menemukan potongan teka-teki yang selama ini dicarinya.
"Bunda dulu... beneran arsitek?" suaranya berubah — lebih kecil, lebih perlahan. "Bunda pernah cerita sih, tapi aku nggak pernah... aku nggak pernah nanya lebih jauh."
"Beneran," kataku.
"Lulusan ITB?"
"Terbaik di angkatan."
Ayra diam lagi. Lama.
Akbar yang berbicara, dengan nada datar tapi tepat: "Jadi kita punya dua arsitek di rumah ini. Satu yang aktif, satu yang pernah dikubur."
Keisya menoleh ke Akbar dengan ekspresi setengah kagum setengah kesal. "Kamu itu, Bar. Selalu timing-nya. Dramatis tapi telak."
Akbar mengangkat bahu. "Faktual."
Aku tertawa. Benar-benar tertawa — tertawa yang keluar sendiri, bukan yang aku paksa untuk situasi sosial. Keisya ikut tertawa. Bahkan Ayra yang rahangnya sudah mengeras sejak pagi sedikit melonggar.
Akbar tidak tertawa. Tapi di sudut bibirnya ada sesuatu.
Malam itu, pukul sebelas, saat Bayu sudah tidur, aku duduk di meja kerja kecil di kamar belakang. Membuka laptop. Mencari nomor lama.
Aku telepon Desi.
Empat dering. Lima.
"Halo?" suara serak — sudah setengah tidur.
"Des, ini Arini."
Hening sebentar. Lalu suara Desi langsung berubah: "Arini? Kamu baik-baik aja?"
"Belum. Tapi aku akan baik-baik aja."
"Terjadi apa?"
Aku tarik napas panjang.
"Banyak hal. Tapi yang paling penting — Des, aku mau tanya. Ujian sertifikasi IAI masih bisa diikuti kalau sertifikat lama sudah kadaluarsa lama banget?"
Desi diam sebentar. "Bisa. Ada prosedurnya. Kenapa?"
"Aku mau ikut."
Keheningan di seberang terasa seperti Desi sedang memproses. Lalu, dengan suara yang tidak bisa aku baca apakah tertawa atau hampir nangis:
"Arini Wardani. Dua puluh satu tahun. Akhirnya."
"Des—"
"Aku bantu. Besok pagi aku cari semua informasinya. Tapi sekarang cerita dulu — Bayu ngapain?"
Aku menatap pintu kamar yang tertutup rapat.
Dari balik pintu: suara dengkuran halus Bayu yang sudah tertidur nyenyak.
"Besok aja ceritanya, Des. Panjang."
"Oke. Tapi Rin—"
"Apa?"
"Selamat datang kembali."
Aku tersenyum. Menutup telepon.
Lalu, dari bawah pintu kamar, ada secarik kertas yang diselipkan masuk. Tulisan tangan. Aku ambil.
"Bun, kalau Bunda mau belajar AutoCAD lagi, Ayra bisa ngajarin. Aku serius. — Ayra"
Dan di bawahnya, tulisan tangan yang berbeda — lebih kecil, lebih rapi:
"Aku juga bisa bantu riset. Tenang aja. — Akbar"
Dan di bawahnya lagi, dengan stabilo merah muda dan stiker bintang di pinggirnya:
"AKU SUPPORTMU BUNDA!! GO BUNDA GO!! (aku nggak tahu bisa bantu apa tapi aku semangatin KERAS) — Keisya 🌟🌟🌟"
Aku menatap kertas itu lama.
Lalu aku lipat. Masukkan ke saku.
Besok pagi akan datang. Bayu akan sarapan. Anak-anak akan berpura-pura normal. Dan aku akan mulai langkah pertama dari hal yang sudah terlalu lama aku tunda.
Tapi malam ini — dengan kertas kecil bertulisan tangan tiga anak dewasa yang masih menyisipkan surat di bawah pintu seperti waktu SD — cukup.
Malam ini, cukup.
Bersambung ke Chapter 3 — "Reuni di Trotoar"
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar