Desi memilih kafe di daerah Kemang. Alasannya: "Jauh dari kantor-kantor properti kelas atas dan arisan ibu-ibu Pondok Indah." Alasan yang masuk akal, dan Desi memang selalu masuk akal walaupun cara bicaranya tidak pernah masuk akal.
Aku tiba lebih dulu. Duduk di sudut, pesan teh, dan duduk dengan punggung tegak yang tidak mencerminkan kondisi dalamnya sama sekali. Selama dua puluh menit menunggu, aku menghitung berapa kali aku membuka HP tanpa tujuan — tujuh kali — dan berapa kali aku hampir pergi sebelum Desi datang — tiga kali.
Desi masuk dengan cara yang hanya bisa dideskripsikan sebagai: penuh energi untuk seseorang yang seharusnya sedang bersedih atas kabar temannya.
Dia melihatku dari pintu, melambai dengan tangan yang memegang tas dan kunci mobil dan entah apa lagi, berjalan ke mejaku sambil berteriak dengan suara yang jelas terdengar di seluruh kafe: "ARINI! YA TUHAN, KAMU MASIH KELIHATAN SAMA!"
Seluruh kafe menoleh.
Aku menutup wajah dengan tangan.
"Desi," kataku dari balik telapak tangan. "Ini bukan reuni, ini darurat."
"Darurat juga bisa tetap senang, kan?" Desi duduk di hadapanku. Menaruh semua bawaannya di kursi sebelah dengan tidak rapi. Menatapku dengan tatapan yang tidak berubah sejak ITB — tajam, langsung, tidak sabar untuk basa-basi. "Oke. Cerita."
Aku cerita.
Dari awal. HP lama. Chat Tiara. Dua tahun. Desain yang dicuri. Akbar yang sudah tahu dua tahun. Mertua yang diam. Sertifikasi arsitek. Semuanya.
Desi mendengarkan tanpa memotong — yang sudah merupakan prestasi tersendiri karena Desi adalah manusia yang paling sering memotong pembicaraan yang aku kenal.
Saat aku selesai, Desi diam selama lima detik.
Lalu, dengan suara yang turun ke volume yang lebih manusiawi dari biasanya:
"Rin. Bayu ambil desain kamu yang mana?"
"Pavilion menggantung. Yang aku kerjakan waktu hamil Akbar."
Desi mengatupkan rahangnya. "Yang kamu kasih lihat waktu kamu mau nikah. Yang dibilang salah satu karya terbaik yang pernah aku lihat."
"Iya."
"Yang kamu bilang akan jadi seri pertama kalau kamu buka firma sendiri suatu hari."
"Iya."
"Yang—"
"Desi, aku tahu," potongku. "Aku yang bikin."
Desi berdiri dari kursi. Berjalan ke sisi mejaku. Duduk di sebelahku. Dan untuk pertama kali dalam seumur hidup pertemanan kami — Desi memelukku. Diam, tanpa kata-kata, selama mungkin dua puluh detik.
Lalu dia kembali ke tempatnya.
"Oke," katanya. Nada sudah kembali ke mode bisnis. "Sertifikasi IAI bisa diurus. Workshop dua bulan, ujian tulis, ujian portofolio. Kamu butuh daftar paling lambat minggu depan untuk batch berikutnya."
"Berapa lama total prosesnya?"
"Tiga sampai empat bulan kalau kamu serius belajar."
Aku menghitung di kepala. Empat bulan. Cukup.
"Dan setelah sertifikat keluar?"
Desi menatapku dengan cara yang tidak bisa aku artikan langsung. "Rin, aku harus jujur sama kamu. Kamu gap dua puluh satu tahun. Software sudah beda. Regulasi sudah beda. Standar sudah beda. Kamu tidak bisa masuk sebagai senior atau mid-level di firma manapun."
"Aku tahu."
"Kamu mungkin harus mulai dari bawah. Junior. Dengan gaji yang..."
"Aku tahu."
"Dengan rekan kerja yang umurnya—"
"Desi." Aku menatapnya. "Aku tahu semua itu. Aku tetap mau."
Desi menatapku kembali.
Lalu tersenyum — senyum tipis yang lebih menyentuh dari kebanyakan ucapan orang lain.
"Oke. Aku daftarkan kamu besok."
Kami bicara hampir dua jam. Tentang prosedur, tentang software yang harus aku pelajari ulang, tentang referensi yang mungkin bisa Desi kenalkan. Kafe mulai ramai. Suara percakapan naik satu level.
Saat kami membayar dan berjalan ke luar, aku merasa — untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama — ada sesuatu yang bergerak di dalam dadaku ke arah yang benar.
Bukan bahagia. Terlalu sederhana untuk itu. Lebih mirip... kompas yang baru saja menemukan utara.
Kami berdiri di trotoar depan kafe. Desi mencari kunci mobilnya di kedalaman tas yang tidak beraturan. Aku memasang kacamata hitam.
"Kamu mau mampir ke kantorku?" tanya Desi. "Aku tunjukin list firma yang lagi buka lowongan."
"Boleh—"
Seseorang berjalan dari arah berlawanan. Cepat. Tidak melihat ke depan karena sedang baca sesuatu di HP.
Kami bertabrakan.
Tasku terjatuh. Isi tasnya berhamburan di trotoar — dompet, pulpen, catatan kecil, recehan yang menggelinding ke pinggir jalan. Orang itu membungkuk hampir bersamaan denganku, memungut tas, menyerahkan ke tanganku sambil berkata "maaf, saya nggak lihat—"
Kami bertatapan dari jarak setengah meter.
Pria itu.
Aku menatap wajahnya.
Ada jeda yang panjang dan canggung saat otak kami berdua memproses hal yang sama — rekognisi, dua puluh satu tahun, apakah ini benar atau aku salah lihat.
"Arini?" suaranya.
Dan aku tahu suara itu.
"Rangga."
Namanya Rangga Hidayat. Dulu kami magang bersama di WOHA Singapura, dua puluh satu tahun yang lalu. Kami pergi ke sana dengan keyakinan berbeda — dia yakin dia akan pulang dan langsung mendirikan firma sendiri, aku yakin aku akan kembali dan terus berkarir. Kami berdua salah.
Rangga mendirikan firma tapi kemudian bergabung dengan Arkitekta Nusantara dan sekarang menjadi principal architect di sana. Aku pulang, menikah, dan menghilang dari dunia arsitektur seperti uap dari cangkir teh yang panas.
Dua puluh satu tahun.
Dia empat puluh satu tahun sekarang. Rambutnya sudah ada uban di pelipis. Selebihnya tidak banyak berubah — cara dia berdiri, cara dia menatap sesuatu sebelum bicara.
Kami akhirnya duduk di kafe yang sama yang baru saja aku tinggalkan — Desi ikut, dengan antusias yang tidak perlu.
"Jadi kamu sekarang di mana?" tanya Rangga.
"Rumah," jawabku.
"Masih praktek?"
"Tidak. Sudah dua puluh satu tahun."
Rangga diam sebentar. Matanya mencari sesuatu di wajahku — pertanyaan atau konfirmasi, aku tidak yakin.
"Kenapa?" tanyanya.
Satu kata. Langsung. Tidak ada basa-basi.
Aku hampir tertawa.
"Menikah. Anak tiga. Hidup."
Rangga mengangguk pelan. Tidak mengomentari. Tidak menghakimi. Hanya menerima informasi dan memprosesnya — cara yang sama persis dengan dua puluh satu tahun lalu, cara yang pernah aku kagumi dan lupa bahwa aku pernah mengaguminya.
"Kamu mau balik?" tanyanya.
Aku menatapnya.
"Dari mana kamu tahu aku mau balik?"
Rangga menunjuk ke Desi.
Desi, yang sedang minum kopi dengan sangat menikmati situasi ini, mengangkat bahu. "Dia tanya kamu ngapain keluar dari kafe sama seorang perempuan yang bawa tas penuh brosur IAI."
Aku menatap tasku. Betul. Brosur IAI workshop terlihat menyembul dari resleting yang tidak tertutup rapat.
"Kebetulan," kata Rangga, "firma kami lagi buka posisi. Junior consultant. Kalau kamu serius mau balik."
"Junior," ulangku.
"Junior." Dia menatapku tanpa ekspresi. "Kamu tahu kondisinya. Gap dua puluh satu tahun bukan hal yang firma bisa abaikan begitu saja, walaupun track record kamu dulu—"
"Aku tahu," potongku. "Aku mau. Kalau sertifikasiku sudah beres."
Rangga mengangguk. "Interview dulu kalau sudah. Tapi kalau kamu masih punya portofolio lama, bawa."
"Aku punya."
"Bawa semuanya."
Kami berpisah di depan kafe. Rangga menghilang ke arah parkiran. Desi menatapku dengan ekspresi yang sudah aku kenal terlalu baik.
"Jangan," kataku sebelum dia bicara.
"Aku nggak ngomong apa-apa."
"Kamu mau ngomong sesuatu soal Rangga."
"Aku cuma mau bilang dia nggak pakai cincin."
"Desi."
"Informatif, bukan?"
"DESI."
Desi tertawa. Berjalan ke mobilnya. "Aku WA kamu link pendaftaran IAI. Besok malam harus sudah submit!"
Aku menatap punggungnya sambil menggelengkan kepala.
Lalu aku berbalik untuk berjalan ke mobilku.
Dan berhenti.
Di seberang jalan, di depan minimarket yang ada di sudut jalan itu, ada tiga sosok yang berdiri dengan postur yang sangat, sangat mencurigakan. Satu memegang kopi dengan posisi badan agak membungkuk. Satu menyembunyikan mukanya di balik brosur minimarket. Satu berdiri tegak tapi menatap langit-langit kanopi minimarket dengan tekun sekali, seolah-olah langit-langit itu adalah hal paling menarik di dunia ini.
Ayra. Keisya. Akbar.
Anakku.
Mengintip.
Saat aku berjalan mendekati mereka, mereka bereaksi masing-masing dengan cara yang sangat sesuai karakter:
Ayra langsung memasang ekspresi polos yang tidak meyakinkan sama sekali. "Oh, Bunda! Kebetulan kita juga lagi ke sini."
Keisya menyembunyikan HP-nya ke belakang punggung. "Iya! Kita... beli... es krim."
Akbar menatapku dengan tenang. Tidak mencoba berdalih apapun.
Aku menatap ketiga mereka bergantian.
"Kalian ngintip," kataku.
"Bukan ngintip," kata Ayra. "Kita... memantau situasi."
"Memantau situasi."
"Untuk memastikan Bunda aman."
"Di kafe ramai siang hari bolong."
Ayra membuka mulut. Menutupnya. Membuka lagi.
Keisya menyela: "Bun, tadi itu siapa? Yang nabrak Bunda? Yang tinggi itu?" Matanya berbinar dengan intensitas yang tidak proporsional. "Dia kenalannya Bunda dari dulu?"
"Teman lama," kataku singkat.
"Teman lama yang gimana?"
"Teman lama yang biasa."
"Tapi dia cantik—eh, maksudnya, ganteng—"
"KEISYA."
Keisya tutup mulut. Tapi matanya masih berbinar.
Akbar yang terakhir bicara. Dia menatapku dengan cara yang membuat aku merasa dia tidak bertanya tentang Rangga sama sekali — dia bertanya tentang sesuatu yang lebih dalam.
"Bunda kelihatan lebih ringan," katanya.
Aku terdiam.
"Ringan gimana?"
"Ringan." Dia mengangguk sedikit. "Seperti Bunda tadi lupa sebentar soal semua yang lain."
Aku menatap Akbar.
Delapan belas tahun. Anak bungsu. Yang paling pendiam. Yang paling jarang aku dengar suaranya di meja makan.
Ternyata yang paling banyak melihat adalah dia.
Aku mengusap rambutnya — yang langsung dia rapikan lagi karena dia tidak suka rambutnya diacak-acak sejak SMP, kebiasaan yang tidak berubah — lalu aku berjalan ke mobilku.
"Kalian naik mobil masing-masing atau ikut Bunda?"
"Ikut Bunda," kata Keisya secepat kilat.
"Aku naik motor," kata Akbar.
Ayra menatap Akbar. Menatap Keisya. Menatap aku. "Aku ikut Bunda juga."
Kami berjalan ke parkiran. Di dalam mobil, sebelum aku starter mesin, Keisya dari kursi belakang berkata dengan suara yang benar-benar tidak bisa menahan diri:
"Bun, tadi itu Rangga Hidayat kan? Aku udah Google. Principal Architect di Arkitekta Nusantara. Duda. Istri meninggal tiga tahun lalu. LinkedIn-nya—"
"KEISYA." Suaraku dan Ayra keluar bersamaan.
"AKU CUMA MENGINFORMASIKAN—"
"DIAM."
Keisya diam.
Aku starter mobil.
Di spion, aku melihat Keisya mengetik sesuatu di HP-nya dengan cepat sekali. Tapi kali ini aku tidak menyuruhnya berhenti.
Karena di luar semua kekacauan itu — di luar Keisya yang kebanyakan semangat, Ayra yang terlalu protektif, Akbar yang terlalu observatif, Bayu yang tidak tahu apa yang sedang terjadi, Rangga yang muncul tiba-tiba dari dua puluh satu tahun lalu — ada sesuatu yang baru saja mulai hidup lagi di dalam dadaku.
Bukan perasaan untuk Rangga. Belum. Terlalu dini, terlalu rumit, terlalu banyak hal yang harus diselesaikan lebih dulu.
Tapi perasaan bahwa hari ini — hari ini — ada sesuatu yang bergerak ke arah yang benar.
Kompas dan utara.
Aku bisa bekerja dengan itu.
Bersambung ke Chapter 4 — "Sandiwara Pagi yang Panjang"
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar