Debur ombak menghantam karang-karang tajam dengan suara bising yang memekakkan telinga, memecah kesunyian abadi yang selalu menyelimuti Desa Pesisir Karang Hitam. Di desa ini, matahari seolah enggan singgah berlama-lama. Kabut laut yang pekat dan berbau garam selalu turun lebih cepat, merayap dari bibir pantai hingga menelan atap-atap rumah penduduk. Namun, dari segala hal yang menakutkan di Karang Hitam, tidak ada yang lebih membuat bulu kuduk berdiri melebihi bayangan Mansion megah bergaya kolonial Belanda yang berdiri angkuh di ujung tebing tertinggi.
Bangunan itu terbuat dari perpaduan batu bata tebal dan kayu ulin kuno yang menghitam dimakan usia. Jendelanya tinggi menjulang, seolah menjadi mata buta yang mengawasi setiap gerak-gerik penduduk desa di bawahnya. Itu adalah kediaman Tuan Mahesa, seorang saudagar kapal dan rempah yang kekayaannya tak berseri, namun usianya seolah membeku oleh waktu.
Di sudut pasar pesisir yang lembap, Naladhipa—yang akrab disapa Dhipa—tengah sibuk menggerakkan jarum dan benang pada selembar kain kebaya pesanan pelanggan. Jari-jarinya yang lentik dan kapalan karena lelah bekerja tak pernah berhenti, meskipun telinganya tak bisa mengabaikan bisik-bisik mengerikan dari lapak sebelah.
"Enam, Mak! Sudah enam istri Tuan Mahesa yang mati mendadak. Kapan kutukan itu akan berhenti?" bisik seorang pedagang ikan dengan wajah pucat, matanya melirik liar ke arah tebing yang diselimuti kabut.
"Sst! Jangan kencang-kencang bicaranya," tegur wanita tua di sebelahnya, mengusap tengkuknya yang mendadak dingin. "Orang-orang bilang, dia bukan lagi manusia. Wajahnya awet muda di usia yang entah sudah berapa abad karena dia bersekutu dengan Banaspati. Setiap istri yang dinikahinya hanya bertahan satu malam sebelum rohnya dihisap habis-habisan oleh keris pusaka di mansion itu."
Dhipa menghela napas panjang. Desas-desus itu bukan hal baru baginya. Tuan Mahesa memang melegenda. Ketampanannya disebut-sebut tak tertandingi, dengan garis wajah tegas, tatapan setajam elang, dan pesona yang seolah menundukkan badai lautan. Namun, ketampanan itu berbau maut. Gadis mana pun yang dijemput ke atas tebing dalam balutan gaun pengantin, tak akan pernah turun lagi dalam keadaan bernapas. Warga hanya akan menerima peti mati yang tertutup rapat beberapa hari kemudian.
Menyelesaikan jahitannya, Dhipa membereskan peralatannya. Langit sore mulai menguning, dan kabut mulai merayap naik. Ia harus segera pulang sebelum gelap benar-benar menguasai desa. Berjalan menyusuri jalan setapak berpasir, Dhipa merasa ada yang tidak beres saat melihat kerumunan kecil bubar dengan tergesa-gesa dari depan rumah pamannya, Paman Karta.
Dhipa mempercepat langkahnya. Saat ia mendorong pintu kayu rumahnya, suara tangisan histeris langsung menyambutnya. Di ruang tengah, Rani—sepupunya yang baru berusia dua puluh tahun—tengah bergulingan di lantai, menangis memeluk kaki ibunya, Bibi Lastri.
"Ibu, Rani tidak mau! Rani tidak mau mati, Bu! Tolong Rani, Bu!" jerit gadis itu dengan suara serak yang memilukan. Air mata merusak riasan bedak tipis di wajahnya.
Paman Karta duduk di kursi anyaman rotan, wajahnya sepucat mayat. Tangannya gemetar hebat saat memegang sebuah kotak kayu berukir yang Dhipa tahu pasti berisi koin-koin emas murni dan perhiasan peninggalan era kolonial. Itu adalah kotak seserahan dari Tuan Mahesa.
"Ada apa ini, Paman? Bibi?" tanya Dhipa, meletakkan tas jahitnya di atas meja. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Bibi Lastri menatap Dhipa dengan mata bengkak dan merah. "Utusan Tuan Mahesa baru saja datang, Dhipa. Sodik... Tuan Sodik membawa pesan dari tebing. Tuan Mahesa mencari istri ketujuh, dan entah dari mana dia mendengar tentang kecantikan Rani. Dia... dia melamar anakku."
Dunia seakan berhenti berputar selama beberapa detik bagi Dhipa. Ia menatap Rani yang gemetar ketakutan di lantai. Lamaran dari Mansion Tebing Karang Hitam bukanlah sebuah permintaan, melainkan vonis mati yang dibungkus dengan sutra dan emas. Menolak lamaran itu sama saja dengan mengundang murka entitas yang menguasai laut dan pesisir ini. Bisnis kapal Paman Karta yang baru saja merintis bisa hancur dalam semalam, atau lebih buruk lagi, seluruh keluarga ini bisa lenyap tertelan badai.
"Kita kembalikan saja emas ini, Pak! Bilang Rani sudah punya tunangan!" tangis Bibi Lastri, menarik-narik lengan suaminya.
"Tidak bisa, Lastri! Kau pikir Sodik akan menerima alasan itu? Mereka memantau desa ini siang dan malam. Jika kita berbohong, nyawa kita semua taruhannya!" bentak Paman Karta dengan putus asa, mengusap wajahnya yang kasar. Ia menatap emas di tangannya seolah itu adalah racun berbisa.
Dhipa berdiri membeku. Mansion di atas tebing itu, rumor tentang Banaspati, dan mayat enam gadis pesisir yang tak pernah diperlihatkan lagi wajahnya. Ketakutan yang merayap di ruangan ini sangat pekat hingga nyaris mencekik kerongkongan. Ia menatap potret usang ayah dan ibunya di dinding—orang tua kandungnya yang telah tiada sejak ia masih bayi, meninggalkannya dalam asuhan Paman Karta dan Bibi Lastri. Meski sering kali ia merasa diperlakukan berbeda, namun di rumah inilah ia dibesarkan, diberi makan, dan diajarkan bertahan hidup.
"Mereka pasti akan datang lagi lusa untuk mengambil jawaban," gumam Paman Karta dengan tatapan kosong, mengarah pada Dhipa. Tatapan yang menyimpan sebuah keputusasaan, dan mungkin... sebuah pengorbanan yang tak terucapkan.
Di luar, debur ombak terdengar semakin ganas. Dhipa memejamkan mata, menyadari bahwa kabut kematian Karang Hitam kini telah mengetuk pintu rumahnya sendiri.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar