Reyvan tahu pertandingan ini sudah selesai bahkan sebelum jarinya menyentuh keyboard.
Bukan karena percaya diri. Bukan karena latihan keras selama tiga bulan terakhir, bukan karena ia hafal statistik lawan sampai desimal ketiga, dan bukan karena ia sudah begadang dua malam menganalisis rekaman pertandingan mereka. Semua itu memang ia lakukan , tapi bukan itu alasannya.
Alasannya lebih sederhana dan jauh lebih mengganggu.
Ia sudah melihat pertandingan ini di kepalanya. Seluruhnya. Dari langkah pertama sampai langkah terakhir, seperti film yang sudah ia tonton berkali-kali dan hafal setiap adegan perpindahannya. Saat ia duduk di kursi turnamen dengan headset menggantung di leher dan lampu sorot membakar wajahnya dari atas, semua itu sudah ada , urutan kejadian yang tersusun rapi di balik matanya, menunggu untuk diekskusi.
Langkah pertama: lawan akan membuka dengan formasi agresif sisi kanan. Mereka selalu melakukan itu saat nervous , dan mereka pasti nervous sekarang, menghadapi Reyvan di final, di depan hampir empat ribu penonton yang memenuhi tribun arena.
Langkah kedua: menit keempat, mereka akan pasang umpan. Sacrifice satu unit kecil di sisi kiri untuk memancing respons Reyvan, mencoba membaca reaksinya, mencoba memetakan pola defensifnya.
Langkah ketiga: Reyvan tidak akan merespons umpan itu. Dan ketika ia tidak merespons, mereka akan panik. Formasi mereka akan retak dari dalam , bukan karena tekanan dari luar, tapi karena ketidakpastian itu jauh lebih mematikan dari serangan langsung.
Langkah keempat: selesai.
Dan sekarang, tiga belas menit ke dalam pertandingan, semuanya berjalan persis seperti itu.
Tepat seperti itu.
Jari Reyvan bergerak di atas keyboard dengan ritme yang hampir terasa malas , bukan karena ia tidak serius, tapi karena tidak ada urgensi. Semua sudah terjadi sesuai jalur. Setiap keputusan yang ia buat seolah bukan keputusan, lebih seperti konfirmasi atas sesuatu yang sudah ditentukan.
"REYVAN BACA FLANKING MEREKA , DIA COUNTER SEBELUM UNIT-NYA BAHKAN SAMPAI POSISI, INI TIDAK MASUK AKAL!"
Suara caster meledak dari speaker raksasa yang menggantung di kedua sisi arena. Penonton merespons dengan lonjakan suara yang membuat lantai bergetar.
Aku sudah dengar kalimat itu.
Pikiran itu muncul cepat, seperti kilat di balik awan , dan sebelum Reyvan sempat memegang pikiran itu, ia sudah hilang. Tenggelam di bawah tekanan pertandingan yang masih berlanjut.
Dua tombol ditekan bersamaan. Di layar di depannya, formasi terakhir lawan runtuh seperti kartu domino , satu, dua, tiga, empat, selesai.
Konfirmasi muncul di tengah layar dalam font besar berwarna emas.
MATCH COMPLETE. WINNER: REYVAN.
Arena meledak.
Sorak sorai, tepuk tangan, teriakan nama-nama. Flash kamera dari tribun menciptakan badai cahaya putih yang menyilaukan. Seseorang dari tim manajemen menepuk bahunya dari belakang dengan keras, berteriak sesuatu yang tidak bisa ia dengar di tengah kebisingan ini.
Reyvan tidak bergerak dari kursinya.
Matanya masih di layar. Bukan merayakan, bukan menikmati momen , ia membaca panel statistik yang muncul di samping konfirmasi kemenangan. Angka-angka yang dingin dan jujur, jauh lebih menarik dari sorak sorai yang mengelilinginya.
Akurasi prediksi: 98.7%
Reaksi rata-rata: 0.3 detik di atas rata-rata optimal.
Efisiensi resource: 94.2%
Ia menatap angka 98.7 itu lebih lama dari yang seharusnya.
Mengapa itu terasa seperti peringatan?
Tiga jam setelah itu habis dalam rangkaian hal-hal yang Reyvan lakukan secara otomatis.
Sesi foto ia berdiri di tempat yang diminta, memasang ekspresi yang diminta, memegang trofi yang berat dengan cara yang diminta. Wawancara singkat dengan dua jurnalis , ia menjawab dengan kalimat-kalimat pendek yang sopan dan tidak memberikan apapun yang benar-benar menarik, karena itu yang memang ia rencanakan sebelum datang dengan perwakilan sponsor ia menjabat tangan yang disodorkan, tersenyum pada hitungan yang tepat, mengangguk di momen yang tepat.
Semua berjalan seperti protokol yang sudah dihafal.
Karena memang itulah adanya.
Setelah semuanya selesai, setelah penonton pulang dan lampu sorot dimatikan satu per satu dan arena berubah menjadi gedung besar yang terlalu sepi, Reyvan mendapati dirinya di ruang belakang. Ruangan kecil yang bau cat tembok baru, dengan satu sofa panjang yang terlalu empuk dan satu meja dengan botol air mineral yang belum dibuka.
Ia tidak menyentuh airnya.
Di tangannya, handphone dengan layar mati. Ia tidak membuka apapun. Hanya duduk dan menatap pantulan wajahnya sendiri di kaca gelap itu , wajah yang memandang balik dengan ekspresi yang sulit ia beri nama, karena ekspresi itu terasa seperti wajah seseorang yang ia kenal tapi tidak terlalu akrab.
Kapan terakhir kali aku benar-benar terkejut?
Pertanyaan itu datang dari suatu tempat yang dalam, dari lapisan di bawah semua proses analitisnya yang biasanya terlalu sibuk untuk membiarkan pertanyaan seperti ini naik ke permukaan.
Ia mencoba mengingat. Turnamen enam bulan lalu , tidak, ia sudah tahu hasilnya dari awal. Sebelum itu , sama. Bahkan pertandingan pertamanya dua tahun lalu, momen yang seharusnya paling menegangkan dalam hidupnya, momen yang seharusnya penuh dengan kegugupan dan ketidakpastian dan adrenalin...
Samar.
Bukan lupa biasa. Bukan jenis lupa di mana kamu tahu ada memori di sana tapi tidak bisa mengaksesnya. Ini lebih seperti foto yang kehilangan saturasi warnanya secara perlahan , bentuknya masih ada, tapi semua yang membuatnya hidup sudah menghilang.
Reyvan menekan ibu jarinya ke sensor sidik jari di sisi handphone. Layar menyala.
Screensaver abu-abu gelap. Tidak ada gambar, tidak ada kutipan inspiratif, tidak ada foto kenangan.
Ia memilih warna ini sendiri, enam bulan lalu.
Kenapa abu-abu?
Ia tidak ingat alasannya.
Di luar, kota Jakarta bersuara dengan cara yang tidak pernah berhenti , klakson kendaraan yang saling menyahut, suara televisi yang bocor dari warung-warung yang belum tutup, hujan ringan yang mulai mengetuk permukaan aspal dengan ritme tidak beraturan.
Reyvan mendengar semuanya dari balik dinding tipis ruang belakang itu.
Lapisan suara yang berlapis-lapis, saling menimpa, acak dan organik dan manusiawi. Semua itu ada di luar sana, semua itu nyata, tapi dari sini terdengar seperti rekaman. Seperti efek suara yang dipasang untuk menciptakan ilusi sebuah kota yang hidup.
Ia berdiri. Mengambil jaket dari sandaran sofa. Mematikan lampu.
Di ambang pintu, ia berhenti.
Déjà vu.
Bukan yang ringan , bukan sekadar rasa familiar yang cepat hilang. Yang ini berat, seperti tangan yang menekan dadanya dari dalam. Perasaan mutlak, tanpa keraguan, bahwa ia sudah pernah berdiri di titik ini sebelumnya. Di ambang pintu yang sama, dengan jaket yang sama di tangannya, dengan keheningan ruangan kosong di belakangnya dan koridor panjang di depannya.
Ia pernah di sini.
Berkali-kali.
Ia menoleh ke belakang. Ruangan kosong. Sofa. Meja. Botol air yang masih tertutup rapat.
Tidak ada yang berubah. Tidak ada yang aneh.
Tapi perasaan itu tidak pergi.
Koridor panjang, lampu neon di langit-langit yang berdenging pelan dengan frekuensi yang hampir tidak terdengar tapi cukup untuk dirasakan di belakang kepala. Langkah Reyvan bergema di lantai marmer , suara yang terasa terlalu keras untuk ruang yang sudah hampir kosong ini.
Beberapa staff yang masih tersisa mengangguk saat ia lewat. Ia membalas dengan anggukan kecil yang sudah menjadi respons otomatis.
Di ujung koridor, layar besar masih menampilkan highlight pertandingannya tadi. Grafik akurasi yang naik terus tanpa pernah turun berarti. Footage kamera slow-motion dari momen-momen kuncinya , tangannya bergerak, layar berubah, formasi lawan runtuh.
Reyvan berhenti.
Seorang anak muda berdiri di depan layar itu. Sekitar enam belas tahun, jaket hoodie biru yang sudah pudar warnanya, rambut yang sepertinya belum pernah kenal sisir. Ia menatap layar dengan mata berbinar , jenis ekspresi yang Reyvan ingat pernah ia baca di wajah orang lain, tapi tidak bisa lagi temukan referensinya di dalam dirinya sendiri.
Saat Reyvan lewat, anak itu menoleh. Dan langsung membeku.
"Kak Reyvan," Ia setengah berteriak lalu langsung menurunkan volume suaranya, seperti teringat di mana ia berada. "Itu tadi... tadi luar biasa. Kak bisa prediksi semua langkah mereka dari awal kan? Gimana caranya? Itu dilatih atau emang udah bakat?"
Reyvan berhenti sepenuhnya.
Ia menatap anak itu. Antusias, polos, membawa seluruh energi yang ingin ia tumpahkan tentang sesuatu yang ia cintai dengan cara yang tidak peduli terlihat norak atau tidak.
Kapan terakhir kali Reyvan merasa begitu tentang apapun?
"Pola," jawab Reyvan akhirnya. "Semua orang punya pola. Cara mereka bergerak, cara mereka merespons tekanan, cara mereka mengambil keputusan saat waktunya sempit. Kalau kamu cukup sabar membacanya dan cukup disiplin untuk tidak bereaksi sebelum waktunya , pertandingan selesai sebelum dimulai."
Anak itu mengangguk cepat, matanya semakin berbinar.
"Tapi..." Reyvan melanjutkan, pelan, dengan nada yang ia sendiri tidak rencanakan, "kadang aku nggak tahu itu bakat atau kebiasaan yang salah. Karena kalau kamu selalu tahu apa yang akan terjadi..." Ia berhenti sebentar. "Kamu berhenti hadir."
Anak itu mengernyit. Tidak mengerti.
Reyvan tidak menjelaskan lebih lanjut. Ia tidak yakin bisa menjelaskan bahkan kalau mau.
"Semangat belajarnya," katanya singkat, lalu meneruskan langkah.
Hujan sudah agak lebat saat ia keluar dari gedung. Taksinya dua menit lagi menurut aplikasi. Ia berdiri di bawah atap kecil di pintu masuk, menatap aspal basah yang memantulkan cahaya lampu jalan menjadi oranye yang bergoyang.
Di kepalanya, tanpa ia minta, pertandingan tadi diputar ulang.
Bukan untuk evaluasi , otaknya melakukan ini secara otomatis, selalu, seperti program yang berjalan di latar belakang dan tidak bisa dimatikan. Menganalisis, memproses, mencari variabel yang mungkin terlewat, mencari pola dalam pola.
Selalu.
Sudah empat puluh tiga kali.
Reyvan mengedip.
Pikiran itu muncul dari suatu tempat yang ia tidak bisa lacak. Tidak ada konteks, tidak ada kalimat sebelumnya yang memicu. Hanya angka itu, muncul begitu saja dengan keyakinan yang tidak logis.
Empat puluh tiga kali apa?
Ia tidak tahu. Tapi angka itu terasa benar dengan cara yang membuat bulu tengkuknya berdiri satu per satu.
Taksinya tiba. Ia masuk ke kursi belakang yang berbau pengharum ruangan terlalu manis, menutup pintu, dan sepanjang perjalanan ia menatap kota yang berlalu di balik kaca , gedung-gedung, lampu-lampu, orang-orang berjalan tergesa di trotoar basah dengan payung yang sudah setengah terbalik oleh angin.
Semuanya terasa seperti latar belakang.
Seperti set yang dirancang dengan teliti tapi tidak punya kedalaman. Kalau ia berjalan maju dan mencoba menyentuh gedung-gedung itu, sepertinya jarinya akan menembus permukaan dan menemukan kekosongan di baliknya.
Aku pernah berpikir ini sebelumnya.
Kapan?
Tidak ada jawaban.
Di kamarnya yang kecil di lantai sebelas apartemen, Reyvan tidak langsung tidur.
Ia duduk di kursi mejanya. Laptop menyala tapi tidak ada yang dibuka , hanya cahaya putih kosong dari layar yang menerangi wajahnya dari bawah, memberi bayangan yang aneh di dagu dan tulang pipi. Di sisi kanan meja, segelas kopi yang sudah lama dingin. Ia tidak ingat kapan membuatnya.
Ia mencoba merekonstruksi harinya.
Bangun , jam berapa? Ia tidak ingat. Sarapan , ia makan apa? Juga tidak ingat. Mandi, berpakaian, pergi ke arena , semua itu pasti terjadi, tapi kalau ada yang minta ia bercerita detailnya, ia tidak bisa.
Bukan lupa biasa.
Seperti halaman yang dirobek dari buku. Bekas pinggiran sobekannya ada, ia tahu ada sesuatu di sana, tapi isinya hilang.
Ia membuka aplikasi notes di laptopnya. Mengetik dengan hati-hati.
Hal-hal yang aku ingat dengan jelas hari ini: 1. Final turnamen. Statistik 98.7%. 2. Ruang belakang. Botol air yang tidak dibuka. 3. Anak dengan hoodie biru. 4. Angka empat puluh tiga.
Ia berhenti. Menatap empat baris itu dalam cahaya putih layarnya.
Hanya itu?
Dari satu hari penuh?
Ia menghapus semua. Menutup laptop. Ruangan kembali ke remang-remang lampu tidur yang hanya menerangi sudut kasur.
Reyvan berbaring tanpa melepas jaketnya. Matanya terbuka, menatap langit-langit yang tidak ada yang menarik di sana. Di luar, hujan masih turun. Sesekali ada suara motor lewat di bawah. Angin menggesek dedaunan pohon di depan gedung.
Pikirannya tenang.
Bukan tenang yang datang dari kedamaian. Tenang yang datang dari kekosongan , seperti mesin yang baru selesai memproses sesuatu yang sangat besar dan sekarang idle, menunggu input berikutnya, tidak punya inisiatif sendiri untuk bergerak.
Apa yang sedang aku tunggu?
Pertanyaan itu mengambang di langit-langit kamarnya, tidak terjawab.
Matanya mulai berat. Kamar gelap. Hujan konsisten di luar. Tubuhnya lelah dengan cara yang aneh , bukan lelah fisik, lebih seperti lelah dari sesuatu yang tidak bisa ia beri nama, kelelahan yang ada di tempat yang lebih dalam dari otot dan tulang.
Di titik antara sadar dan tidur , di celah sempit di mana pikiran kehilangan bentuknya dan dunia mulai bergerak menurut aturan yang berbeda , sesuatu masuk ke dalam kepalanya.
Bukan suara dari luar. Bukan dari speaker, bukan dari jendela yang terbuka sedikit, bukan dari apartemen tetangga.
Dari dalam.
Jelas. Jernih. Dengan kualitas suara yang berbeda dari suara apapun yang pernah ia dengar , tidak ada jarak, tidak ada ruang, tidak ada akustik. Langsung. Seperti kata-kata yang terbentuk di dalam kepalanya sendiri tapi bukan miliknya.
"Masih sama seperti sebelumnya, Reyvan."
Matanya terbuka sepenuhnya.
Jantungnya tidak berdegup kencang. Tangannya tidak gemetar. Napasnya tidak berubah.
Tapi di dadanya, sesuatu terjadi. Kecil, dingin, seperti retakan pertama di permukaan es yang selama ini terasa solid , celah tipis yang hampir tidak terlihat, tapi cukup untuk memberitahu bahwa di bawahnya ada air yang dalam dan gelap.
Ia menatap langit-langit kamarnya dalam keheningan.
Di luar, hujan berhenti.
Dan ruangan itu terasa, untuk satu detik yang sangat panjang, seperti bukan kamarnya sama sekali. Seperti replika yang dibuat dengan sangat teliti oleh seseorang yang tahu semua detail tentang hidupnya, tapi tidak bisa meniru satu hal , rasa milik yang seharusnya ia rasakan di tempat yang ia sebut rumah.
Matanya tetap terbuka sampai fajar.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar