Gedung Nexus tidak terlihat seperti milik seseorang yang punya proyek misterius senilai lima miliar rupiah.
Lobi lantai dasarnya biasa , lantai granit, meja resepsionis yang dijaga seorang perempuan dengan senyum yang sudah terpasang sejak pagi, beberapa sofa tunggu dengan bantal yang terlalu kaku, dan papan direktori yang menampilkan nama-nama perusahaan di setiap lantai dengan huruf yang terlalu kecil untuk dibaca dari jarak wajar.
Lantai 47 tidak terdaftar di papan itu.
Reyvan naik lift tanpa bertanya ke resepsionis. Tidak ada yang menghentikannya. Tidak ada yang menanyakan ID atau tujuan. Lift terbuka, ia masuk, menekan angka 47, pintu menutup.
Di lift yang bergerak naik, ia menatap refleksinya di pintu stainless steel. Wajah yang tenang. Selalu tenang. Kadang ia bertanya-tanya apakah ketenangannya adalah kekuatan atau hanya ketidakmampuan untuk merasa cukup tentang sesuatu.
Lift berhenti. Pintu terbuka.
Dan perasaan itu menghantamnya bahkan sebelum ia melangkah keluar.
Bukan ruangan dramatis dengan layar hologram dan kursi eksekutif berbalut kulit. Hanya ruangan luas , karpet abu-abu yang terasa seperti tidak pernah diinjak, langit-langit tinggi dengan lampu putih dingin yang menerangi semua sudut tanpa menciptakan bayangan, dan di tengahnya meja panjang putih dengan tiga kursi.
Dua kursi sudah terisi.
Reyvan berhenti tepat di ambang pintu.
Dan perasaan itu , déjà vu berat yang sudah beberapa kali mampir tanpa permisi , datang lagi dengan intensitas yang berbeda. Bukan hanya familiar. Lebih dalam. Lebih mendesak. Seperti tubuhnya mengenali dua orang di dalam ruangan itu sebelum otaknya sempat memproses visualnya.
Aku kenal mereka.
Yang pertama adalah laki-laki yang duduk di sisi kiri meja, tubuhnya tegak dengan cara seseorang yang sudah diajari untuk tidak bersandar bahkan saat santai. Rambut hitam yang sedikit acak-acakan di satu sisi , bukan gaya yang disengaja, lebih seperti kebiasaan mengusap rambut dengan tangan saat frustrasi yang dilakukan berkali-kali. Rahang yang kuat. Bahu yang lebar.
Tapi yang paling pertama Reyvan tangkap bukan fisiknya.
Melainkan cara laki-laki itu memandangnya begitu Reyvan muncul di ambang pintu.
Ada sesuatu di sana , sesuatu yang sudah ada sebelum mereka bertatap muka, sesuatu yang lebih tua dari momen ini. Otot rahangnya mengencang sedikit. Pandangannya tidak langsung menghindari, tapi ada tarikan di sana, seperti seseorang yang menahan respons yang lebih besar dari yang ingin ia tunjukkan.
Laki-laki itu menoleh ke meja.
"Lama," katanya. Pendek. Tanpa konteks yang menjelaskan kenapa ia merasa berhak menghitung berapa menit Reyvan terlambat padahal mereka belum pernah bertemu.
Atau mungkin sudah.
Yang kedua duduk di sisi kanan, posisi yang lebih santai tapi bukan sembarangan. Rambut sebahu yang tidak terlalu rapi, baju yang dipilih dengan mempertimbangkan fungsionalitas lebih dari penampilan. Kulitnya gelap sedikit, perbandingan tubuhnya tidak mencolok, tidak ada yang akan langsung menatapnya dua kali di keramaian.
Tapi matanya.
Matanya coklat gelap dan saat Reyvan masuk, mata itu langsung menemukan wajahnya , bukan dengan cara refleksif ketika seseorang masuk ke ruangan, tapi dengan cara seseorang yang sudah menunggu dan sekarang melihat yang mereka tunggu akhirnya tiba.
Ada relief di wajah perempuan itu. Tipis, terkontrol, hampir tidak terlihat. Tapi ada.
Dan di bawah relief itu, sesuatu yang lebih kompleks , campuran antara lega dan berhati-hati, seperti seseorang yang sudah pernah disakiti sesuatu dan tidak mau terburu-buru untuk merasa aman.
Perempuan itu tidak langsung bicara.
Hanya menatap Reyvan dengan cara yang membuat Reyvan merasa sedang dibandingkan dengan versi lain dari dirinya yang ada di suatu tempat di memori perempuan itu.
"Duduk," kata laki-laki itu lagi.
Reyvan tidak langsung duduk. Ia berdiri di dekat kursi yang tersisa, memeriksa ruangan dengan cara yang sudah menjadi kebiasaan , satu pintu masuk-keluar, tidak ada jendela, tidak ada cermin dua arah yang terlihat, tidak ada kamera yang obvious. Di langit-langit, satu titik kecil yang bisa jadi sensor atau bisa jadi hanya kepala sekrup.
Tiga kursi. Tepat tiga.
Tidak ada perwakilan dari "Tim Arka". Tidak ada layar, tidak ada presentasi, tidak ada agenda tertulis.
Hanya tiga kursi dan dua orang yang sudah ada di sini sebelum ia datang.
"Kamu Kai," kata Reyvan.
Laki-laki itu mendongak. Untuk pertama kalinya sejak Reyvan masuk, ekspresinya retak , sesuatu yang terlihat seperti terkejut melewati wajahnya sebelum kontrol kembali terpasang.
"Kita pernah ketemu?" Suaranya lebih datar dari seharusnya untuk pertanyaan itu. Orang yang benar-benar bertanya biasanya punya nada.
"Tidak."
"Terus kamu tahu nama aku dari mana?"
Reyvan tidak menjawab itu. Karena jawabannya adalah aku tidak tahu, dan itu tidak akan memberikan apapun yang berguna bagi siapapun di ruangan ini. Yang ia tahu hanya ia melihat laki-laki itu dan nama Kai sudah ada di kepalanya, sejelas angka statistik di layar turnamen.
"Kai," konfirmasi laki-laki itu akhirnya, dengan kekakuan seseorang yang tidak suka dikejutkan tapi terlalu bangga untuk menunjukkan betapa tidak sukanya.
Reyvan beralih ke perempuan itu.
Yang tersenyum tipis , bukan senyum yang hangat, lebih seperti seseorang yang sudah menduga ini akan terjadi.
"Lyraen," katanya sebelum Reyvan sempat bersuara. "Dan jangan tanya dari mana kamu tahu itu, karena jawabannya tidak akan memuaskan siapapun di sini."
Dua belas menit berikutnya tidak ada yang datang.
Kai menghabiskan waktunya dengan bergantian melihat jam di handphonenya, melihat pintu, dan kembali ke jam. Ada energi yang tidak diam di tubuhnya , bukan gugup biasa, tapi seperti mesin yang dipaksa idling ketika seharusnya sudah bergerak. Orang yang terbiasa dengan aksi dan tidak pandai menunggu.
Lyraen lebih tenang secara visual. Tangannya di atas meja, tidak bermain-main dengan apapun. Sesekali ia melihat ke sekeliling ruangan, tapi lebih sering matanya kembali ke Reyvan dengan cara yang tidak mengganggu , bukan menatap, lebih seperti memperhatikan. Membandingkan. Mencatat perbedaan antara apa yang ia lihat sekarang dan apa yang ada di pikirannya.
Reyvan membiarkan itu.
Ia sendiri sedang mengamati keduanya dengan cara yang lebih sistematis. Kai: ada amarah lama di balik kontrolnya, bukan amarah yang acak tapi yang sudah pernah diarahkan ke target tertentu dan meninggalkan bekas. Cara ia melihat pintu bukan hanya tidak sabar , ia melihat seperti seseorang yang mengantisipasi ancaman, yang sudah menghitung berapa detik ia butuhkan untuk bereaksi jika sesuatu masuk tanpa diundang. Orang yang tidak sepenuhnya percaya pada ruangan yang terasa terlalu diatur ini.
Lyraen: ketenangannya punya lapisan. Bukan kosong, bukan ketidakpedulian. Lebih seperti bendungan yang dibangun dengan sangat hati-hati , kamu tidak melihat airnya, tapi kamu bisa merasakan beratnya di balik struktur itu.
Dan keduanya tahu aku.
Bukan dalam arti pernah bertemu. Dalam arti sudah punya gambar tentang siapa Reyvan sebelum ia masuk ruangan ini. Bukan dari reputasi turnamen , terlalu personal untuk itu. Ini pengenalan yang lebih dalam.
"Kamu nggak penasaran sama sekali?" tanya Kai tiba-tiba, ke arah Reyvan.
"Penasaran."
"Kelihatannya nggak."
"Aku cukup penasaran untuk datang ke sini," jawab Reyvan. "Sisanya bisa menunggu sampai ada sesuatu yang layak untuk direspons."
Kai mengeluarkan napas dari hidung , bukan tawa, tapi bukan juga kekesalan penuh. Lebih seperti respons seseorang yang mendengar sesuatu yang mereka sudah prediksi akan dikatakan, dan prediksi itu terkonfirmasi dengan cara yang tidak sepenuhnya menyenangkan mereka.
Lyraen memainkan ujung lengan bajunya.
"Mereka tidak akan datang," katanya pelan. Bukan pertanyaan.
Kai dan Reyvan berpaling ke arahnya.
Lyraen menatap meja. "Kita tiga orang. Ruangan ini tiga kursi. Tidak ada kursi keempat, tidak ada proyektor yang siap untuk presentasi, tidak ada kopi yang disiapkan untuk lebih dari tiga orang." Ia mengangkat kepala. "Ini sudah yang mereka siapkan. Kita."
"Kamu tahu soal ini sebelumnya?" nada Kai naik sedikit.
"Tidak." Lyraen menatapnya. "Tapi rasanya begitu, kan?"
Senyap menjalar di antara tiga kursi itu.
Karena tidak ada yang bisa membantah itu.
Lampu ruangan berkedip sekali , cepat, seperti gangguan daya yang berlangsung kurang dari sepersekian detik. Dan di langit-langit, di sudut kanan ruangan, sesuatu menyala.
Monitor kecil. Jenis yang biasa ada di koridor gedung untuk informasi atau navigasi. Sebelumnya layarnya mati , Reyvan sudah memperhatikannya sejak masuk , tapi sekarang menampilkan teks putih di latar hitam yang sangat bersih.
SELAMAT DATANG.
Tiga baris.
Reyvan membaca sampai baris terakhir dan merasakannya seperti pukulan kecil di antara tulang rusuk.
KALIAN SUDAH TERLAMBAT 43 SIKLUS. TAPI INI CUKUP.
Empat puluh tiga.
Angka yang sama persis.
Kai sudah berdiri, kursinya terdorong ke belakang dengan suara yang keras di ruangan yang sunyi itu. "Apa ini? Siapa yang,"
Tidak ada yang bisa menjawab karena tidak ada siapa-siapa selain mereka.
Reyvan menatap angka itu di layar. 43. Berpendar di kepalanya, bergema dengan pikiran yang muncul dua malam lalu di taksi, bergema dengan pikiran yang muncul di arena sehari sebelumnya.
Sudah empat puluh tiga kali.
Empat puluh tiga kali apa?
Pertanyaan itu belum pernah terjawab, dan sekarang ada angka yang sama di layar asing ini, dengan konteks baru yang lebih mengerikan dari sebelumnya.
Siklus.
Ia belum sempat memproses itu ketika suara Lyraen masuk, pelan sekali. Hampir bisikan. Dengan nada seseorang yang sudah lama menyimpan kalimat ini dan baru sekarang menemukan keberanian untuk mengucapkannya.
"Kali ini…"
Reyvan menoleh.
Lyraen menatapnya. Dengan ekspresi yang membuat Reyvan tidak bisa langsung mengklasifikasikannya , terlalu banyak lapisan di sana, terlalu banyak yang terjadi bersamaan. Harap dan takut dan sesuatu yang terasa seperti rindu yang sangat lama disimpan di tempat yang sangat dalam sampai sudah kehilangan bentuk aslinya.
"Kali ini… kamu ingat aku nggak?"
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar