Tamparan itu mendarat di pipiku tepat ketika fotografer menekan tombol kamera.
Tepuk tangan tamu wisuda yang tadi memenuhi aula kampus mendadak berhenti. Seratus pasang mata menatap. Toga hitamku miring, topi wisudaku jatuh ke lantai marmer, dan rasa panas menjalar dari pipi sampai ke ubun-ubun. Tapi yang lebih panas dari tamparan itu adalah suara Ayah.
"Bangga, ya, lulus cum laude?" Ayah berdiri di depanku, tangan masih terangkat. Wajahnya merah. "Sekar Ayuningtyas. Sarjana Akuntansi cum laude. Cita-citamu sudah tercapai. Sekarang giliranmu bayar utang ke keluarga."
Aku tidak menjawab. Tidak bisa. Lidahku terasa kelu di langit-langit mulut.
Di belakang Ayah, Ibu berdiri. Tidak menarik tangan Ayah. Tidak menghampiriku. Tidak satu pun gerakan menunjukkan dia akan membelaku. Ibu hanya menatap dengan ekspresi yang sudah kukenal seumur hidup—ekspresi yang berkata: *kamu pantas mendapatkannya*.
Meisya menyeruak dari kerumunan. Sahabatku itu memungut topi wisudaku, lalu memegang lenganku.
"Sekar, ayo," bisiknya. "Kita pergi dulu."
"Jangan ke mana-mana!" Suara Ayah menggelegar. "Sekar, ikut Ayah. Sekarang."
Tamu-tamu mulai berbisik. Beberapa orangtua wisudawan menutup mulut dengan tangan, pura-pura tidak melihat. Seorang ibu menarik anaknya menjauh, seolah aib di keluargaku menular.
Aku menelan ludah. Berusaha menatap mata Ayah. "Ayah, ini hari wisudaku..."
"Hari wisuda?" Ayah tertawa pendek, lalu menyentak pergelangan tanganku. "Hari ini adalah hari kamu mulai jadi anak yang berguna. Ayo!"
Pergelangan tanganku ditarik kasar. Sandalku berdetak di lantai marmer, terseret. Meisya berusaha mengikuti, tapi Ayah mendorongnya menjauh.
"Urusan keluarga," kata Ayah dingin. "Jangan ikut campur."
Aku menoleh ke belakang. Meisya berdiri sendirian di tengah aula, memegang topi wisudaku, mukanya basah air mata.
***
Mobil Ayah parkir di pojok lapangan. Mobil Avanza tua, warnanya mulai pudar. Lima belas tahun lalu, mobil itu masih baru. Ayah baru saja diterima jadi PNS, dan kami semua bangga. Sekarang Ayah sudah pensiun dini—dipecat, lebih tepatnya, karena ketahuan menggelapkan dana kas kantor untuk judi.
Tapi tidak ada yang tahu itu, kecuali kami satu keluarga.
Ibu sudah duduk di kursi penumpang depan. Bagas dan Tomi, dua kakakku, ada di belakang. Bagas memegang HP, sedang main game. Tomi melirikku sekilas, lalu kembali fokus pada layar HP-nya juga.
Tidak ada yang bertanya kenapa pipiku merah.
Aku dipaksa duduk di tengah, di antara dua kakakku. Bau parfum murahan Bagas menyengat. Tomi tidak mandi pagi ini—aku bisa mencium baunya.
"Yah, jadi nikahnya kapan?" Bagas membuka suara, masih dengan mata di layar HP.
Aku menoleh tajam ke Bagas. "Apa?"
"Eh," Tomi tersenyum miring. "Belum dikasih tahu, ya, Dek?"
"Diam!" Ibu memotong dari kursi depan. "Biar Ayah yang ngomong."
Ayah menyalakan mesin mobil. Tangannya gemetar—aku ingat, dia gemetar begini juga saat baru pulang dari tempat judi, mau minta uang ke Ibu. Mobil berjalan keluar dari area kampus. Aku menoleh ke jendela. Meisya masih berdiri di trotoar, memegang HP, mukanya panik.
HP-ku ada di tas. Tasku ada di pangkuan Bagas. Aku berusaha mengambilnya, tapi Bagas menahan tas itu.
"Tenang aja, Dek," kata Bagas. "Ayah ada urusan. Kamu ikut dulu."
Mobil melaju di jalan tol. Tidak ada yang bicara selama dua puluh menit. Aku menatap punggung Ayah. Punggung yang dulu kubanggakan. Punggung yang dulu kukira tempat aku bisa bersembunyi dari dunia.
Sekarang, punggung itu hanya tampak seperti punggung orang asing.
***
Mobil berhenti di restoran Jepang di Senayan. Restoran mahal. Aku tahu, karena pernah lewat sini bareng Meisya. Kami pernah ngintip menunya—satu set makan siang harganya tiga ratus ribu.
"Turun!" perintah Ayah.
Bagas mendorong pundakku. Aku turun, kaki masih bergetar. Toga hitamku menjuntai kotor di aspal.
"Buka togamu," kata Ibu sambil keluar dari mobil. "Norak. Kamu pikir kita mau ke kondangan?"
Aku membuka togaku, melipatnya seadanya, dan menaruhnya di kursi belakang. Di dalam toga, aku hanya memakai blus putih dan rok hitam—pakaian sederhana yang kupinjam dari Meisya. Aku tidak punya pakaian formal.
Ibu menatapku dari atas ke bawah. Mendecak.
"Ya sudahlah. Yang penting wajahmu masih lumayan."
"Bu—"
"Diam, Sekar." Ibu memegang lenganku, mencengkeram. "Ikuti Ayah. Jangan ngomong banyak. Senyum kalau diajak ngomong. Bilang iya kalau ditanya. Mengerti?"
"Bu, ini apa? Aku mau tahu—"
Cengkeraman Ibu di lenganku semakin keras. Aku bisa merasakan kuku Ibu menembus kulitku.
"Sudah Ibu bilang. *Diam*."
Aku mengangguk. Hanya itu yang bisa kulakukan.
***
Restoran itu dingin. Pendingin ruangan diset terlalu rendah, atau mungkin tubuhku saja yang sudah hilang panas. Pelayan membungkuk, mengantar kami ke ruang VIP.
Di ruangan itu, sudah ada seorang laki-laki menunggu.
Dia tua. Rambutnya sudah berwarna kelabu di pelipis. Memakai jas hitam mahal, jam tangan emas, dan kacamata berbingkai tebal. Dia tersenyum saat kami masuk.
"Pak Hartono!" Ayah langsung berseri, suaranya berubah lembut. "Maaf agak telat. Anak saya baru wisuda."
Hartono. Nama itu asing di telingaku. Tapi cara Ayah memanggilnya—dengan nada manis yang sama yang dipakai Ayah untuk meminjam uang ke tetangga—membuat dadaku berdebar tidak enak.
"Tidak apa-apa, Pak Suryadi." Hartono berdiri. Matanya bergerak menelusuriku. Dari ujung kaki, naik ke wajah. Lambat. Memeriksa. "Jadi ini Sekar."
Aku menelan ludah.
Ibu mendorong punggungku pelan. "Ayo, salim ke Pak Hartono. Beliau ini teman lama Ayah."
Aku menjulurkan tangan, ragu. Hartono menyambutnya. Tangannya hangat. Terlalu hangat. Telapaknya tebal, dan dia menggenggam tanganku terlalu lama.
"Cantik," kata Hartono akhirnya. Suaranya pelan. "Lebih cantik dari di foto."
*Foto?*
Aku menoleh ke Ayah. Ayah memalingkan muka, pura-pura sibuk mengeluarkan kursi untuk Ibu.
"Silakan duduk, Sekar." Hartono mempersilakan. Dia sendiri yang menarik kursi untukku.
Aku duduk. Kakiku gemetar di bawah meja. Pelayan datang membawa menu, tapi tidak ada yang membuka. Hartono mengangguk pada pelayan, dan pelayan itu pergi.
"Pak Hartono sudah pesan untuk semua," kata Ayah cepat. "Pesan yang terbaik, Sekar. Makan yang banyak."
Tapi mataku tidak bisa lepas dari satu hal di meja.
Sebuah amplop coklat. Tebal. Tertutup, tapi ujungnya menonjol sedikit—ada warna merah yang familiar. Warna lembaran seratus ribu.
Amplop itu ada di depan Ayah.
Aku tahu apa itu. Aku—anak akuntansi cum laude, anak yang seumur hidupnya pintar matematika—tahu persis apa itu. Itu uang. Banyak. Sangat banyak.
Tapi yang membuat dadaku sesak bukan uang itu.
Yang membuat dadaku sesak adalah cara Bagas dan Tomi tersenyum ketika melihat amplop itu. Cara mata Ibu berkilat seperti orang yang melihat hadiah ulang tahun. Cara Ayah meraih amplop itu dengan tangan gemetar, dan memasukkannya ke dalam tas.
"Sekar," kata Hartono, suaranya tenang, ramah. "Apa Ayahmu sudah cerita?"
Aku menggeleng. Aku tidak bisa bicara.
Hartono tersenyum. Sebuah senyum yang anehnya tidak terasa jahat. Hanya... lelah.
"Bulan depan, kita akan menikah."
Sendok di tangan Tomi jatuh ke meja. Bagas tertawa pelan, lalu segera menutup mulutnya.
Aku menoleh ke Ayah. Ke Ibu. Ke kakak-kakakku. Tidak ada satu pun yang membantah. Tidak ada satu pun yang mengoreksi. Tidak ada satu pun yang berkata, "Tidak, ini lelucon."
Hartono masih tersenyum. Menungguku menjawab.
Aku membuka mulut. Tidak ada suara keluar. Lalu kucoba lagi.
"Pak..." suaraku bergetar. "Saya baru wisuda hari ini. Saya... saya punya rencana S2."
"Tidak ada S2." Suara Ayah dingin, tegas. "Suryadi, jangan mengoyak topik."
"Ayah, aku—"
"Pak Hartono sudah bayar mahal." Ayah memotong, suaranya rendah supaya pelayan tidak dengar. "Delapan ratus juta. Sekar. Delapan. Ratus. Juta."
Telingaku berdenging. Delapan ratus juta. Itu—itu jumlah yang...
Aku menghitung di kepala. Cepat, otomatis. Karena itulah yang anak akuntansi lakukan: menghitung, bahkan saat dunia runtuh.
Delapan ratus juta. Cukup untuk membayar hutang judi Ayah yang aku tahu sudah meledak. Cukup untuk membeli motor baru untuk dua kakakku. Cukup untuk merenovasi rumah seperti yang sudah lama diinginkan Ibu.
Cukup untuk membeli seorang anak perempuan, dan menukarnya dengan masa depan.
Air mata mulai menggenang di mataku. Aku berusaha menahannya, tapi tidak bisa.
Hartono mengulurkan saputangan. Putih, halus, ada inisial H.W. di sudutnya.
"Tidak apa-apa, Sekar," katanya pelan. "Pelan-pelan."
Aku menerima saputangannya. Aneh—dia satu-satunya orang di meja ini yang menatap mataku dengan sesuatu yang bukan keserakahan.
Tapi itu tidak mengubah fakta.
Aku, Sekar Ayuningtyas, sarjana akuntansi cum laude, anak perempuan yang seumur hidupnya berjuang dengan beasiswa karena keluarganya tidak pernah peduli pendidikannya—sekarang sedang dijual.
Dengan harga delapan ratus juta rupiah.
Oleh orangtuaku sendiri.
***
Aku menatap saputangan di tanganku. Inisial H.W. di sudutnya. Lalu aku menoleh ke Ayah.
"Berapa lama, Yah?" suaraku akhirnya keluar. Pelan. Hampir berbisik.
"Apa?"
"Berapa lama Ayah merencanakan ini?"
Ayah tidak menjawab. Tapi Tomi—kakakku Tomi yang paling tolol di antara kami—membuka mulutnya tanpa berpikir.
"Sudah dari semester lima, Dek. Pas kamu—"
"Tomi!" Ibu menjepretnya tajam.
Tapi sudah terlambat.
Aku menatap Ibu. Ibu yang dua tahun lalu, di semester lima kuliahku, menelepon aku dan berkata, *"Sekar, jangan macam-macam sama laki-laki di kampus. Jaga diri. Ibu punya rencana baik untukmu nanti."*
Saat itu aku pikir itu nasihat. Nasihat ibu pada anak perempuannya.
Sekarang aku tahu, itu bukan nasihat.
Itu pemberitahuan.
Aku, di mata ibuku, bukan anak. Aku adalah aset.
Dan aset yang sudah dirawat dua tahun, akhirnya hari ini, akan dijual.
Hartono menyentuh punggung tanganku pelan. Aku menoleh padanya. Dia menatapku dengan tatapan yang... aneh. Bukan tatapan laki-laki kepada perempuan yang akan dia nikahi. Bukan tatapan nafsu. Bukan juga tatapan cinta.
Tatapan itu seperti tatapan seseorang yang sedang menunggu sesuatu.
"Sekar," katanya pelan, hanya untukku. "Kamu tidak perlu takut. Aku bukan orang seperti yang ayahmu bayangkan."
Aku mengerutkan kening.
Tapi sebelum aku sempat bertanya apa maksudnya, pintu ruang VIP terbuka. Seorang laki-laki muda masuk—muda, mungkin akhir dua puluhan, memakai jas abu-abu, membawa map dokumen tebal di tangannya.
Hartono mengangkat tangan.
"Ardhan, kamu telat."
"Maaf, Pak." Laki-laki itu—Ardhan—membungkuk sedikit. Lalu matanya jatuh padaku.
Sesaat, hanya sesaat, aku melihat sesuatu di matanya. Bukan keserakahan. Bukan penilaian. Sesuatu yang lebih dekat dengan...
*Iba*?
"Ini calon istri Bapak?" tanya Ardhan, suaranya datar.
"Iya. Sekar Ayuningtyas." Hartono menjawab.
Ardhan menatapku lebih lama. Lalu dia menatap Ayah. Lalu Ibu. Lalu kembali padaku.
Dan ketika mata kami bertemu, dia melakukan sesuatu yang membuat dadaku berhenti berdetak.
Dengan sangat pelan—begitu pelan sampai aku hampir mengira aku salah lihat—Ardhan menggeleng.
Hanya sekali. Hampir tidak terlihat.
Tapi pesannya jelas:
*Jangan tandatangani apapun. Belum.*
---
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar