Hpku bergetar di pangkuan, dan satu baris pesan dari nomor asing itu membuat seluruh ruangan mendadak terasa miring.


*"Hartono Wijaya bukan pengusaha. Dia mencarimu sejak kamu masih SMA. Hati-hati."*


Aku menatap layar. Sepuluh detik. Dua puluh detik. Otakku menolak mencerna kalimat itu.


*Mencariku sejak SMA?*


Aku berusia tujuh belas tahun saat SMA. Aku masih ingusan. Aku belum kenal siapa-siapa di luar lingkungan sekolah. Aku tidak punya hubungan apa pun dengan dunia bisnis, apalagi dengan duda kaya pemilik tambang.


Lalu kenapa orang asing ini bilang Hartono mencariku sejak waktu itu?


"Sekar." Suara Ibu memotong. "Lagi ngapain, sih, megang HP terus?"


Aku cepat-cepat mengunci layar. Memasukkan HP ke saku rok. Dadaku berdebar.


Kami sedang di mobil, dalam perjalanan pulang dari restoran Jepang. Pak Hartono sudah pamit setengah jam lalu, mengantar kami sampai parkiran dengan tangan menggenggamku sejenak terlalu lama. Ardhan—laki-laki muda dengan map dokumen itu—sudah pergi terlebih dahulu. Dia menggeleng padaku sekali lagi sebelum keluar dari ruangan. Lebih jelas kali ini.


Aku tidak tahu apa-apa tentang Ardhan. Aku bahkan tidak tahu nama lengkapnya. Tapi rasanya, dia adalah satu-satunya orang yang melihatku sebagai manusia hari ini.


"Sekar!" Ibu kembali memanggil. Lebih keras kali ini. "Jangan melamun. Ayah tanya kamu tadi."


Aku menoleh. "Maaf, Bu. Tanya apa?"


Ayah melirikku dari kaca spion. Matanya tajam.


"Ayah tanya, kamu siap nikahan tanggal 15 bulan depan."


Tanggal 15 bulan depan. Tiga puluh dua hari dari sekarang.


Aku menelan ludah. Mencoba memilih kata-kata. "Ayah... aku..."


"Apa?"


"Aku belum siap, Yah." Suaraku pelan, tapi aku menatap mata Ayah lewat spion. "Aku baru wisuda. Aku masih punya rencana. Beasiswa S2 ke Jepang—LOA-nya sudah datang minggu lalu, Yah. Tinggal aku konfirmasi."


Mobil tiba-tiba berhenti mendadak. Bagas terlempar ke depan, mengaduh kesal. Tomi melotot.


Ayah menoleh ke belakang. Wajahnya merah.


"LOA apa?"


"Beasiswa S2, Yah. Full beasiswa. Aku diterima di Tokyo—"


"Sekar." Suara Ibu memotong, dingin. "LOA-nya mana?"


Aku ragu. Tapi karena yang bertanya Ibu, dan karena aku masih—meski hari ini sudah mulai mengerti—masih punya naluri menurut pada Ibu, aku membuka tas. Mengambil amplop putih.


Itu LOA-ku. Surat penerimaan dari Universitas Tokyo. Surat yang sudah kucetak tiga kali, kulipat dengan hati-hati, kusimpan di tas seperti orang menyimpan harta paling berharga.


Aku menyerahkannya pada Ibu.


Ibu membukanya. Membaca cepat. Lalu menyerahkannya pada Ayah.


Ayah tidak membaca. Ayah hanya melihat tulisan Universitas Tokyo di bagian atas. Lalu—


Dia merobeknya.


Sekali. Dua kali. Empat kali. Ayah merobek LOA itu sampai jadi potongan kecil-kecil, lalu membukanya jendela mobil, dan membuangnya ke jalan.


Potongan kertas putih beterbangan di belakang mobil.


Aku menatap jendela. Tidak bisa berkata apa-apa.


Empat tahun. Empat tahun aku belajar mati-matian. Empat tahun aku jadi asisten dosen, jadi tukang ngoreksi tugas, jadi tutor anak SMP, untuk bisa membiayai biaya pendaftaran S2. Empat tahun aku menulis surat motivasi, mengumpulkan rekomendasi, belajar bahasa Jepang otodidak setiap malam.


Empat tahun.


Dirobek dalam empat detik.


"Yah." Suaraku akhirnya keluar. Pelan. Bergetar. "Itu—itu satu-satunya kopi yang aku punya."


"Bagus." Ayah menutup jendela. "Sekarang nggak ada yang ngajarin macam-macam ke kamu."


Mobil kembali berjalan. Bagas tertawa kecil. Tomi pura-pura melihat HP.


Air mataku jatuh. Tidak bersuara. Hanya mengalir.


Dan untuk pertama kalinya seumur hidupku, aku merasakan sesuatu yang lebih besar dari sedih.


Aku merasakan benci.


***


Kami sampai di rumah pukul empat sore. Rumah kami di kompleks perumahan menengah di pinggiran Bekasi. Cat tembok sudah kusam, atap genteng beberapa sudah pecah. Dulu rumah ini lumayan—tapi sejak Ayah pensiun dan mulai judi, tidak ada lagi yang dirawat.


Aku turun dari mobil tanpa bicara. Langsung masuk kamar.


Kamarku kecil. Tiga kali tiga meter. Tempat tidur, meja belajar, lemari. Di tembok ada foto wisudaku—foto yang baru saja diambil tiga jam lalu, sebelum tamparan itu mendarat. Foto yang Meisya pasti sudah kirim ke grup keluarga sebelum Ayah membawaku pergi.


Aku duduk di tepi tempat tidur. Buka HP.


Ada dua puluh tiga pesan dari Meisya.


*"Kar, kamu di mana?"*

*"Kar, jawab aku."*

*"Ayahmu mau ngapain?"*

*"KAR, JAWAB!"*

*"Sekar, please. Aku khawatir."*


Aku mengetik balasan dengan jari gemetar.


*"Mei, aku dijual."*


Tiga detik kemudian, HP-ku berdering. Panggilan Meisya.


Aku menjawab. Tidak ada suara. Aku membuka mulut, tapi tidak ada suara yang keluar. Hanya isakan.


"Sekar." Suara Meisya juga bergetar. "Sekar, jangan nangis dulu. Cerita pelan-pelan. Apa maksudnya kamu dijual?"


Aku ceritakan. Pelan-pelan. Mulai dari restoran Jepang, sampai amplop coklat, sampai delapan ratus juta, sampai LOA Tokyo yang dirobek.


Lalu aku ceritakan tentang Ardhan. Tentang gelengannya. Tentang pesan asing di HP-ku.


"Sek." Suara Meisya sekarang tegas. "Kamu nggak boleh ikut. Aku jemput sekarang. Kita kabur."


"Kabur ke mana?"


"Kos aku."


"Mei, Ayah pasti cari."


"Biarin. Kita lapor polisi—"


"Lapor apa?" suaraku pahit. "Aku udah dua puluh empat tahun. Aku belum dipaksa nikah—belum diakad. Polisi nggak akan ngurus."


Hening sebentar. Aku bisa mendengar Meisya menarik napas dalam-dalam.


"Kalau gitu, Sek, aku ke rumahmu sekarang. Aku—"


"Jangan."


Aku menatap pintu kamarku. Ada bayangan di celah bawah pintu. Seseorang berdiri di luar. Mendengarkan.


"Mei, aku tutup dulu," aku berbisik. "Nanti aku hubungi lagi."


Aku menutup telepon. HP kumasukkan ke bawah bantal.


Pintu kamarku terbuka.


Ibu masuk. Tidak mengetuk. Tidak permisi. Ibu membawa amplop coklat itu—amplop dari Hartono—di pangkuan, seperti orang yang baru pulang belanja dan mau membongkar belanjaan.


Ibu duduk di kursi meja belajarku.


"Sekar," kata Ibu. Suaranya sekarang lembut. Suara yang dipakai Ibu untuk membujuk Ayah saat Ayah marah. Suara yang aku tahu, sekarang, adalah suara manipulasi.


"Ibu tahu kamu kecewa hari ini."


Aku diam. Menatap selimutku.


"Tapi Sekar, anak perempuan itu memang harus berkorban untuk keluarga. Ibu juga dulu begitu. Ibu nikah sama Ayahmu umur sembilan belas tahun. Ibu nggak sempat kuliah. Ibu langsung punya anak. Ibu nggak pernah ngeluh."


Aku mendongak. Menatap Ibu.


"Bu, Ibu nikah karena cinta sama Ayah. Aku—"


"Cinta?" Ibu tertawa pendek. Tertawa yang asing. Tertawa yang baru pertama kali kudengar. "Sekar, Ibu nikah karena keluarga Ibu butuh uang. Persis seperti kamu sekarang."


Dunia berhenti sebentar.


Aku menatap Ibu. Mencari tanda Ibu sedang bercanda. Mencari kerlingan, senyum, apa pun.


Tidak ada.


"Bu..."


"Ibu nggak pernah bahagia." Ibu menatap dinding, bukan menatapku. "Ibu nggak pernah sayang sama Ayahmu. Tapi Ibu jalani. Karena itu kewajiban anak perempuan."


Ibu membuka amplop di pangkuannya. Mengeluarkan tumpukan uang. Lembar seratus ribu yang masih baru, masih bau tinta percetakan Bank Indonesia.


Ibu mulai menghitung.


Di depan mataku.


Satu lembar. Dua lembar. Tiga lembar. Ibu menghitung dengan kecekatan ibu kos. Cekatan, terlatih. Seolah Ibu sudah pernah menghitung sebanyak ini sebelumnya.


"Lima puluh juta," gumam Ibu, sambil menumpuk uang itu rapi di pangkuannya. "Lima puluh juta dulu. Sisanya nanti pas akad."


Aku menatap uang itu. Lima puluh juta. Ditumpuk di pangkuan Ibu. Di kamarku. Dengan poster wisudaku di belakang.


"Bu," suaraku akhirnya kembali, parau. "Itu uang aku?"


Ibu menoleh. Mengernyit. "Apa?"


"Itu uang aku, kan, Bu? Karena aku yang dijual."


Tangan Ibu berhenti menghitung. Sejenak, sangat sejenak, aku melihat sesuatu di matanya. Mungkin rasa bersalah. Mungkin sadar. Mungkin malu.


Tapi sejenak itu lewat dengan cepat.


"Sekar." Suara Ibu kembali tajam. "Jangan mulai. Uang ini untuk keluarga. Bukan untukmu."


"Untuk keluarga? Atau untuk bayar hutang judi Ayah?"


*PLAK!*


Tangan Ibu mendarat di pipiku—pipi yang sama yang ditampar Ayah tiga jam lalu. Tapi tamparan Ibu lebih keras. Lebih dalam. Lebih sakit. Bukan karena fisik. Karena dari Ibu.


Lima puluh juta jatuh berhamburan di lantai kamarku.


Ibu menatap uang itu. Lalu menatapku. Lalu kembali menatap uang. Dan tanpa berkata apa-apa, Ibu jongkok di lantai. Memunguti lembar demi lembar. Cepat. Panik. Seolah uang itu lebih penting dari anak yang baru ditamparnya.


Aku menatap punggung Ibu. Punggung yang sedang membungkuk mengumpulkan uang di lantai. Uang yang harganya satu masa depan anaknya.


Aku tidak menangis.


Aku sudah selesai menangis hari ini.


"Bu," kataku pelan, saat Ibu sudah selesai memunguti uangnya. "Boleh aku tanya satu hal?"


Ibu menatapku, masih jongkok. "Apa?"


"Sejak kapan Ibu rencanakan ini?"


Ibu berdiri. Memasukkan uang ke amplop. Menatapku.


"Sejak Pak Hartono datang ke Ayahmu di kampung halaman, dua tahun lalu, dan menawarkan harga buat anak perempuan yang cantik dan pintar." Ibu menatapku tanpa ekspresi. "Dia bilang dia mau yang masih kuliah. Yang belum pernah punya pacar. Yang penurut."


"Dua tahun..."


"Ya. Dua tahun."


Ibu berjalan ke pintu. Sebelum keluar, dia berhenti. Menoleh sedikit.


"Sekar. Pakai baju yang bagus malam ini. Pak Hartono mau ngajak makan malam. Berdua aja, katanya. Mau kenalan lebih dekat."


Pintu tertutup.


Aku duduk di tepi tempat tidur. HP di bawah bantal mulai bergetar lagi.


Aku mengambilnya.


Pesan dari nomor asing yang sama dengan tadi:


*"Malam ini, kalau dia ajak makan malam berdua, jangan pakai parfum apa pun. Jangan makan apa pun yang dia tuangkan sendiri. Dan kalau dia kasih kamu cincin, jangan pakai sebelum kita ketemu. — A."*


A.


Ardhan.


Aku menatap pesan itu lama. Lalu aku menatap pintu kamarku. Lalu aku menatap potongan-potongan foto wisuda yang Ibu tadi sempat lempar dari meja saat marah—aku baru sadar sekarang—dan terinjak di lantai.


Aku berdiri. Aku ambil parfum di meja rias. Parfum kesayanganku, vanila, hadiah dari Meisya ulang tahun lalu.


Aku letakkan parfum itu kembali di meja. Tidak kupakai.


Dan untuk pertama kalinya hari ini, aku tersenyum.


Senyum yang dingin. Senyum yang asing. Senyum yang baru saja lahir tiga jam terakhir.


Senyum seorang anak yang baru saja mati di dalam hatinya—dan akan terlahir kembali sebagai sesuatu yang sangat, sangat berbeda.