"Pelacur kecil."
Dua kata itu meluncur dari mulut wanita di hadapanku seperti ludah—pelan, dingin, dan diucapkan dengan senyum sopan supaya pelayan restoran tidak mendengar.
Aku berdiri di tengah ruang VIP, masih dengan jas Pak Hartono di pundakku—jas yang dia pinjamkan tadi karena AC restoran terlalu dingin. Wangi cologne mahal. Cologne yang sama yang aku cium tadi saat Pak Hartono menjemputku di rumah jam tujuh malam.
Aku menatap wanita itu. Memprosesnya pelan-pelan.
Dia cantik. Itu hal pertama yang otakku catat, otomatis, seperti instinct. Dia cantik dengan cara yang dingin—rahang tegas, mata tajam, alis tertata sempurna. Kulit putih. Rambut panjang lurus. Dress merah ketat yang harganya pasti lebih mahal dari setahun uang sakuku.
Tapi yang paling mencolok adalah tatapannya.
Tatapan itu seperti melihat kecoa di lantai.
"Rania." Suara Pak Hartono dingin, tegas. Dia berdiri dari kursinya. "Apa kamu lupa cara bicara?"
Rania tersenyum manis pada ayahnya. "Maaf, Yah. Aku cuma ngomong fakta."
"Duduk."
"Aku nggak duduk sebelum—"
"DUDUK, Rania."
Suara Pak Hartono kali ini berbeda. Dingin, tapi ada sesuatu di belakangnya. Sesuatu yang mengingatkanku pada serigala yang sedang menggeram pelan sebelum menerkam.
Rania menatap ayahnya. Sejenak, hanya sejenak, aku melihat sesuatu di matanya. Bukan takut. Tapi penilaian. Seperti dia sedang menghitung berapa harga melawan ayahnya saat ini.
Rania duduk.
Ardhan—yang berdiri di pintu sejak tadi, memegang map dokumen yang sama dengan tadi siang—mengikuti instruksi Pak Hartono untuk duduk juga. Tapi sebelum dia duduk, matanya bertemu denganku. Cepat. Hampir tidak terlihat.
Dia melirik ke gelas air di depanku.
Aku mengangguk pelan. Aku mengerti.
Aku tidak akan minum apa pun malam ini.
***
"Sekar." Pak Hartono mempersilakanku duduk di sebelahnya. "Maaf soal tadi. Anak saya... agak emosional."
"Anak saya yang sah, Yah." Rania melipat tangannya. "Yang sudah dua puluh delapan tahun jadi anak Ayah. Bukan—" dia melirikku, "—calon istri umur dua puluh empat yang Ayah beli dari pasar."
Aku menarik napas. Berusaha tidak menunjukkan apa-apa di wajahku.
Ini bukan pertama kali seseorang menghinaku. Tujuh tahun di kampus, dengan latar belakang miskin, aku sudah mendengar hinaan dari teman-teman anak orang kaya. Dari profesor yang menganggap anak beasiswa pasti curang. Dari satpam kampus yang pernah menahan aku karena tasku terlihat "mencurigakan."
Aku tahu cara menanggapi hinaan.
Aku menatap Rania. Lurus. Tidak berkedip.
"Mbak Rania, ya?" suaraku tenang. "Saya Sekar. Senang berkenalan."
Aku menjulurkan tangan.
Rania menatap tanganku. Tidak menyambut. Mengernyit seolah aku menjulurkan bangkai tikus.
Aku menarik tanganku perlahan. Tersenyum.
"Tidak apa-apa," kataku. "Kita masih bisa kenalan di lain waktu."
Pak Hartono terkekeh pelan di sampingku. Tertawa yang ditahan. Aku menoleh padanya, dan untuk pertama kali sejak aku bertemu Hartono Wijaya, aku melihat sesuatu yang aneh di matanya.
Sesuatu yang seperti... kepuasan.
Seolah Pak Hartono sedang mengetes aku.
Dan aku, baru saja, lulus tes pertama.
***
Makan malam datang. Sushi platter mahal, sashimi yang aku tidak tahu namanya, sup miso, dan teh hijau yang disajikan dalam cangkir kecil.
Pak Hartono mengambil sumpit. "Silakan, Sekar."
Tapi aku tidak segera makan. Aku mengamati piring di depanku. Lalu piring Pak Hartono. Lalu piring Rania.
Piring kami—aku dan Hartono—identik. Tapi piring Rania berbeda. Sushi-nya sedikit. Sashimi-nya lebih banyak.
Atau apakah aku paranoid?
Aku mengangkat sumpit. Mengambil sushi pertama dari piringku. Memasukkannya ke mulut.
Tidak ada apa-apa. Hanya enak. Lebih enak dari makanan apa pun yang pernah kumakan seumur hidupku.
Aku menelan. Lalu mengambil yang kedua.
"Sekar." Rania memanggil. Senyumnya kembali. Manis. Beracun. "Cerita dong tentang keluargamu."
Sumpitku berhenti di udara.
"Maksud Mbak?"
"Ya, keluargamu." Rania mencondongkan badan, sikunya di meja, dagunya di tangannya. "Aku denger ayahmu pensiunan PNS yang—gimana ya bilangnya—diberhentikan tidak hormat karena korupsi dana kantor? Atau ibumu... yang punya kebiasaan minjem uang ke tetangga buat bayar arisan?"
Suaraku berhenti di tenggorokan.
Ardhan, dari ujung meja, sedang menatap Rania dengan tatapan yang—seandainya tatapan bisa membunuh—pasti sudah membuat Rania pingsan.
Pak Hartono meletakkan sumpitnya.
"Rania." Suara dingin. "Cukup."
"Apa? Aku cuma tanya, Yah. Bukankah keluarga calon mertua itu penting? Aku kan—"
"Rania." Pak Hartono memotong. Kali ini lebih keras. "Aku bilang. Cukup."
Pak Hartono menoleh padaku. Mengangkat tangan. Menyentuh punggung tanganku.
"Sekar. Maaf."
Aku menarik tanganku perlahan, sopan tapi tegas.
Pak Hartono memperhatikan. Tidak protes. Tapi ada sesuatu di matanya yang menyimpan informasi itu.
"Pak Hartono," aku berkata, mencoba menjaga suaraku stabil. "Saya rasa, malam ini bukan waktu yang tepat untuk—"
"Diam dulu, Sekar." Pak Hartono memotong, tapi lembut. "Sebelum kamu memutuskan apa pun, dengarkan dulu apa yang akan saya katakan."
Dia memberi isyarat pada Ardhan. Ardhan berdiri, mendekat, membuka map dokumennya. Mengambil sebuah amplop putih.
Pak Hartono mengambil amplop itu. Meletakkannya di hadapanku.
"Buka."
Aku menatap amplop itu. Tidak bergerak.
"Sekar, buka."
Tanganku gemetar. Tapi aku membuka amplop itu.
Di dalamnya, ada selembar surat. Tertulis dengan font formal:
*"PERJANJIAN PRA-NIKAH"*
*Pihak Pertama: Hartono Wijaya, 55 tahun, pemilik PT Wijaya Mineral Resources.*
*Pihak Kedua: Sekar Ayuningtyas, 24 tahun, sarjana akuntansi Universitas Indonesia.*
*Ketentuan-ketentuan...*
Aku berhenti membaca.
"Apa ini?" tanyaku.
"Perjanjian," kata Pak Hartono tenang. "Sebelum kita menikah."
"Tapi..."
"Sekar." Pak Hartono menatapku langsung. Matanya, untuk pertama kali malam ini, terlihat seperti mata orang yang sangat lelah. "Pernikahan kita bukan pernikahan biasa. Saya tahu kamu sudah curiga. Saya tahu kamu sudah dapat... beberapa informasi dari orang lain."
Mata Pak Hartono melirik Ardhan. Sangat cepat. Ardhan tetap diam.
"Saya tidak akan menyentuh kamu," lanjut Pak Hartono. "Saya tidak butuh istri muda. Saya butuh seseorang yang cerdas, yang berpendidikan, dan yang... bisa menjaga sesuatu yang sangat penting buat saya."
Aku menelan ludah. "Menjaga apa, Pak?"
Pak Hartono tidak menjawab. Tapi matanya melirik Rania, yang sekarang menatap kami dengan mata yang menyala.
"Ayah," geram Rania. "Apa-apaan ini? Aku—"
"Diam, Rania. Sekali lagi. Diam."
Pak Hartono menoleh padaku.
"Sekar. Saya akan jujur padamu, di depan anak saya, supaya semuanya jelas. Saya sakit. Saya—" dia berhenti, menarik napas. "Saya tidak punya banyak waktu. Dan saya tidak punya siapa-siapa yang bisa saya percaya untuk meneruskan perusahaan saya."
Aku mengernyit. "Tapi... Mbak Rania—"
"Bukan dia." Suara Pak Hartono datar. "Justru karena dia, saya butuh kamu."
Rania menggebrak meja. Gelas-gelas bergoyang.
"AYAH!"
Pak Hartono tidak menoleh. Matanya tetap padaku.
"Sekar, kalau kamu setuju menikah dengan saya—pernikahan kontrak, lima tahun, tanpa hubungan fisik—saya akan memberikan kamu dua puluh persen saham perusahaan saya. Dan saya akan menjaga ayahmu dari kreditor judinya. Dan kalau—" Pak Hartono berhenti, "kalau saya meninggal sebelum lima tahun, semua hak waris saya akan diatur ulang. Kamu akan jadi pewaris utama."
Hening.
Aku mendengar napasku sendiri.
Aku mendengar napas Rania—berat, cepat, marah.
Aku mendengar pendingin ruangan.
Aku tidak mendengar apa-apa lagi.
***
"Tunggu," suaraku akhirnya keluar. "Pak Hartono... kenapa saya? Kenapa bukan saudara Bapak, atau anak buah lama Bapak, atau—"
"Karena kamu sudah saya amati sejak kamu SMA."
Aku terdiam.
"SMA?"
Pak Hartono tersenyum kecil. Senyum yang akhirnya mengandung sesuatu yang seperti emosi manusia. Bukan dingin lagi.
"Sekar. Ayahmu pernah jadi karyawan saya, di awal karir saya. Dua puluh lima tahun lalu. Saya kenal ayahmu sejak sebelum dia jadi PNS. Dan ayahmu pernah, sekali, menunjukkan foto anaknya yang baru lahir kepada saya. Anak perempuan kecil yang dia banggakan."
Pak Hartono menarik dompet dari sakunya. Dari dalam dompet, dia mengeluarkan sebuah foto kecil. Foto tua, sudah pudar warnanya.
Aku mengambil foto itu.
Itu fotoku. Bayi. Mungkin umur lima bulan. Digendong Ayah—Ayah yang masih muda, masih bertopi koki di kantor PNS. Tertawa lebar.
"Saya melihat fotonya tumbuh besar," kata Pak Hartono pelan. "Setiap tahun, ayahmu mengirim foto wisuda SD-mu, SMP-mu, SMA-mu. Karena saya kasih ayahmu hadiah Lebaran tiap tahun. Karena saya... entah kenapa, suka melihat anak kecil itu tumbuh."
Pak Hartono menatap mataku.
"Dan ketika saya didiagnosis kanker tiga tahun lalu, dan saya tahu Rania tidak bisa dipercaya... saya teringat pada gadis kecil di foto itu. Gadis yang sekarang dewasa, pintar, dan—maaf saya harus terus terang—butuh uang."
Aku merasa lemas.
"Jadi... ayah saya tahu? Ayah saya sudah bertahun-tahun tahu Bapak akan menikahi saya?"
"Tidak." Pak Hartono menggeleng. "Ayahmu tahu dua tahun lalu. Saya yang datang ke ayahmu, menawarkan kerjasama. Tapi ayahmu—"
Pak Hartono berhenti.
"Tapi ayahmu," lanjutnya, "melihat ini sebagai transaksi. Bukan kerjasama. Dia langsung minta delapan ratus juta. Dia langsung mengatur semuanya tanpa bertanya pada kamu. Dia—"
"Cukup, Pak." Suaraku gemetar. "Cukup."
Aku tidak ingin mendengar lebih jauh.
Aku tidak ingin tahu bahwa Ayahku, selama dua tahun, sudah merencanakan menjualku tanpa pernah sekalipun memberitahuku.
Aku tidak ingin tahu bahwa Ibuku, selama dua tahun, sudah tahu, dan menyimpan rahasia ini dariku.
Aku tidak ingin tahu bahwa kakak-kakakku—yang setiap kali aku pulang, selalu bertanya "uang sakumu masih ada nggak?" dan mengambil sebagian—sudah menghitung berapa banyak yang akan mereka dapat dari menjual adik kandungnya.
Aku menatap foto bayi di tanganku. Bayi yang dipeluk ayahnya dengan bangga.
Bayi itu tidak pernah sekali pun, dalam dua puluh empat tahun, benar-benar dianggap anak.
Bayi itu hanya investasi.
***
Aku berdiri.
"Pak Hartono." Suaraku akhirnya tenang. Aneh. Tenang seperti tenang laut sebelum tsunami. "Saya butuh waktu untuk berpikir."
"Tentu saja."
"Tapi saya butuh satu hal sekarang."
"Apa?"
Aku menatap mata Pak Hartono.
"Saya tidak akan pulang ke rumah orangtua saya malam ini. Saya juga tidak akan pulang ke rumah Bapak. Saya butuh tempat netral. Tiga hari. Untuk berpikir."
Pak Hartono terdiam sebentar. Lalu mengangguk.
"Ardhan." Pak Hartono memanggil. "Antarkan Sekar ke apartemen tamu di Sudirman. Kasih akses penuh selama tiga hari. Jangan ada yang boleh masuk—termasuk saya. Termasuk Rania."
"Baik, Pak."
Rania berdiri dengan kasar. "Ayah! Ini gila! Ayah memberikan—"
"Rania." Pak Hartono memotong. "Pulang. Sekarang."
Rania mendelik pada Pak Hartono. Lalu pada Ardhan. Lalu pada aku.
Pada aku, dia menunjuk dengan jari telunjuk.
"Kamu," desisnya, "akan menyesal."
Rania pergi keluar. Pintu VIP membanting tertutup.
Pak Hartono menghela napas panjang. Lalu menatap padaku.
"Sekar. Hati-hati. Saya sudah membuat kamu jadi target sekarang."
Aku tidak menjawab.
Aku hanya mengambil tasku. Lalu mengikuti Ardhan keluar dari ruangan.
Di lift, Ardhan dan aku berdiri berdampingan. Lift bergerak turun.
"Sekar."
Aku menoleh.
"Tadi saya kirim pesan ke kamu," kata Ardhan pelan. "Tentang parfum, tentang minuman."
"Ya."
"Ada satu hal lagi yang harus kamu tahu."
"Apa?"
Ardhan menatap lurus ke pintu lift.
"Pak Hartono tidak menceritakan semuanya kepadamu. Dia tidak sakit kanker. Dia diracuni."
Pintu lift terbuka di lantai dasar.
Ardhan melangkah keluar.
Aku berdiri terpaku di dalam lift, tidak bergerak, sampai pintu hampir menutup kembali.
---
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar