"Saya tahu siapa yang sedang meracuni Pak Hartono. Dan kamu tidak akan percaya siapa orangnya."


Ardhan menutup pintu ruang rapat lantai 32 gedung Wijaya Tower. Pintu kayu mahoni tebal yang menutup tanpa suara. Tirai-tirai abu-abu menghalangi pemandangan kota Jakarta yang sibuk di luar. Di tengah ruangan ada meja oval panjang, lapisan kulit, dan satu set kursi eksekutif kosong.


Hanya kami berdua di ruangan itu.


Aku berdiri di samping kursi paling ujung. Memakai dress biru tua yang dipinjamkan stylist apartemen pagi tadi. Rambut sebahuku diikat sederhana. Tas kerja kulit di tanganku.


Aku terlihat seperti calon eksekutif perusahaan.


Bukan calon istri yang dijual.


"Siapa, Ardhan?"


Ardhan berjalan ke jendela. Menggeser tirai sedikit, menatap ke luar. Punggungnya membelakangiku.


"Sebelum saya jawab, saya butuh kamu berjanji satu hal."


"Apa?"


"Setelah saya beritahu, kamu tidak akan langsung konfrontasi orang itu. Kamu akan diam. Kamu akan tetap menandatangani kontrak Pak Hartono. Dan kamu akan bermain sandiwara, sampai kita punya cukup bukti."


Aku menatap punggung Ardhan.


"Kenapa kamu peduli, Ardhan?"


Ardhan tidak menjawab. Tetap menatap keluar jendela.


"Ardhan."


"Sekar. Saya akan jelaskan semua. Tapi tidak hari ini. Tidak sebelum kamu tanda tangan kontrak. Sebab kalau saya jelaskan sekarang, kamu mungkin mundur. Dan saya butuh kamu tidak mundur."


"Kamu butuh aku?"


"Iya."


"Kenapa?"


Ardhan berbalik. Akhirnya menatapku.


Kemeja putihnya sudah agak kusut—mungkin dia tidak tidur semalam. Lingkaran tipis di bawah matanya. Tapi pandangannya tajam. Lurus. Tidak ragu.


"Karena kamu satu-satunya orang di gedung ini yang tidak punya kepentingan apa pun dengan kekayaan Pak Hartono. Kamu masuk ke sini tiga hari yang lalu, tidak punya saham, tidak punya posisi, tidak punya koneksi. Kamu satu-satunya yang bisa kupercaya."


"Lalu kamu sendiri?"


"Saya?" Ardhan tersenyum kecil. Senyum yang pahit. "Saya punya kepentingan. Tapi kepentingan saya bukan untuk dapat uang Pak Hartono. Kepentingan saya untuk balas dendam ke Pak Hartono."


Aku berkedip.


"Apa?"


Ardhan duduk di kursi eksekutif. Mengisyaratkan padaku untuk duduk juga.


Aku duduk.


"Sekar," kata Ardhan. "Dua puluh tahun yang lalu, ayah saya adalah partner bisnis Pak Hartono. Mereka bareng-bareng membangun perusahaan tambang ini. Lima puluh-lima puluh."


Aku menahan napas.


"Lalu suatu hari, ayah saya hilang. Hilang di kapal yang membawa hasil tambang ke Singapura. Resmi: kecelakaan laut. Tubuh ayah saya tidak pernah ditemukan. Tapi—" Ardhan menatap mataku, "—dua minggu setelah ayah saya hilang, Pak Hartono mengubah akta perusahaan. Saham ayah saya pindah ke namanya."


"Astaga..."


"Saya umur sembilan tahun saat itu. Ibu saya tidak bisa menggugat. Pak Hartono terlalu kuat. Akhirnya ibu saya jadi karyawan biasa di perusahaan Pak Hartono. Sampai akhirnya ibu saya juga meninggal—karena depresi, karena rokok, karena kerja terlalu keras. Saya tumbuh besar dengan uang beasiswa dan pekerjaan paruh waktu."


Aku tidak tahu mau bilang apa.


"Lima tahun lalu, saya lulus sekolah hukum. Dan saya datang ke Pak Hartono. Sebagai pengacara. Dengan satu tujuan: masuk ke perusahaan ini, dapat akses ke dokumen-dokumen lama, dan membuktikan bahwa ayah saya bukan kecelakaan. Tapi dibunuh."


"Ardhan, kamu—"


"Saya belum berhasil." Ardhan memotong. "Selama lima tahun saya jadi anak buah Pak Hartono. Saya patuh. Saya kerja keras. Saya cari peluang. Tapi Pak Hartono pintar. Dia tidak pernah menyimpan dokumen yang berbahaya di kantor."


Ardhan berdiri. Berjalan ke meja. Mengetuk-ngetuk meja dengan jari.


"Sampai bulan lalu," katanya. "Bulan lalu, saya melihat sesuatu yang aneh. Pak Hartono mulai sakit. Tapi sakitnya tidak seperti penyakit. Dia berat badan turun cepat. Pucat. Sering pusing. Tapi hasil cek rumah sakit—tidak ada kanker. Tidak ada penyakit serius. Dokter bingung."


"Diracuni..."


"Iya. Tapi siapa yang punya akses untuk meracuni Pak Hartono? Hanya orang-orang dekat. Asisten rumah tangga? Sudah saya periksa, mereka semua bersih. Koki? Sudah saya periksa. Sekretaris? Sudah saya periksa."


Ardhan berhenti. Menatapku.


"Yang tersisa hanya satu orang."


Aku menahan napas.


"Rania."


"Iya. Putri kandungnya sendiri."


Hening.


Aku membayangkan wajah Rania semalam. Tatapan dingin. *Pelacur kecil.* Kebencian yang terlalu murni untuk hanya karena ayahnya menikah lagi.


Tapi sekarang, semua masuk akal.


Rania ingin ayahnya mati. Sebelum ayahnya bisa menandatangani apa pun yang mengubah warisan.


Dan Pak Hartono tahu. Itu sebabnya Pak Hartono mencariku. Bukan karena romansa. Bukan karena anak ayahku di foto bayi. Tapi karena dia butuh orang luar yang bisa dia percaya untuk melindungi perusahaannya dari putri kandungnya yang ingin membunuhnya.


"Ardhan." Suaraku pelan. "Kalau Pak Hartono tahu Rania meracuninya, kenapa Pak Hartono tidak langsung melaporkan ke polisi?"


Ardhan tersenyum kecil. Pahit.


"Karena Pak Hartono adalah ayah, Sekar. Dia tidak mau memenjarakan anaknya sendiri. Dia berharap dengan cara ini—dengan mempersiapkan kamu sebagai pewaris—Rania akan menyerah. Rania akan sadar bahwa membunuh ayahnya tidak ada gunanya, karena warisan tidak akan jatuh padanya."


"Tapi itu tidak akan menghentikan Rania."


"Tepat. Karena itu, Pak Hartono naif. Atau—" Ardhan menatapku, "—Pak Hartono pasrah. Pak Hartono sudah menerima bahwa dia akan mati. Yang penting baginya adalah perusahaannya tidak jatuh ke tangan yang salah."


Aku menatap meja oval di hadapanku.


Kemarin pagi, aku adalah lulusan akuntansi yang baru wisuda, dengan rencana S2 ke Tokyo.


Sekarang—dua hari kemudian—aku sedang duduk di ruang rapat eksekutif sebuah perusahaan tambang triliunan rupiah, mendengarkan cerita tentang pembunuhan, racun, dan konspirasi yang sudah berlangsung dua puluh tahun.


Hidup memang bisa berubah dalam empat puluh delapan jam.


"Ardhan." Aku akhirnya bicara. "Aku akan tanda tangan kontraknya."


Ardhan mengangguk. "Saya tahu."


"Tapi ada satu syarat."


"Apa?"


Aku berdiri. Menatap mata Ardhan langsung.


"Kamu kerja sama denganku. Bukan dengan Pak Hartono. Aku tidak peduli dengan dendammu—kalau kamu mau buktikan ayahmu dibunuh, kamu akan dapat semua bantuan yang kamu butuhkan dari aku. Tapi mulai hari ini, kamu loyal padaku. Bukan pada Pak Hartono."


Ardhan menatapku lama.


Lalu dia tersenyum.


Senyum yang berbeda dari semua senyumnya sebelumnya. Senyum yang—aku tidak tahu kenapa—membuat sesuatu di dadaku menghangat sebentar.


"Setuju," katanya. "Selamat datang di neraka, Sekar."


***


Kami keluar dari ruang rapat. Berjalan menuju ruang kerja Pak Hartono di ujung lorong. Sekretaris di luar ruangan mengangguk pada kami.


Pak Hartono ada di ruangannya. Duduk di kursi besar di belakang meja kayu jati. Memakai jas abu-abu hari ini. Mukanya lebih pucat dari kemarin. Tangannya gemetar saat menuangkan air ke gelasnya.


"Sekar." Pak Hartono mengangkat wajah. "Sudah memutuskan?"


Aku berjalan ke meja. Mengambil kursi. Duduk.


"Saya tandatangan, Pak."


Pak Hartono mengangguk pelan. Tidak terkejut. Tapi sebenarnya ada sedikit kelegaan di matanya yang dia tutupi cepat.


"Bagus."


Pak Hartono menggeser map dokumen yang sudah disiapkan di mejanya. Map merah hati, dengan logo perusahaan emas di sampulnya.


"Ardhan, baca aturannya untuk Sekar."


Ardhan membuka map. Mulai membaca.


"Perjanjian Pra-Nikah antara Hartono Wijaya, lima puluh lima tahun, sebagai Pihak Pertama, dan Sekar Ayuningtyas, dua puluh empat tahun, sebagai Pihak Kedua. Pasal satu: Pernikahan ini bersifat kontraktual selama lima tahun. Pasal dua: Tidak ada hubungan suami-istri secara fisik. Pasal tiga: Pihak Pertama memberikan dua puluh persen saham PT Wijaya Mineral Resources kepada Pihak Kedua di hari akad. Pasal empat: Jika Pihak Pertama meninggal dalam masa kontrak, Pihak Kedua otomatis menjadi pewaris utama, menggantikan pewaris sebelumnya. Pasal lima..."


Aku mendengarkan setiap pasal dengan saksama. Sebagai anak akuntansi, aku terbiasa membaca kontrak. Tapi kontrak yang ini—kontrak yang nasib hidupku tergantung di setiap kalimatnya—membuat tanganku dingin.


Ardhan selesai membaca dua puluh menit kemudian.


Pak Hartono menggeser pulpen mahal ke arahku.


"Tanda tangan di tiga halaman. Ardhan akan jadi saksi. Notaris sudah saya panggil—dia akan menyaksikan sekarang."


Pintu ruang kerja terbuka. Seorang lelaki paruh baya dengan kemeja batik masuk—notaris yang sudah disiapkan.


Aku mengangkat pulpen.


Tanganku berhenti di atas kertas.


Sejenak, sangat sejenak, aku teringat sesuatu.


Aku teringat bayi di foto Pak Hartono kemarin. Bayi perempuan kecil yang digendong ayahnya dengan bangga. Bayi yang tidak tahu bahwa dua puluh empat tahun kemudian, bapaknya akan menjualnya.


Bayi itu seharusnya tumbuh menjadi profesor, atau dosen, atau analis di Tokyo. Bayi itu seharusnya menikah dengan laki-laki yang mencintainya, di umur dua puluh delapan atau tiga puluh, dengan upacara sederhana dan keluarga yang bahagia.


Bayi itu seharusnya tidak ada di sini, di ruang kerja eksekutif, tanda tangan kontrak pernikahan dengan duda yang sedang diracuni anak kandungnya.


Tapi bayi itu sudah tidak ada.


Bayi itu mati kemarin sore, di restoran Jepang.


Yang ada sekarang—yang sedang memegang pulpen ini—adalah seseorang yang baru lahir.


Sekar yang baru.


Aku menandatangani.


Halaman pertama. Halaman kedua. Halaman ketiga.


Pak Hartono mengangguk pada notaris. Notaris mengeluarkan stempel. Cap merah jatuh di setiap halaman.


Kontrak resmi.


Aku, Sekar Ayuningtyas, dua puluh empat tahun, secara hukum—sebentar lagi—akan menjadi Nyonya Hartono Wijaya.


***


Akad nikah berlangsung tiga hari kemudian, di rumah Pak Hartono di kawasan Menteng.


Aku memakai gaun pengantin sederhana yang kupilih sendiri. Putih krem. Renda di lengan. Tidak ribet, tidak meriah. Aku tidak mau gaun mewah. Aku tidak mau pesta. Aku tidak mau hari ini terasa seperti hari bahagia, karena bukan.


Tamu undangan hanya dua puluh orang. Dari pihakku, hanya Meisya yang tahu kebenaran. Ayah, Ibu, dan dua kakakku duduk di kursi keluarga, memakai pakaian mahal yang baru dibeli pakai uang muka Pak Hartono. Mereka tersenyum lebar di depan kamera.


Aku tidak melihat ke arah mereka.


Tidak sekali pun, selama prosesi.


Pak penghulu mulai membaca lafaz akad. Pak Hartono memegang tanganku. Pelan. Sopan. Tidak erotis. Seperti dokter memegang pasien.


"Saya nikahkan engkau, Sekar Ayuningtyas binti Suryadi, dengan mas kawin..."


Suara penghulu mendengung di telingaku.


Aku menatap karpet di lantai. Karpet Persia mahal. Motif rumit.


Aku berusaha tidak pingsan.


"...dengan mas kawin emas seratus gram dibayar tunai," kata penghulu. "Bagaimana, Pak Hartono?"


"Saya terima nikahnya..." Pak Hartono mulai membaca ijab kabul.


Aku menatap karpet. Lebih dalam. Mata tidak fokus.


Aku merasakan tangan Pak Hartono di tanganku.


Aku merasakan jantungku yang berdebar.


Aku merasakan air mata yang mengalir di pipiku, meski aku berjanji semalam tidak akan menangis lagi.


Lalu, sangat samar, aku mendengar suara Pak Hartono terhenti.


Aku mengangkat wajah.


Pak Hartono terlihat pucat. Lebih pucat dari sebelumnya. Bibirnya bergerak, tapi kata-katanya tidak keluar.


"Pak Hartono?" tanya penghulu.


Pak Hartono mengangguk lemah. Mencoba lagi.


"Saya terima... saya terima nikah—"


Pak Hartono berhenti. Tubuhnya gemetar.


Lalu, dengan satu suara berat yang aku akan ingat seumur hidupku, Pak Hartono jatuh ke depan. Kepalanya menabrak meja akad. Cangkir kopi pak penghulu tumpah.


Pak Hartono tidak bergerak.


Aku berteriak.


Para tamu berdiri. Rania—yang duduk di kursi keluarga di sisi seberang—berdiri pelan. Wajahnya datar.


Sangat datar.


Seperti dia sudah tahu ini akan terjadi.


Ardhan, yang berdiri di belakang sebagai saksi, langsung menerobos kerumunan. Memegang nadi Pak Hartono.


"Panggil ambulans!" teriaknya. "Sekarang!"


Aku menatap Pak Hartono. Suamiku yang baru. Yang belum sempat menyelesaikan ijab kabul.


Lalu aku menatap Rania.


Rania, di seberang ruangan, menatap balik padaku.


Dan—di tengah kepanikan, di tengah teriakan-teriakan tamu—Rania tersenyum kecil padaku.


Senyum yang berkata: *Selamat datang di permainan, pelacur kecil. Selamat datang di neraka.*


--