Ketukan pintu itu datang pukul setengah dua belas malam—tepat saat aku akhirnya berhasil memejamkan mata.


Aku membuka mata. Tidak bergerak dulu. Apartemen tamu Pak Hartono di lantai dua puluh delapan tower Sudirman ini terlalu hening. Lantai marmer dingin, sofa kulit yang lebih besar dari kamarku di rumah, lampu kristal yang tergantung di langit-langit setinggi enam meter. Setiap suara pasti gema.


Ketukan datang lagi. Tiga kali. Tegas.


"Sekar! Ini Ibu!"


Aku terduduk di tempat tidur.


*Ibu?*


Aku menatap jam dinding. 11.32 malam. Ibu tidak pernah—seumur hidupku tidak pernah—pergi ke mana pun setelah jam delapan malam. Ibu takut malam. Takut hantu. Takut maling. Takut pulang sendirian.


"Sekar, buka pintunya! Ibu kedinginan!"


Aku berdiri. Memakai jubah mandi yang disediakan apartemen. Berjalan ke pintu pelan-pelan.


Pintu apartemen ini punya intercom dengan layar kamera. Aku menekan tombol. Layar kecil di samping pintu menyala.


Di koridor luar, Ibu berdiri. Memegang dua koper besar. Memakai daster yang sama dengan tadi siang. Tapi sekarang ada syal di lehernya, sandal jepit di kakinya, dan—aku perhatikan baik-baik—jejak air mata di pipinya.


Tapi rambut Ibu rapi. Lipstik Ibu masih merah. Dan dua koper besar itu... tampaknya dipilih dengan tergesa-gesa, tapi tidak terlalu tergesa. Resleting koper bagian luar masih rapi tertutup.


Ibu tidak benar-benar diusir dari rumah.


Aku menatap layar lebih lama. Lalu aku menarik napas dalam-dalam.


Aku membuka pintu.


***


Ibu menerobos masuk tanpa salam.


"Sekar! Ya Allah, kamu di sini ternyata! Ibu cari-cari! Ayahmu—ayahmu mengusir Ibu dari rumah!"


Ibu langsung memelukku. Pelukan yang erat. Pelukan yang—seandainya ini terjadi dua belas jam yang lalu, sebelum semua ini, sebelum aku tahu siapa Ibu sebenarnya—pasti akan membuatku menangis bahagia.


Tapi sekarang, aku merasakan sesuatu yang lain.


Aku merasakan Ibu, di balik pelukan itu, sedang melirik ke seluruh apartemen.


Memperhatikan ukuran sofa. Lampu kristal. Lukisan-lukisan di dinding. Pemandangan dari jendela. Lemari minuman keras kristal di pojok.


Mata Ibu menjelajahi apartemen lebih cepat dari mata pencuri profesional.


"Bu," aku menjauhkan diri pelan. "Bu, duduk dulu. Ceritakan pelan-pelan."


Ibu mengangguk. Mengusap air mata yang—aku perhatikan—tidak meluncur dari mata, tapi dari pinggir kelopak. Air mata yang ditahan dengan keras supaya bisa keluar dengan sengaja.


Ibu duduk di sofa kulit.


Mendesah panjang.


Lalu Ibu menatap apartemen sekali lagi, lebih lambat kali ini, sebelum kembali menatap padaku.


"Sekar." Suara Ibu pelan. "Ibu salah. Ibu menyesal."


Aku menarik kursi di seberang sofa. Duduk. Tidak di sebelah Ibu.


"Salah apa, Bu?"


"Salah... soal Pak Hartono. Soal pernikahan ini."


Aku diam. Menunggu.


"Ibu memikirkan ulang." Ibu mengusap pipinya. "Setelah kamu pergi tadi—setelah Pak Hartono menjemputmu—Ibu tiba-tiba sadar. Ibu salah. Ibu seharusnya membela kamu. Ibu seharusnya melindungi anak Ibu sendiri."


Aku menatap Ibu.


Tidak menjawab.


"Sekar, ayahmu marah ketika Ibu bilang Ibu mau membatalkan pernikahan ini." Ibu melanjutkan, suara mulai bergetar. "Ayahmu memukul Ibu. Memukul keras. Ibu sampai jatuh ke lantai dapur. Lihat ini—"


Ibu menggulung lengan dasternya. Menunjukkan lengan atasnya.


Ada memar.


Memar yang lumayan besar. Berwarna ungu kebiruan.


Aku mengernyit.


Memar itu... terlihat segar. Tapi tidak terlalu segar. Warnanya sudah ungu kebiruan, bukan merah. Memar baru biasanya merah. Memar dua-tiga hari sudah ungu.


Memar di lengan Ibu... bukan dari sore tadi.


Itu memar lama.


Mungkin dari pemukulan Ayah seminggu lalu. Mungkin dari minggu lalu. Tapi bukan dari malam ini.


Tapi aku tidak bilang apa-apa.


Aku hanya menatap Ibu. Membiarkan Ibu bermain.


"Ibu sudah tidak tahan, Sekar." Ibu terisak. "Ibu mau kabur. Ibu mau ikut kamu. Ibu mau hidup sama kamu saja, kita berdua. Kita lupakan ayahmu. Kita lupakan dua kakakmu yang tidak berguna itu."


Aku tetap diam.


"Sekar, kamu kan calon istri Pak Hartono yang kaya. Pasti dia tidak keberatan kalau ibu kamu tinggal sama kamu. Iya kan? Iya kan, Sekar?"


Aku menatap Ibu lebih lama.


Lalu aku berdiri.


Aku berjalan ke dapur kecil di sudut apartemen. Mengambil dua gelas. Menuangkan air mineral dari kulkas.


Aku kembali ke ruang tamu. Memberikan satu gelas pada Ibu. Mengambil sisanya untuk diri sendiri.


"Bu," kataku akhirnya, suara tenang. "Sebelum Ibu lanjut, aku mau tanya satu hal."


Ibu menerima gelas. Mengangguk. "Apa, sayang?"


*Sayang.* Ibu memanggilku *sayang*. Itu yang ke-tiga kalinya seumur hidupku Ibu memanggilku begitu. Yang pertama, saat aku menang lomba matematika SD. Yang kedua, saat aku diterima di UI. Yang ketiga, sekarang—saat Ibu butuh sesuatu dariku.


Aku menelan rasa pahit di mulutku.


"Bu, sejak kapan Ibu tahu Pak Hartono mau menikahi aku?"


Ibu berkedip. Cepat. Otaknya berputar—aku bisa melihat itu di matanya.


"Dari... dari hari ini, sayang. Pas wisudamu."


"Bu, jangan bohong."


Suara Ibu yang tadi terisak, mendadak hening.


"Sekar, Ibu nggak bohong—"


"Bu." Aku menatap Ibu. Tegas. "Pak Hartono sudah cerita semua ke aku."


Tangan Ibu yang memegang gelas mulai gemetar.


Sedikit saja.


Tapi aku melihatnya.


"Cerita... apa, Sekar?"


"Cerita bahwa Ayah sudah mengatur ini sejak dua tahun lalu. Cerita bahwa Ibu tahu sejak dua tahun lalu. Cerita bahwa Ibu adalah pihak yang ngotot mengatur sampai delapan ratus juta, bukan tujuh ratus, yang sudah ditawarkan Pak Hartono pertama kali."


Ibu meletakkan gelasnya di meja.


Pelan-pelan.


Senyum lembut di wajah Ibu tadi—senyum yang penuh air mata—perlahan menghilang. Berganti dengan ekspresi datar.


Ekspresi yang aku, seumur hidupku, sudah kenal.


Ekspresi Ibu yang asli.


"Pak Hartono cerita banyak ya," gumam Ibu.


"Iya."


Ibu mengangguk pelan. Beberapa kali. Sambil menatap karpet apartemen.


"Sekar," kata Ibu, suara berubah. Tidak isakan lagi. Tidak lembut lagi. "Kamu tahu, kan, kalau Ibu yang sebenarnya buat kamu bisa kuliah?"


Aku terdiam.


"Apa, Bu?"


"Ibu yang tanda tangan formulir beasiswamu. Ibu yang antar kamu ke UI dulu pas pertama kali. Ibu yang bujuk Ayahmu supaya tidak menarik kamu pulang ke kampung pas semester dua, waktu Ayahmu hampir bangkrut."


"Bu—"


"Ibu yang membesarkanmu, Sekar. Ibu yang melahirkan kamu. Ibu yang—"


"Bu, cukup."


"—sudah merawat kamu dua puluh empat tahun. Sekarang Ibu butuh kamu, dan kamu tidak mau bantu?"


Aku menatap Ibu.


"Ibu," suaraku pelan. "Ibu tahu kenapa aku bisa beasiswa? Karena nilaiku. Bukan karena tanda tangan Ibu di formulir. Ibu tahu kenapa aku diantar Ibu ke UI di hari pertama? Karena Ibu mau pamer ke tetangga bahwa anak Ibu kuliah di UI. Bukan karena Ibu sayang aku."


"Sekar! Berani kamu bicara sama Ibu—"


"Dan soal Ibu membujuk Ayah supaya tidak menarik aku pulang di semester dua..." aku tersenyum kecil. Pahit. "Bu, aku tahu kebenarannya. Mbak Yati, tetangga sebelah, pernah cerita. Saat itu, Ibu yang justru ngotot Ayah menarik aku pulang. Tapi Ayah menolak. Karena Ayah sudah punya rencana lain dengan aku."


Wajah Ibu pucat.


"Mbak Yati ngomong begitu?"


"Iya, Bu."


"Mbak Yati pembohong—"


"Atau, Bu—" aku memotong, "—Ibu yang pembohong?"


Hening.


Ibu menatapku. Aku menatap Ibu.


Untuk pertama kalinya seumur hidupku, aku tidak menundukkan pandangan duluan.


***


Akhirnya, Ibu menarik napas panjang. Lalu menyeringai.


Senyum yang seperti orang kalah, tapi tidak benar-benar kalah.


"Sekar," kata Ibu. Suara berubah lagi. Lebih dingin. Lebih asli. "Ibu nggak mau berdebat sama kamu malam ini. Ibu cuma mau tinggal di sini beberapa hari. Boleh kan?"


"Tidak, Bu."


Ibu mengangkat alis. "Apa?"


"Tidak. Ibu tidak boleh tinggal di sini."


"Sekar! Ibu kamu! Berani kamu—"


"Bu, ini apartemen Pak Hartono. Saya cuma menumpang. Saya bilang ke Pak Hartono saya butuh tiga hari sendirian untuk berpikir. Pak Hartono memberi instruksi ke security untuk tidak ada yang boleh masuk."


"Tapi Ibu sudah di sini!"


"Karena security mungkin tidak tahu Ibu tidak boleh masuk. Tapi saya bisa telepon security sekarang."


Aku mengambil HP dari saku jubah. Membukanya.


Ibu menatap HP-ku. Lalu menatapku.


Ekspresi Ibu sekarang—asli. Tidak lagi pura-pura.


Ibu marah.


Marah seperti yang aku tahu dari masa kecilku. Marah dengan rahang terkatup. Marah dengan mata yang menyempit. Marah yang biasanya dilanjutkan dengan jepretan tangan di pipi—jepretan yang aku terima setiap kali nilaiku tidak sempurna, setiap kali aku menumpahkan makanan, setiap kali aku berani membantah.


Tapi Ibu tidak mengangkat tangan kali ini.


Karena Ibu sadar—aku, sekarang, bukan anak yang sama dengan delapan jam lalu.


"Sekar." Suara Ibu rendah. Geram. "Kamu sudah berani sekarang ya."


Aku tidak menjawab.


"Karena merasa sudah jadi calon istri orang kaya."


"Bu," aku berkata pelan. "Aku jadi calon istri orang kaya bukan karena pilihanku. Aku dijual ke orang kaya. Oleh orangtuaku sendiri. Apa Ibu lupa?"


Ibu menatapku.


Lalu—dan ini yang membuat dadaku akhirnya benar-benar dingin—Ibu tertawa.


Tertawa pendek. Tertawa yang dingin.


"Sekar, anak Ibu yang pintar." Ibu menggelengkan kepala pelan, masih tertawa kecil. "Kamu pikir kalau Ibu nggak menjualmu, ada yang akan menikahi kamu? Lihat kamu. Dua puluh empat tahun, anak miskin, kuliah pakai beasiswa, nggak punya pacar selama empat tahun. Kamu pikir kamu istimewa? Kamu pikir laki-laki yang waras mau—"


"Ibu," suaraku memotong. "Aku rasa Ibu sebaiknya pulang."


"Sekar!"


"Sekarang."


Ibu menatapku.


Aku menatap Ibu.


Selama satu menit penuh, tidak ada yang bicara.


Lalu Ibu berdiri.


Dengan kasar, Ibu mengangkat kedua kopernya. Berjalan ke pintu. Tapi sebelum keluar, Ibu menoleh sekali lagi.


"Sekar," katanya, suara sangat tenang sekarang. Tenang yang lebih menakutkan dari teriakan. "Kamu akan menyesal. Kamu akan kembali. Anak yang melawan orangtua, nggak akan pernah bahagia. Pamali."


Aku tersenyum kecil.


Senyum yang asing. Senyum yang baru lahir lima jam terakhir.


"Mungkin, Bu. Mungkin aku nggak akan pernah bahagia. Tapi setidaknya, aku nggak akan jadi seperti Ibu."


Tangan Ibu mengepal.


Tapi Ibu tidak mengangkatnya.


Ibu hanya menyentakkan kopernya keluar pintu. Dengan keras. Lalu menutup pintu—keras, sampai kaca lukisan di dinding bergetar.


Aku berjalan ke pintu. Menguncinya. Dua kali.


Lalu aku berbalik. Bersandar di pintu. Memejamkan mata.


Untuk pertama kalinya seumur hidupku, aku baru saja mengusir ibuku sendiri.


Dan aku tidak merasa bersalah.


Aku merasa—lega.


***


HP-ku bergetar di tangan. Pesan masuk.


Nomor Ardhan.


*"Ibu kamu turun dari lift sekarang. Dia menelepon seseorang. Saya rekam percakapannya dari lobi. Mau saya kirim?"*


Aku berkedip.


Ardhan ada di lobi gedung ini?


Sejak kapan?


Aku mengetik cepat. *"Ya. Kirim."*


Tiga puluh detik kemudian, sebuah file audio masuk. Aku menekan play.


Suara Ibu yang familiar. Tapi bukan suara yang Ibu pakai padaku tadi. Suara yang—bahkan tidak pakai air mata pura-pura.


*"...sudah aku coba, Yah. Anak kurang ajar itu. Sudah berani melawan Ibunya. Pasti diracuni Pak Hartono."*


Suara Ayah dari ujung sana. Marah. Mengumpat.


Lalu Ibu tertawa. Tertawa yang dingin.


*"Tenang, Yah. Sekar belum tanda tangan apa-apa. Kalau dia belum tanda tangan, kita masih bisa batalkan. Atau—lebih bagus lagi—kita bisa tarik dia kembali, terus jual ke yang lain dengan harga lebih tinggi. Aku denger Pak Bambang dari Bekasi mau cari istri muda juga. Tawarannya satu setengah miliar."*


Audio berhenti.


Tanganku gemetar.


Satu setengah miliar.


Bahkan setelah delapan ratus juta dari Pak Hartono... Ibu masih mau menjualku lagi.


Lebih mahal.


Aku menatap pintu apartemen yang baru saja kututup.


Lalu aku tertawa. Pelan. Lalu lebih keras. Lalu sampai aku tertekuk di pintu, memegang perut, tertawa seperti orang gila.


Karena kalau aku tidak tertawa, aku akan menangis.


Dan aku, mulai malam ini, tidak akan pernah menangis lagi untuk orang-orang ini.


--