​Suara pecahan porselen yang menghantam lantai ubin terdengar seperti ledakan bom di tengah keheningan rumah nomor 12. Vas bunga bermotif aster biru—hadiah ulang tahun pernikahan ke-25 dari Si Bungsu—hancur berkeping-keping. Air jernih di dalamnya mengalir, membasahi kelopak-kelopak bunga potong yang perlahan layu, merembes ke ujung sandal jepit yang dikenakan Hendra.

​Tangan Hendra masih melayang di udara, gemetar hebat. Dadanya naik-turun, memompa napas yang terasa panas dan sesak. Matanya yang mulai dihiasi kerutan dalam menatap nanar ke arah pintu depan yang baru saja tertutup rapat. Tiga puluh menit yang lalu, taksi yang membawa Si Bungsu ke bandara telah melesat pergi, meninggalkan kepulan asap tipis dan kekosongan yang seketika mencekik leher.

​"Semua sudah pergi," bisik Hendra pada dinding-dinding rumah yang mendadak terasa terlalu tinggi dan terasing.

​Hendra membalikkan badan, melangkah linglung ke ruang tengah. Ia meraba saku celana kainnya, mengeluarkan ponsel pintar yang biasanya tidak pernah berhenti berdering. Selama tiga puluh tahun bekerja sebagai manajer operasional di perusahaan logistik multinasional, ponsel itu adalah detak jantungnya. Email yang masuk setiap lima menit, telepon darurat dari pelabuhan pada jam tiga pagi, atau grup obrolan direksi yang menuntut keputusan cepat.

​Namun hari ini, tepat satu minggu setelah upacara pelepasan masa pensiunnya, layar ponsel itu bersih. Tidak ada notifikasi. Tidak ada email masuk. Kosong. Ketika ia mencoba membuka grup obrolan kantor, sebuah pesan sistem berwarna abu-abu muncul di bagian bawah layar: “Anda tidak dapat mengirim pesan ke grup ini karena Anda bukan lagi peserta.”

​Hendra melempar ponsel itu ke atas sofa kulit. Rasanya seperti dilempar dari kereta cepat yang sedang melaju, lalu dibiarkan berdiri sendirian di tengah rel yang mati. Fungsi hidupnya menguap dalam semalam.

​Dari arah kamar belakang, suara tangisan yang teredam mulai terdengar. Semakin lama semakin tinggi, berubah menjadi isakan histeris yang menyayat. Itu suara Aini.

​Hendra melangkah cepat menuju kamar Si Bungsu. Pintu kayu jati itu tertutup rapat, terkunci dari dalam. Hendra memutar knop pintu dengan kasar, namun tidak membuahkan hasil. Ia menggedornya tiga kali.

​"Aini! Buka pintunya! Apa-apaan menangis seperti orang kehilangan akal sehat begitu?" teriak Hendra, suaranya menggelegar, mencoba menutupi rasa cemas yang mulai merayap di dadanya.

​"Dia tidak akan kembali, Mas! Dia sudah pergi jauh!" raung Aini dari dalam, suaranya parau, diselingi bunyi barang-barang yang bergeser. "Rumah ini mati! Kita hanya dua orang tua bangka yang menunggu giliran mati di sini!"

​"Buka, Aini! Jangan membuat saya mendobraknya!"

​Hendra menghantamkan pundaknya ke pintu. Pada hantaman kedua, terdengar bunyi klik dari dalam. Pintu terbuka sedikit. Hendra mendorongnya dan mendapati pemandangan yang mengacaukan isi kepalanya. Aini sedang bersimpuh di lantai, memeluk jaket denim milik anak bungsu mereka yang tertinggal. Air matanya menghapus seluruh bedak di wajahnya, meninggalkan guratan-guratan basah yang tampak menyedihkan. Di sekelilingnya, isi lemari pakaian telah berhamburan—bukan karena dikemas, melainkan karena dihempaskan dalam kemarahan.

​Hendra mendekat, berniat menarik lengan istrinya agar berdiri, namun pandangannya teralih oleh sesuatu yang menyembul dari bawah kasur busa yang sedikit terangkat. Sebuah kotak kayu kecil berukir yang selama ini selalu dikunci rapat oleh Aini kini terbuka. Isinya berantakan di lantai.

​Bukan foto-foto masa kecil anak-anak mereka yang ada di sana. Melainkan tumpukan kertas putih dengan kop surat resmi berwarna merah menyala.

​Hendra melepaskan cengkeramannya pada baju Aini. Ia berlutut, memungut selembar kertas yang paling atas. Matanya menyipit, mencoba membaca deretan angka yang tercetak tebal di sana.

​SURAT PERINGATAN KETIGA (SP-3)

PERIHAL: TUNGGAKAN JAMINAN DAN PINJAMAN ATAS NAMA AINI RACHMAWATI

TOTAL TAGIHAN: Rp 450.000.000,-

​Darah Hendra mendadak berhenti mengalir. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga telinganya berdenging. Ia membalik kertas berikutnya, dan berikutnya lagi. Semua adalah surat penagihan utang dari lembaga keuangan non-bank, lengkap dengan tanda tangan Aini di atas meterai.

​"Apa... apa ini, Aini?" suara Hendra mendadak turun beberapa oktav, berubah menjadi bisikan yang jauh lebih menakutkan daripada teriakannya tadi.

​Aini seketika menghentikan tangisnya. Wajahnya yang semula merah karena air mata kini berubah menjadi pucat pasi, seputih kertas di tangan Hendra. Ia mencoba merangkak maju, berniat merebut kertas-kertas itu, namun Hendra dengan cepat berdiri, menjauhkan dokumen tersebut dari jangkauan istrinya.

​"Saya tanya, ini apa?!" Hendra membentak, membuat jendela kamar ikut bergetar. "Empat ratus lima puluh juta? Dari mana kamu dapat utang sebanyak ini? Untuk apa?!"

​"Mas, dengarkan aku dulu... itu... itu bukan untukku..." Aini terbata-bata, tangannya gemetar mencoba meraih ujung celana Hendra.

​"Kamu tahu berapa uang pensiun yang saya terima minggu lalu? Lima ratus juta, Aini! Lima ratus juta hasil saya memeras keringat selama tiga puluh tahun, menahan maki dari pemilik saham, pulang jam dua pagi sampai asam urat saya kambuh! Dan sekarang, belum genap seminggu saya berhenti kerja, kamu mau bilang uang itu harus habis untuk membayar kertas-kertas sialan ini?!"

​Hendra melempar tumpukan surat itu ke wajah Aini. Lembaran-lembaran kertas itu beterbangan, beberapa mengenai pipi Aini sebelum jatuh berserakan di atas lantai yang kotor.

​"Jelaskan pada saya, Aini! Sebelum saya seret kamu ke kantor polisi!" Hendra mencengkeram rahang Aini, memaksa istrinya menatap langsung ke dalam matanya yang menyalang penuh amarah. "Kita tidak pernah kekurangan. Rumah ini sudah lunas. Mobil ada. Anak-anak kuliah semua saya yang biayai. Untuk apa uang hampir setengah miliar ini?!"

​Aini membuka mulutnya, namun tidak ada suara yang keluar. Bibirnya bergetar hebat. Rasa bersalah dan ketakutan yang teramat sangat tampak jelas mengunci tenggorokannya.

​Tepat pada detik menegangkan itu, dari ruang tengah, suara dering ponsel Aini memecah udara. Lagu instrumental bawaan pabrik yang bernada nyaring itu terdengar seperti alarm bahaya.

​Aini tersentak. Ketakutan di matanya berubah menjadi kepanikan yang mutlak. Dengan kekuatan yang tidak terduga, ia menyentak tubuhnya hingga cengkeraman tangan Hendra terlepas. Ia merangkak cepat ke arah meja rias di sudut kamar, tempat ponselnya tergeletak.

​"Jangan berani-berani menyentuh telepon itu sebelum kamu menjawab saya!" Hendra menerjang maju.

​Namun Aini lebih cepat. Jemari kurusnya berhasil meraih ponsel pintar itu. Layarnya menyala, menampilkan deretan angka tanpa nama kontak—sebuah nomor tidak dikenal yang entah mengapa membuat seluruh tubuh Aini menegang kaku seperti melihat hantu.

​Hendra tidak memberi kesempatan lagi. Ia merebut ponsel itu langsung dari genggaman Aini dengan satu sentakan kasar.

​"Mas, jangan diangkat! Sumpah, Mas, demi Allah jangan diangkat!" Aini menjerit histeris, mencoba melompat untuk merebut kembali ponselnya, namun Hendra mendorong bahu istrinya hingga perempuan itu kembali jatuh terduduk di atas lantai.

​Hendra menatap layar ponsel yang masih bergetar di tangannya. Ibu jarinya bergerak, menggeser ikon hijau ke atas, lalu menempelkan benda tipis itu ke telinganya.

​"Halo," suara Hendra terdengar berat dan penuh ancaman.

​Hening sejenak di seberang sana. Hanya terdengar suara embusan napas yang tenang, diikuti oleh kekehan kecil seorang pria muda yang terdengar sangat familier, namun sekaligus asing di telinga Hendra.

​"Ah, akhirnya diangkat juga," suara di seberang telepon berbisik dengan nada santai, seolah-olah sedang menyapa kawan lama. "Ibu Aini... atau harus kupanggil 'Mama'? Sampaikan pada suamimu yang tua itu, waktu kalian sudah habis. Kalau besok sore uangnya belum masuk ke rekeningku, rahasia tiga puluh tahun lalu akan mendarat di meja anak sulung kalian. Oh, atau mungkin... langsung kubakar saja rumah lama kalian itu?"

​Hendra membeku. Matanya perlahan beralih menatap Aini yang kini sedang bersimpuh di lantai sambil menutup kedua telinganya, menangis tanpa suara, seolah-olah dunia di sekeliling mereka baru saja runtuh sepenuhnya.