Kata tewas menghunjam gendang telinga Hendra bagai hantaman gada besi. Seluruh suara badai, gemuruh guntur, dan deru mesin sedan hitam di depan pagar mendadak lenyap dari pendengarannya. Kesunyian yang pekat langsung mengunci ruang kesadaran pria tua itu.
Baskoro. Anak bungsu yang beberapa jam lalu ia cium keningnya di terminal keberangkatan bandara. Anak yang tersenyum membawa koper besar penuh harapan menuju Jepang. Sekarang... tewas mengambang di perairan Batam?
Hendra mundur satu langkah. Lututnya yang berusia enam puluh tahun terasa kehilangan seluruh sendi penyangga. Ia ambruk, terduduk di atas lantai teras yang basah, tepat di samping koper pakaiannya yang ikut terjatuh. Matanya menatap kosong ke arah sepatu lars mengkilap milik petugas yang berdiri di hadapannya.
"Pak Hendra? Bapak dengar suara saya?" Petugas bertubuh tegap itu berlutut, memegang pundak Hendra yang dingin dan gemetar.
Hendra tidak menjawab. Di sampingnya, tubuh Aini tergeletak pasrah. Garis darah merah dari tangannya yang tergores kristal perlahan memudar, larut bersama air hujan yang merembes masuk ke lantai teras. Perempuan itu pingsan dalam keadaan menahan jeritan yang belum sempat tuntas.
"Kami butuh konfirmasi dan kerja sama Anda sekarang juga, Pak," petugas itu melanjutkan, suaranya terdengar mendesak namun tetap bariton tanpa emosi. "Jenazah korban saat ini sedang dievakuasi ke RS Bhayangkara Batam untuk otopsi. Tapi masalah utamanya bukan hanya itu. Nama Anda dan istri Anda tercatat sebagai penjamin dalam mutasi rekening senilai miliaran rupiah yang dialirkan oleh sindikat Rian."
Hendra perlahan mendongak. Air hujan menetes dari ujung rambutnya yang mulai memutih, membasahi wajahnya yang pucat. "Anak saya... tidak mungkin menipu. Dia dijebak," suara Hendra parau, nyaris habis di tenggorokan.
"Itu yang harus kita buktikan di kantor, Pak. Tapi faktanya, paspor dan identitas Baskoro digunakan untuk menyewa pelarian kilat via jalur laut ilegal. Dan seluruh operasional itu didanai dari rekening atas nama Ibu Aini Rachmawati," petugas kedua menimpali dari balik kemudi mobil, sambil memegang sebuah sabak digital yang memancarkan grafik transaksi bank bercat merah.
"Berapa?" Hendra memaksakan diri untuk berdiri, mencengkeram tiang teras dengan tangan kanannya yang melepuh. Rasa perih di kulitnya kini tak ada apa-apanya dibanding ronggokan besar yang menyumbat dadanya. "Berapa uang yang mereka gunakan?"
"Seluruh aliran dana sisa dari rekening gabungan Anda yang baru saja dicairkan minggu lalu, Pak. Sekitar empat ratus delapan puluh juta rupiah dikuras habis dalam tiga kali transaksi digital konstan sejak sore tadi," jawab petugas itu dingin.
Nol rupiah.
Uang pensiun tiga puluh tahun bekerja yang baru saja cair. Satu-satunya peluru Hendra untuk menyambung sisa hidup di masa tua, untuk membiayai obat jantungnya, untuk menafkahi rumah ini. Semuanya hilang. Dikuras habis untuk membiayai pelarian yang justru menjemput ajal anak bungsunya sendiri.
Rasa syok itu seketika bermutasi menjadi amarah yang begitu liar di dalam dada Hendra. Ia menoleh ke bawah, menatap Aini yang mulai melenguh, kesadarannya perlahan kembali. Perempuan itu membuka matanya yang sembap, menatap langit-langit teras dengan tatapan linglung sebelum ingatan tentang kematian Baskoro kembali menghantamnya.
"Baskoro... anakku... Baskoro!" Aini menjerit, langsung bangkit dan mencoba merangkak ke arah jalanan, berniat mengejar mobil polisi yang sebenarnya sudah pergi sejak tadi.
"Aini!"
Hendra menerjang maju. Bukannya menolong istrinya yang histeris, ia justru mencengkeram kedua bahu Aini dengan sisa tenaga maskulinnya, lalu menyentakkan tubuh perempuan itu hingga punggungnya menghantam dinding bata teras dengan keras.
"Lihat saya, Aini! Lihat!" Hendra meraung tepat di depan wajah istrinya. "Uang pensiun saya habis! Anak kita mati! Kamu puas sekarang?! Ini rahasia yang kamu jaga?! Ini anak dari masa lalumu yang kamu bela?!"
"Aku tidak tahu Rian sekejam itu, Mas! Demi Allah aku tidak tahu!" Aini menggeleng-gelengkan kepalanya dengan histeris, rambutnya yang basah berantakan menutupi sebagian wajahnya yang ketakutan. "Rian bilang dia hanya ingin membantu Baskoro kuliah! Dia bilang dia sukses di Batam!"
Kedua petugas preman itu segera melerai sebelum pertikaian fisik yang lebih jauh terjadi di teras rumah nomor 12. "Bapak Hendra, Ibu Aini, harap kendalikan diri Anda. Emosi tidak akan menyelesaikan apa pun. Saat ini, fokus kita adalah menyelamatkan aset Anda yang tersisa sebelum dibekukan secara total oleh Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Jika terbukti mengalir ke sindikat judi internasional, rumah ini pun akan disita negara."
Mendengar kata disita, Aini mendadak bungkam. Ketakutannya mencapai level baru.
"Mas... rumah kita... jangan sampai disita..." Aini berbisik gemetar, menatap Hendra penuh harap. "Hubungi... hubungi Ilham, Mas. Anak sulung kita. Dia punya pengacara hebat. Dia pasti bisa membantu kita..."
Hendra tertawa. Suara tawanya terdengar sumbang dan mengerikan di tengah malam yang basah itu. "Ilham? Anak yang bahkan tidak mau menengok kita sejak dia sukses? Kamu mau mengemis padanya setelah semua kebohongan ini?"
"Kita tidak punya pilihan, Mas! Hanya Ilham yang bisa menyelamatkan jenazah adiknya di Batam! Hanya dia yang punya uang sekarang!" Aini memohon, bersujud di depan kaki Hendra, tidak memedulikan lagi kehadiran dua petugas yang menonton dengan tatapan dingin.
Hendra menarik napas dalam-dalam, meraba saku celananya yang basah untuk mengambil ponselnya yang masih menyala. Layarnya kini dipenuhi oleh puluhan panggilan tak terjawab dari nomor-nomor kantor berita yang rupanya mulai mencium berita kematian Baskoro.
Ia mengabaikan semua itu dan mencari kontak bernama 'Ilham - Anak'. Setelah tiga puluh tahun mengatur ribuan armada logistik di kantornya, malam ini Hendra harus menelan harga dirinya bulat-bulat demi mengemis bantuan pada darah dagingnya sendiri.
Ia menekan tombol panggil. Nada sambung berdering lambat... satu kali... dua kali... tiga kali... sebelum akhirnya diangkat.
"Halo, Pa. Ada apa menelepon jam segini? Ilham sedang sibuk mengurus persiapan proyek baru," suara Ilham terdengar dingin di seberang sana, diselingi suara denting gelas kaca dan musik jazz yang samar—kontras dengan suara badai di rumah orang tuanya.
"Ilham... adikmu, Baskoro..." Hendra menjeda, tenggorokannya mendadak tercekat oleh air mata yang mati-matian ia tahan. "Baskoro meninggal di Batam. Rumah Papa terancam disita polisi. Papa butuh bantuanmu, Nak. Tolong kirim pengacaramu ke rumah sekarang."
Hening tercipta di seberang telepon selama beberapa detik yang menyiksa. Hanya terdengar helaan napas berat dari Ilham.
Ketika suara Ilham kembali terdengar, kalimatnya tidak mengandung rasa duka, melainkan sebuah pernyataan yang membuat sisa darah di tubuh Hendra mendadak membeku.
"Maaf, Pa. Ilham sudah tahu berita itu dari rekan bisnis Ilham di kepolisian setengah jam yang lalu. Dan maaf sekali... Ilham tidak bisa bantu."
"Apa maksudmu, Ilham?! Ini adikmu! Ini orang tuamu!" Hendra berteriak, tidak sanggup lagi menahan dadanya yang terasa seperti mau meledak.
"Papa lupa? Dua tahun lalu, saat Ilham butuh modal untuk membangun perusahaan pertama Ilham, Papa menolak meminjamkan sertifikat rumah itu dengan alasan uang pensiun Papa sudah cukup untuk masa tua," suara Ilham berubah menjadi sinis dan tajam. "Sekarang, setelah rumah itu mau disita karena dosa anak kesayangan Papa dan kebohongan Mama, Papa baru mengingat Ilham? Kebetulan sekali, Pa... sertifikat rumah nomor 12 itu sudah tidak ada di tangan Papa lagi, kan?"
Hendra tertegun. Ia menurunkan ponselnya sedikit, menatap Aini dengan mata melebar. "Apa... apa yang dikatakan Ilham, Aini?"
Ponsel di tangan Hendra masih mengeraskan suara Ilham yang tertawa dingin dari seberang sana, sebuah cliffhanger yang langsung melempar mereka ke dalam jurang kehancuran yang baru. "Tanyakan pada Mama, Pa. Sertifikat rumah yang kalian tempati itu... sudah dialihkan atas nama Ilham sejak sebulan yang lalu sebagai jaminan utang rahasia Mama ke perusahaan Ilham."
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar