​Suara klik dari sambungan telepon yang diputus secara sepihak itu terdengar seperti bunyi pelatuk pistol yang kosong. Hendra perlahan menurunkan ponsel dari telinganya. Layar benda digital itu kembali menggelap, menyisakan pantulan wajah Hendra yang tampak sepuluh tahun lebih tua dalam keremangan kamar.

​Di lantai, Aini masih meringkuk. Bahunya berguncang hebat, tangannya mencengkeram erat ujung karpet bulu yang mulai berdebu. Ia tidak berani mendongak, tidak berani menatap mata suaminya yang kini memancarkan aura dingin yang mematikan.

​"Siapa pria itu, Aini?" suara Hendra keluar, datar tanpa emosi, namun justru karena itulah suaranya terasa begitu mengintimidasi.

​Aini hanya menggeleng kuat-kuat, menyembunyikan wajahnya di antara kedua lutut. "Jangan tanya, Mas... demi keselamatan anak-anak, jangan tanya..."

​"Anak-anak yang mana?" Hendra melangkah mendekat, lalu mencengkeram lengan Aini, memaksa istrinya berdiri dengan kasar hingga perempuan itu memekik kesakitan. "Anak bungsu kita yang sekarang terancam dideportasi karena penipuan? Atau anak sulung kita yang bahkan tidak mau mengangkat telepon dari ibunya sendiri? Pria di telepon tadi menyebutmu 'Mama'. Dia bilang ada rahasia tiga puluh tahun lalu. Jawab saya, Aini! Siapa dia?!"

​Sebelum Aini sempat mengeluarkan sepatah kata pun selain isakan, suara petir menggelegar di luar rumah, disusul oleh deru angin kencang yang menghantam jendela kaca ruang tamu. Hujan deras langsung tumpah dari langit, memutus ketegangan sesaat di dalam kamar itu.

​Hendra melepaskan cengkeraman tangannya. Rasa muak yang teramat sangat bergolak di dalam dadanya. Ia berbalik, melangkah keluar dari kamar yang terasa semakin menyesakkan itu, meninggalkan Aini yang kembali jatuh terduduk di lantai.

​Hendra berjalan ke dapur. Perutnya terasa perih, mengingatkannya bahwa sejak siang tadi—sejak taksi Si Bungsu pergi—belum ada sebutir nasi pun yang masuk ke dalam tubuhnya. Di atas meja makan, tudung saji plastik berwarna merah muda tergeletak miring. Di dalamnya hanya ada sepiring tumis kangkung yang sudah dingin dan mengering, serta dua potong tahu goreng yang mulai berlendir. Pemandangan itu seperti parodi dari sisa-sisa kehidupan rumah tangga mereka yang hancur.

​Hendra menarik kursi kayu, duduk dengan kasar, lalu menatap kosong ke arah piring di depannya. Tepat saat ia hendak meraih sendok, sebuah bayangan melintas di balik kaca jendela ruang tamu yang menghadap langsung ke halaman depan.

​Hendra menajamkan pandangannya. Di luar, di bawah guyuran hujan yang membuat jarak pandang menjadi kabur, siluet seorang pria berdiri tegak di balik pagar besi rumah mereka. Pria itu tidak menggunakan payung ataupun jas hujan. Tubuhnya yang dibalut jaket hitam pekat tampak basah kuyup, namun posisinya sama sekali tidak bergemerik. Kepalanya mendongak, menatap lurus ke arah jendela lantai dua—kamar utama tempat Aini biasanya berada.

​Jantung Hendra berdesir tajam. Amarah yang sempat mengendap di dasar hatinya kembali mendidih hingga ke ubun-ubun. Tanpa ragu, ia berdiri, melangkah cepat ke ruang depan, lalu menyentak pintu jati rumahnya hingga terbuka lebar.

​Hawa dingin dan cipratan air hujan langsung menerpa wajah Hendra. Ia melangkah keluar ke teras, berdiri di bawah naungan atap beton yang sempit.

​"Hei! Siapa kamu?! Mau apa berdiri di situ?!" teriak Hendra sekuat tenaga, mencoba mengalahkan suara gemuruh hujan yang menghantam atap seng tetangga.

​Pria di balik pagar itu tidak bergerak menjauh. Perlahan, ia melangkah mendekati celah pagar besi, membiarkan cahaya lampu teras rumah nomor 12 menerangi sebagian wajahnya. Dia masih muda, mungkin sekitar akhir dua puluhan atau awal tiga puluh tahun. Wajahnya tampan, namun sepasang matanya tampak sangat dingin, dipenuhi oleh kebencian yang mendalam sekaligus kepuasan yang ganjil.

​Hendra turun dari teras, membiarkan tubuhnya ikut diguyur hujan deras saat ia melangkah menghampiri pagar. "Kamu pria di telepon tadi, kan? Jangan macam-macam di rumah saya! Pergi atau saya panggil warga!"

​Pria muda itu terkekeh. Suara tawanya persis seperti yang didengar Hendra di telepon beberapa menit lalu. Ia mengulurkan tangan kanan dari sela-sela pagar. Tangannya tidak kosong. Sebuah amplop cokelat tebal yang dibungkus plastik transparan agar tidak basah oleh air hujan terulur ke arah Hendra.

​"Panggil saja warga, Pak Hendra. Biar semua orang di kompleks ini tahu wanita macam apa yang sudah Anda nikahi selama tiga puluh tahun ini," ucap pria itu, suaranya terdengar sangat jelas di telinga Hendra meskipun di tengah badai.

​"Apa maksudmu?!" Hendra mencengkeram jeruji pagar dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya dengan cepat merebut amplop cokelat tersebut dari genggaman si pria asing.

​"Buka saja di dalam. Anggap itu menu makan malam yang baru untuk Anda dan... Mama," pria itu menekankan kata 'Mama' dengan nada sarkasme yang kental. Ia mundur dua langkah, membiarkan tubuhnya kembali tertelan oleh kegelapan malam dan tirai hujan yang pekat. "Sampai jumpa besok sore, Papa."

​"Hei! Jangan lari kamu! Hei!" Hendra mencoba membuka gerendel pagar yang terkunci, namun gerakannya kikuk karena jemarinya gemetar dan basah. Ketika pintu pagar berhasil dibuka, jalanan di depan rumahnya sudah kosong melompong. Hanya ada genangan air yang bergolak akibat tetesan hujan.

​Dengan napas memburu dan tubuh yang basah kuyup dari kepala hingga kaki, Hendra kembali masuk ke dalam rumah. Ia membanting pintu depan, lalu menguncinya dengan tiga putaran penuh. Dada pria tua itu naik-turun menahan gejolak emosi yang hampir meledak.

​Di ujung koridor ruang tengah, Aini rupanya sudah berdiri di sana. Wajahnya tampak semakin mengerikan di bawah cahaya lampu neon yang berkedip-kedip karena ketidakstabilan arus listrik akibat badai. Matanya langsung tertuju pada amplop cokelat yang dicengkeram erat oleh Hendra.

​"Mas... apa itu?" bisik Aini, suaranya nyaris hilang ditelan suara guntur.

​Hendra tidak menjawab. Dengan langkah besar dan berat yang menyuarakan kemarahan, ia berjalan menuju meja makan. Ia menyentak plastik pelindung amplop itu hingga robek, lalu merobek segel amplop cokelat di dalamnya dengan kasar.

​"Mas, jangan dibuka! Tolong, Mas! Aku mohon!" Aini berlari mendekat, berniat merebut amplop itu, namun Hendra membalikkan badan dengan cepat dan menyikut lengan Aini hingga istrinya terhuyung menabrak pinggiran meja makan.

​Hendra membalikkan amplop tersebut ke atas meja.

​Plak.

​Tumpukan lembaran kertas foto glossy tebal jatuh berserakan di atas permukaan kayu meja makan, bercampur dengan sisa air hujan yang menetes dari lengan baju Hendra.

​Hendra mengambil foto yang paling atas. Gambar itu diambil dengan kamera lensa jarak jauh dari sudut sebuah kafe semi-terbuka di kawasan Jakarta Selatan. Tanggal digital di pojok kanan bawah foto menunjukkan waktu tepat satu bulan yang lalu—hari di mana Aini berpamitan pada Hendra untuk pergi ke pengajian akbar di luar kota.

​Di dalam foto itu, Aini tidak sedang berada di masjid. Ia sedang duduk di pojok kafe, berhadapan dengan pria muda berjaket hitam yang baru saja berdiri di depan pagar rumah mereka. Di salah satu foto, tangan pria muda itu tampak menggenggam erat jemari Aini, dan di foto berikutnya, Aini terlihat sedang menyerahkan sebuah buku tabungan bank berwarna biru kepada pria tersebut dengan mata yang sembap.

​Hendra melempar foto-foto itu satu per satu ke atas meja, tepat di depan wajah Aini yang kini kembali berlutut di lantai sambil memegangi perutnya yang sakit akibat benturan tadi.

​"Pengajian akbar, Aini? Ini yang kamu sebut mencari pahala di luar kota?!" Hendra meraung, tangannya memukul permukaan meja makan hingga gelas kaca di atasnya berguncang dan tumpah. "Kamu berselingkuh dengan berondong sialan itu?! Kamu membiayai hidupnya dengan uang tabungan rumah tangga kita?!"

​"Bukan, Mas! Demi Allah bukan selingkuh!" Aini menjerit, air matanya kembali tumpah bercampur dengan keringat dingin yang membanjiri pelipisnya. Ia memungut salah satu foto, memeluknya di dada dengan penuh keputusasaan. "Dia... dia bukan selingkuhanku, Mas..."

​"Lalu siapa?! Siapa laki-laki yang berani memeras keluarga saya sampai ratusan juta rupiah ini?!" Hendra mencengkeram kerah daster Aini, mengangkat tubuh wanita itu hingga mereka saling berhadapan dalam jarak beberapa senti saja. Napas Hendra yang berbau amarah menerpa wajah Aini.

​Aini menatap mata Hendra dengan tatapan yang kosong, seolah-olah jiwanya sudah mati lebih dulu sebelum tubuhnya dihancurkan. Dengan bibir yang berdarah karena tidak sengaja tergigit saat terbentur meja tadi, Aini membisikkan satu kalimat yang seketika meruntuhkan seluruh fondasi waras di dalam otak Hendra.

​"Dia... dia Rian, Mas. Dia anak kandungku yang kulahirkan sebelum aku mengenalmu... anak yang dulu kupikir sudah mati di panti asuhan."

​Hendra tertegun. Cengkeramannya pada kerah baju Aini perlahan mengendur, membuat tubuh istrinya merosot kembali ke lantai seperti kain kafan yang basah. Di luar, suara sirene mobil polisi mendadak terdengar dari kejauhan, semakin lama semakin dekat, dan akhirnya berhenti tepat di depan pagar rumah mereka yang baru saja ditinggalkan terbuka oleh Hendra.