​Tangan Hendra yang melepuh bergetar hebat saat memegang ponsel. Layar digital itu memancarkan cahaya putih yang menerangi matanya yang memerah. Sepuluh menit. Waktu yang diberikan Rian di dalam pesan itu berdetak mundur seperti bom waktu. Jika berita bohong itu tersebar, nama baik yang ia bangun dengan darah dan keringat selama tiga puluh tahun di dunia korporat akan hancur dalam sekejap. Ia akan diingat sebagai pensiunan koruptor, bukan manajer teladan.

​Hendra menoleh ke arah meja makan. Asap hitam dari kertas-kertas yang terbakar masih mengepul tipis, meninggalkan bau sangit yang menyesakkan dada. Di bawah meja, Aini masih meringkuk, memegangi lengannya yang memar.

​Rasa muak yang mendalam menggilas sisa-sisa kewarasan Hendra. Rumah ini bukan lagi tempat bernaung; tempat ini telah berubah menjadi sarang kebohongan.

​Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Hendra melangkah lebar menuju kamar utama. Ia menyentak pintu lemari pakaian hingga engselnya berderit protes. Sebuah koper kain berwarna hitam berukuran besar ditariknya keluar dari kolong tempat tidur. Dengan gerakan kasar dan terburu-buru, Hendra melempar kemeja-kemeja kerjanya, celana bahan, hingga pakaian dalam ke dalam koper tanpa berniat melipatnya.

​"Mas... Mas Hendra, kamu mau ke mana?"

​Suara parau Aini terdengar dari ambang pintu kamar. Perempuan itu berdiri dengan tubuh menyandar pada kosen pintu, penampilannya berantakan dengan daster yang kotor terkena abu pembakaran. Matanya melebar penuh ketakutan melihat koper yang mulai penuh.

​Hendra tidak menoleh. Ia merenggut ritsleting koper dengan satu tarikan kuat hingga mengeluarkan suara mendesing yang tajam. "Saya pergi. Silakan kamu selesaikan urusan utangmu dengan anak harammu itu. Dan silakan nikmati kehancuran Baskoro. Saya tidak sudi tinggal satu atap dengan wanita penipu!"

​"Jangan, Mas! Aku mohon jangan pergi sekarang!" Aini menerjang maju, menjatuhkan dirinya di atas koper hitam itu, memeluk kainnya dengan erat seolah benda itu adalah pelampung terakhirnya di tengah badai. "Kalau kamu pergi, Rian akan membunuhku, Mas! Dia akan menghancurkan kita semua!"

​"Dia sudah menghancurkan saya!" Hendra meraung, suaranya menggelegar memenuhi kamar, mengalahkan deru hujan di luar. Ia mencengkeram bahu Aini, mencoba menjatuhkan istrinya dari atas kopernya. "Tiga puluh tahun, Aini! Tiga puluh tahun saya memberikan seluruh hidup saya untukmu dan anak-anak! Saya tidak pernah menuntut macam-macam. Tapi apa balasannya? Kamu menyembunyikan anak di luar nikah, kamu memberikan uang tabungan kita pada bajingan itu, dan sekarang Baskoro... Baskoro menjadi penjahat karena kalian!"

​"Aku terpaksa, Mas! Rian mengancam akan memberi tahu anak-anak tentang masa laluku sebelum menikah denganmu! Aku takut mereka membenciku!" Aini menjerit, air matanya membanjiri ritsleting koper Hendra.

​"Dan sekarang mereka tidak hanya membencimu, Aini, tapi hidup mereka hancur!" Hendra menyentak tubuh Aini hingga perempuan itu terguling ke lantai karpet.

​Hendra menyambar gagang koper, mengangkatnya dengan satu tangan, lalu melangkah lebar keluar dari kamar. Setiap langkahnya terasa berat, namun didorong oleh amarah yang membakar. Ia berjalan melewati ruang tengah, menuju pintu depan. Ia tidak peduli ke mana ia akan pergi malam ini—ke hotel murah, ke stasiun, atau menggelandang di pinggir jalan sekalipun—asal jauh dari wanita yang telah menipunya selama tiga dekade.

​"Mas Hendra! Jangan tinggalkan aku sendiri!" Aini mengejar dari belakang. Di koridor ruang tamu yang remang, perempuan itu kembali nekat menjatuhkan diri, kali ini memeluk erat kedua pergelangan kaki Hendra.

​Beban mendadak itu membuat Hendra kehilangan keseimbangan. Koper hitamnya terlepas, menghantam rak pajangan di dekat pintu depan. Sebuah vas kristal tiruan jatuh dan pecah berkeping-keping di atas lantai, menambah kekacauan malam itu.

​"Lepas, Aini! Lepas!" Hendra mencoba menyentakkan kakinya, namun Aini mencengkeram celananya dengan sisa-sisa kekuatan terakhirnya. Mereka bergulat di lantai ruang tamu, tepat di dekat pecahan kristal.

​"Tidak mau! Tolong, Mas, hukum aku, pukul aku, tapi jangan pergi! Aku tidak punya siapa-siapa lagi!" raung Aini. Tangannya yang gemetar tergores pecahan kristal di lantai, meninggalkan noda darah merah segar di atas ubin putih, namun ia seolah tidak merasakan perihnya.

​"Kamu punya Rian! Pergi sana dengan anak kebanggaanmu itu!" Hendra berteriak, wajahnya memerah, urat-urat di lehernya menonjol tegang. Ia menggunakan tangan kanannya yang melepuh untuk mendorong wajah Aini agar melepaskan cekalannya. Rasa sakit di pergelangan tangannya sendiri membuat amarahnya semakin menjadi-jadi.

​Perkelahian domestik yang brutal itu terus berlanjut hingga ke teras depan rumah. Pintu yang terbuka lebar membiarkan angin malam dan tampias air hujan membasahi tubuh mereka berdua yang bergulingan di lantai teras yang dingin. Tetangga sebelah rumah, Pak RT yang kebetulan sedang meronda mengenakan jas hujan, sempat memperlambat langkahnya di depan pagar, menatap drama liar itu dengan tatapan syok dan berbisik-bisik ke arah pos ronda. Hendra menyadari pandangan itu, namun rasa malunya sudah mati, digantikan oleh dendam.

​Tepat saat Hendra berhasil menyentak kakinya hingga terbebas dari pelukan Aini dan berdiri tegak sambil memegang kopernya, sebuah sorot lampu mobil yang sangat terang memotong kegelapan hujan.

​Sebuah mobil sedan hitam dengan lambang institusi negara berhenti dengan suara derit ban yang tajam, tepat di depan pagar rumah mereka yang terbuka. Dua orang pria berbadan tegap mengenakan pakaian preman namun berlogo lencana penyidik di dada kirinya turun dari mobil tanpa memedulikan hujan.

​Hendra terpaku di teras. Aini yang masih bersimpuh di lantai dengan tangan berdarah ikut terdiam, napasnya tersengal-sengal.

​Salah satu petugas melangkah cepat menaiki anak tangga teras rumah nomor 12. Ia menatap Hendra yang memegang koper, lalu beralih ke Aini yang terkapar di lantai. Petugas itu mengeluarkan sebuah map plastik kedap air dan menunjukkannya tepat di depan wajah Hendra.

​"Bapak Hendra Wijaya dan Ibu Aini Rachmawati?" tanya petugas itu, suaranya dingin dan mutlak.

​"Iya, benar. Ada apa lagi? Polisi tadi sudah membawa barang-barang anak saya," jawab Hendra dengan sisa tenaganya, suaranya bergetar menahan dingin dan cemas.

​Petugas itu menggelengkan kepala, lalu membuka map tersebut dan menunjukkan selembar surat penangkapan resmi yang baru.

​"Kami bukan dari satuan yang tadi, Pak. Kami dari Direktorat Tindak Pidana Pencucian Uang. Berdasarkan pengakuan Saudara Rian yang baru saja diamankan di pos perbatasan sejam lalu, dan bukti manifes penerbangan darurat, anak bungsu Anda, Baskoro, bukan ditahan di Singapura..." Petugas itu menjeda kalimatnya, menatap Hendra dengan tatapan yang membuat darah pria tua itu bergolak. "...Baskoro baru saja ditemukan tewas mengambang di perairan Batam dengan luka tembak di dada, setelah mencoba melarikan diri dari kejaran petugas bersama sindikatnya."

​Dunia Hendra mendadak senyap. Koper hitam di tangannya jatuh berdentum di lantai teras. Di belakangnya, Aini mengeluarkan jeritan melengking yang mengerikan, sebelum akhirnya tubuh perempuan itu ambruk, tidak sadarkan diri di atas genangan darah dan air hujan.