​Kilatan lampu rotator merah dan biru dari mobil polisi menembus tirai tipis ruang tamu, memantul di atas permukaan meja makan yang dipenuhi foto-foto laknat itu. Suara sirene yang mendadak mati menyisakan deru mesin mobil yang menderu di depan pagar, berbaur dengan suara air hujan yang menghantam atap seng dengan brutal.

​Hendra berdiri kaku. Kata-kata Aini baru saja menghunjam jantungnya seperti belati berkarat, menyisakan rasa perih yang membuat seluruh tubuhnya mati rasa. Anak kandung sebelum mengenalku? Kepala Hendra berputar hebat, mencoba mencerna fakta mengerikan itu di tengah raungan tangis istrinya di lantai.

Tok! Tok! Tok!

​Pintu depan dihantam keras dari luar. Suara ketukan itu begitu mendesak, menuntut untuk segera dibuka.

​"Mas... jangan buka pintunya, Mas... tolong..." Aini merangkak, memegangi ujung celana Hendra yang masih basah kuyup. Wajahnya yang bengkak mendongak penuh permohonan. "Rian pasti menjebak kita. Jangan biarkan mereka masuk!"

​Hendra tidak memedulikan rintihan itu. Dengan sentakan kasar, ia melepaskan tangan Aini dari kakinya. Rasa dikhianati selama tiga puluh tahun pernikahan membuat setiap sisa rasa iba di hatinya menguap tanpa bekas. Ia melangkah cepat menuju pintu depan, meninggalkan Aini yang terisak di lantai dapur.

​Saat pintu jati itu dibuka, hawa dingin malam dan aroma tanah basah langsung menusuk hidung. Dua orang pria berseragam polisi dengan jas hujan transparan berdiri di teras. Di belakang mereka, lampu mobil patroli masih berkedip-kedip, menerangi jalanan kompleks yang sepi.

​"Selamat malam. Betul ini rumah Bapak Hendra?" tanya polisi yang berpostur lebih tinggi, lencana di dadanya basah oleh cipratan air.

​"Benar, Sersan. Ada apa?" Hendra berusaha menjaga suaranya tetap stabil, meskipun dadanya bergemuruh hebat.

​Polisi itu mengeluarkan sebuah sabak digital dari balik jas hujannya, menekan layarnya beberapa kali sebelum menunjukkannya kepada Hendra. "Kami menerima perintah resmi dari Polda Metro Jaya terkait pengembangan kasus penipuan siber internasional. Apakah benar Anda memiliki anak bernama Baskoro Adi, yang saat ini terdaftar sebagai mahasiswa di Universitas Tokyo?"

​Jantung Hendra yang baru saja dihantam badai domestik, kini seolah berhenti berdetak. Baskoro adalah anak bungsunya. Anak kebanggaan yang baru saja ia antar ke bandara beberapa jam lalu.

​"Iya, Baskoro anak saya. Dia baru saja berangkat ke Jepang sore tadi untuk melanjutkan kuliah S2-nya. Ada masalah apa dengan anak saya?" Hendra mencengkeram kusen pintu hingga urat-urat di tangannya menonjol.

​Polisi itu saling berpandangan sejenak sebelum kembali menatap Hendra dengan tatapan serius. "Bapak Hendra, penerbangan anak Anda telah dicegat saat transit di Bandara Changi, Singapura, atas permintaan Interpol. Nama Baskoro Adi tercatat sebagai salah satu fasilitator utama aliran dana gelap sindikat judi online dan penipuan siber yang berbasis di Asia Tenggara. Kami ke sini untuk menyita seluruh perangkat elektronik dan dokumen keuangan yang berkaitan dengan Saudara Baskoro."

​Dunia di sekeliling Hendra seketika runtuh. Rasa pening yang hebat menyerang kepalanya, membuat pria tua itu harus berpegangan pada tepi pintu agar tidak tumbang. Belum sempat ia mencerna kebohongan istrinya tentang anak masa lalu, kini anak yang ia besarkan dengan uang halal dituduh sebagai kriminal internasional.

​Dari arah belakang, Aini rupanya mendengar percakapan itu. Perempuan itu berlari kencang dari dapur, menubruk bahu Hendra, lalu berteriak histeris di depan kedua polisi.

​"Tidak mungkin! Anak saya anak baik-baik! Dia ke Jepang untuk belajar, bukan menipu! Kalian pasti salah orang!" Aini mencoba merebut sabak digital dari tangan polisi, membuat situasi langsung berubah tegang.

​"Ibu, harap tenang! Kami hanya menjalankan tugas berdasarkan surat perintah pengadilan!" Polisi yang lebih pendek menahan tubuh Aini dengan tegas. "Jika Ibu menghalangi petugas, kami terpaksa mengamankan Ibu."

​"Aini, diam!" bentak Hendra. Suaranya yang menggelegar membuat Aini seketika bungkam dan gemetar. Hendra menatap kedua polisi itu dengan mata merah yang menyala. "Silakan lakukan pemeriksaan. Tapi saya butuh bukti nyata bahwa anak saya benar-benar terlibat."

​Kedua polisi itu masuk ke dalam rumah dengan langkah tegap, membawa aroma basah dan dingin ke dalam ruang tengah yang pengap. Mereka langsung menuju ke kamar Baskoro di lantai atas, dipandu oleh langkah gontai Hendra yang berjalan seperti robot tanpa nyawa.

​Aini mengikuti dari belakang sambil terus meratapi nasibnya, meremas-remas daster basah yang dikenakannya. Di dalam kamar Baskoro, polisi mulai menggeledah meja belajar, membuka laci-laci, dan memasukkan komputer jinjing serta beberapa buku tabungan lama ke dalam kantong barang bukti plastik transparan.

​Saat polisi sedang sibuk memilah dokumen di dalam lemari, mata Hendra tidak sengaja menangkap sebuah amplop kecil berwarna putih yang terselip di antara tumpukan buku kuliah Baskoro yang ditinggalkan. Ada tulisan tangan Baskoro di depannya: “Untuk Ibu.”

​Sebelum polisi melihatnya, Hendra dengan gerakan cepat yang didorong oleh rasa penasaran yang membakar, menyambar amplop itu dan memasukkannya ke dalam saku celananya.

​Dua puluh menit kemudian, kedua polisi itu turun membawa dua kantong besar barang bukti. Polisi bertubuh tinggi menatap Hendra dengan tatapan simpati yang terasa seperti ejekan. "Terima kasih atas kerja samanya, Pak Hendra. Kami sarankan Anda segera menghubungi pengacara hukum internasional, karena kasus ini melibatkan dua negara. Selamat malam."

​Pintu depan kembali tertutup, menyisakan kesunyian yang jauh lebih mencekam daripada sebelumnya. Lampu rotator polisi perlahan menjauh, meninggalkan rumah nomor 12 dalam kegelapan malam yang dingin.

​Hendra berbalik perlahan. Ia meraba saku celananya, mengeluarkan amplop putih milik Baskoro, lalu berjalan kembali ke meja makan. Aini mengikuti dengan langkah gemetar, matanya tertuju pada amplop di tangan suaminya.

​Hendra merobek amplop itu tanpa memedulikan Aini. Di dalamnya ada selembar kertas memo kecil dan sebuah kartu ATM bank swasta. Hendra membaca tulisan tangan anak bungsunya dengan cepat:

Ibu, maafkan Baskoro. Uang tabungan dari Bapak tidak pernah cukup untuk membayar biaya kuliah di sana karena nilaiku turun dan beasiswaku dicabut sejak semester lalu. Kak Rian menawarkan jalan keluar. Dia bilang aku hanya perlu meminjamkan nomor rekeningku untuk bisnisnya, dan dia yang akan membayar semua sisa biayaku. Kartu ATM ini kuinggalkan untuk Ibu, Kak Rian bilang ada bonus bulanan yang akan masuk ke sini untuk membantu utang Ibu.


​Tangan Hendra bergetar hebat hingga kertas memo itu terlepas dari jemarinya. Kepalanya terasa seperti dihantam palu besar. Jadi, anak bungsunya terjerumus ke dalam dunia kriminal karena dibantu oleh Rian—anak haram dari masa lalu Aini. Dan Aini tahu tentang keberadaan Rian, bahkan berutang ratusan juta kepada pria itu.

​Hendra menatap Aini yang kini bersimpuh di dekat kakinya, menangis ketakutan. Rasa muak, benci, dan kemarahan yang telah mencapai puncaknya membuat Hendra mengambil keputusan instan.

​Ia berjalan ke arah dapur, mengambil sebuah korek api gas di dekat kompor. Ia kembali ke meja makan, mengumpulkan semua foto Rian, surat utang ratusan juta, dan memo dari Baskoro menjadi satu tumpukan di atas piring porselen yang tersisa.

​"Mas... apa yang mau kamu lakukan?" tanya Aini, suaranya naik satu oktav melihat api biru menyala dari korek di tangan Hendra.

​"Saya akan membakar semua sampah ini, Aini. Dan setelah ini, saya akan membakar statusmu sebagai istri saya!" Hendra menyulut ujung foto glossy itu. Api langsung berkobar cepat, melalap lembaran-lembaran kertas, menimbulkan asap hitam yang berbau menyengat di dalam ruangan.

​"Jangan, Mas! Itu bukti kalau Rian menjebak kita! Jangan dibakar!" Aini histeris. Perempuan itu nekat melompat ke atas meja makan, mencoba memadamkan api dengan tangan kosongnya.

​"Minggir, Aini!" Hendra mendorong tubuh Aini, namun Aini justru mencengkeram lengan Hendra yang sedang memegang tumpukan kertas yang terbakar.

​Dalam pergulatan singkat itu, lidah api yang membesar mengenai pergelangan tangan Hendra. Kulitnya seketika melepuh, mengeluarkan bau daging terbakar. Hendra mengerang kesakitan, refleks menghempaskan tangannya hingga piring porselen itu jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping, menyebarkan abu dan sisa api ke mana-mana.

​Hendra memegangi pergelangan tangannya yang memerah dan melepuh, napasnya memburu. Di tengah kepulan asap yang memenuhi ruang makan, ponsel Hendra yang tergeletak di atas sofa ruang tamu tiba-tiba bergetar kuat. Bukan panggilan telepon, melainkan sebuah pesan singkat dari nomor yang tidak dikenal.

​Hendra melangkah cepat dengan tangan yang masih kesakitan, menyambar ponselnya. Sebuah pesan gambar masuk.

​Saat gambar itu terbuka, jantung Hendra seolah berhenti berdetak untuk kesekian kalinya malam itu. Itu adalah foto tangkapan layar dari sebuah situs berita daring lokal yang belum diterbitkan, menampilkan foto wajah Hendra sendiri dengan tajuk utama berhuruf tebal: “Diduga Terlibat Aliran Dana Judi Online Anak Kandung, Mantan Manajer Logistik Hendra Wijaya Buron.”

​Di bawah gambar tersebut, sebuah pesan teks menyusul: “Bagaimana menu makan malamnya, Pa? Beritanya akan tayang di semua media nasional dalam sepuluh menit, kecuali Papa mentransfer seluruh uang pensiun Papa ke rekening Mama sekarang juga.”