Aku selalu bilang pada Sekar bahwa intuisi seorang perempuan itu tidak pernah bohong. Dan malam itu, tepat ketika jarum jam menyentuh angka sembilan dan aku sedang mengunci pintu geser kedai kopiku di Magelang, intuisi itu berbicara dengan cara yang paling aneh yang pernah kualami.


Sebuah amplop.


Bukan amplop biasa. Ia ada di sana — terselip di bawah pintu kaca kedai, lusuh dan sedikit lembap seolah sudah lama tergeletak di suatu tempat sebelum sampai di sini. Aku menunduk, mengambilnya dengan hati-hati, dan langsung merasakan sesuatu yang sulit kujelaskan.


Ada desiran.


Bukan angin. Semua jendela sudah tertutup. Semua kipas sudah kumatikan. Tapi desiran itu nyata — menyapu punggung tanganku tepat saat jemariku menyentuh permukaan amplop yang kasar.


"Ada apa, Ra?" Suara Sekar muncul dari arah kasir. Ia sedang menghitung uang receh yang sengaja tidak kuserahkan ke bank karena jumlahnya terlalu merepotkan untuk dihitung petugas teller.


"Ada amplop," jawabku.


"Tagihan?"


"Undangan."


Hening sejenak. Suara koin berdenting berhenti.


"Undangan dari siapa?" Sekar bangkit dari kursinya dan mendekat. "Kita nggak ada kenalan yang mau nikah akhir-akhir ini, Ra."


Aku membalik amplop itu. Tidak ada nama pengirim. Tidak ada alamat pengirim. Tidak ada cap pos. Hanya ada namaku yang tertulis di bagian depan dengan tulisan tangan — rapi, kecil, dan menggunakan tinta biru yang sudah agak memudar.


_Nara Anindita._


Jantungku berdetak lebih keras dari biasanya.


Aku merobek sisi amplop dengan hati-hati. Di dalamnya ada selembar kartu undangan dari kertas tipis bermotif bunga-bunga kecil yang sudah menguning di tepinya. Kertas yang terasa terlalu tua untuk sebuah undangan pernikahan modern.


_Dengan segala kerendahan hati, kami mengundang Saudari Nara Anindita beserta yang terhormat untuk hadir dalam acara ijab kabul dan resepsi pernikahan kami…_


Tangan kananku berhenti di bagian nama mempelai.


_Wulan Safitri dan Aldi Prasetyo._


"Wulan," bisikku.


Aku tidak mendengar Sekar berjalan mendekat, tapi tiba-tiba ia sudah berdiri di sebelahku, mengintip kartu undangan dari bahu kiri.


"Wulan Safitri? Wulan-mu yang dulu? Yang udah dua tahun nggak ada kabar itu?"


Aku mengangguk pelan. Tidak bisa berkata-kata.


Wulan Safitri. Teman SMA-ku yang paling kalem, paling sabar, dan paling misterius di antara kami semua. Dua tahun lalu ia pamit pulang ke kampung ibunya di pedalaman Wonosobo, mengikuti Bik Parti yang ingin menghabiskan masa tua di desa kelahirannya. Sejak itu, tidak ada kabar. Nomornya tidak aktif. Akun media sosialnya seperti dibekukan di waktu pamit pulang itu — foto terakhir adalah selfie kami bertiga di terminal bus, lengkap dengan caption "_See you when I see you_" dan emoji peluk.


Aku pikir ia sudah benar-benar melupakan kami.


Ternyata tidak.


"Dia nikah," gumamku, mencoba memproses kenyataan itu.


"Iya. Dan yang bikin aku lebih aneh," Sekar mengambil amplop dari tanganku dan membalik-baliknya seperti mencari sesuatu yang luput dari pandanganku, "nggak ada nama pengirim. Nggak ada alamat. Terus ini diletakin di sini, bukan dikirim lewat pos. Siapa yang antar?"


Aku tidak punya jawaban untuk itu.


Yang ada hanya satu nama di dalam kepala — Wulan — dan satu kalimat yang terus berputar: _dua tahun tanpa kabar, dan undangan ini tiba-tiba muncul begitu saja._


Di bagian bawah kartu undangan, tertulis sebuah alamat. Desa Pucangwangi, Kecamatan Garung, Kabupaten Wonosobo. Tidak ada nomor telepon. Tidak ada nama kontak yang bisa dihubungi. Hanya alamat itu, seolah pengirim mengasumsikan kami pasti tahu cara sampai ke sana hanya dengan modal nama desa.


"Kapan acaranya?" tanya Sekar, sudah mengambil kalender kecil dari laci kasir.


Aku menatap tanggal di kartu undangan.


"Minggu depan."


"Minggu depan?" Sekar mengangkat alis. "Cepet banget. Undangan dadakan, nggak ada nomor kontak, nggak ada alamat pengirim. Ra, kamu yakin ini bukan modus penipuan model baru?"


"Penipuan apa?"


"Entah. Modus rampok. Modus penculikan. Modus apa kek." Sekar memutar mata. "Kita ini tinggal di zaman di mana orang bisa ngirim virus lewat link WhatsApp. Mungkin ada juga modus rampok lewat undangan palsu."


"Wulan nggak mungkin terlibat hal seperti itu."


"Bukan Wulan." Sekar mengangkat amplop tinggi-tinggi. "Yang aku khawatirin ini. Kalau Wulan beneran nikah, kenapa dia nggak hubungi kita lewat cara yang lebih masuk akal? Kenapa harus undangan diselipin di pintu kedai?"


Aku tidak punya jawaban untuk itu juga. Tapi ada sesuatu — sebuah tarikan halus, seperti benang tipis yang menarik dari arah yang tidak kelihatan — yang membuatku tidak bisa mengabaikan undangan itu.


"Mungkin dia titip ke seseorang," kataku. "Mungkin orang itu sudah pergi sebelum kita lihat."


"Kapan?" Sekar menunjuk pintu. "Pintu itu dari sore tadi nggak ada yang lewat. Aku duduk di kasir dari jam empat. Orang terakhir yang masuk itu Bu Tinah jam setengah tujuh. Setelah itu nggak ada. Nol."


Aku menatap pintu kedai. Lalu menatap amplop di tangan Sekar. Lalu menatap pintu lagi.


"Mungkin diselipin pas kita lagi di belakang."


Sekar tidak menjawab. Tapi aku tahu ia juga sedang mencerna kemungkinan yang lebih tidak masuk akal.


Di luar, terdengar suara motor lewat. Suara klakson dari kejauhan. Suara orang menjajakan bakso dengan tongkat bambunya. Magelang di malam hari berdetak seperti biasanya — kota kecil yang ramai tapi tidak gegap, hidup tapi tidak melelahkan.


Tapi di dalam kedai kopi yang sudah kututup ini, ada sesuatu yang terasa berbeda.


"Ra." Sekar menatapku dengan ekspresi yang aku kenal betul — ekspresi sebelum ia mengatakan sesuatu yang akan mengubah rencana kita. "Kita mau pergi ke sana, ya?"


Aku menghela napas.


Seharusnya aku bilang tidak. Seharusnya aku bilang perjalanan itu terlalu jauh, informasinya terlalu minim, dan kita tidak tahu kondisi di sana seperti apa. Seharusnya aku rasional. Aku ini perempuan dua puluh empat tahun yang punya kedai kopi, punya sewa kontrakan, punya tanggung jawab. Aku bukan tipe yang bisa pergi mendadak ke pelosok Jawa hanya karena selembar amplop misterius.


Tapi ada sesuatu di dalam amplop kusuh itu yang membuatku tidak bisa berkata tidak.


"Wulan nggak akan kirim undangan begini kalau nggak ada alasan," kataku akhirnya.


"Mungkin."


"Dan kalau dia memang menikah—"


"Ra." Sekar memotong. "Kamu udah memutuskan sebelum kamu selesai bicara. Aku tahu. Aku sahabatmu tujuh tahun. Aku hapal tatapanmu kalau udah memutuskan sesuatu."


Aku tidak berbalik dari tatapannya. "Ikut?"


"Tergantung."


"Tergantung apa?"


"Tergantung berapa banyak syarat yang aku boleh ajukan."


Aku tertawa kecil — tawa pertama malam itu yang terasa lega. "Sebanyak yang kamu mau."


"Bahaya itu." Ia menyodorkan amplop kembali padaku. "Aku susun syaratnya nanti. Sekarang kunci pintu, kita pulang. Aku capek dan kepala aku mulai sakit dari tadi."


Aku mengunci pintu kedai. Mematikan papan nama lampu kecil di atas etalase. Lalu kami berdua berjalan beriringan menuju kosan yang berjarak lima menit dengan motor.


Di sepanjang perjalanan, aku menggenggam amplop itu di saku jaket. Tidak melepasnya, walau hanya sebentar.


Sesampainya di kosan, aku langsung ke kamarku. Sekar yang sebelahan denganku berkata "_good night_" sebelum menutup pintu.


Aku duduk di tepi kasur. Kunyalakan lampu meja. Kuambil amplop dari saku jaket, dan kuletakkan di atas meja kecil di sebelah kasur.


Cahaya lampu menyorot kertas kuningnya.


Dan saat aku menatapnya lebih lama, aku menyadari satu hal yang luput tadi.


Di sudut kanan bawah kartu undangan, ada sebuah simbol kecil. Bukan simbol undangan biasa. Bukan kembang. Bukan ornamen. Hanya tiga garis bersilangan yang membentuk pola seperti rambu — atau seperti tanda tangan.


Aku tidak pernah melihat simbol itu sebelumnya.


Tapi entah kenapa, melihatnya membuat tengkukku merinding.


Aku mematikan lampu. Berbaring. Memejamkan mata.


Di luar, ada angin yang menggerakkan jendela kamarku. Pelan. Berirama. Hampir seperti seseorang sedang mengetuk dengan jari-jari yang sangat halus.


Aku tidak tidur sampai larut malam.