Rumah dengan lampu petromax paling terang itu ternyata tidak menjawab.
Sekar mengetuk tiga kali. Tidak ada respons. Mengetuk lagi lima kali, dengan tenaga yang sudah dipenuhi frustrasi. Tidak ada respons. Ia mau mengetuk untuk yang ketiga kali ketika aku menariknya.
"Sudahlah, Sek. Cari yang lain."
"Lampunya nyala terang, Ra. Pasti ada orangnya."
"Mungkin di belakang. Mungkin pemiliknya nggak mau menerima tamu malam-malam."
"Atau mungkin yang nyalain lampu itu bukan manusia."
Aku menatap Sekar. Ia menatap balik dengan ekspresi serius. Dan untuk pertama kalinya malam itu, aku menyadari bahwa Sekar — yang biasanya skeptis terhadap hal-hal mistis — sudah mulai berpikir ke arah yang sama denganku.
Kami melanjutkan langkah. Lima rumah berikutnya semuanya sama: lampu petromax menyala di teras, tapi tidak ada respons saat diketuk. Pintu-pintu kayu yang tertutup rapat, jendela-jendela yang menutup tirai bambu, dan tidak satupun suara dari dalam.
"Ra, ini bukan desa," kata Sekar saat kami berhenti di depan rumah keenam. "Ini set film horor."
"Jangan ngomong gitu."
"Tapi serius. Lampu nyala, nggak ada orang. Itu cuma terjadi di film."
"Atau di desa yang penghuninya nggak mau diganggu malam-malam."
Sekar tertawa kecil — tertawa yang lebih mirip rintihan. "Ra. Kamu denger sendiri kan kalau alasan itu makin lama makin nggak masuk akal?"
Aku tidak menjawab.
Di sebelah rumah keenam, ada jalan kecil yang membelok ke arah timur. Aku melihat ada cahaya yang berbeda di ujung jalan itu — bukan cahaya lampu petromax, tapi cahaya yang bergerak, seperti banyak api kecil yang berkumpul.
"Sek. Ke sana."
"Apa di sana?"
"Cahaya. Banyak. Mungkin ada keramaian."
Sekar mengangguk tanpa bertanya lebih jauh. Kami berjalan ke arah cahaya itu, sedikit lebih cepat dari sebelumnya. Ada harapan kecil di dada — harapan bahwa mungkin akhirnya kami akan bertemu manusia, akan ada warga yang bisa kami tanyai, akan ada penjelasan yang masuk akal tentang segala kekacauan ini.
Tapi semakin dekat dengan sumber cahaya, semakin pelan langkah kami.
Karena cahaya itu tidak datang dari sebuah keramaian.
Cahaya itu datang dari iring-iringan yang sedang berjalan.
Sebelas perempuan, berbaris dua-dua. Mereka mengenakan kemben — kain batik yang dililitkan dari dada ke bawah lutut, gaya berpakaian perempuan Jawa zaman dulu yang tidak lazim dikenakan dalam cuaca dingin malam ini. Rambut mereka digelung rapi ke atas. Di tangan masing-masing, mereka menggenggam lampu petromax.
Yang paling aneh: mereka berjalan tanpa bersuara sama sekali. Tidak ada suara percakapan, tidak ada derit sandal di tanah. Bahkan tidak ada suara langkah. Mereka melayang, atau setidaknya tampak seperti melayang, di atas jalan tanah yang seharusnya berderak di bawah pijakan kaki.
Dan tidak ada satupun dari mereka yang melihat ke arah kami.
Aku dan Sekar berdiri membeku di pinggir jalan. Iring-iringan itu melintas perlahan, seperti pesta arwah yang tidak peduli dengan keberadaan dunia hidup. Cahaya petromax mereka memancarkan kuning yang aneh — terlalu kuning, terlalu pekat, seperti warna yang dibuat dari sesuatu yang bukan minyak biasa.
"Ra," bisik Sekar. Suaranya sangat pelan. "Mereka itu..."
"Aku tahu."
"Apa yang harus kita lakukan?"
Aku menggenggam tangannya. "Diam. Jangan bergerak."
Iring-iringan itu terus berjalan melewati kami. Mereka melintas sejauh tiga meter dari tempat kami berdiri, dan di dalam radius sedekat itu aku bisa melihat wajah-wajah mereka dengan lebih jelas di cahaya petromax yang mereka bawa sendiri.
Wajah-wajah yang datar. Mata yang tidak berkedip. Bibir yang tidak bergerak. Kulit yang tampak terlalu pucat untuk perempuan-perempuan yang sehat.
Tidak ada ekspresi. Tidak ada tanda bahwa mereka menyadari keberadaan kami.
Tapi kemudian, salah satu dari mereka — perempuan ketujuh dalam barisan, yang berambut paling panjang dan dililitkan kerudung tipis di leher — menoleh.
Hanya sedikit. Hanya sepersekian detik.
Cukup untuk mengunci mata dengan mataku.
Aku tidak bisa bergerak.
Mata itu kosong. Bukan kosong seperti mata orang yang tidur — tapi kosong seperti mata yang isinya sudah dikeluarkan dan diisi kembali dengan sesuatu yang lain. Kelopak matanya tidak berkedip. Bibir bawahnya bergerak sedikit, membentuk satu kata yang aku baca dari gerakan bibirnya saja:
_Pulang._
Lalu ia menoleh ke depan lagi. Berjalan terus. Mengikuti rombongannya.
Dan aku berdiri di sana dengan napas tertahan, jantung berdetak begitu kencang sampai aku khawatir ia akan jatuh keluar dari dada.
Iring-iringan itu menghilang di tikungan jalan. Cahaya petromax mereka memudar perlahan, lalu lenyap.
Sekar baru bisa bernapas. "Ra."
"Sekar, jangan bilang apa-apa dulu."
"Mereka itu—"
"Sekar."
Tapi Sekar tidak mendengarkanku. Ia melepas tanganku dan melangkah maju, menatap ke arah tikungan tempat iring-iringan itu menghilang.
"Aku mau lihat mereka pergi ke mana."
"Sekar, jangan!"
"Cuma satu langkah. Cuma satu langkah ke depan supaya bisa lihat tikungan itu."
"SEKAR!"
Tapi sudah terlambat.
Sekar sudah berjalan ke tengah jalan. Dan di tengah jalan, di bawah cahaya bulan yang menembus sela-sela awan, tubuhnya tiba-tiba berhenti. Membeku. Kaku.
Tangan kanannya yang tadi terangkat untuk menyibak rambut, terhenti di tengah udara. Matanya yang tadi melebar karena penasaran, kini terbuka tapi tidak fokus. Bibirnya setengah terbuka tapi tidak ada suara yang keluar.
"Sekar?"
Aku berlari ke arahnya. Memegang bahunya. Mengguncangnya.
"Sekar! Sekar, kamu kenapa?!"
Tidak ada respons. Tubuhnya kaku seperti kayu. Aku bisa merasakan napasnya — pelan, tapi ada — di pipiku saat aku mendekat. Tapi selain itu, tidak ada tanda kehidupan. Matanya menatap ke arah tikungan dengan tatapan yang sama sekali bukan tatapan Sekar yang aku kenal.
"Sekar, ya Allah, Sekar bangun!"
Aku panik. Aku panik tapi tidak bisa pingsan. Tidak boleh pingsan. Karena kalau aku pingsan, siapa yang akan mengurus Sekar?
Aku menarik tubuhnya ke pinggir jalan. Tubuhnya berat tapi masih bisa kugerakkan. Aku menyandarkannya ke pohon, lalu mencoba mengeluarkan ponselku.
Sinyal nol. Baterai tujuh belas persen.
Tidak ada gunanya.
"Sekar, please." Aku memegang wajahnya. "Sekar, ini Nara. Bangun, Sek."
Suaraku sudah bergetar. Air mataku sudah mengalir tanpa aku menyadarinya. Aku memeluk Sekar, menempelkan dahinya ke dahiku, dan terus berbisik.
"Sek, please bangun. Aku nggak bisa di sini sendirian. Aku nggak tahu harus apa, Sek. Bangun, plis."
Suara langkah.
Aku mengangkat kepala. Suara langkah pelan, dari arah yang tadi kami datangi. Bukan dari arah iring-iringan tadi.
Aku menahan napas. Menggenggam tangan Sekar yang dingin.
Dari kegelapan, sebuah cahaya petromax muncul perlahan. Membawa siluet seseorang yang berjalan tertatih ke arah kami.
Aku menyiapkan diri untuk yang terburuk.
Tapi suara yang muncul — suara perempuan, lirih, hampir berbisik — mengubah segalanya.
"Nara?"
Suara itu. Suara yang sudah dua tahun tidak kudengar, tapi tidak akan pernah aku lupakan.
"Wulan?"
Sosok itu mendekat. Cahaya petromax di tangannya menerangi wajahnya. Wajah yang lebih kurus dari yang aku ingat. Pipi yang lebih cekung. Mata yang lebih dalam. Tapi tetap wajah Wulan.
Aku tidak sanggup menahan tangis.
"Wulan, please tolong Sekar. Dia—"
"Aku tahu." Wulan berlutut di samping Sekar. Dari saku rok panjangnya, ia mengeluarkan sebuah kendil kecil dari tanah liat. "Buka mulut Sekar pelan-pelan."
Aku menurut tanpa bertanya. Wulan mengalirkan air dari kendil itu — air dengan bau samar yang aneh, seperti campuran daun-daun yang tidak kukenali — perlahan ke bibir Sekar. Beberapa tetes. Tidak banyak.
Kemudian Wulan mengusap wajah Sekar dengan tangannya yang basah. Bibirnya bergerak melafalkan sesuatu yang tidak kudengar jelas.
Beberapa detik kemudian, Sekar terbatuk. Sekali. Dua kali. Lalu matanya berkedip.
"Ra...?" suaranya parau.
"Sekar!" Aku memeluknya. "Sekar, ya Allah, kamu nggak papa?"
"Aku... kepalaku berat banget." Ia memegang kepalanya. "Apa yang terjadi?"
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku menatap Wulan yang berdiri perlahan, masih memegang kendil kecil di tangannya.
"Kalian harus ikut aku sekarang," kata Wulan. Suaranya sudah berbeda dari yang aku ingat — lebih datar, lebih dewasa, lebih lelah. "Sebelum yang lain datang."
"Yang lain?" tanya Sekar lemah.
"Sekarang, Nara. Sekar." Wulan tidak menjelaskan. "Berdiri."
Aku membantu Sekar berdiri. Kakinya masih lemas, tapi ia bisa berjalan dengan ditopang. Wulan mengambil ransel kami dan menggendongnya di bahunya sendiri, seakan-akan beban itu tidak ada artinya.
"Wulan," kataku saat kami mulai berjalan, "ini desa apa?"
Wulan melangkah di depan kami, lampu petromax di tangan kanannya menerangi jalan.
Tanpa berbalik, ia menjawab, "Lembah Sepi."
"Lembah Sepi?"
"Iya." Suara Wulan terdengar sangat pelan di antara suara jangkrik dan angin. "Desa yang sudah lama tidak boleh dimasuki. Desa yang seharusnya tidak ada di petamu, dan memang tidak ada."
Aku menelan ludah.
"Wulan," kataku lagi, suaraku gemetar, "kenapa kamu di sini? Kenapa bukan di Pucangwangi?"
Wulan berhenti sejenak. Berbalik. Cahaya petromax memantulkan dua titik kecil di matanya yang gelap.
"Karena aku tahu kalian akan datang ke sini, Ra," jawabnya. "Dan aku tidak bisa membiarkan kalian datang sendirian."
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar