Andong bergerak pelan melalui jalan yang semakin sempit.


Awalnya masih ada aspal. Lalu aspal berganti kerikil. Lalu kerikil berganti tanah padat. Pohon-pohon di kiri kanan jalan semakin rapat, hingga langit sore yang tadi masih berwarna jingga, kini hanya tampak sebagai bilah-bilah cahaya tipis di antara dedaunan.


Sekar duduk tegak di sebelahku, berpegangan pada kayu sandaran andong. Ia diam — dan Sekar yang diam adalah tanda yang tidak pernah menjanjikan.


"Ini jalannya beneran ke Pucangwangi, kan?" bisiknya akhirnya.


"Kata Mbah Karto iya."


"Kok makin masuk hutan?"


Aku tidak menjawab karena aku sendiri tidak tahu jawaban yang benar. Pemandangan di luar andong sudah berubah jauh dari yang aku bayangkan tentang sebuah desa di Wonosobo. Tidak ada sawah. Tidak ada kebun. Hanya pohon dan pohon yang tampak terlalu tua untuk berdiri di pinggir jalan.


Sudah hampir satu jam kami berkendara. Langit yang tadi jingga kini berangsur ungu, lalu abu-abu, lalu hampir hitam. Lampu-lampu penerangan jalan sudah tidak ada. Hanya ada lampu minyak kecil yang menggantung di bagian depan andong, menerangi jalan dengan cahaya yang lebih banyak menciptakan bayangan daripada terang.


"Mbah," panggilku, "masih jauh?"


Mbah Karto tidak menjawab.


"Mbah Karto," ulangku, sedikit lebih keras.


Masih diam.


Sekar mencubit lenganku. "Ra," bisiknya, "itu andong jalan sendiri bukan?"


"Maksudmu?"


"Tangannya. Mbah Karto... tangannya nggak megang tali kekang."


Aku memicingkan mata. Di cahaya remang lampu andong, sosok Mbah Karto duduk di atas bangku kusirnya dengan punggung yang sangat tegak. Tapi tangan-tangannya — ya, tangan-tangannya terlipat di atas lutut.


Kuda itu berjalan sendiri.


Baik. Mungkin kuda itu sudah hafal jalan. Mungkin Mbah Karto sedang melepas pegangan sebentar. Itu hal yang masuk akal.


Aku mencoba meyakinkan diri sendiri dengan penjelasan-penjelasan masuk akal itu, ketika tiba-tiba aku mendengar suara dari arah hutan di sebelah kiri.


"Naraaaaaa…"


Suara itu pelan. Hampir seperti angin. Tapi cukup jelas untuk menyebut namaku.


Tubuhku langsung membeku.


"Kamu denger juga?" bisik Sekar dengan nada yang sudah berubah.


Aku mengangguk pelan, masih menatap lurus ke depan.


"Naraaaaaa… Sekarrrrrr…"


Kali ini lebih keras. Lebih dekat. Berasal dari sisi kanan andong sekarang — bukan kiri. Padahal kami tidak melihat siapapun di antara pohon-pohon.


Pesan Mbah Karto bergema di kepalaku. _Jangan menoleh._


"Ra," bisik Sekar, suaranya sudah gemetar, "itu suara siapa?"


"Jangan dijawab. Jangan menoleh."


"Tapi—"


"Sekar." Aku mencengkeram tangannya. "Mbah Karto bilang jangan menoleh. Apapun yang terjadi."


Sekar diam. Tapi aku merasakan tangannya yang mulai dingin.


Suara itu memanggil-manggil terus. Kadang dari kiri. Kadang dari kanan. Kadang dari belakang. Kadang dari arah yang seharusnya tidak mungkin — dari atas pohon, dari dalam tanah. Aku menahan diri untuk tidak melihat. Aku menatap punggung Mbah Karto yang tidak bergerak sedikit pun, seakan-akan ia sama sekali tidak mendengar suara apapun.


Setelah entah berapa menit yang terasa seperti jam, suara-suara itu mulai memudar. Hutan kembali sunyi, dengan suara jangkrik yang kini terdengar jauh lebih nyaring.


Aku menarik napas perlahan.


Dan tepat saat itu, andong berhenti.


"Sudah sampai," kata Mbah Karto. Suara pertamanya sejak kami berangkat.


Kami turun dengan kaki yang sedikit gemetar. Andong berhenti di depan sebuah pintu gerbang — terbuat dari kayu yang sudah menghitam karena cuaca, dengan ukiran-ukiran yang sudah tidak jelas bentuknya. Tidak ada nama desa. Tidak ada papan penunjuk. Hanya pintu gerbang itu dan gelap di baliknya.


"Ini Pucangwangi, Mbah?" tanyaku ragu.


Mbah Karto sudah mengambil ransel kami dari bagian belakang andong. Ia menyerahkannya tanpa berkata apa-apa, lalu naik kembali ke tempat duduknya.


"Mbah." Sekar melangkah maju. "Ini Pucangwangi atau bukan?"


Mbah Karto menatap kami dari atas bangku kusirnya. Untuk pertama kalinya sejak kami bertemu, ekspresi wajahnya tampak lebih lembut.


"Kalau kalian masuk ke desa ini," katanya pelan, "ingat satu hal. Apapun yang kalian lihat di malam pertama, jangan ceritakan ke siapapun di esok harinya. Sampai kalian bertemu orang yang kalian cari."


"Mbah—" 


"Selamat malam, Nduk."


Andong mulai bergerak. Tanpa suara kaki kuda yang lazimnya terdengar. Tanpa suara roda kayu menggelinding di atas tanah. Dalam kesunyian yang tidak wajar, andong itu — beserta Mbah Karto di atasnya — menghilang di antara kegelapan pohon-pohon.


Sekar dan aku berdiri berhadap-hadapan dengan amplop undangan yang sudah kusimpan rapi di saku depan ransel.


"Ra," kata Sekar dengan nada yang sudah tidak main-main, "ini bukan Pucangwangi."


Aku menelan ludah. "Belum tentu."


"Nggak ada lampu. Nggak ada suara orang. Nggak ada tanda apa-apa." Ia menatap pintu gerbang hitam itu. "Ini desa apa?"


Aku tidak tahu.


Yang aku tahu hanyalah bahwa kami sudah terlanjur berada di sini, hari sudah benar-benar gelap, sinyal ponsel kami nol besar, dan baterai ponselku sudah di angka dua puluh tiga persen.


Tidak ada pilihan selain melangkah maju.


Di balik pintu gerbang, jalan tanah yang kami susuri membawa kami ke sebuah desa yang tampak... mati.


Bukan mati dalam arti tidak ada penghuninya. Tapi mati dalam cara yang berbeda — seperti kehidupan di sini berjalan dalam frekuensi yang berbeda dari dunia yang biasa kami tinggali. Tidak ada suara televisi, tidak ada suara motor, tidak ada musik. Yang ada hanyalah suara jangkrik, sesekali lolongan jauh, dan erangan angin di antara pohon-pohon.


Rumah-rumah berdinding anyaman bambu dengan atap genting tua. Teras-teras diterangi lampu petromax yang menggantung dari langit-langit bambu. Tidak ada listrik.


"Ini beneran, Ra," bisik Sekar, "ini bukan Pucangwangi. Pucangwangi itu di Wonosobo. Di sana pasti sudah ada listrik."


"Mungkin ini pinggiran—"


"Nggak ada pinggiran desa di Wonosobo yang nggak ada listrik di tahun segini." Sekar berhenti melangkah. "Aku mau aktifkan syarat ketiga."


"Sekar—"


"Syarat ketiga. Kalau aku minta pulang, kita pulang."


"Pulang ke mana?" Aku berusaha tetap tenang meski jantungku sudah memukul-mukul tulang rusuk. "Andongnya sudah pergi. Kita nggak tahu jalan balik. Hari sudah gelap. Tadi di hutan ada suara aneh manggil-manggil kita. Kalau kita balik sekarang, tanpa pemandu, kita pasti nyasar lebih jauh lagi."


Sekar terdiam. Aku bisa melihat ia sedang berhitung — logikanya beradu dengan naluri.


"Oke," katanya akhirnya. "Kita masuk. Tapi cari orang pertama yang kita temui dan tanya ini desa apa. Deal?"


"Deal."


Kami berjalan lebih jauh. Di sisi kiri jalan, ada halaman rumah dengan beberapa gundukan tanah yang dipagari bambu kecil. Tujuh gundukan, berbaris rapi. Tidak ada batu nisan. Tidak ada taburan bunga. Hanya batu kali di ujung masing-masing gundukan.


Sekar menarik lenganku erat. "Ra. Itu makam."


"Iya."


"Di halaman rumah orang."


"Aku tahu."


"Ini normal di sini?"


Aku tidak menjawab. Karena tidak, ini tidak normal. Dan kenyataan bahwa sebuah keluarga meletakkan makam leluhur mereka di halaman sendiri memberi tahu banyak hal tentang desa ini yang belum ingin kupikirkan sekarang.


Di kejauhan, terdengar gonggongan anjing. Panjang, melolong, lalu berhenti.


Sekar menggenggam lenganku semakin kencang. "Ra, kalau ada anjing, berarti ada yang piara, kan? Berarti ada manusia di desa ini?"


"Iya."


"Kenapa nggak ada satupun yang keluar pas kita lewat?"


Aku tidak menjawab. Kami terus berjalan, menyusuri jalan tanah yang diterangi hanya oleh bulan yang sesekali tertutup awan, menuju ke sebuah desa yang belum kami tahu namanya.


Di ujung jalan, samar-samar terlihat sebuah rumah dengan lampu petromax yang menyala lebih terang dari rumah-rumah lainnya. Aku menunjuk ke arah sana.


"Itu," kataku. "Kita coba ketuk."


Sekar mengangguk. Kami melangkah cepat.


Tidak menyadari bahwa di belakang kami, di salah satu rumah yang tadi kami lewati, sebuah jendela kayu yang tadi tertutup, kini sedikit terbuka. Dan dari celah itu, sepasang mata mengamati setiap langkah kami sampai bayangan kami menghilang di tikungan.