Wulan membawa kami ke sebuah rumah di ujung jalan yang tidak kami sadari sebelumnya — rumah yang tersembunyi di balik tikungan, dengan lampu petromax di terasnya yang menyala redup tapi cukup untuk memberi rasa aman.


Di dalam, ruangan sederhana itu memiliki kursi panjang dari kayu, meja dari kayu juga, dan lantai tanah yang dingin meski sudah ditutupi tikar bambu. Di dinding anyaman bambu, sebuah kalender lama tergantung — kalender yang sudah tertutup sarang laba-laba di sudutnya, dengan angka tahun yang sulit kubaca dalam cahaya remang.


Wulan menuntun Sekar ke salah satu kursi panjang. Sekar duduk dengan punggung yang lemas, kepalanya bersandar ke dinding. Ia masih pucat. Tapi setidaknya matanya sudah fokus.


"Tunggu di sini," kata Wulan. Ia masuk ke ruangan dalam, dan kembali beberapa detik kemudian membawa selimut tebal yang ia selimutkan ke tubuh Sekar.


"Wulan." Aku duduk di kursi seberang Sekar. "Aku perlu penjelasan. Sekarang."


"Aku tahu." Wulan duduk juga, memilih kursi di samping Sekar. Ia tidak menatapku langsung — pandangannya jatuh ke lantai. "Tapi sebelum itu, aku perlu kamu pegang ini."


Ia mengeluarkan sesuatu dari saku rok panjangnya. Sebuah kantong kecil dari kain hitam, terikat dengan benang merah.


"Apa ini?"


"Simpan di saku kamu. Dan satu lagi untuk Sekar." Ia mengeluarkan kantong serupa. "Jangan dibuka sampai kalian pulang ke kota."


Aku menerima kedua kantong itu. Ringan. Tapi ada sesuatu di dalamnya yang terasa keras dan tipis — mungkin kertas yang dilipat sangat kecil. Aku tidak bertanya apa isinya. Sesuatu memberitahuku bahwa Wulan tidak akan menjelaskan kalau aku memaksa.


Aku menyerahkan satu kantong ke Sekar. Sekar menerimanya dan langsung memasukkannya ke saku celana, tanpa bertanya juga. Mungkin ia sudah terlalu lelah untuk skeptis.


"Wulan," kataku, "kenapa Sekar bisa begitu di jalan tadi?"


Wulan menarik napas. "Karena ada yang mencoba berkomunikasi dengannya."


"Apa maksudnya?"


"Ada yang mengincar kalian. Atau salah satu dari kalian. Saat Sekar menatap iring-iringan tadi, perhatiannya tertangkap." Wulan menatap Sekar yang menutup mata. "Sekar lebih sensitif daripada kamu, Ra. Dia tidak tahu, tapi dia sensitif. Itu sebabnya dia yang lebih dulu kena."


"Kena... apa?"


Wulan tidak menjawab langsung. Ia bangkit dan berjalan ke jendela kayu yang tertutup. Membuka satu daun jendela sedikit, mengintip keluar, lalu menutupnya lagi.


"Aman," gumamnya. Lalu kembali duduk. "Ra, malam ini kalian akan tidur di sini. Besok pagi, sebelum matahari terbit, kita berangkat ke Pucangwangi. Itu desa yang sebenarnya, di seberang sungai. Kita harus berangkat saat masih gelap supaya... yang ada di sini tidak menyadari kalian pergi."


"Yang ada di sini?"


Wulan menatapku. "Ra, dengar. Kamu sudah tahu sebagian. Aku tahu kamu sudah tahu sebagian. Desa ini bukan desa biasa. Penghuninya bukan orang biasa. Iring-iringan yang tadi kalian lihat — mereka bukan manusia."


Aku merasakan udara di dalam ruangan menjadi lebih dingin, atau mungkin hanya aku yang membayangkan demikian.


"Lalu kenapa kamu di sini, Wulan?" tanyaku. "Kenapa kamu malah tinggal di tempat seperti ini?"


"Aku tidak tinggal di sini."


"Lalu?"


Wulan menarik napas dalam-dalam, seakan sedang menyiapkan diri untuk cerita panjang yang sudah lama ia tahan.


"Aku tinggal di Pucangwangi. Bersama Ibu dan adikku. Tapi rumah ini..." ia melihat berkeliling, "rumah ini milik keluargaku juga. Dulu seluruh desa ini adalah satu desa dengan Pucangwangi. Sebelum bencana datang dan memisahkan kami."


"Bencana apa?"


"Wabah. Puluhan tahun lalu. Banyak orang meninggal. Yang selamat pindah ke seberang sungai, ke wilayah yang sekarang disebut Pucangwangi. Yang tidak sempat pindah... tertinggal di sini. Atau mati di sini." Wulan menunduk. "Tapi mereka tidak benar-benar pergi, Ra. Mereka masih di sini. Dengan cara yang berbeda."


Sekar membuka matanya. Suaranya parau, tapi pertanyaannya jelas. "Kalau kamu tinggal di Pucangwangi, kenapa kamu bisa ada di sini? Bagaimana kamu tahu kami akan datang?"


Wulan menatap Sekar lama. Lalu menjawab pelan.


"Karena tiga hari yang lalu, ada yang memberitahuku."


"Siapa?" tanyaku.


"Bukan siapa." Wulan menatapku. "Mimpi."


Sekar mengangkat alis lemah. "Mimpi?"


"Aku bermimpi tiga malam berturut-turut, tentang Nara berdiri di tengah Lembah Sepi dengan lilin di tangan yang padam. Dan di mimpi itu, ada suara yang bilang: _jemput dia sebelum terlambat._" Wulan menghela napas. "Aku tidak tahu maksudnya apa. Aku hanya tahu aku harus menunggu. Jadi aku ke sini, ke rumah lama keluargaku ini, dan aku tunggu. Tiga hari aku menunggu di sini. Sampai tadi aku dengar suara kalian di luar."


"Kamu nggak bilang siapa-siapa?" tanya Sekar.


"Ibuku tahu. Adikku tahu. Tapi tidak ada yang lain." Wulan menggelengkan kepala. "Kalau aku bilang ke warga, mereka akan datang ramai-ramai. Dan kalau mereka datang ramai-ramai ke Lembah Sepi, yang terjadi justru lebih berbahaya. Lembah Sepi tidak suka dikunjungi banyak orang. Tidak suka diganggu."


Aku menatap Wulan. Sekar menatap Wulan. Wulan menatap lantai.


Hening yang panjang.


"Wulan," kataku akhirnya, "siapa yang ngirim undangan ini ke aku?"


Aku mengeluarkan amplop dari ransel — yang sekarang ada di sebelah Wulan — dan meletakkannya di meja kayu di antara kami.


Wulan menatap amplop itu lama. Sangat lama.


Kemudian ia mengambilnya. Membuka isinya. Membaca kartu undangan.


Dan ekspresi wajahnya berubah.


Bukan dramatis. Bukan terkejut yang sampai membuka mulut. Tapi ada perubahan kecil di sekitar matanya — sesuatu yang menjadi lebih tegang, lebih waspada.


"Aku tidak mengirim ini," katanya pelan.


"Apa?"


"Ini bukan dariku, Ra." Ia meletakkan kartu undangan di meja, menghadap ke arahku. "Undangan asli memang sudah aku siapkan, sudah aku tulis. Tapi belum sempat aku kirim ke siapapun. Bahkan ke kamu. Karena aku belum sempat cari cara menghubungi kamu dan Sekar — di Pucangwangi tidak ada sinyal, dan aku belum sempat ke kabupaten."


Hening yang tiba-tiba terasa seperti dinding.


"Tapi tulisannya mirip tulisanmu," kataku.


"Iya. Aku tahu."


"Nama mempelai juga benar."


"Iya."


"Wulan, kalau bukan kamu, lalu siapa?"


Wulan menatapku. Lampu petromax di meja membuat bayangan di wajahnya menjadi lebih dalam, lebih tua dari usianya.


"Aku punya dugaan," katanya. "Tapi aku tidak akan ngomong sekarang. Karena kalau aku ngomong sekarang, kalian akan terbangun di tengah malam dengan ketakutan. Besok. Kita bicara di Pucangwangi, di rumahku, dengan ibuku ada di sana. Mengerti?"


Aku menggenggam tangan Sekar. Sekar menggenggam balik.


"Mengerti," kataku.


Wulan berdiri. "Aku siapkan kasur untuk kalian di kamar dalam. Tidur. Aku akan jaga di luar."


"Kamu nggak tidur?" tanya Sekar.


Wulan tersenyum kecil. Senyum pertamanya malam itu yang sampai sedikit ke matanya.


"Sudah lama aku nggak benar-benar tidur, Sekar," jawabnya. "Tidak apa-apa."


---


Kamar di dalam rumah itu kecil. Hanya ada satu ranjang kayu dengan kasur tipis, satu lampu sentir yang tergantung di dinding, dan jendela kayu yang dipaku dari dalam — bukan dengan kunci, tapi dengan paku, seakan-akan pemiliknya tidak ingin jendela itu dibuka oleh siapapun.


Sekar berbaring duluan. Aku berbaring di sebelahnya. Kasur sempit memaksa kami berdesakan, tapi aku malah lebih lega seperti itu.


"Ra," bisik Sekar dalam kegelapan setelah lampu sentir dipadamkan.


"Hm?"


"Kamu percaya semua yang Wulan bilang?"


Aku berpikir lama. "Aku percaya sebagian. Sebagian lagi aku belum tahu mau percaya atau tidak. Tapi aku percaya Wulan tidak bohong."


"Aku juga." Sekar menarik selimut sampai dagu. "Tapi ada satu hal yang nggak aku ngerti."


"Apa?"


"Kalau seseorang ngirim undangan palsu ke kamu, terus kita beneran datang ke sini, terus ternyata ini desa yang berbahaya... berarti seseorang itu memang mau kita celaka, kan?"


"Iya."


"Lalu kenapa Wulan langsung tahu kita akan datang? Maksudku, mimpi itu kebetulan banget."


Aku tidak menjawab. Aku belum memikirkan sampai sejauh itu.


"Maksudku gini, Ra." Sekar miring menghadapku, meski wajahnya hanya samar terlihat dalam gelap. "Mungkin yang ngirim undangan ke kita, dan yang bikin Wulan mimpi tentang kita, adalah orang yang sama. Atau setidaknya, ada hubungannya."


Aku terdiam.


Sekar benar.


Dan kebenaran itu membuat dadaku sesak dengan cara yang baru.


Di luar kamar, samar-samar terdengar suara Wulan sedang membaca sesuatu — pelan, ritmis, seperti dzikir atau doa malam. Suara yang seharusnya menenangkan. Tapi entah kenapa malam itu, suara doa itu justru terdengar seperti seseorang yang sedang mempertahankan benteng dari serangan yang akan datang.


Aku memejamkan mata. Memeluk Sekar dari belakang seperti yang biasa kami lakukan saat masih kuliah dan tinggal di kosan yang sama.


Dan dalam pelukan itu, akhirnya aku tertidur.


Tapi malam Lembah Sepi belum selesai dengan kami.