Butuh dua hari untuk membujuk Sekar secara resmi.


Bukan karena ia tidak mau pergi — dari malam itu ia sudah antusias dengan caranya sendiri yang aneh — tapi karena Sekar punya cara unik dalam menyetujui sebuah rencana. Ia harus mengajukan syarat-syarat terlebih dahulu, seolah hidup ini adalah meja perundingan dan ia adalah delegasi dari negara yang sangat menghargai dirinya sendiri.


"Syarat pertama," katanya sambil duduk di meja makan kosan yang kami tempati bersebelahan, "bawa _sleeping bag._ Aku nggak mau tidur di kasur yang entah sudah berapa tahun nggak diganti seprainya."


"Oke," jawabku sambil mencatat di buku kecil. Aku sengaja mencatat karena Sekar pasti akan lupa syarat-syaratnya sendiri di hari keberangkatan.


"Syarat kedua: bawa obat anti nyamuk. Banyak. Desa pedalaman itu nyamuknya pasti sebesar ibu jari."


"Oke."


"Syarat ketiga." Ia menunjuk langit-langit dengan jari telunjuk yang dramatis. "Kalau aku minta pulang, kita langsung pulang. Tanpa debat, tanpa bujuk rayu, langsung pulang."


Aku mengangkat pandangan dari catatan. "Syarat ketiga ini agak ambigu, Nan."


"Nggak ambigu. Sangat jelas."


"Bagaimana kalau kita baru dua jam di sana dan kamu sudah minta pulang?"


Sekar berpikir sejenak. "Kalau itu berarti kamu harus bawa aku keluar desa dalam waktu dua jam."


"Kamu nggak bisa sesewenang itu."


"Bisa. Itu namanya syarat."


Aku menghela napas panjang. Sekar Wulandari — dengan seluruh kecerewetan dan ketegasan yang ia bawa sejak pertama kami kenal tujuh tahun lalu — adalah orang yang paling susah diajak berkompromi tapi paling bisa diandalkan ketika situasi benar-benar genting. Aku sudah belajar untuk tidak melawannya di hal-hal kecil supaya bisa menang di hal-hal besar.


"Oke," kataku akhirnya. "Syarat ketiga diterima dengan satu catatan: aku yang menentukan apakah situasinya benar-benar darurat atau hanya kamu yang lebay."


"Tidak adil."


"Sangat adil."


Ia memicingkan mata padaku selama tiga detik. Lalu mengangguk. "Oke. Lanjut. Syarat keempat—"


"Sekar."


"—bawa bekal sendiri-sendiri biar nggak ribut soal makanan." Ia mengabaikan nada peringatanku. "Aku trauma waktu kita ke Dieng dua tahun lalu dan kamu malah ambil seluruh tempe gorengku."


"Itu karena kamu tidur dan makanannya mau basi."


"Itu makananku."


Perdebatan kecil itu berakhir dengan perjanjian damai: kami membeli bekal masing-masing dari minimarket di perjalanan. Setelah syarat keenam (tidak boleh ada selfie berlebihan), syarat ketujuh (Sekar yang pegang uang transportasi karena ia lebih hemat), dan syarat kedelapan (yang aku lupa karena terlalu lelah mendengarnya), akhirnya kami sepakat untuk berangkat pada hari Kamis.


Itu memberi kami tiga hari untuk persiapan.


Tiga hari yang kuhabiskan dengan perasaan ganjil yang tidak bisa kusingkirkan.


---


Pada hari Rabu malam, kedai kopi sudah aku titipkan ke Mbak Yati — pegawai paruh waktu yang sudah tiga tahun bekerja denganku dan satu-satunya orang yang aku percaya untuk meninggalkan kunci.


"Mbak ke mana sih, kok mendadak?" tanya Mbak Yati sambil melipat celemek di belakang meja.


"Hadiri pernikahan teman lama. Di Wonosobo."


"Wonosobo mana?"


"Garung. Desa Pucangwangi."


Mbak Yati mengernyitkan dahi. "Pucangwangi? Saya ada saudara di Garung, Mbak. Dia nggak pernah sebut desa itu."


Aku tersenyum. "Mungkin desa kecil yang nggak ramai."


"Mungkin." Tapi tatapan Mbak Yati tidak meyakinkan. "Mbak, hati-hati ya. Pelosok Wonosobo itu kadang masih banyak hal-hal yang... aneh."


"Aneh gimana?"


"Aneh ya aneh." Ia menggantung celemek di pengait. "Saudara saya sering cerita. Pokoknya kalau di sana, jangan terlalu banyak tanya, jangan terlalu banyak janji, dan jangan keluar malam sendirian."


Aku tertawa kecil meski tertawa itu tidak mencapai mataku. "Aku ada Sekar. Kita berdua."


"Iya. Justru karena ada teman makanya hati-hati. Kalau salah satu diganggu, yang satu pasti ikut diganggu juga."


Setelah Mbak Yati pulang, kalimat itu terus berputar di kepalaku. Aku tahu Mbak Yati bukan tipe yang suka menakut-nakuti. Ia perempuan praktis dan jarang bicara tentang hal-hal mistis. Justru karena itulah peringatannya terasa berat.


Aku mengunci kedai. Pulang ke kosan. Mengemas barang. Memasukkan undangan ke saku depan ransel.


Saat memejamkan mata di kasur, aku berpikir tentang Wulan.


Tentang Wulan yang aku kenal di SMA — Wulan yang selalu duduk di pojok perpustakaan dengan buku puisi di tangan. Wulan yang selalu mendengarkan kami curhat tanpa pernah memotong. Wulan yang menangis diam-diam pas ulang tahun karena ayahnya tidak kunjung pulang dari rantauan. Wulan yang menjadi penengah saat aku dan Sekar bertengkar tentang hal-hal sepele.


Wulan yang dua tahun lalu memberi tahu aku — lewat pesan singkat — bahwa ia akan pulang ke desa. Tidak ada penjelasan panjang. Hanya: _Ra, aku pulang ke desa. Nanti kita kontak-kontakan ya. Jaga Sekar._


Aku menjaga Sekar. Tapi aku tidak pernah bisa kontak-kontakan dengan Wulan.


Dan sekarang, dua tahun kemudian, undangan pernikahannya datang dengan cara yang jauh dari normal.


Aku tertidur dengan amplop di bawah bantal.


---


Kamis pagi, kami sudah duduk di dalam bus antarkota jurusan Wonosobo dengan ransel di pangkuan dan semangat yang — setidaknya dari pihak Sekar — masih menggebu.


Aku tidak bisa menyebut diriku bersemangat. Sepanjang perjalanan, ada rasa ganjil yang tidak bisa kuhilangkan. Aku terus menatap kartu undangan yang kusimpan di saku depan ransel, seakan-akan kalau aku menatap cukup lama, simbol tiga garis di sudut kanan bawah itu akan memberi tahu siapa pengirimnya.


Ia tidak memberi tahu apa-apa.


Bus melaju menembus jalanan berbukit Wonosobo yang diselimuti kabut tipis. Di kanan kiri jalan, hamparan kebun teh dan pohon cemara berlomba-lomba menyentuh langit abu-abu. Pemandangan yang seharusnya menenangkan.


Sekar yang sudah tidur sejak setengah perjalanan, tiba-tiba menggeliat dan membuka mata.


"Sudah sampai mana?" tanyanya mengantuk.


"Belum. Masih jauh."


Ia memeluk ransel dan menutup mata lagi.


Aku memalingkan pandangan ke jendela.


Dan di situlah aku pertama kali menyadari ada yang aneh.


Bus yang sedari tadi melaju kencang, tiba-tiba perlahan... dan berhenti. Di tengah jalan. Tidak ada tikungan, tidak ada macet, tidak ada yang terlihat menghalangi.


Sopir tidak mengumumkan apa-apa. Penumpang lain tampak tidak menyadari ada yang berbeda. Beberapa tetap tidur. Yang lain menatap ponsel masing-masing.


Dan kemudian, dari kursi belakang kami, terdengar suara.


Seorang penumpang tua mulai bergumam. Pelan, ritmis, dalam bahasa yang tidak kukenali. Bukan bahasa Jawa biasa. Bukan bahasa Sunda. Nada ucapannya terasa seperti seseorang yang sedang membaca sesuatu — semacam mantra atau doa kuno.


Aku berbalik perlahan. Bapak tua itu duduk lurus, mata terpejam, bibir bergerak dalam gumaman panjang yang monoton. Di tangannya tidak ada buku, tidak ada tasbih — hanya jari-jari keriput yang menggenggam satu sama lain di atas lutut.


Bulu kudukku merinding.


Tepat ketika gumaman itu berhenti, mesin bus kembali menyala. Bus melaju seperti tidak terjadi apa-apa. Aku menoleh ke belakang sekali lagi, dan bapak tua itu sudah membuka mata. Ia menatap lurus ke depan dengan ekspresi tenang, seperti penumpang biasa yang baru bangun tidur.


Tapi sebelum aku berbalik, mata kami bertemu.


Ia tersenyum kecil.


Dan tanpa membuka mulut, bibirnya membentuk satu kata yang aku tahu — meski tidak terdengar — adalah peringatan: _Hati-hati._


Aku berbalik cepat. Menatap punggung kursi di depanku. Mencoba tidak gemetar.


Aku tidak menceritakan hal ini pada Sekar.


Sesampainya di terminal kabupaten, hari sudah mulai sore. Awan mendung berkumpul di langit barat. Kami menawar ojek yang mau mengantar ke Desa Pucangwangi. Dua tukang ojek pertama menggeleng begitu mendengar nama desa itu. Yang ketiga mau, tapi syaratnya: ia berhenti di sebuah persimpangan sekitar tiga kilometer sebelum desa.


"Paling jauh sampai sini, Mbak. Selebihnya harus jalan kaki atau naik andong. Saya nggak bisa lebih jauh dari sini," katanya.


"Kenapa, Pak?" tanyaku.


Tukang ojek itu mengusap wajahnya dengan satu tangan. "Jalannya sudah rusak, Mbak. Motor saya nggak kuat."


Ia tidak menatap mataku ketika berkata itu. Dan aku — yang sudah dua hari ini hanya bertemu dengan orang-orang yang menghindari tatapan mata — tahu bahwa itu adalah kebohongan yang sudah ia ulang berkali-kali.


Sekar yang biasanya cerewet, kali ini diam.


Di persimpangan itu, ada sebuah warung kecil yang hampir roboh. Atapnya melengkung. Cat dindingnya memudar. Di depannya, seorang lelaki tua duduk di atas amben bambu sambil mengipas dirinya sendiri dengan topi anyaman.


Ia mengangkat kepala saat kami turun dari motor.


"Mau ke Pucangwangi?" tanyanya sebelum kami sempat berkata apa-apa.


Aku dan Sekar saling pandang. Bagaimana ia tahu?


"Iya, Mbah," jawabku hati-hati.


"Naik andong saya." Ia berdiri. Tubuhnya kurus tapi masih tegak. "Saya Mbah Karto. Sudah puluhan tahun antar warga ke sana."


Di belakang warung, seekor kuda hitam tua berdiri mengunyah sesuatu. Andongnya sederhana tapi bersih.


Aku mau menanyakan harga, tapi Mbah Karto sudah berjalan menyiapkan kuda tanpa menunggu jawaban kami. Seakan-akan ia memang sudah tahu kami akan setuju.


Kami naik.


Sebelum andong bergerak, Mbah Karto menoleh ke belakang dan menatap kami berdua bergantian. Mata tuanya tampak lebih jernih dari yang seharusnya untuk seseorang seusianya.


"Dengarkan Mbah," katanya. Suaranya rendah, datar, tapi entah kenapa terasa berat. "Dalam perjalanan, jika ada yang memanggil nama kalian sebelum sampai tujuan... jangan menoleh."


Sekar mendekatkan mulutnya ke telingaku. "Mbah ini baik-baik saja, kan?"


Tapi aku tidak sempat menjawab. Andong sudah bergerak. Dan dalam hati, aku mencatat peringatan itu baik-baik.