Sekar tidak langsung tidur malam itu.

Ia duduk di sofa sampai hampir pukul satu dini hari, mendengarkan suara hujan yang mulai mereda dan suara shower dari kamar mandi yang kemudian mati. Mendengarkan langkah kaki Raka ke dapur — mengambil air minum, ia tebak — lalu kembali ke kamar. Mendengarkan semuanya dari balik dinding tipis rumah kontrakan mereka yang sudah terlalu sempit untuk dua orang yang sudah terlalu jauh satu sama lain.

Ia akhirnya masuk ke kamar setelah yakin Raka sudah tidur.

Berbaring di sisi ranjang masing-masing. Punggung menghadap punggung. Jarak di antara mereka tidak lebih dari setengah meter secara fisik. Tapi Sekar merasa jarak itu bisa diukur dalam satuan tahun cahaya.

Matanya menatap langit-langit kamar yang gelap.

Dan entah kenapa, malam itu pikirannya malah pergi jauh ke belakang — ke awal, ke titik di mana semuanya dimulai. Seperti seseorang yang tahu sebuah bangunan akan runtuh dan memilih untuk mencari tahu dulu di mana batu pertamanya diletakkan.

Sekar dan Raka bertemu di tahun terakhir kuliah mereka.

Bukan di kampus yang sama — Sekar di seni rupa, Raka di arsitektur, dua gedung yang bahkan tidak bersebelahan. Mereka bertemu di sebuah pameran seni kecil yang diadakan komunitas mahasiswa lintas jurusan. Sekar datang karena dua temannya memajang karya di sana. Raka datang karena entah kenapa ada dalam satu grup chat yang menyebarkan undangan acara itu dan ia tidak punya rencana lain malam itu.

Sekar ingat betul: Raka berdiri cukup lama di depan salah satu lukisan — bukan karya temannya, tapi karya Sekar sendiri yang dipajang di sudut ruangan, hampir tersembunyi di balik instalasi lain yang lebih mencolok. Lukisan itu tidak besar, tidak mencolok. Hanya gambar sepasang tangan yang saling menggenggam, tapi dari sudut pandang yang aneh — seolah kita melihatnya dari atas, dan kedua tangan itu milik dua orang yang sedang tenggelam, menggenggam satu sama lain sebagai satu-satunya pegangan.

Sekar menghampirinya bukan karena PD — tapi karena ia merasa aneh melihat orang asing memandangi karyanya terlalu lama.

"Itu punyaku," katanya waktu itu. Kalimat yang bodoh dan tidak perlu, tapi itulah yang keluar.

Raka menoleh. Tidak terkejut. Seolah memang sudah menduga. "Kenapa tangannya tidak kelihatan wajahnya?"

"Karena wajah bisa berbohong," jawab Sekar. "Tangan tidak."

Raka diam sebentar. Lalu mengangguk — anggukan yang terasa seperti seseorang yang mendapat jawaban dari pertanyaan yang sudah lama ia pikirkan.

Itu awalnya. Percakapan tentang tangan dan wajah dan kejujuran. Berlanjut ke kopi di luar venue, berlanjut ke nomor yang ditukar, berlanjut ke pesan-pesan yang mulai dikirim setiap malam — Sekar yang panjang lebar, Raka yang pendek-pendek tapi selalu tepat sasaran.

Sekar jatuh cinta dengan cara Raka berbicara: tidak banyak, tapi setiap kata yang ia pilih terasa seperti sudah ditimbang dengan hati-hati.

Raka — Sekar baru tahu bertahun-tahun kemudian — jatuh cinta dengan cara Sekar bisa membuat ruangan terasa lebih hidup hanya dengan masuk ke dalamnya.

Mereka berpacaran delapan bulan sebelum akhirnya Raka melamar. Bukan dengan cincin mahal, bukan di restoran mewah. Di warung kopi yang sama tempat mereka pertama kali ngobrol, dengan kalimat yang tidak romantis sama sekali: "Aku mau kamu jadi orang yang pulang ke rumah yang sama denganku. Selamanya kalau bisa."

Sekar bilang iya sebelum Raka selesai bicara.

Tapi pernikahan adalah hal yang berbeda dari pacaran.

Sekar tahu itu secara teori. Ia hanya tidak tahu betapa berbedanya sampai ia benar-benar menjalaninya.

Raka yang dulu mengirim pesan setiap malam berubah menjadi Raka yang pulang larut dan langsung tidur. Raka yang dulu mendengarkan Sekar cerita panjang lebar berubah menjadi Raka yang menjawab dengan kata-kata pendek sambil matanya di layar laptop. Bukan karena ia tidak cinta — Sekar cukup lama meyakinkan diri sendiri tentang itu. Tapi karena rupanya cara Raka mencintai adalah dengan bekerja keras, menghasilkan, memastikan semua kebutuhan terpenuhi.

Dan cara Sekar merasa dicintai adalah dengan didengar. Ditemani. Dilihat.

Dua bahasa cinta yang tidak pernah bertemu di tengah.

Di tahun pertama, Sekar masih bisa sabar. Di tahun kedua, ia mulai bertanya-tanya. Di tahun ketiga, pertanyaan itu berubah menjadi diam yang panjang. Di tahun keempat, diam itu mulai berisi kepahitan. Dan di tahun kelima — tahun ini — kepahitan itu sudah cukup tua untuk mengeras menjadi tembok.

Yang Sekar tidak tahu, dan tidak akan pernah tahu kecuali seseorang memberitahunya: Raka juga diam-diam menghitung. Hanya dari sisi yang berbeda.

Ia menghitung berapa banyak lembur yang ia lakukan agar Sekar tidak perlu khawatir soal tagihan. Berapa banyak tawaran project luar kota yang ia tolak agar tidak perlu meninggalkan Sekar terlalu lama. Berapa banyak hal kecil yang ia lakukan tanpa bersuara — mengganti galon, memperbaiki engsel pintu kamar mandi yang sudah seminggu berbunyi, menyetel alarm Sekar satu jam lebih awal di hari ia ada deadline karena tahu Sekar selalu kesiangan di hari-hari penting.

Ia pikir tindakan-tindakan itu cukup berbicara.

Sekar tidak mendengar satu pun dari mereka.

Sekar memejamkan matanya di kegelapan kamar itu.

Besok, ia pikir. Besok ia akan bicara. Benar-benar bicara — bukan bertengkar, bukan mengeluh, tapi duduk dan bicara seperti dua orang dewasa yang punya masalah dan mau menyelesaikannya.

Ia sudah bilang itu kepada dirinya sendiri berkali-kali.

Tapi besok selalu datang dan pergi tanpa percakapan itu terjadi.

Di sisinya, Raka sudah tidur — napasnya teratur, punggungnya naik turun pelan. Sekar menatap punggung itu dalam gelap. Punggung yang sama yang dulu selalu ia peluk dari belakang waktu mereka masih baru menikah. Punggung yang sekarang terasa seperti tembok, bukan tempat berlindung.

Kenapa jadi seperti ini?

Tidak ada yang menjawab. Ruangan itu terlalu diam.

Di saku kemeja Raka yang tergantung di balik pintu kamar, ada selembar kertas kecil yang sudah dilipat rapi. Sekar tidak melihatnya malam itu. Tapi kalau ia membukanya, ia akan menemukan tulisan tangan Raka — tiga kata yang tidak pernah berhasil keluar dari mulutnya, yang sudah ia tulis dan lipat dan simpan di saku selama tiga minggu, menunggu momen yang tepat yang tidak pernah datang.