Pagi hari di rumah Sekar dan Raka selalu dimulai dengan jarak yang diukur dalam centimeter.
Sekar bangun lebih dulu — selalu. Ia ke kamar mandi, cuci muka, lalu ke dapur. Merebus air, menyiapkan kopi untuk Raka karena kebiasaan itu sudah terlanjur jadi rutinitas meski ia tidak tahu apakah Raka masih menghargainya atau sudah menganggapnya sebagai hal yang given. Menyiapkan sarapan sederhana: nasi kemarin yang digoreng, telur dadar, sambal botol.
Raka bangun dua puluh menit kemudian. Masuk ke kamar mandi. Keluar dengan rambut masih setengah basah. Duduk di meja makan. Makan dengan mata di ponselnya — email kantor, atau mungkin berita, Sekar tidak pernah benar-benar tahu.
"Makasih," kata Raka.
"Iya," jawab Sekar.
Itu percakapan pagi hari mereka. Kadang lebih pendek dari itu.
Tapi pagi ini berbeda. Pagi ini Sekar duduk di seberang Raka dengan niat — niat untuk memulai percakapan yang sudah terlalu lama tertunda. Ia menunggu Raka selesai meletakkan ponselnya, atau setidaknya menoleh ke arahnya, atau memberikan celah sekecil apapun.
Raka tidak melakukan keduanya.
Sekar membuka mulutnya dua kali. Dua kali ditutup kembali.
Yang ketiga, ia berhasil: "Kita perlu ngobrol."
Raka menoleh. Ekspresinya tidak bisa dibaca — tidak kaget, tidak cemas, tidak juga acuh. Hanya... netral. Sekar selalu benci netral.
"Tentang apa?"
Tentang apa. Sekar menahan desahan frustrasi. "Tentang kita. Tentang rumah ini. Tentang—" ia berhenti, mencari kata yang tepat, "—tentang kenapa rasanya kita sudah lama banget tidak benar-benar ngobrol."
Raka meletakkan ponselnya. Itu kemajuan, setidaknya.
"Aku dengarkan," katanya.
Dan kalimat itu — yang seharusnya membuat Sekar lega — malah membuat sesuatu di dadanya terasa menegang. Karena aku dengarkan terdengar seperti kalimat yang diucapkan seseorang yang sudah mempersiapkan diri untuk diadili, bukan seseorang yang ingin berdialog.
"Kamu tidak perasa, Raka." Kalimat itu keluar sebelum Sekar sempat memilihnya dengan hati-hati. "Kamu pulang telat terus, tidak pernah ngabarin, tidak pernah—"
"Aku kerja," potong Raka. Bukan defensif. Hanya faktual. Dan justru itu yang lebih menyakitkan.
"Aku tahu kamu kerja!" suara Sekar naik setingkat. "Tapi ada bedanya antara kerja dan nghilang. Ada bedanya antara capek dan tidak peduli."
Raka menatapnya. "Aku peduli."
"Dengan cara apa? Karena aku tidak melihatnya."
Raka tidak menjawab. Ia mengambil ponselnya kembali — bukan untuk menghindari, Sekar yakin ia tidak menghindari, tapi gerakan itu sudah cukup untuk memutus apapun yang baru saja ingin Sekar bangun.
Sarapan itu selesai dalam diam.
Raka pergi ke kantor tanpa ciuman perpisahan — sudah lama tidak ada ritual itu. Sekar membereskan piring dengan tangan yang lebih keras dari perlu.
Sore harinya, ketika Sekar sedang menggambar di meja kerjanya dan Raka belum pulang, ponsel Sekar bergetar.
Bukan dari Raka. Dari Hana, sahabatnya sejak SMA.
"Sek, kamu oke? Tadi papasan sama Raka di mall. Dia kelihatan capek banget. Kalian baik-baik aja?"
Sekar mengetik balasan singkat: "Baik-baik aja kok."
Tapi jarinya berhenti sebelum mengirim.
Ia menghapusnya. Menggantinya dengan: "Lagi susah Han."
Hana langsung menelepon.
"Cerita," kata Hana, tanpa basa-basi.
Sekar cerita. Tentang malam-malam yang ia lewatkan sendirian. Tentang komunikasi yang terasa seperti laporan cuaca — ada tapi tidak bermakna. Tentang bagaimana ia mulai merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri. Ia cerita panjang, berputar, kadang tidak nyambung, dan Hana mendengarkan semuanya.
"Raka tahu kamu ngerasa gini?" tanya Hana akhirnya.
"Aku sudah coba ngomong tadi pagi."
"Dan?"
Sekar diam. "Dia bilang dia peduli. Tapi tidak bisa jelasin dengan cara apa."
Hana menghela napas. "Sek... aku mau bilang sesuatu dan tolong jangan marah ya."
"Apa?"
"Seminggu lalu Raka ngirim pesan ke aku. Nanya nomor psikolog yang dulu aku rekomendasiin ke kamu." Hana berhenti sebentar. "Aku kira kamu yang minta dia cariin."
Sekar membeku.
"Dia bilang apa?" suaranya keluar pelan.
"Dia bilang dia merasa... gagal. Sebagai suami." Hana berbicara hati-hati, memilih kata. "Dia bilang dia tidak tahu cara bikin kamu bahagia dan dia takut kalau dia ngomong ke kamu malah makin bikin kamu down. Jadi dia coba cariin bantuan profesional dulu sebelum—"
"Tunggu." Sekar berdiri dari kursinya tanpa sadar. "Dia bilang itu ke kamu?"
"Ya."
"Tapi tidak ke aku."
Hana tidak menjawab. Jawabannya sudah jelas.
Sekar berjalan ke jendela, memandangi jalanan di luar yang sudah mulai ramai dengan kendaraan sore. Kepalanya mendadak penuh dengan suara yang saling tumpang tindih — marah, sedih, bingung, dan sesuatu yang aneh yang belum bisa ia beri nama.
Raka merasa gagal sebagai suami.
Raka mencari nomor psikolog diam-diam.
Raka melakukan semua itu — tanpa bilang apa-apa padanya.
"Kenapa dia tidak bilang ke aku?" bisiknya, lebih ke diri sendiri dari ke Hana.
"Mungkin," kata Hana pelan, "karena dia tidak tahu caranya. Sama seperti kamu tidak tahu cara bilang ke dia bahwa kamu butuh lebih dari yang dia berikan."
Sekar menutup matanya.
Di dadanya, kemarahan dan kesedihan berputar dalam pusaran yang aneh — dan di tengah-tengahnya, ada sesuatu yang terasa seperti kasihan. Bukan untuk dirinya sendiri.
Tapi untuk Raka.
Dan itu membuatnya makin bingung dari sebelumnya.
Malam itu Raka pulang pukul 22.00. Sekar sudah menunggu — bukan dengan teh yang dingin seperti biasa, tapi dengan pertanyaan yang sudah ia susun sejak sore. Tapi ketika Raka masuk dan mereka bertatapan, semua kalimat yang sudah Sekar siapkan runtuh. Karena di wajah Raka, untuk pertama kalinya setelah lama, Sekar melihat sesuatu yang ia kenali: lelah yang bukan dari pekerjaan. Dan di saku kemeja Raka, kertas kecil itu masih ada — tapi kali ini Sekar melihatnya jatuh ketika Raka melepas kemejanya. Ia memungutnya sebelum Raka menyadari.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar