[ POV: RAKA ]

Raka tidak tahu mau ke mana.

Kakinya hanya berjalan — keluar dari gang sempit tempat mereka mengontrak, belok kanan, lurus, belok lagi. Jaketnya basah dalam dua menit karena hujan yang tadi sempat berhenti rupanya hanya jeda. Sekarang turun lagi, lebih deras dari sebelumnya.

Ia tidak balik untuk mengambil payung.

Mungkin kita memang tidak bisa saling memberi apa yang kita butuhkan.

Kalimat itu keluar dari mulutnya sendiri, tapi sekarang terasa asing. Terasa seperti kata-kata yang diucapkan oleh versi dirinya yang panik dan defensif dan tidak tahu cara lain untuk merespons selain melempar sesuatu yang cukup besar untuk menghentikan Sekar bicara.

Ia menyesal mengatakannya.

Tapi ia tidak tahu bagaimana cara kembali dan mengatakannya.

Raka berjalan melewati warung yang sudah tutup, melewati minimarket yang masih buka dengan cahaya neon putihnya yang terlalu terang, melewati seorang bapak tua yang berteduh di bawah atap toko dengan rokok di jarinya. Semuanya terasa seperti latar belakang — blur, tidak penting. Yang ada hanya suara hujan dan suara pikirannya sendiri yang tidak mau diam.

Ia mencintai Sekar.

Itu tidak pernah jadi pertanyaan. Bahkan di malam-malam terburuk, di pertengkaran yang paling lelah, ia tidak pernah sekalipun berpikir untuk tidak mencintainya. Tapi cinta, rupanya, tidak otomatis mengajarkan cara mengekspresikannya.

Raka tumbuh di keluarga yang tidak banyak bicara. Ayahnya menunjukkan kasih sayang dengan hadir — datang ke setiap pertandingan sepak bola Raka meski tidak pernah teriak-teriak seperti bapak-bapak lain, menunggu di luar ruang ujian sampai Raka keluar, memperbaiki sepedanya tanpa diminta. Ibunya memasak makanan kesukaan Raka setiap kali ia tampak down tanpa pernah bertanya ada apa. Mereka mencintai dengan tindakan. Dengan kehadiran yang diam.

Raka pikir itu cukup. Ia pikir Sekar akan membaca tindakannya seperti ia membaca tindakan orang tuanya.

Ia salah.

Ponselnya bergetar di saku. Ia keluarkan — angka di layar membuat dadanya sesak.

Sekar.

Ia menatap nama itu selama dua detik. Tiga. Empat.

Ia angkat.

"Halo—"

"Kamu di mana?" suara Sekar di seberang — bukan marah, tapi ada sesuatu yang berbeda. Suaranya terdengar... terburu-buru.

"Di jalan. Kenapa?"

"Aku juga lagi di luar." Sekar berhenti sebentar. Raka bisa mendengar suara hujan dari sisinya juga. "Aku... aku mau minta maaf. Tadi aku—"

"Bukan salah kamu," potong Raka.

"Raka—"

"Aku yang harusnya minta maaf duluan. Kertas itu—" ia menghela napas, "—aku tulis tapi tidak pernah berani kasih langsung. Itu bodoh."

Keheningan sebentar di seberang. Lalu: "Kita ngobrol ya? Beneran ngobrol. Aku pulang dulu—"

"Aku juga lagi balik," kata Raka. Ia sudah memutar badannya, menghadap arah pulang. Jarak dari sini ke rumah kira-kira dua kilometer. Tidak jauh. "Tunggu aku ya."

"Iya." Suara Sekar terdengar lebih lega. "Hati-hati, hujannya deras."

"Kamu juga. Kamu bawa payung?"

"Tidak."

Raka hampir tersenyum. "Besok pasti sakit."

"Kamu juga."

Ia menutup telepon. Memasukkan ponsel ke saku. Dan mulai berjalan lebih cepat — bukan karena panik, tapi karena ada sesuatu yang terasa berbeda malam ini. Sesuatu yang terasa seperti... kemungkinan. Seperti celah kecil yang terbuka di dinding yang sudah terlalu lama berdiri.

Mungkin malam ini mereka bisa benar-benar bicara.

Mungkin malam ini ia bisa mengatakan hal-hal yang sudah terlalu lama hanya ada di kepalanya.

Raka mempercepat langkahnya di bawah hujan.

[ POV: SEKAR ]

Sekar menutup teleponnya dan menarik napas.

Tunggu aku ya.

Dua kata itu terasa lebih banyak dari semua percakapan mereka dalam tiga bulan terakhir. Sekar tidak tahu kenapa. Mungkin karena ada nada di suara Raka yang belum pernah ia dengar sebelumnya — atau sudah lama tidak ia dengar. Nada yang terdengar seperti seseorang yang mau mencoba.

Ia merapatkan jaketnya — tipis, tidak cukup untuk hujan seintens ini. Kakinya basah karena ia memakai sandal. Bodoh. Ia keluar dalam keadaan emosi dan tidak berpikir praktis.

Sekar Larasati, kamu berapa tahun?

Ia nyengir sendiri. Dan rasa sakit itu — rasa sakit dari pertengkaran tadi — masih ada, tapi sudah berubah bentuk. Sudah tidak tajam. Lebih seperti sesuatu yang perlu dibersihkan daripada sesuatu yang perlu dijauhi.

Ia memutuskan untuk tidak menunggu di tempat. Terlalu dingin. Ia akan jalan balik ke rumah — pelan, sambil tunggu Raka.

Kakinya melangkah di trotoar yang tergenang. Lampu jalan sebagian mati — kawasan ini memang sering mati lampu di area tertentu. Ia harus hati-hati.

Ponselnya bergetar lagi. Hana.

"Gimana? Udah ngobrol sama Raka?"

Sekar mengetik sambil berjalan: "Baru aja. Lagi on the way pulang. Doain ya."

Hana balas dengan tiga emoji hati.

Sekar tersenyum pada layar ponselnya.

Ia tidak melihat ke depan.

Tidak melihat bahwa lampu di persimpangan itu mati total.

Tidak melihat motor yang datang dari tikungan terlalu cepat untuk hujan sederas ini, pengendaranya terlambat menyadari ada seseorang di jalur yang seharusnya tidak ada orang.

Sekar hanya sempat merasakan sesuatu menghantam sisinya dengan keras — dan kemudian semuanya menjadi putih.

[ POV: RAKA ]

Tiga blok dari persimpangan itu, Raka mendengar suara klakson dan suara benturan yang keras.

Ia berhenti.

Sesuatu di dalam dadanya — sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan dengan logika apapun — langsung mengencang.

Sekar.

Ia tidak tahu kenapa nama itu yang pertama melintas. Tidak ada alasan rasional. Persimpangan itu bukan jalan yang Sekar harusnya lewati untuk pulang ke rumah.

Tapi kakinya sudah berlari sebelum pikirannya selesai memproses.

Dan di tikungan menuju persimpangan itu, dari arah berlawanan, sebuah truk yang remnya blong karena jalanan licin tidak melihat Raka yang berlari di tepi jalan yang gelap.

Dua kecelakaan. Dua tempat. Satu malam yang sama. Dan di suatu tempat di antara keduanya, dua jiwa yang baru saja memutuskan untuk mencoba lagi — menyadari bahwa mungkin waktu mereka baru saja habis.