Jam di dinding dapur menunjukkan pukul 23.14.

Sekar masih duduk di sana — di kursi yang sama, di sudut yang sama, dengan secangkir teh yang sudah lama dingin di depannya. Ia tidak meminumnya. Ia sudah lupa kapan terakhir ia meminum teh yang masih panas di rumah ini.

Lampu ruang tamu ia biarkan menyala. Bukan karena ia takut gelap. Tapi karena Raka bilang ia tidak suka pulang ke rumah yang gelap gulita. Itu satu-satunya hal yang masih Sekar lakukan tanpa perlu berpikir dua kali — menyalakan lampu untuk suami yang tidak tahu kapan akan pulang.

Lima tahun pernikahan. Dan ini adalah malam ke entah berapa ia duduk seperti ini.

Sekar menarik napas pelan. Di luar, hujan mulai turun — rintik-rintik yang kemudian berubah menjadi deras dalam hitungan menit. Ia mendengar suara air menghantam genteng, mengalir di selokan, memukul kaca jendela. Dulu, ia suka hujan. Dulu, hujan selalu berhasil membuatnya merasa tenang.

Sekarang hujan hanya membuat ia bertanya-tanya apakah Raka membawa jaket.

Seharusnya bukan aku yang memikirkan itu. Dia sudah dewasa.

Ia mencoba meyakinkan diri sendiri. Gagal, seperti biasa.

Ponselnya tergeletak di meja — layarnya sudah mati sejak tadi. Tidak ada pesan masuk. Tidak ada panggilan. Raka tidak pernah mengabari kalau pulang telat. Itu sudah jadi semacam aturan tak tertulis dalam rumah tangga mereka: Sekar tidak bertanya, Raka tidak menjelaskan.

Awalnya Sekar pikir itu adalah bentuk kepercayaan.

Lama-lama ia sadari itu adalah bentuk jarak.

Ia bangkit dari kursi, membawa cangkir tehnya ke wastafel, dan menuangnya. Teh itu mengalir hilang begitu saja. Seperti banyak hal lain dalam hidupnya belakangan ini — pergi tanpa sempat dinikmati.

Sekar berdiri di depan wastafel cukup lama, memandangi airnya mengalir.

Ia ingat lima tahun lalu, malam sebelum pernikahan mereka, ibunya bertanya: "Kamu yakin, Nduk? Raka anak yang baik, tapi kamu tahu sendiri dia tidak banyak bicara."

Sekar tertawa waktu itu. "Justru itu yang aku suka, Bu. Dia tenang. Aku yang terlalu berisik."

Sekarang ia tidak tahu apakah itu jawaban yang naif atau hanya jawaban seorang perempuan yang sedang jatuh cinta dan tidak mau mendengar apapun selain suara hatinya sendiri.

Mungkin keduanya.

Ia mematikan keran. Mengeringkan tangannya. Dan kembali duduk — bukan di dapur, tapi di sofa ruang tamu, lebih dekat ke pintu. Tidak karena ia ingin menyambut Raka. Tapi karena duduk di dapur sendirian sudah terlalu menyedihkan bahkan untuk standar malam-malam seperti ini.

Ia mengambil ponselnya. Membuka galeri foto — bukan dengan tujuan tertentu, hanya untuk mengisi waktu. Jarinya menggulir pelan. Foto-foto liburan dua tahun lalu ke Lombok. Foto ulang tahun pernikahan pertama mereka yang dirayakan berdua di rumah karena Raka tidak bisa ambil cuti panjang. Foto Raka yang tertidur di sofa sambil memegang remote — Sekar yang mengambilnya diam-diam, waktu itu masih merasa ada sesuatu yang hangat melihat suaminya tidur.

Ia berhenti di satu foto.

Raka sedang tertawa — benar-benar tertawa, bukan senyum sopan yang biasa ia perlihatkan ke orang lain. Matanya menyipit, ada lesung pipit yang muncul di pipi kanannya. Sekar ingat betul momen itu: mereka sedang makan di warung pinggir jalan, dan Sekar tidak sengaja menjatuhkan es teh ke pangkuannya sendiri. Raka tertawa sampai hampir tersedak.

Sekar ikut tertawa waktu itu. Keduanya tertawa sampai nangis di pinggir jalan seperti orang gila.

Kapan terakhir kali kami tertawa seperti itu?

Ia tidak ingat.

Ponselnya bergetar. Sekar refleks menegakkan punggungnya — tapi bukan Raka. Hanya notifikasi dari aplikasi belanja. Ia meletakkan ponsel kembali, lebih keras dari yang ia niatkan.

Tepat saat itu, ia mendengar suara kunci diputar di pintu depan.

Sekar tidak bergerak. Ia menunggu — seperti biasa. Menunggu Raka masuk, melepas sepatu, meletakkan tasnya, dan mungkin — mungkin — menoleh ke arahnya dan bilang sesuatu. Malam ini, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Sekar memutuskan sesuatu dalam hatinya.

Kalau malam ini dia masuk dan langsung ke kamar tanpa bilang apa-apa, aku tidak akan diam lagi.

Pintu terbuka.

Raka masuk — rambutnya basah kuyup, kemejanya menempel di kulitnya karena hujan. Ia melepas sepatu dengan gerakan yang sudah sangat Sekar hafal: sepatu kanan dulu, lalu kiri, diletakkan rapi di rak meski tidak ada yang akan menegurnya kalau tidak rapi.

Sekar menahan napas.

Raka mengangkat kepala.

Mereka bertatapan — dua detik, mungkin tiga. Mata Raka tidak membaca apa yang ada di mata Sekar, atau mungkin membaca tapi memilih untuk tidak merespons. Ia mengangguk pelan — gerakan yang entah artinya apa, mungkin semacam sapaan, mungkin pengakuan bahwa ia melihat Sekar ada di sana.

Lalu ia berjalan ke kamar.

Tanpa kata.

Sekar duduk di sofa itu, merasakan sesuatu di dadanya yang terasa seperti batu yang dijatuhkan ke dalam sumur kosong — jatuh, jatuh, jatuh, dan tidak pernah terdengar menyentuh dasar.

Ia menutup mata.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Sekar Larasati memutuskan: ia tidak mau menunggu lagi.

Tapi keputusan yang sudah terlambat lima tahun tidak bisa selesai dalam satu malam. Dan Raka — yang baru saja menutup pintu kamar tanpa tahu badai apa yang sedang diam-diam berkumpul di balik dinding rumahnya — tidak membawa jaket malam ini. Di saku kemejanya yang basah, ada sesuatu yang seharusnya sudah ia tunjukkan kepada Sekar sejak tiga minggu lalu.