Kertas itu tidak besar — seukuran struk belanja, dilipat dua.

Sekar memungutnya dari lantai ketika Raka sudah masuk ke kamar mandi. Ia tidak langsung membukanya. Ia berdiri di tengah kamar dengan kertas itu di tangannya, merasakan beratnya yang tidak proporsional dengan ukurannya.

Ini bukan hakku.

Ia tahu itu.

Tapi ia juga ingat percakapan dengan Hana sore tadi. Tentang Raka yang menyimpan sesuatu. Tentang dua orang yang sudah lima tahun hidup bersama tapi memilih untuk menyimpan semuanya sendiri-sendiri karena tidak tahu bagaimana membukanya.

Ia membuka kertas itu.

Tulisan tangan Raka — kecil, rapi, dengan tekanan pena yang kuat seperti seseorang yang menulis sesuatu penting dan ingin memastikan tintanya tidak pudar.

Tiga kata.

Aku minta maaf.

Hanya itu. Tidak ada keterangan untuk apa. Tidak ada lanjutan. Hanya tiga kata yang ditulis dan dilipat dan disimpan di saku — selama berapa lama, Sekar tidak tahu.

Ia membacanya tiga kali.

Kemudian suara pintu kamar mandi terbuka, dan Raka keluar dengan handuk di bahunya, rambut basah, dan ekspresi yang langsung berubah ketika ia melihat Sekar berdiri di sana — dengan kertas itu di tangannya.

Diam.

Raka tidak langsung bicara. Sekar juga tidak. Mereka hanya saling menatap di ruangan yang terlalu kecil untuk jarak yang terlalu besar.

"Itu jatuh dari kemejamu," kata Sekar akhirnya. Suaranya keluar datar.

Raka mengangguk pelan. Tidak berusaha mengambilnya kembali.

"Minta maaf untuk apa?" tanya Sekar.

Raka menghela napas. Duduk di tepi ranjang. Tangannya menggosok tengkuknya — gerakan yang Sekar kenal sebagai tanda bahwa ia sedang mencari kata-kata yang tepat. Tapi kali ini Sekar tidak mau menunggu. Kali ini lima tahun penantian sudah cukup.

"Raka."

"Untuk semuanya," kata Raka akhirnya. Pelan, tapi jelas.

"Semuanya itu apa?"

"Untuk..." ia berhenti. "Untuk tidak hadir. Untuk membuat kamu merasa sendirian. Untuk tidak bisa—" tenggorokannya bergerak, "—untuk tidak bisa ngomong hal-hal yang harusnya aku omongkan."

Sekar menatapnya. Di dadanya, ada sesuatu yang ingin meluluh — ingin sekali meluluh. Tapi ada juga lapisan lain di atasnya, lapisan yang sudah terbentuk selama bertahun-tahun dari malam-malam yang sepi dan pagi-pagi yang dingin dan semua kata yang tidak pernah sampai.

"Kenapa di kertas?" suaranya keluar lebih tajam dari yang ia niatkan. "Kenapa tidak bilang langsung ke aku?"

Raka tidak menjawab segera.

"Karena aku tidak tahu bagaimana caranya." Kalimat itu keluar seperti pengakuan yang menyakitkan — bukan bagi Sekar, tapi bagi Raka sendiri.

Dan di titik itulah sesuatu dalam diri Sekar patah dengan cara yang salah.

"Lima tahun, Raka." Suaranya naik. Ia tidak berusaha meredamnya lagi. "Lima tahun aku menunggu kamu belajar caranya. Lima tahun aku duduk di dapur sendirian sambil berharap kamu pulang dan bilang sesuatu — apa saja — yang bikin aku tahu kamu masih ingat aku ada. Dan kamu—" suaranya retak sedikit, "—kamu malah tulis di kertas dan simpan di saku?"

"Sekar—"

"Hana bilang kamu nanya nomor psikolog ke dia." Itu keluar begitu saja. Sekar tidak berencana mengatakannya malam ini, tapi sudah terlambat. "Kamu cerita ke Hana. Tapi tidak ke aku. Suami cerita ke sahabat istrinya tapi tidak ke istrinya sendiri — itu normal menurut kamu?"

Raka menegakkan badannya. Sesuatu di wajahnya berubah — bukan marah, tapi sesuatu yang lebih pelik dari marah. "Aku tidak mau bikin kamu khawatir."

"Itu bukan keputusanmu untuk dibuat sendiri!"

"Aku tahu."

"Kalau kamu tahu, kenapa—"

"Karena setiap kali aku coba ngomong, kamu sudah duluan kecewa!" suara Raka naik untuk pertama kalinya — dan suara itu cukup keras untuk membekukan Sekar di tempat. "Belum apa-apa kamu sudah baca ekspresi aku salah. Belum aku selesai ngomong kamu sudah tarik kesimpulan. Aku capek, Sekar. Aku capek mencoba ngomong dan selalu terasa salah."

Sekar membuka mulutnya. Menutupnya.

"Jadi kamu diam." Suaranya keluar lebih pelan sekarang, tapi dingin. "Itu logika kamu? Karena takut salah, kamu pilih tidak ngapa-ngapain?"

"Bukan tidak ngapa-ngapain." Raka berdiri. "Aku kerja. Aku pastikan kamu tidak kekurangan. Aku—"

"Aku tidak butuh uang, Raka!" kalimat itu meledak keluar. "Aku butuh kamu! Fisiknya, hadir, di sini, bicara sama aku — bukan duit transferan dan tagihan yang terbayar!"

Reka diam.

Sekar diam.

Di antara mereka, udara terasa seperti habis terbakar.

"Mungkin," kata Raka akhirnya, suaranya rendah dan berat, "kita memang tidak bisa saling memberi apa yang kita butuhkan."

Sekar menatapnya. Merasakan kalimat itu masuk seperti jarum.

"Jadi maksudnya apa?" bisiknya.

Raka tidak menjawab. Ia mengambil jaketnya dari gantungan pintu.

"Mau ke mana?" suara Sekar pecah.

"Perlu udara." Ia membuka pintu kamar.

"Raka—"

Pintu kamar tertutup.

Sekar berdiri sendirian di tengah kamar itu, dengan kertas kecil bertuliskan aku minta maaf yang masih di tangannya, dan tiba-tiba semua sesak di dadanya sudah tidak bisa ditahan lagi. Ia duduk di lantai — bukan di ranjang, tapi di lantai — dan menangis untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan.

Tapi bukan karena Raka pergi.

Tapi karena ia baru sadar: kalimat Raka tadi — mungkin kita memang tidak bisa saling memberi apa yang kita butuhkan — itu bukan kalimat orang yang tidak cinta.

Itu kalimat orang yang sudah terlalu lama mencoba sendirian dan sudah kehabisan cara.

Dan Sekar — dengan semua kemarahannya yang valid, dengan semua luka yang nyata — tidak pernah bertanya sekalipun: kamu butuh apa dariku?

Ia menelan tangisnya.

Bangkit dari lantai.

Dan mengambil tasnya.

Malam itu, dua orang yang saling mencintai pergi ke arah yang berbeda — Raka ke bawah, turun tangga, keluar ke jalanan yang basah. Sekar ke luar pintu belakang, tanpa tujuan, hanya ingin udara dan jarak. Keduanya tidak tahu bahwa tujuan mereka sebenarnya sama. Dan keduanya tidak tahu bahwa malam ini adalah malam terakhir mereka sebagai suami istri — bukan karena mereka memilihnya, tapi karena alam semesta sedang menyiapkan sesuatu yang tidak pernah ada dalam rencana siapapun.