"Waktunya tiba, Erik."
Suara Dian Utami memotong keheningan di lantai lima puluh Menara Prodjo, sedingin angin malam yang menghantam kaca antipeluru di depannya. Di bawah sana, lanskap Jakarta tampak seperti sirkuit lampu yang tak pernah tidur, bising dan kacau. Namun di dalam ruang CEO ini, keheningan terasa begitu pekat hingga Dian bisa mendengar detak jantungnya sendiri—detak jantung yang dipompa oleh racun dendam yang telah ia rawat dengan apik selama lima belas tahun.
Pikirannya melayang, tertarik paksa ke sebuah malam pergantian tahun yang pengap belasan tahun silam. Di sebuah ruang kontrol yang sempit, di mana bau alkohol dan parfum mahal Bara Maheswara merampas paksa segala yang ia miliki.
Erik, pria yang selalu setia berdiri menjadi bayang-bayangnya, melangkah maju dari sudut ruangan yang redup. Sepatu pantofelnya mengetuk lantai marmer dengan irama yang terukur dan mematikan.
"Semua kamera sudah siap, Nyonya. Tim teknis sudah berada di posisi yang Anda instruksikan," lapor Erik datar, matanya menyapu postur majikannya yang tegak sempurna. "Bara sedang berada di ruang tunggu VIP bersama Nona Tiara. Dia benar-benar berpikir malam ini adalah panggung penobatannya."
Dian berbalik perlahan. Gaun sutra white ivory yang memeluk tubuhnya—sebuah kontras yang sengaja ia pilih untuk malam berdarah ini—berdesir menyapu karpet. Matanya berkilat, memancarkan aura dewi penghukum yang tak terbantahkan.
"Penobatan?" Bibir Dian melengkung membentuk senyuman sinis yang tidak menyentuh matanya. "Dia pikir dia bisa menyusup ke dalam rumahku, meracuni pikiran putriku, dan merampas takhtaku dengan senyuman murahan itu?"
"Bara tidak pernah tahu siapa Anda yang sebenarnya, Nyonya," timpal Erik pelan. "Baginya, Anda hanyalah janda Surya Prodjo yang mulai kehilangan pijakan. Dia terlalu dibutakan oleh narsismenya sendiri untuk menyadari bahwa mangsa yang sedang ia cengkeram sebenarnya adalah algojo yang sedang memasangkan tali gantungan di lehernya."
"Bagus. Biarkan dia mabuk dalam kesombongannya," Dian berjalan menuju meja mahoni besarnya. Jemarinya yang berhias cincin berlian menyentuh sebuah kotak hitam kecil di atas meja—kotak yang berisi senjata pemusnah massal bagi reputasi Bara. "Panggil dia ke sini. Sekarang."
"Sekarang? Acara puncak peringatan dua dekade perusahaan tinggal tiga puluh menit lagi, Nyonya. Seluruh direksi dan media nasional sudah menanti Anda di ballroom utama," Erik mengingatkan.
"Justru karena itu, Erik," tatapan Dian menajam, seolah menembus dinding ruangan. "Aku ingin menatap wajahnya tepat sebelum aku menghancurkannya di depan jutaan pasang mata. Aku ingin menghirup aroma kepongahannya sebelum dia sadar bahwa lantai di bawah kakinya adalah pintu menuju neraka."
Erik menundukkan kepala dan segera menekan tombol interkom.
Sepuluh menit kemudian, pintu ganda kayu jati itu terbuka lebar tanpa ketukan.
Bara Maheswara melangkah masuk. Ia mengenakan setelan jas velvet hitam yang dipotong sempurna, memancarkan karisma flamboyan yang selalu membuat Dian mual. Senyum arogan terukir jelas di wajahnya, posturnya membusung seolah ia adalah pemilik sah ruangan ini. Di belakangnya, Tiara mengekor dalam balutan gaun sutra midnight blue, memegang lengan Bara dengan protektif. Mata remaja lima belas tahun itu memancarkan aura permusuhan yang pekat saat menatap ibunya sendiri.
"Ada apa lagi, Ma? Kenapa tiba-tiba memanggil kami ke sini? Acara akan segera dimulai dan Paman Bara harus bersiap," protes Tiara. Suaranya tajam, sebuah bentuk pemberontakan yang telah Bara asah dengan sempurna.
Dian menahan napasnya sejenak melihat cincin safir biru yang melingkar di jari manis putrinya. Jantungnya berdenyut nyeri, namun topeng porselen Nyonya Besi tidak bergeser sedikit pun. Ia menolak menatap Tiara, memusatkan seluruh kedinginannya pada Bara. Wajah pria itu masih sama seperti belasan tahun lalu—tampan, manipulatif, dan penuh dengan kepalsuan yang membusuk.
"Aku hanya ingin memastikan tamu kehormatanku merasa nyaman sebelum naik ke panggung," ujar Dian dengan resonansi suara yang sangat datar.
Bara tertawa kecil. Tawa rendah yang dulu pernah membuat Dian gemetar ketakutan, kini hanya memicu adrenalin pembunuhan di dalam darahnya.
"Anda terlalu formal, Nyonya Dian. Bukankah sebentar lagi kita akan menjadi keluarga?" Bara melangkah maju, tangannya dengan lancang menyentuh sandaran kursi CEO milik Dian. "Kurasa sebutan 'Bara' saja sudah cukup, atau mungkin... 'Menantu'?"
Mendengar kata itu, Dian menaikkan satu alisnya. "Keluarga? Kau merasa pantas menjadi bagian dari silsilah darah Prodjo, Bara? Kau pikir dengan merusak otak anak ini, levelmu sudah setara denganku?"
Suhu di ruangan itu mendadak turun drastis. Tiara melangkah maju, melepaskan lengan Bara untuk menghadap ibunya.
"Berhenti menghinanya, Ma!" teriak Tiara, emosinya meledak. "Paman Bara sudah membuktikan niat baiknya! Dia satu-satunya orang yang peduli padaku saat Mama hanya sibuk mengurungku dan memikirkan harga saham! Mama hanya takut kehilangan kendali, kan? Mama takut ada orang yang lebih hebat dari Mama di gedung ini!"
Dian akhirnya menatap putrinya. Tatapan itu begitu tajam dan hampa, membuat Tiara tanpa sadar memundurkan langkahnya.
"Kau masih terlalu hijau untuk memahami apa arti niat baik, Tiara," desis Dian. "Kau buta karena ilusi kebebasan yang dia berikan. Kau sedang menari di atas racun yang dirancang untuk membunuhmu dari dalam."
Bara dengan sigap menyentuh bahu Tiara, menarik gadis itu kembali ke sisinya dengan gestur pelindung yang sangat manipulatif.
"Ssst, tenanglah, Sayang," Bara berbisik lembut pada Tiara, lalu menatap Dian dengan tatapan meremehkan. "Ibumu mungkin hanya sedang mengalami gangguan saraf karena beban kerjanya. Menjalankan kerajaan sebesar ini sendirian pasti membuat kewarasannya terganggu."
Bara mencondongkan tubuhnya ke arah Dian. "Jangan khawatir, Dian. Setelah aku dan Tiara mengumumkan pertunangan ini, aku akan mengambil alih beban itu darimu. Kau bisa pensiun di vila sepi, menikmati sisa hidupmu tanpa perlu repot-repot memikirkan ruang redaksi."
Dian tertawa pendek. Sebuah tawa yang sangat pelan, kering, dan mengerikan. Erik, yang berdiri diam di sudut ruangan, sedikit menegang. Ia tahu persis apa arti tawa itu. Itu adalah lonceng kematian.
"Kau ingin mengambil alih bebanku, Bara?" Dian melangkah maju perlahan, memangkas jarak di antara mereka hingga aroma cologne maskulin Bara menusuk indra penciumannya. "Kau pikir kau punya kapasitas untuk duduk di singgasanaku? Kau hanyalah parasit yang bertahan hidup dengan memakan bangkai pamanmu sendiri."
Wajah Bara mengeras. Senyumnya lenyap, digantikan oleh kilat amarah yang tertahan. "Jaga bicaramu. Aku adalah Senior Partner Vanguard Capital. Rekam jejakku bisa menghancurkanmu."
"Rekam jejakmu dipenuhi oleh wanita-wanita yang kau hancurkan di ruang gelap, Bara," bisik Dian tepat di telinga pria itu. Suaranya nyaris tak terdengar oleh Tiara, namun cukup mematikan untuk membuat pupil mata Bara membelalak kaget. "Jangan pikir aku tidak mencium bau busuk dari caramu merangkak naik."
Bara tersentak dan memundurkan wajahnya. "Apa ini ancaman, Dian?"
"Bukan. Ini adalah janji," sahut Dian tenang. Ia mengangkat tangannya dan merapikan kerah jas velvet Bara dengan kelembutan yang membekukan jiwa. "Pergilah ke ballroom sekarang. Gandeng tangan putriku erat-erat. Nikmati setiap kilatan lampu kamera, hirup udara kekuasaan itu, dan tersenyumlah selagi kau bisa."
Dian memiringkan kepalanya, menatap lurus ke dasar mata sang predator. "Karena setelah lampu utama padam malam ini... kau tidak akan pernah lagi melihat cahaya."
"Mama gila!" Tiara menarik tangan Bara dengan kasar, wajahnya merah karena marah. "Ayo, Paman. Kita tidak perlu mendengarkan ancaman kosong ini. Publik sedang menunggu kita."
Bara menatap Dian selama satu detik penuh—sebuah tatapan yang menyiratkan keraguan mikroskopis—sebelum akhirnya ia berbalik dan membiarkan Tiara menariknya keluar. Pintu ganda itu tertutup dengan bantingan keras.
Begitu mereka pergi, Dian menutup matanya. Tangannya yang sejak tadi diam kini mencengkeram tepi meja mahoni hingga buku-buku jarinya memutih pucat. Tubuhnya bergetar menahan gejolak trauma yang dipicu oleh kehadiran Bara, namun ia menolak untuk jatuh.
Erik melangkah mendekat tanpa suara, meletakkan segelas air putih di atas meja.
"Anda mengendalikan diri dengan sempurna, Nyonya," ucap Erik pelan.
Dian menyesap air itu, menstabilkan detak jantungnya. "Aku membencinya, Erik. Aku sangat membencinya. Melihatnya menyentuh Tiara... melihat cincin sialan itu di jari anakku... rasanya aku ingin mengoyak jantungnya saat ini juga."
"Malam ini semuanya akan berakhir. Flash disk itu sudah terhubung ke sistem penyiaran live. Tidak ada jalan mundur bagi Bara," lapor Erik.
"Dan Tiara?" Dian menatap Erik, porselen di wajahnya memancarkan kepedihan yang sangat sunyi. "Begitu video itu diputar... begitu dia menyadari bahwa pria yang dia cintai adalah ayah kandungnya yang memperkosaku... anak itu akan hancur lebur, Erik."
"Dia akan hancur, Nyonya," Erik mengonfirmasi realitas yang kejam itu. "Tapi dia akan selamat dari manipulasi iblis itu. Lebih baik membangun ulang putri Anda dari puing-puing, daripada membiarkannya mati membusuk di dalam ilusi."
Dian menarik napas panjang. Ia membuang sisa-sisa kelemahannya, mengunci rapat rasa sakit keibuannya ke dalam brankas baja di kepalanya. Ia menegakkan bahunya dan kembali menjadi Nyonya Besi.
"Ayo, Erik," ucap Dian, melangkah menuju pintu dengan keanggunan seorang algojo yang berjalan menuju tiang eksekusi. "Kita mulai pertunjukannya."
Dian tahu, setelah malam ini, hidupnya dan hidup Tiara tidak akan pernah sama lagi. Namun, ia lebih memilih melihat putrinya menangis karena kenyataan, daripada melihatnya hancur karena kebohongan yang dibungkus dengan cinta palsu dari seorang predator bernama Bara Maheswara.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar