Satu minggu setelah pertemuan di ruangan Pak Surya, suasana di kantor Prodjo Media terasa lebih berat bagi Dian. Bukan karena beban kerja yang bertambah, melainkan karena ia merasa ada sepasang mata yang selalu mengikuti gerak-geriknya dari kejauhan. Bara Maheswara tidak lagi hanya duduk di ruangan pimpinannya; ia mulai sering "berpatroli" di lantai produksi, tempat para asisten magang berkutat dengan debu kaset dan tumpukan naskah.
Sore itu, koridor lantai empat tampak sepi. Sebagian besar kru sedang berada di studio untuk gladi resik program berita malam. Dian berjalan sendirian membawa tumpukan kaset Beta yang harus segera didigitalkan. Langkah kakinya yang terburu-buru bergema di lorong yang berdinding kaca buram.
Tiba-tiba, sesosok bayangan tinggi menghalangi jalannya di persimpangan koridor menuju ruang arsip. Dian hampir saja menabrak dada bidang pria itu jika ia tidak segera mengerem langkahnya.
"Terburu-buru lagi, Dian Utami?" suara bariton itu terdengar sangat dekat.
Dian mendongak. Bara berdiri di sana, tanpa jas, hanya kemeja putih dengan dua kancing teratas terbuka. Ia bersandar di dinding koridor dengan gaya santai, namun matanya menatap Dian dengan intensitas yang tidak wajar.
"Maaf, Pak Bara. Saya harus segera ke ruang arsip. Kaset-kaset ini harus siap sebelum jam enam," ujar Dian, mencoba menjaga suaranya tetap datar dan profesional. Ia berusaha menggeser langkah ke kanan untuk lewat.
Bara bergeser searah dengan Dian, kembali menghalangi jalannya. "Kenapa kamu selalu tampak seperti dikejar setan setiap kali melihatku? Apa aku menakutkan bagimu?"
Dian menarik napas panjang, mencoba menekan rasa tidak nyaman yang mulai merayap di tengkuknya. "Saya hanya menghargai waktu, Pak. Di kantor ini, waktu adalah uang, bukan?"
Bara tertawa kecil, tawa yang tidak menyentuh matanya. Ia melangkah satu tindak lebih maju, mempersempit ruang pribadi Dian hingga punggung gadis itu hampir menyentuh dinding kaca di belakangnya. "Kata-kata yang sangat cerdas. Kamu memang berbeda dari gadis magang lainnya yang biasanya akan tersipu atau salah tingkah jika aku ajak bicara."
Dian tidak mundur. Ia mendongak, menatap mata Bara dengan keberanian yang ia paksakan. "Saya di sini untuk bekerja, Pak Bara. Bukan untuk mencari perhatian pimpinan."
"Oh, benarkah?" Bara mengangkat tangan, bukan untuk menyentuh Dian, tapi ia meletakkan telapak tangannya di dinding tepat di samping kepala Dian, mengunci pergerakan gadis itu. Ia menunduk sedikit, aroma parfum mahalnya yang tajam kini memenuhi indra penciuman Dian. "Lalu kenapa aku merasa kamu sengaja menunjukkan ambisimu di depanku? Kamu ingin aku melihatmu, kan? Kamu ingin aku mengakui bahwa kamu hebat?"
"Anda salah paham," desis Dian. "Saya bekerja keras karena saya mencintai profesi ini. Bukan untuk validasi dari siapapun, termasuk Anda."
Bara menyipitkan mata. Ia mengamati detail wajah Dianβpipi yang sedikit merona karena amarah, bibir yang terkatup rapat, dan kilat perlawanan di matanya. Baginya, Dian bukan lagi sekadar karyawan; Dian adalah teka-teki yang ingin ia pecahkan, mangsa yang lebih menarik karena berani melawan.
"Kamu tahu, Dian..." Bara merendahkan suaranya hingga nyaris berbisik. "Banyak orang di gedung ini yang mencoba menjilatku demi kenaikan jabatan. Tapi kamu... kamu mencoba menjauh dariku untuk menarik perhatianku. Itu taktik yang cukup berani."
"Itu bukan taktik. Itu adalah ketidaksukaan yang jujur," sahut Dian tajam.
Bara terdiam sejenak, lalu senyum miring muncul di wajahnya. "Ketidaksukaan? Menarik. Jarang sekali ada yang berani berkata jujur padaku. Biasanya mereka hanya akan mengangguk dan tersenyum palsu."
Bara mengulurkan tangannya yang lain, kali ini jarinya dengan lancang menyentuh helai rambut kuncir kuda Dian yang sedikit berantakan. Dian tersentak, mencoba menghindar, namun Bara tetap menahan posisinya.
"Lepaskan saya, Pak. Ini di kantor," ancam Dian pelan, matanya menyapu koridor, berharap ada Siska atau siapapun yang lewat.
"Dan kalau ini bukan di kantor, apa yang akan kamu lakukan?" tantang Bara. Matanya berkilat nakal, namun ada sesuatu yang gelap dan predatorik di balik kilat itu. "Kamu punya potensi besar, Dian. Aku bisa membantumu melompat lebih tinggi dari yang kamu bayangkan. Tapi di dunia ini, tidak ada yang gratis. Kamu mengerti maksudku, kan?"
"Saya tidak butuh bantuan Anda jika harganya adalah harga diri saya," Dian mendorong dada Bara dengan satu tangan yang bebas, sementara tangan lainnya tetap memeluk kaset-kasetnya.
Bara mundur satu langkah, memberikan celah, namun matanya tidak lepas dari Dian. Ia tampak terhibur dengan reaksi Dian. "Harga diri? Kita lihat saja seberapa lama kamu bisa mempertahankan prinsip itu di kota sesadis Jakarta."
Dian tidak membalas. Ia segera berjalan cepat melewati Bara tanpa menoleh lagi. Jantungnya berdegup sangat kencang, tangannya gemetar hingga kaset-kaset yang ia bawa saling beradu menimbulkan bunyi berisik.
Bara berdiri di tengah koridor, memperhatikan punggung Dian yang menjauh. Ia meraba bibirnya sendiri, senyum kepuasan terpahat di wajahnya. "Sangat keras kepala. Aku suka," gumamnya pelan.
Di ujung koridor, Dian masuk ke ruang arsip yang dingin dan gelap. Begitu pintu tertutup, ia jatuh terduduk di lantai, meletakkan kaset-kasetnya dengan kasar. Ia memeluk lututnya, mencoba mengatur napas yang tersengal.
"Dian? Kau di dalam?" suara Siska terdengar dari balik pintu.
Siska masuk dan segera menghampiri sahabatnya yang tampak pucat. "Ya ampun, Dian! Kau kenapa? Wajahmu seperti melihat hantu."
Dian menatap Siska dengan pandangan kosong. "Bukan hantu, Sis. Tapi sesuatu yang jauh lebih berbahaya."
"Bara lagi?" tebak Siska, wajahnya berubah khawatir. "Dia melakukan sesuatu padamu?"
"Dia... dia seolah-olah sedang menandai mangsanya, Sis. Aku merasa tidak aman di sini," bisik Dian.
Siska duduk di samping Dian, merangkul bahunya. "Dengar, Dian. Besok kita jangan pernah jalan sendirian di lorong sepi. Aku akan menemanimu ke mana-mana. Pria seperti dia biasanya akan bosan kalau incarannya sulit didekati."
Dian menggeleng pelan. "Aku rasa dia bukan tipe pria yang gampang bosan. Dia justru merasa tertantang saat aku melawannya."
Dian berdiri, menghapus keringat dingin di dahinya. Ia menatap deretan rak arsip yang menjulang tinggi di sekelilingnya. Ambisi yang tadinya membakar semangatnya, kini mulai tertutup oleh kabut ketakutan. Namun, jauh di lubuk hatinya, Dian menolak untuk kalah.
"Aku nggak akan berhenti, Sis," ucap Dian tegas. "Gedung ini bukan milik Bara Maheswara sendirian. Aku punya hak untuk ada di sini. Aku akan tetap bekerja, aku akan tetap hebat, dan aku akan memastikan dia nggak akan pernah bisa menyentuhku."
Siska mengangguk, meski ada keraguan besar di matanya. Di luar, langit Jakarta sudah gelap total. Lampu-lampu gedung mulai menyala, namun bagi Dian, kegelapan yang sesungguhnya bukan berada di luar sana, melainkan di dalam koridor-koridor megah Menara Prodjo yang mulai terasa seperti labirin yang memerangkapnya bersama seorang predator.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar