Malam itu, Jakarta seperti sedang terbakar oleh cahaya. Ribuan orang memadati jalanan, suara trompet bersahutan, dan langit mulai dihiasi percikan kembang api awal. Namun, di lantai empat Menara Prodjo, suasana justru sunyi senyap hingga suara detak jam dinding terdengar seperti dentuman.
Dian Utami seharusnya sudah berada di rumah, atau setidaknya di pesta perayaan staf di lantai dasar. Namun, sebuah memo mendadak yang dikirimkan melalui kurir internal dua jam lalu memaksanya tetap di ruang kontrol utama.
“Ada kesalahan sinkronisasi pada klip pidato Tahun Baru Pak Surya. Hanya kamu yang tahu struktur arsipnya. Perbaiki malam ini juga sebelum siaran fajar, atau program besok batal.” Begitu bunyi perintahnya.
Dian duduk di depan meja konsol raksasa yang dipenuhi ratusan tombol dan tuas. Matanya lelah, namun ambisinya masih menyala. Ia tidak ingin kesalahan teknis ini merusak reputasi yang susah payah ia bangun. Ia menggeser tuas fader, menatap monitor-monitor besar yang menampilkan wajah Surya Prodjo yang direkam sebelumnya.
Klik.
Pintu otomatis di belakangnya mengunci dengan suara mekanis yang berat. Dian tersentak, ia menoleh. Di sana, bersandar pada pintu yang tertutup rapat, berdiri Bara Maheswara.
Bara tidak lagi memakai jas formal. Ia hanya mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung, memegang sebuah gelas kristal berisi cairan amber. Matanya terlihat lebih gelap dari biasanya, menatap Dian dengan cara yang membuat bulu kuduk gadis itu berdiri.
"Bara? Kenapa kamu di sini?" tanya Dian, mencoba menekan rasa cemas. Ia sengaja tidak menggunakan panggilan 'Pak' sebagai tanda pertahanan diri.
"Ini kantorku, Dian. Aku bebas ada di mana saja," jawab Bara pelan, langkah kakinya tidak terdengar karena karpet tebal, namun kehadirannya terasa sangat mendominasi ruangan itu. "Kenapa kamu masih bekerja? Orang-orang di bawah sedang berpesta."
"Aku harus memperbaiki klip ini. Instruksi dari asistenmu bilang ini mendesak," sahut Dian, kembali menghadap monitor, tangannya gemetar saat memegang mouse.
Bara tertawa kecil, suara tawa yang hampa dan dingin. Ia berdiri tepat di belakang kursi Dian, meletakkan gelasnya di atas meja mikser yang mahal. "Instruksi itu aku yang buat, Dian. Tidak ada yang salah dengan klip Paman Surya. Aku hanya ingin memastikan kamu tetap di sini. Sendirian."
Dian membeku. Jantungnya berdegup kencang hingga ia merasa bisa mendengarnya di telinga sendiri. Ia mencoba berdiri, namun tangan Bara dengan cepat menekan pundaknya, memaksa Dian tetap duduk.
"Duduklah. Kenapa terburu-buru? Kita punya sepanjang malam," bisik Bara di dekat telinga Dian. Aroma alkohol bercampur parfum mahalnya memenuhi indra penciuman Dian.
"Apa yang kamu mau, Bara? Biarkan aku pergi. Ini bukan cara yang benar untuk bicara soal pekerjaan," suara Dian bergetar, namun ia tetap mencoba melawan.
"Pekerjaan? Aku sudah bosan bicara soal pekerjaan denganmu," Bara mulai membelai rambut Dian yang terkuncir, menariknya sedikit hingga wajah Dian terdongak menatapnya. "Aku sudah memberimu banyak waktu, Dian. Aku sudah memperhatikanmu dari jauh, memberimu posisi, menjauhkan Siska yang berisik itu darimu... tapi kamu tetap saja bersikap seolah aku ini hantu."
"Lepaskan!" Dian menyentak kepalanya, mencoba melepaskan diri. "Aku akan teriak! Satpam di bawah pasti dengar!"
Bara justru tersenyum miring, sebuah senyum predator yang sudah tahu bahwa mangsanya tidak punya jalan keluar. Ia melangkah menuju panel kontrol utama dan menekan sebuah tombol. Seketika, layar monitor di depan mereka menampilkan rekaman CCTV lobi dan pos keamanan. Terlihat para penjaga sedang asyik berpesta dan minum-minum di pos mereka, jauh dari jangkauan sensor suara ruang kontrol ini.
"Ruangan ini kedap suara, Dian. Dindingnya dilapisi peredam terbaik agar suara mesin tidak masuk ke mikrofon. Berteriaklah sesukamu. Tidak akan ada yang dengar selain aku," ujar Bara dingin.
Dian berdiri dengan paksa, menepis tangan Bara. Ia mencoba berlari menuju pintu, namun Bara lebih cepat. Pria itu mencengkeram lengan Dian dan mendorongnya ke arah dinding yang penuh dengan layar monitor.
"Kenapa kamu selalu mempersulit semuanya, Dian?" suara Bara kini meninggi, penuh dengan ego yang terluka. "Kamu ingin sukses, kan? Kamu ingin jadi produser hebat? Semua itu ada di tanganku! Cukup patuhi aku, dan besok dunia akan melihat namamu di layar itu."
"Aku nggak butuh kesuksesan yang kotor darimu!" teriak Dian. Ia mencoba mencakar wajah Bara, namun Bara menangkap kedua pergelangan tangannya dan menguncinya di atas kepala.
Di luar sana, ledakan kembang api pertama mulai menerangi langit Jakarta. Cahaya warna-warni itu menembus celah ventilasi, menciptakan bayangan-bayangan aneh di ruang kontrol yang remang.
"Kamu tahu apa yang paling aku suka darimu, Dian?" Bara merapatkan tubuhnya, mematikan ruang gerak Dian. "Ambisi itu. Api itu. Tapi malam ini, aku akan mengambil semuanya darimu. Aku akan mematikan api itu sampai yang tersisa hanya ketaatan."
"Tolong... Bara, jangan..." isak Dian mulai pecah. Ia merasa sangat kecil di hadapan kekuatan fisik dan kekuasaan pria di depannya.
"Sudah terlambat untuk memohon," bisik Bara. Ia merenggut naskah-naskah di meja hingga berhamburan ke lantai, simbol dari mimpi-mimpi Dian yang mulai hancur berserakan.
Malam pergantian tahun itu, di saat dunia merayakan harapan baru, Dian Utami kehilangan segalanya. Di bawah kerlip lampu indikator yang dingin dan suara dengung mesin pemancar, Bara merampas kehormatannya dengan keji. Jeritan Dian tenggelam di balik dinding kedap suara, terkalahkan oleh suara dentuman kembang api yang meledak di langit Jakarta, merayakan kemenangan sang predator.
Dian menatap monitor besar di depannya dengan mata kosong. Di sana, jam digital menunjukkan angka 00:00. Tahun 2006 dimulai dengan kegelapan yang paling pekat bagi hidupnya. Ia bukan lagi Dian yang lugu. Malam itu, ia mati bersama sisa-sisa harga dirinya yang diinjak-injak di lantai ruang kontrol yang dingin.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar