Dua minggu berlalu, dan taktik Bara mulai bergeser dari sekadar intimidasi fisik di koridor menjadi manipulasi sistematis. Dian merasakannya saat tiba di kantor pagi itu. Siska, sahabat yang biasanya selalu siap dengan candaan dan dukungan, tiba-tiba mendapatkan surat tugas mendadak untuk meliput investigasi di luar kota selama satu bulan penuh.
"Dian, aku benar-benar minta maaf. Aku sudah coba menolak, tapi manajer bilang ini perintah langsung dari 'atas' karena mereka butuh asisten produksi yang bisa gerak cepat di lapangan," ujar Siska sambil mengemas tasnya dengan wajah masygul.
Dian tahu persis siapa yang dimaksud dengan 'atas'. Ia hanya bisa menghela napas panjang dan memeluk sahabatnya. "Nggak apa-apa, Sis. Kamu hati-hati di sana. Aku akan baik-baik saja."
Namun, di dalam hati, Dian tahu bahwa isolasi ini adalah awal dari rencana besar Bara.
Malam itu, sekitar pukul sembilan, Menara Prodjo mulai sunyi. Sebagian besar staf sudah pulang, menyisakan beberapa editor yang masih berkutat di kubikel mereka. Dian berada di ruang editing nomor tujuh, sebuah ruangan kecil kedap suara yang dipenuhi monitor dan tumpukan kaset. Ia sedang mengerjakan draf dokumenter tentang sejarah penyiaran yang diminta Pak Surya.
Tiba-tiba, pintu kaca ruang editing terbuka. Wangi parfum yang kini sangat ia kenali masuk memenuhi ruangan yang sempit itu.
"Belum selesai juga, Dian?"
Dian tidak menoleh. Ia tetap fokus pada layar monitor, jemarinya bergerak lincah di atas papan ketik. "Laporan ini harus siap besok pagi, Pak Bara. Saya tidak ingin mengecewakan Pak Surya."
Bara tidak langsung menjawab. Ia justru berjalan mendekat, lalu menarik sebuah kursi putar di samping Dian. Ia duduk dengan santai, melonggarkan dasinya, dan menatap profil samping wajah Dian yang diterangi cahaya biru dari monitor.
"Paman Surya sudah pulang sejak jam tujuh tadi. Dia nggak akan tahu kalau kamu selesai malam ini atau besok siang," ucap Bara dengan nada rendah yang santai.
"Saya tahu. Tapi integritas saya tidak bergantung pada apakah Pak Surya melihat saya atau tidak," sahut Dian tanpa mengalihkan pandangan.
Bara tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat dekat di telinga Dian. "Integritas. Kata yang mahal untuk seorang magang. Tapi kamu tahu nggak? Di gedung ini, integritas saja nggak cukup buat bikin kamu naik ke lantai lima puluh."
Tangan Bara tiba-tiba bergerak, menutupi tangan Dian yang sedang memegang mouse. Gerakannya lambat, namun penuh dominasi. Dian tersentak dan mencoba menarik tangannya, tapi Bara menahannya dengan kuat namun lembut.
"Coba istirahat sebentar, Dian. Lihat aku," perintah Bara.
Dian terpaksa menoleh. Jarak mereka hanya beberapa sentimeter. Ia bisa melihat kilat di mata Baraβkilat kemenangan karena berhasil membuat Dian terpojok.
"Kamu sengaja menjauhkan Siska, kan?" tuduh Dian dengan suara bergetar.
Bara hanya tersenyum miring, tidak membantah. "Aku cuma kasih dia kesempatan buat belajar di lapangan. Bukannya itu bagus buat kariernya? Dan sebagai bonus, aku jadi punya waktu lebih banyak buat melihat cara kerja kamu. Kamu sangat teliti, Dian. Aku suka caramu menyusun urutan gambar. Sangat... emosional."
"Saya ingin bekerja, bukan untuk dinilai secara pribadi oleh kamu," desis Dian, sengaja menekankan kata 'kamu' sebagai bentuk perlawanan atas kelancangannya.
Bara justru tampak semakin terhibur. Jemarinya mulai membelai punggung tangan Dian yang masih terperangkap di bawah telapak tangannya. "Kamu berani sekali. Padahal kamu tahu, satu memo dariku bisa bikin kamu kehilangan beasiswa magang ini dan kembali ke kampung tanpa membawa apa-apa."
"Kalau begitu lakukan saja. Pecat aku sekarang kalau memang kinerjaku buruk," tantang Dian, matanya berkaca-kaca namun tetap tajam menantang.
Bara terdiam sejenak, menatap bibir Dian yang gemetar karena amarah. Ia perlahan melepaskan tangan Dian, namun ia justru mencondongkan tubuhnya lebih dekat, membisikkan sesuatu tepat di samping wajah Dian.
"Kenapa aku harus memecat aset paling menarik yang aku punya? Aku lebih suka melihat kamu berjuang di sini. Semakin kamu melawan, semakin aku ingin melihat sampai mana batas kekuatanmu."
Bara berdiri, merapikan kemejanya yang sedikit kusut. "Selesaikan pekerjaanmu. Aku akan ada di ruangan sebelah, memeriksa beberapa materi siaran. Kalau kamu butuh 'bantuan' atau merasa kesepian, kamu tahu di mana harus mencariku."
Bara melangkah keluar dari ruang editing dengan langkah yang sangat tenang. Begitu pintu tertutup, Dian merasa seolah oksigen di ruangan itu baru saja kembali. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, tangannya gemetar hebat. Ia merasa kotor hanya karena sentuhan singkat di tangannya tadi.
Dian menatap layar monitornya kembali. Gambar-gambar di sana kini terasa asing. Fokusnya hancur. Ia menyadari bahwa Bara sedang membangun sebuah labirin di sekelilingnya. Satu per satu orang-orang yang bisa melindunginya disingkirkan. Siska dikirim jauh, dan ia yakin Pak Surya pun sedang dimanipulasi agar tidak terlalu sering memantau departemen produksi secara langsung.
Ia sendirian.
Dian memejamkan mata, mencoba menenangkan detak jantungnya yang liar. Ia teringat kata-kata Siska: 'Jangan biarkan dia menang, Dian.'
Dengan tekad yang tersisa, Dian kembali memegang mouse. Ia tidak akan pergi ke ruangan sebelah. Ia tidak akan meminta bantuan. Ia akan menyelesaikan tugasnya secepat mungkin dan keluar dari gedung ini sebelum tengah malam. Namun, saat ia melihat bayangan dirinya di monitor yang gelap, Dian menyadari bahwa predator itu tidak sedang menunggunya di ruangan sebelahβpredator itu sedang mengintai dari setiap sudut Menara Prodjo, menunggu saat yang tepat ketika ia benar-benar lelah untuk kemudian menerkam.
Malam itu, suara tuts keyboard Dian terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur menuju sebuah ledakan yang tak terelakkan.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar