Jakarta tahun 2005 adalah rimba beton yang tak kenal ampun, namun bagi Dian Utami, kota ini adalah panggung impiannya. Mengenakan kemeja flanel yang lengannya digulung hingga siku dan sepatu kets yang sudah memudar warnanya, Dian berlari menyusuri koridor lantai tiga Gedung Prodjo Media. Di tangannya, tumpukan naskah berita breaking news didekap erat seolah itu adalah harta karun yang tak boleh lecet sedikit pun.

"Dian! Berhenti dulu! Kau mau mati kena serangan jantung sebelum umur dua puluh satu?" teriak sebuah suara dari arah kubikel bagian produksi.

Dian mengerem langkahnya hingga sepatunya mencit di atas lantai parket. Ia menoleh ke arah Siska, satu-satunya sahabat yang ia miliki di tempat kerja yang kejam ini. Siska sedang mengunyah gorengan dingin sambil mengipasi wajahnya dengan map plastik.

"Naskah ini harus ada di meja Pak Surya dalam dua menit, Sis! Editor senior bilang kalau aku telat lagi, aku cuma boleh jadi asisten pembuat kopi sampai tahun depan," sahut Dian, napasnya memburu namun matanya berkilat penuh tekad.

Siska berdiri, mendekati Dian lalu merapikan rambut Dian yang berantakan karena lari-larian. "Kau ini terlalu ambisius, Dian. Kita ini cuma PA magang. Bayaran kita bahkan nggak cukup buat bayar kosan tanpa bantuan kiriman orang tua. Kenapa kau harus bekerja seolah-olah besok kau mau diangkat jadi CEO?"

Dian tersenyum, sebuah senyuman kecil yang menyiratkan kedewasaan yang melampaui usianya. "Karena aku nggak punya pilihan lain, Sis. Aku bukan orang kaya sepertimu yang magang cuma buat cari pengalaman. Aku harus membuktikan kalau aku lebih baik dari siapapun di ruangan ini. Aku ingin namaku ada di credit title sebagai Produser. Bukan sekadar 'pembantu' produksi."

"Ya, ya, aku tahu. Putri dari kampung yang ingin menaklukkan Jakarta," goda Siska, namun matanya memancarkan rasa kagum. "Tapi ingat, di gedung ini, kerja keras saja nggak cukup. Kau harus pintar main politik. Apalagi sejak keponakan kesayangan Pak Surya, si Bara itu, mulai sering mondar-mandir di sini."

Mendengar nama itu, dahi Dian berkerut. "Maksudmu pria yang selalu pakai parfum menyengat dan menganggap semua orang di sini adalah pelayannya?"

"Persis. Hati-hati saja dengannya. Dia punya hobi 'memangsa' anak magang yang cantik dan ambisius sepertimu. Katanya sih, dia sedang dipersiapkan buat pegang kendali kalau kesehatan Pak Surya makin drop."

Dian mendengus sinis. "Dia boleh punya nama Maheswara, tapi dia nggak punya dedikasi. Aku melihatnya kemarin di ruang editing, dia bahkan nggak tahu bedanya cut-to-cut dengan dissolve. Aku nggak takut pada orang seperti dia."

"Justru itu yang bikin aku takut, Dian. Kau terlalu berani," bisik Siska pelan. "Sudah sana, lari lagi ke ruangan Pak Surya. Semoga nasib baik berpihak pada ambisimu hari ini."

Dian melanjutkan langkahnya. Pikirannya terfokus pada tujuannya. Baginya, ambisi adalah satu-satunya pelampung yang menjaganya agar tidak tenggelam di Jakarta. Ia sering pulang paling akhir, datang paling awal, dan mempelajari setiap teknis di ruang kontrol hingga ia bisa mengoperasikan meja mikser dengan mata tertutup. Ia ingin menjadi sangat hebat sehingga perusahaan tidak akan bisa berjalan tanpa kehadirannya.

Sesampainya di depan ruangan Pak Surya, ia menarik napas panjang, menenangkan debar jantungnya, lalu mengetuk pintu.

"Masuk," suara berat dari dalam menyahut.

Dian melangkah masuk dengan kepala tegak. Di dalam ruangan itu, ternyata tidak hanya ada Pak Surya. Di sofa sudut ruangan, duduklah Bara Maheswara dengan kaki disilangkan, sedang memainkan pemantik api emasnya.

"Ah, asisten magang yang rajin itu," ujar Surya Prodjo, tersenyum tipis melihat Dian. "Kau membawa naskahnya tepat waktu, Dian."

"Ini naskah untuk segmen investigasi malam ini, Pak. Saya sudah menambahkan referensi data terbaru dari lapangan," ujar Dian sambil meletakkan map di meja.

Bara berdiri, melangkah mendekat dengan gaya yang sangat arogan. Ia mengambil map itu sebelum pamannya sempat menyentuhnya. Ia membuka lembaran naskah tersebut, membacanya sekilas, lalu menatap Dian dengan tatapan yang sangat intens—sebuah tatapan yang membuat bulu kuduk Dian berdiri, namun ia menolak untuk berpaling.

"Analisis yang cukup tajam untuk seorang gadis kampung," ucap Bara, suaranya mengandung nada merendahkan sekaligus penasaran. "Siapa namamu?"

"Dian Utami, Pak," jawab Dian tegas.

"Dian Utami..." Bara mengulang nama itu seolah sedang mengecap rasanya di lidah. "Kau tahu, Dian? Di industri ini, ambisi bisa membawamu ke puncak, atau bisa menjatuhkanmu ke jurang yang paling dalam. Tergantung pada siapa kau bersandar."

"Saya bersandar pada kemampuan saya sendiri, Pak," sahut Dian tanpa ragu.

Pak Surya tertawa kecil. "Biarkan dia, Bara. Dian adalah salah satu aset masa depan kita yang paling menjanjikan. Kau harus belajar banyak darinya soal disiplin."

Bara hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak sampai ke mata. Ia mengembalikan map itu ke meja, namun sengaja membiarkan jemarinya bersentuhan dengan tangan Dian. Dian segera menarik tangannya dengan gerakan halus, namun Bara menyadarinya.

"Saya permisi dulu, Pak Surya," pamit Dian segera.

Begitu keluar dari ruangan, Dian menyandarkan punggungnya ke dinding koridor. Napasnya terasa berat. Ada sesuatu yang salah dengan cara Bara menatapnya—sesuatu yang lebih dari sekadar ketidaksukaan.

Ia kembali ke meja produksinya, di mana Siska sudah menunggu dengan wajah penasaran.

"Gimana? Aman?" tanya Siska.

"Ada Bara di dalam," sahut Dian pendek sambil mulai mengetik di komputernya.

"Tuh kan, apa kubilang. Dia pasti memperhatikanmu."

Dian menghentikan ketikannya dan menatap Siska dengan serius. "Dia nggak memperhatikanku, Sis. Dia sedang menilai apakah aku bisa dikendalikan atau tidak. Dan aku nggak akan membiarkan siapapun mengendalikan langkahku di gedung ini. Aku bekerja untuk Pak Surya, bukan untuk keponakannya yang malas itu."

Siska menghela napas, duduk di pinggir meja Dian. "Aku bangga padamu, Dian. Benar-benar bangga. Tapi janji padaku satu hal ya? Kalau suasana mulai terasa nggak enak, atau kalau Bara mulai macam-macam, kau harus bilang padaku. Kita hadapi sama-sama."

Dian tersenyum tulus, meraih tangan sahabatnya. "Terima kasih, Sis. Kau adalah hal terbaik yang kutemukan di kantor ini selain ilmu produksi. Aku janji."

Mereka kembali bekerja di bawah lampu neon yang mulai berkedip-kedip. Di luar sana, langit Jakarta mulai berubah jingga, menandakan pergantian shift yang panjang. Dian tidak tahu bahwa di lantai atas, di sebuah jendela gelap, sepasang mata masih memperhatikannya—seorang predator yang baru saja menemukan mangsa yang paling menarik dalam hidupnya.

Dian kembali menenggelamkan diri dalam tumpukan tugasnya. Ia percaya bahwa selama ia memiliki ambisi dan sahabat seperti Siska di sampingnya, ia akan tak terkalahkan. Ia tidak menyadari bahwa ambisinya itulah yang nantinya akan dijadikan umpan oleh Bara untuk menjeratnya ke dalam malam yang akan mengubah seluruh garis hidupnya selamanya.

Malam itu, saat ia berjalan pulang menuju halte bus bersama Siska, Dian merasa dunia ada di genggamannya. Ia adalah Dian Utami, asisten magang yang akan segera mengguncang dunia televisi. Ia tertawa bersama Siska, membicarakan rencana masa depan mereka, tanpa sedikit pun firasat bahwa dalam beberapa bulan, tawa itu akan berubah menjadi jeritan yang tak terdengar oleh siapapun.