Bulan-bulan pertama Nicho menjabat sebagai Dewan Pengawas benar-benar mengubah lanskap kehidupan mereka. Jika dulu Shila harus memutar otak untuk membagi uang belanja demi uang sekolah Arka, kini ia mulai terbiasa melihat saldo rekening yang digitnya tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Namun, bukan hanya soal uang, perubahan yang paling terasa adalah bagaimana Nicho memperlakukannya.

Nicho menjadi sosok yang seolah ingin membayar semua tahun-tahun "susah" mereka sekaligus. Suatu sore, saat Shila sedang menyetrika pakaian, Nicho pulang lebih awal membawa sebuah kotak beludru kecil.

"Mas, apa lagi ini?" tanya Shila, meletakkan setrikaannya.

"Buka saja," ujar Nicho lembut, sambil melonggarkan dasinya. Di wajahnya tampak gurat kelelahan, namun matanya tetap memancarkan binar kebanggaan.

Di dalam kotak itu melingkar sebuah gelang emas putih dengan desain minimalis namun elegan. Shila tertegun. "Mas, ini pasti mahal sekali. Kita kan baru saja bayar uang muka rumah."

Nicho duduk di tepi tempat tidur, menarik tangan Shila dan memakaikan gelang itu ke pergelangan tangannya. "Tunjangan kinerja bulan ini cair dua kali lipat karena progres program makan bergizi kita mencapai target nasional. Ini apresiasi buat kamu yang sudah sabar menunggu Mas pulang telat setiap hari. Pakai ya, jangan disimpan saja."

Shila memeluk suaminya erat. Kehangatan dada Nicho masih sama, aroma parfumnya kini memang lebih mahal, namun pelukannya masih terasa seperti "rumah".


Minggu depannya, mereka resmi pindah ke rumah baru. Bukan lagi kontrakan dengan gang sempit yang becek jika hujan turun, melainkan sebuah rumah di klaster asri dengan keamanan 24 jam. Arka dan Meira berteriak kegirangan saat melihat kamar mereka masing-masing yang sudah didekorasi cantik.

"Ayah, aku punya meja belajar baru!" seru Arka. "Aku mau pasang stiker princess di dinding, Yah!" timpal Meira.

Nicho tertawa, mengacak rambut kedua anaknya. "Boleh, apa saja yang kalian mau. Asal kalian rajin belajar."

Malam pertamanya di rumah baru, Shila tidak bisa tidur. Ia menatap langit-langit kamar yang tinggi dengan lampu downlight yang memberikan kesan mewah. Di sampingnya, Nicho sudah terlelap dengan ponsel yang diletakkan tertelungkup di atas nakas. Shila merasa hidupnya sudah mencapai titik sempurna. Ia sempat berpikir, apakah ini ujian ataukah hadiah? Namun, melihat sikap Nicho yang semakin romantis, ia meyakini ini adalah buah dari kesetiaan mereka.

Namun, pekerjaan Nicho di dewan pengawas ternyata lebih "liar" dari yang dibayangkan. Sebagai bagian dari pengawasan distribusi makanan bergizi gratis ke seluruh pelosok, Nicho mulai sering melakukan perjalanan dinas.

"Besok Mas harus ke Surabaya, lalu lanjut ke Makassar. Mungkin seminggu," kata Nicho saat mereka sedang sarapan.

"Seminggu? Lama sekali, Mas," keluh Shila.

"Iya, Sayang. Mas harus pastikan vendor di sana nggak main-main dengan kualitas gizinya. Ini uang negara, tanggung jawabnya besar. Nanti setiap malam Mas video call, oke?"

Nicho berangkat dengan koper barunya. Shila melepasnya dengan doa yang tulus. Selama di luar kota, Nicho memang sangat rajin memberi kabar. Ia mengirim foto-foto kegiatannya di kantor dinas, foto makan siangnya (yang selalu berupa menu sehat), dan setiap malam ia akan membacakan dongeng untuk anak-anak lewat layar ponsel sebelum mereka tidur.

Namun, di sela-sela kesibukan itu, ada sesuatu yang mulai berubah di pola komunikasi Nicho. Jika dulu Nicho selalu langsung mengangkat telepon dari Shila, kini ia lebih sering mengirim pesan: "Maaf Sayang, lagi rapat koordinasi sama pimpinan. Nanti Mas telepon balik ya."

Dan telepon balik itu seringkali baru terjadi saat Shila sudah hampir terlelap, atau bahkan keesokan harinya. Shila berusaha mengerti. Ia tahu program pemerintah ini sedang menjadi sorotan media dan tuntutan kerjanya memang gila-gilaan.

Suatu malam, Nicho pulang dari perjalanan dinasnya. Ia membawa banyak sekali oleh-oleh. Tas bermerek untuk Shila, sepatu basket untuk Arka, dan boneka besar untuk Meira. Rumah mereka dipenuhi tawa. Namun, saat Nicho sedang mandi, ponselnya yang diletakkan di meja makan bergetar.

Ada notifikasi pesan masuk dari nomor tanpa nama, hanya berupa rangkaian angka.

"Terima kasih untuk makan malamnya. Masakan di Makassar ternyata lebih manis kalau dinikmati bersamamu."

Jantung Shila berdegup kencang. Ia menatap layar ponsel itu lama. Kalimat itu terasa begitu personal. Namun, sedetik kemudian ia menggelengkan kepala.

Mungkin itu dari salah satu stafnya atau kolega dewan pengawas yang sedang bercanda? pikir Shila. Nicho sering bercerita bahwa timnya sangat akrab karena sering lembur bersama.

Saat Nicho keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggang, Shila mencoba bertanya dengan nada sebercanda mungkin. "Mas, tadi ada pesan masuk. Katanya makasih buat makan malam di Makassar. Siapa? Kok nggak ada namanya?"

Langkah Nicho terhenti sejenak. Ekspresinya berubah sekilasβ€”sebuah kilat kecemasan yang lewat begitu cepatβ€”sebelum akhirnya ia tertawa lebar.

"Oh, itu pasti sekretaris tim pengawas, namanya Rania atau siapa gitu. Dia memang suka kirim pesan koordinasi ke semua anggota tim. Tadi kami memang makan malam bareng satu tim setelah peninjauan gudang. Mungkin dia salah kirim atau cuma mau sopan saja. Sini, ponselnya Mas simpan, nggak enak kalau lagi sama kamu masih bahas kerjaan."

Nicho mengambil ponselnya dengan gerakan yang sedikit terlalu cepat bagi Shila. Ia lalu merangkul Shila, membimbingnya ke arah sofa.

"Jangan bahas kantor lagi ya. Mas kangen banget sama kamu," bisik Nicho, mencium leher Shila dengan lembut.

Shila mencoba membalas pelukan itu, namun ada sebuah ganjalan kecil di hatinya. Sesuatu yang terasa tidak pas. Aroma parfum Nicho malam itu terasa lebih kuat dari biasanya, seolah-olah ia baru saja menyemprotkannya sesaat sebelum masuk ke rumah.

Dan untuk pertama kalinya sejak mereka pindah ke rumah impian itu, Shila merasa ada udara dingin yang menyelinap masuk, meski semua jendela sudah tertutup rapat. Kilau di rumah itu tetap menyilaukan, namun Shila mulai bertanya-tanya, apakah cahaya itu berasal dari lampu kristal yang baru mereka beli, ataukah itu api yang perlahan mulai membakar sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya?