Cahaya matahari pagi menyelinap malu-malu melalui celah gorden kamar yang mulai memudar warnanya. Shila menggeliat, tangannya secara refleks meraba sisi tempat tidur di sampingnya. Kosong. Namun, bantal di sebelah sana masih menyisakan kehangatan yang samar, tanda bahwa suaminya, Nicho, baru saja beranjak beberapa menit yang lalu.
Shila bangkit dengan senyum kecil yang menghiasi wajahnya. Ia melirik jam dinding kayu di atas meja rias. Pukul 05.15 WIB. Sebagai istri seorang Aparatur Sipil Negara di Kementerian Agraria, Shila sudah terbiasa dengan ritme pagi yang disiplin. Bedanya, pagi ini terasa sedikit lebih ringan. Ada sebuah harapan baru yang membuncah di dadanya sejak surat keputusan pindah tugas itu tiba di rumah mereka dua hari yang lalu.
Ia melangkah menuju dapur kecil mereka. Di sana, ia menemukan Nicho sedang menyeduh kopi. Punggung suaminya yang tegap terbalut kaos oblong putih yang sudah agak tipis karena sering dicuci.
"Eh, sudah bangun, Sayang?" Nicho berbalik, senyumnya langsung merekah. Ia meletakkan cangkir kopinya dan melangkah mendekat untuk mengecup dahi Shila. "Mas pikir kamu masih capek setelah semalam kita packing barang-barang yang mau dipindah ke gudang."
"Mana bisa tidur nyenyak kalau tahu Mas hari ini mulai orientasi di tempat baru," sahut Shila sambil mulai mengeluarkan bahan-bahan untuk sarapan. "Gimana rasanya? Masih deg-degan?"
Nicho tertawa kecil, suara baritonnya mengisi ruang dapur yang sempit namun rapi itu. "Sedikit. Ini tanggung jawab besar, Shila. Dewan Pengawas Program Makan Bergizi Gratis itu bukan sekadar pindah meja. Ini program prioritas pemerintah. Mata semua orang akan tertuju ke sana. Tapi, yang bikin Mas paling semangat bukan cuma jabatannya."
Nicho melingkarkan lengannya di pinggang Shila dari belakang saat istrinya itu mulai memecahkan telur di atas wajan. "Tapi karena Mas akhirnya bisa memberikan apa yang selama ini cuma jadi gambar di dinding kamar kita."
Shila terdiam sejenak. Ia tahu apa yang dimaksud suaminya. Di kamar mereka, tertempel sebuah guntingan majalah properti tentang sebuah rumah minimalis dengan halaman kecil dan satu unit mobil keluarga yang kokoh. Selama tujuh tahun pernikahan mereka, mimpi itu terasa sejauh bintang di langit. Gaji Nicho sebagai staf di Kementerian Agraria cukup untuk hidup layak, namun untuk kemewahan seperti itu, mereka harus menabung sangat ketat.
"Mas, kita sudah bahagia begini pun aku sudah bersyukur," bisik Shila.
"Aku tahu. Tapi kamu dan anak-anak layak mendapatkan lebih. Nanti, kalau tunjangan kinerja dan honorarium dewan pengawas sudah cair, kita nggak perlu lagi mikir dua kali kalau mau ajak anak-anak makan enak di akhir pekan."
Suasana pagi itu terasa begitu magis. Shila merasa suaminya adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Nicho bukan tipe pria yang banyak menuntut. Ia setia, pekerja keras, dan sangat menyayangi kedua anak mereka, Arka dan si kecil Meira.
"Ayah! Ibu!"
Suara derap langkah kecil terdengar berlarian dari arah kamar anak. Arka, yang berusia enam tahun, muncul dengan rambut acak-adakan, diikuti Meira yang masih mengucek matanya sambil memeluk boneka kelinci usang.
"Wah, jagoan Ayah sudah bangun!" Nicho segera melepaskan pelukannya dari Shila dan berjongkok untuk menyambut kedua anaknya. Ia mengangkat mereka sekaligus dalam satu dekapan kuat. "Hari ini Ayah mulai kerja di kantor baru. Doakan Ayah ya?"
"Kantor baru itu ada mainannya nggak, Yah?" tanya Meira polos.
"Nggak ada mainan di sana, tapi nanti kalau Ayah pulang, Ayah bawa mainan buat Meira. Setuju?"
Anak-anak itu bersorak kegirangan. Di meja makan kayu yang sudah mulai goyang kakinya, mereka sarapan dengan penuh tawa. Nasi goreng sederhana buatan Shila terasa seperti hidangan restoran bintang lima karena bumbu kebahagiaan yang mereka rasakan. Shila menatap Nicho yang sedang menyuapi Meira dengan telaten. Tidak ada keraguan sedikit pun dalam benak Shila bahwa pria ini adalah jangkar hidupnya.
Setelah anak-anak bersiap untuk sekolah, Nicho mengenakan seragam batiknya yang paling rapi. Ia berdiri di depan cermin, merapikan kerah bajunya. Shila mendekat, membantu memasangkan lencana di dadanya.
"Mas Nicho yang sekarang sudah jadi pejabat," goda Shila sambil menepuk-nepuk bahu suaminya.
Nicho menggenggam tangan Shila yang berada di bahunya. Ia menatap mata istrinya melalui pantulan cermin. "Semua ini untuk kalian. Jangan pernah ragukan itu, Shila. Apa pun yang terjadi di luar sana, rumah ini adalah tempat aku pulang."
Shila mengangguk, merasa sangat tersentuh. Ia mengantar Nicho sampai ke depan pagar kontrakan mereka. Ia melambai sampai motor tua Nicho hilang di tikungan jalan.
Siang harinya, Shila menghabiskan waktu dengan membereskan rumah. Ia melihat-lihat kembali buku tabungan mereka. Selama ini, mereka hidup dengan anggaran yang sangat ketat. Shila bahkan sering menjahit sendiri baju anak-anak yang robek sedikit demi menghemat pengeluaran. Namun, dengan posisi baru Nicho, ia mulai berani membayangkan masa depan yang berbeda.
Ia membayangkan Meira bisa les balet yang selama ini ia idamkan, atau Arka yang akhirnya bisa masuk sekolah sepak bola yang bagus. Shila tidak serakah, ia hanya ingin keluarganya tidak perlu lagi merasa cemas setiap kali ada keperluan mendadak.
Menjelang sore, Shila mendapat pesan singkat dari Nicho. βSayang, mungkin aku pulang agak telat. Ada rapat koordinasi pertama dengan tim teknis. Jangan tunggu aku untuk makan malam ya. Peluk cium buat anak-anak.β
Shila membalasnya dengan semangat. βSemangat kerjanya, Mas! Jangan lupa makan malam juga di sana. Kami tunggu di rumah.β
Shila memasak menu spesial malam itu: semur daging kesukaan Nicho. Ia ingin merayakan hari pertama suaminya dengan kehangatan. Namun, jam demi jam berlalu. Pukul tujuh malam, anak-anak sudah selesai makan. Pukul sembilan, anak-anak sudah tertidur lelap setelah Shila membacakan dongeng.
Nicho baru sampai di rumah pukul setengah sebelas malam. Ia tampak sangat lelah, namun wajahnya tetap berusaha ceria saat melihat Shila masih menunggunya di ruang tamu.
"Mas, sudah pulang?" Shila segera berdiri dan mengambil tas kerja suaminya.
"Maaf ya, Sayang. Ternyata program ini benar-benar menyita waktu. Kami harus memetakan ribuan sekolah dan vendor makanan dalam waktu singkat. Anggarannya triliunan, Shila. Tanggung jawabnya luar biasa."
Nicho duduk di sofa, menyandarkan kepalanya. Shila duduk di sampingnya, memijat bahu suaminya yang kaku. "Nggak apa-apa, Mas. Aku ngerti. Yang penting Mas jaga kesehatan. Oh iya, aku sudah masak semur daging. Mau dipanasin?"
Nicho menggeleng lemah. "Tadi sudah makan sama tim di kantor. Ada katering khusus untuk yang lembur. Enak sekali makanannya, Shila. Lain kali aku bawakan untukmu ya?"
"Oh, syukur kalau begitu. Mas mandi dulu saja, terus istirahat."
Saat Nicho masuk ke kamar mandi, Shila merapikan jaket suaminya. Harum parfum Nicho biasanya adalah aroma sabun atau minyak rambut bayi yang sering ia pakai bersama anak-anak. Namun, malam ini, Shila mencium aroma yang sedikit berbeda. Bukan parfum wanita, melainkan aroma ruangan yang sangat mewah, seperti wangi lobi hotel berbintang. Ia hanya tersenyum sendiri. Mungkin ruang rapatnya memang di tempat yang bagus, pikirnya.
Hari-hari berikutnya berlalu dengan cepat. Kehidupan mereka mulai berubah secara bertahap. Sebulan kemudian, Nicho menerima gaji pertamanya di posisi baru beserta tunjangan yang nilainya membuat mata Shila berkaca-kaca. Itu adalah jumlah uang terbesar yang pernah mereka miliki dalam sekali terima.
"Besok kita ke pameran perumahan ya, Shila," ujar Nicho suatu malam saat mereka sedang menonton TV bersama.
"Beneran, Mas? Apa nggak kecepetan? Tabungan kita kan baru mulai terisi."
"Ada fasilitas KPR khusus untuk pegawai dewan pengawas. Cicilannya ringan. Mas sudah hitung semuanya. Kita bisa ambil rumah yang di daerah BSD atau Bintaro. Biar anak-anak punya lingkungan yang lebih bagus."
Shila merasa seperti sedang bermimpi. Keharmonisan mereka seolah mencapai puncaknya. Nicho tidak menjadi sombong. Sebaliknya, ia makin perhatian. Hampir setiap pulang kerja, selalu ada sesuatu yang ia bawa. Kadang martabak manis kesukaan Shila, kadang mainan kecil untuk Arka dan Meira, atau bahkan selembar daster batik baru untuk Shila.
Kehidupan yang dulu mereka jalani dengan merangkak, kini terasa seperti sedang berlari kencang menuju puncak kebahagiaan. Shila sering memandangi Nicho saat suaminya sedang bermain kuda-kudaan dengan anak-anak di hari Minggu. Ia merasa dunianya sudah lengkap.
Suatu Sabtu pagi, Nicho mengajak mereka ke sebuah diler mobil. "Pilih warna yang kamu suka, Sayang," kata Nicho sambil menunjuk sebuah mobil MPV putih yang gagah.
"Mas, ini terlalu mewah buat kita..." bisik Shila ragu.
"Nggak ada yang terlalu mewah untuk kebahagiaan kamu dan anak-anak. Kalau kita pulang kampung nanti, kalian nggak perlu lagi kepanasan naik bus atau sewa mobil orang lain. Ini milik kita."
Hari itu, Shila menangis bahagia. Ia merasa semua kesabaran dan dukungan yang ia berikan selama suaminya hanya seorang staf biasa telah terbayar lunas. Ia merasa dicintai, dihargai, dan dilindungi.
Namun, di tengah segala kemewahan dan keromantisan yang semakin meningkat itu, Shila tidak menyadari satu hal. Dunia baru suaminya bukan hanya berisi angka-angka anggaran dan rencana distribusi makanan. Dunia itu juga berisi pergaulan baru, gaya hidup baru, dan orang-orang baru yang melihat Nicho bukan sebagai pria sederhana dari Kementerian Agraria, melainkan sebagai pejabat muda yang sedang naik daun dengan kantong yang tebal.
Dan di antara orang-orang baru itu, ada sepasang mata yang mulai memperhatikan Nicho dengan cara yang berbeda. Seseorang yang tahu persis bagaimana cara masuk ke dalam celah kecil yang tercipta ketika seseorang baru saja mencicipi puncak dunia.
Pagi itu, saat Shila mengantar suaminya berangkat dengan mobil baru mereka, ia melihat Nicho melambai dengan senyum paling manis yang pernah ia lihat. Shila kembali ke dalam rumah dengan hati yang penuh bunga, tanpa tahu bahwa embun pagi yang indah itu perlahan-lahan mulai menguap, meninggalkan retakan yang tak kasat mata pada fondasi rumah tangga yang ia kira takkan pernah goyah.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar