Hari Sabtu itu datang dengan langit yang begitu biru, seolah-olah semesta sedang bekerja sama untuk menghapus sisa-sisa kegelisahan di hati Shila. Sejak fajar menyingsing, rumah baru mereka sudah dipenuhi kesibukan yang menyenangkan. Nicho, yang biasanya masih terlelap di akhir pekan karena kelelahan bekerja, kali ini bangun paling awal. Ia sudah rapi dengan kaos polo kasual dan celana pendek, sibuk memasukkan tas pendingin berisi minuman dan buah-buahan ke dalam bagasi mobil MPV putih mereka yang mengilat.
"Ayo, Jagoan! Meira! Kalau telat nanti antreannya panjang!" seru Nicho dari arah garasi.
Arka dan Meira berlarian menuruni tangga dengan wajah berseri-seri. Arka mengenakan jersey sepak bola barunya, sementara Meira tampak menggemaskan dengan gaun musim panas berwarna kuning cerah dan topi pantai kecil. Shila memperhatikan mereka dari ambang pintu, hatinya menghangat. Pemandangan ini—suami yang antusias dan anak-anak yang bahagia—adalah semua yang pernah ia impikan saat mereka masih tinggal di kontrakan sempit dulu.
"Mas, pelan-pelan. Anak-anak belum sarapan beneran, tadi cuma makan sereal sedikit," tegur Shila sambil membawa tas berisi perlengkapan darurat—tisu basah, obat-obatan, dan baju ganti.
Nicho menghampiri Shila, lalu merangkul bahunya dengan mesra. "Kita sarapan di jalan saja, Sayang. Mas sudah pesan tempat di restoran favoritmu yang ada di jalur menuju taman hiburan. Hari ini, protokolnya adalah: tidak ada yang boleh cemberut."
Perjalanan menuju taman hiburan bertema internasional di luar kota itu terasa begitu singkat karena diisi dengan tawa. Nicho memutar lagu-lagu ceria, membiarkan Arka dan Meira bernyanyi sekeras mungkin di kursi belakang. Nicho berkali-kali menggenggam tangan Shila saat sedang menyetir, sesekali mengecup punggung tangannya dengan lembut.
"Terima kasih ya, Mas," bisik Shila di tengah keriuhan suara anak-anak.
"Untuk apa?"
"Untuk hari ini. Untuk semuanya. Aku merasa... kita benar-benar sedang berada di puncak kebahagiaan."
Nicho tersenyum, meski matanya tetap fokus ke jalanan. "Ini baru permulaan, Shila. Mas ingin setiap akhir pekan kita seperti ini. Mas ingin menebus semua waktu yang hilang saat Mas masih harus lembur bagai kuda di kementerian dulu tanpa hasil yang jelas."
Sesampainya di taman hiburan, Nicho benar-benar menunjukkan sosok ayah idaman. Ia tidak keberatan menggendong Meira di atas bahunya selama berjam-jam agar putrinya itu bisa melihat parade karakter kartun dengan jelas. Ia juga menemani Arka naik wahana halilintar yang cukup ekstrem, meski Shila tahu suaminya sebenarnya sedikit takut ketinggian.
Setiap kali mereka berhenti untuk beristirahat, Nicho selalu memastikan Shila nyaman. Ia akan membelikan air mineral dingin, mengipasi Shila dengan brosur taman, atau sekadar menanyakan apakah kaki istrinya pegal. Keromantisan Nicho terasa begitu alami, tidak ada jejak pria yang menyimpan rahasia seperti yang sempat dicurigai Shila beberapa hari lalu.
"Lihat itu, Mas! Meira senang sekali," tunjuk Shila ke arah komidi putar. Meira melambai-lambai dengan riang dari atas kuda kayu yang berputar.
Nicho merangkul pinggang Shila, menariknya mendekat. "Dia mirip kamu kalau lagi senang. Matanya berbinar. Mas berjanji akan menjaga binar itu selamanya, baik di mata Meira maupun di mata kamu."
Shila menyandarkan kepalanya di bahu Nicho. Di bawah sorotan matahari sore yang mulai menguning, ia merasa sangat aman. Segala kecurigaan tentang noda lipstik atau pesan misterius itu menguap, kalah oleh bukti nyata kasih sayang yang sedang ia rasakan. Mungkin aku yang terlalu sensitif, pikirnya. Dunia kerja Mas Nicho memang keras, wajar jika ada kejadian-kejadian kecil yang tidak disengaja.
Menjelang senja, mereka tidak langsung pulang. Nicho membawa mereka ke sebuah bukit yang terkenal dengan pemandangan kota dari ketinggian. Di sana, terdapat sebuah restoran dengan konsep outdoor yang mewah. Meja mereka sudah dipesan khusus di sudut yang paling privat, menghadap langsung ke arah matahari terbenam.
"Mas, ini pasti mahal sekali," Shila berbisik saat melihat daftar menu.
"Sstt... jangan bahas harga. Malam ini kita merayakan keberhasilan Mas menutup kontrak pengawasan untuk wilayah Jawa Tengah. Ada bonus kecil yang Mas dapatkan, dan ini adalah hak kalian," sahut Nicho lembut.
Makan malam itu berlangsung dengan sangat romantis. Anak-anak sibuk dengan hidangan penutup mereka di meja sebelah yang masih dalam jangkauan pandangan, sementara Nicho dan Shila menikmati waktu berdua. Cahaya lilin memantul di mata Nicho, membuatnya tampak lebih tampan dari biasanya.
"Shila," panggil Nicho pelan. Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku celananya. "Mas tahu kita sudah punya rumah dan mobil. Tapi Mas ingin memberikan sesuatu yang bisa kamu simpan selamanya sebagai pengingat bahwa kamu adalah satu-satunya ratu di hati Mas."
Di dalam kotak itu terdapat sebuah cincin berlian sederhana namun sangat cantik. Shila menutup mulutnya dengan tangan, air mata bahagia mulai menggenang.
"Mas... ini terlalu banyak."
"Tidak ada yang terlalu banyak untukmu. Cincin pernikahan kita dulu sangat tipis karena Mas belum punya apa-apa. Sekarang, Mas ingin kamu memakai ini sebagai simbol bahwa rumah tangga kita sudah naik kelas. Bahwa cinta kita lebih kuat dari berlian ini."
Nicho menyematkan cincin itu di jari manis Shila. Di bawah langit yang mulai bertabur bintang, Shila merasa seolah-olah ia adalah wanita paling beruntung di muka bumi. Ia melihat suaminya sebagai sosok pria sempurna: mapan, romantis, bertanggung jawab, dan sangat mencintai keluarga.
Malam itu, saat perjalanan pulang, anak-anak tertidur pulas di kursi belakang karena kelelahan. Suasana mobil menjadi tenang. Hanya ada suara radio yang memutar lagu balada pelan.
"Mas, aku sangat mencintaimu," ucap Shila tulus.
"Mas lebih mencintaimu, Shila. Selalu."
Sesampainya di rumah, Nicho menggendong anak-anak satu per satu ke kamar mereka dengan sangat hati-hati agar tidak terbangun. Shila memperhatikan dari pintu kamar, melihat bagaimana lembutnya Nicho menyelimuti Meira dan mengecup kening Arka. Seorang pria yang begitu menyayangi anak-anaknya, pikir Shila, tidak mungkin tega menghancurkan kebahagiaan mereka demi wanita lain.
Setelah anak-anak terlelap, Nicho menghampiri Shila yang sedang berdiri di balkon lantai dua, menatap lampu-lampu kompleks perumahan.
"Belum ngantuk?" tanya Nicho sambil memeluk Shila dari belakang, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher istrinya.
"Masih merasa seperti mimpi, Mas. Kadang aku takut bangun dan mendapati kita masih di kontrakan lama yang bocor kalau hujan."
Nicho mempererat pelukannya. "Itu masa lalu, Sayang. Sekarang kita punya ini semua. Dan Mas akan pastikan kita tidak akan pernah kembali ke sana. Mas akan melakukan apa pun, apa pun, untuk menjaga standar hidup kita tetap seperti ini."
Kata-kata "apa pun" itu diucapkan Nicho dengan nada yang sedikit lebih berat, namun Shila yang sedang mabuk kebahagiaan tidak menyadari makna tersirat di baliknya. Bagi Shila, itu adalah janji perlindungan. Ia tidak tahu bahwa dalam dunia penuh ambisi dan kekuasaan yang kini digeluti Nicho, kata "apa pun" sering kali berarti sebuah pertaruhan moral yang besar.
Malam itu mereka habiskan dengan berbicara tentang masa depan—rencana liburan ke luar negeri saat libur sekolah nanti, rencana menambah investasi untuk pendidikan anak-anak, hingga detail kecil tentang taman yang ingin Shila bangun di halaman belakang.
Saat Shila akhirnya tertidur di pelukan Nicho, ia merasa sangat tenang. Ia tidak lagi mengecek ponsel suaminya. Ia tidak lagi mencium bau kemeja suaminya dengan penuh selidik. Ia telah menjatuhkan seluruh kepercayaannya kembali ke tangan Nicho.
Namun, di kegelapan kamar itu, saat memastikan Shila sudah benar-benar terlelap, Nicho perlahan melepaskan pelukannya. Ia mengambil ponselnya yang diletakkan di bawah bantal, berjalan pelan ke arah kamar mandi, dan mengunci pintunya.
Cahaya layar ponsel menerangi wajahnya yang kini tampak dingin, sangat berbeda dengan wajah hangat yang ia tunjukkan sepanjang hari di taman hiburan. Ia membuka sebuah aplikasi pesan tersembunyi. Ada sebuah kiriman foto: seorang wanita cantik dengan pakaian kantor yang elegan sedang tersenyum ke arah kamera.
Di bawah foto itu ada pesan: "Hari ini aku merindukanmu di kantor. Rasanya sepi tanpa 'pengawasan' dari bapak dewan pengawas yang paling tampan. Sampai bertemu hari Senin?"
Nicho mengetik balasan dengan cepat: "Hari ini aku menjalankan tugasku sebagai 'aktor' keluarga dengan sempurna. Tapi pikiranku terus tertuju pada malam-malam kita di Makassar. Sampai bertemu hari Senin, Rania."
Nicho menghapus pesan itu, membersihkan riwayat percakapan, lalu kembali ke tempat tidur. Ia memeluk Shila kembali, memejamkan mata, dan bersiap untuk melanjutkan sandiwara hebatnya di esok hari. Di rumah impian itu, kebahagiaan sedang menari dengan indahnya di atas sebuah rahasia yang mulai membusuk, menunggu waktu yang tepat untuk meledak dan menghancurkan segalanya.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar