Enam bulan telah berlalu sejak tamasya indah di taman hiburan itu. Bagi Shila, waktu seolah berjalan dalam harmoni yang sempurna. Kehidupan mereka telah mencapai ritme yang mapan. Rumah baru mereka kini sudah lengkap dengan taman kecil di belakang yang dipenuhi bunga lili dan mawar, persis seperti yang Shila impikan. Nicho pun tetap menjadi sosok "Suami Teladan". Ia tidak pernah absen memberikan kejutan kecil, selalu pulang membawa makanan kesukaan anak-anak, dan setiap akhir pekan adalah waktu suci bagi keluarga.
Bahkan, Nicho baru saja membelikan Shila sebuah laptop baru untuk mendukung hobi menulisnya. "Siapa tahu istriku ini jadi penulis novel terkenal," godanya kala itu sambil mengecup kening Shila. Tidak ada tanda-tanda badai. Tidak ada lagi noda lipstik, tidak ada lagi aroma parfum asing. Nicho telah menjadi aktor yang begitu lihai dalam memerankan peran "Pria Keluarga".
Namun, sore itu, langit Jakarta tampak muram. Awan hitam bergelayut rendah, membawa hawa dingin yang menusuk tulang.
Nicho pulang lebih awal, sekitar pukul lima sore. Shila menyambutnya dengan senyum lebar seperti biasa. Meira dan Arka sedang asyik bermain lego di karpet ruang tengah.
"Mas, kok tumben jam segini sudah sampai?" tanya Shila sambil mengambil tas kerja Nicho. "Mau aku buatkan teh atau kopi?"
Nicho tidak menjawab. Ia berdiri mematung di tengah ruang tamu. Wajahnya yang biasanya hangat kini tampak kaku, pucat, dan tanpa emosi. Matanya tidak menatap Shila, melainkan menatap kosong ke arah tembok.
"Mas?" Shila mendekat, menyentuh lengan suaminya. "Mas sakit? Wajahmu pucat sekali."
Nicho menarik lengannya dengan halus, menghindari sentuhan Shila. Ia merogoh tas kerjanya, mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal yang tersegel rapi. Dengan tangan yang sedikit gemetar namun gerakan yang pasti, ia meletakkan amplop itu di atas meja marmer ruang tamu—meja yang mereka pilih bersama dengan penuh tawa tiga bulan lalu.
"Shila, ada yang harus kita selesaikan," suara Nicho terdengar berat, dingin, dan asing di telinga Shila.
"Apa ini, Mas? Laporan pekerjaan?" Shila mencoba tertawa kecil, meski hatinya mulai berdegup kencang secara tidak wajar.
Nicho menatap kedua anaknya yang masih asyik bermain, lalu kembali menatap Shila. "Buka saja."
Shila mengambil amplop itu. Jemarinya terasa dingin. Saat ia merobek segelnya dan mengeluarkan isinya, dunianya seolah berhenti berputar. Di bagian atas kertas itu tertulis dengan huruf kapital yang tegas dan menyakitkan: GUGATAN CERAI.
Shila membaca nama penggugat: Nicholaus Arkan. Nama tergugat: Shila Larasati.
"Mas... ini apa?" suara Shila tercekat di tenggorokan. Ia merasa oksigen di sekitarnya tiba-tiba menghilang. "Ini bercanda, kan? Mas lagi kasih kejutan apa lagi?"
Shila membolak-balik kertas itu, berharap menemukan tulisan "Selamat Hari Jadi" atau sesuatu yang lucu di belakangnya. Namun, yang ia temukan hanyalah lembaran-lembaran hukum yang kering dan mematikan.
"Aku serius, Shila. Aku sudah mendaftarkannya melalui pengacara," ucap Nicho tanpa nada.
"Kenapa, Mas?! Kenapa?!" Shila berteriak, air mata seketika tumpah membasahi pipinya. "Kita bahagia, Mas! Enam bulan terakhir ini kita sempurna! Rumah ini, anak-anak, cincin ini..." Shila mengangkat tangannya yang masih melingkar cincin berlian pemberian Nicho.
Suara teriakan Shila membuat Arka dan Meira berhenti bermain. Mereka menatap kedua orang tuanya dengan wajah ketakutan. Meira mulai terisak, meski ia belum mengerti apa yang terjadi.
Nicho menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang tampak seperti pelepasan beban yang sudah lama ia pikul. "Kebahagiaan itu... itu hanya usahaku untuk membuatmu nyaman sebelum aku pergi. Aku ingin memastikan kalian punya rumah, punya mobil, dan tabungan yang cukup sebelum kita berpisah."
"Kenapa harus berpisah, Nicho?! Apa salahku?!"
Nicho menatap Shila, dan untuk pertama kalinya, Shila melihat kekosongan yang mengerikan di mata pria itu. "Kamu tidak salah. Hanya saja, duniaku sudah berubah, Shila. Sejak aku di dewan pengawas, aku menyadari bahwa hidup yang aku inginkan bukan lagi hidup yang tenang bersamamu. Ada orang lain yang lebih bisa mengimbangi langkahku sekarang."
"Rania?" bisik Shila. Nama yang dulu sempat ia curigai kini meluncur begitu saja dari bibirnya.
Nicho tidak membantah. Diamnya adalah konfirmasi yang paling menyakitkan.
"Dia hamil, Shila. Dan aku harus bertanggung jawab. Dia yang selama ini membantuku melobi vendor, dia yang menemaniku di setiap rapat penting, dia yang membuat karierku melejit seperti sekarang. Aku tidak bisa meninggalkan dia."
Bagaikan disambar petir di siang bolong, Shila jatuh terduduk di lantai. Rumah mewah yang ia banggakan itu mendadak terasa seperti reruntuhan yang menimpanya. Segala keromantisan, bunga-bunga, dan kejutan selama enam bulan ini ternyata hanyalah cara Nicho untuk mencicil rasa bersalahnya. Itu bukan cinta, itu adalah uang pesangon untuk sebuah perpisahan.
"Ayah... Ibu... kenapa?" Arka mendekat, memegang ujung baju Shila sambil menangis.
Nicho berlutut di depan Arka, mencoba menyentuh kepalanya, namun Arka mundur ketakutan. "Arka, Meira... Ayah tetap sayang kalian. Rumah ini tetap buat kalian. Ibu juga tetap tinggal di sini. Ayah cuma... Ayah cuma harus pergi sebentar."
"Palsu!" teriak Shila di tengah isak tangisnya. "Semua yang kamu lakukan enam bulan ini palsu, Nicho! Kamu memberiku surga hanya untuk menjatuhkanku ke neraka yang paling dalam!"
Nicho berdiri, memperbaiki posisi kacamatanya. Ia tampak kembali menjadi pria birokrat yang dingin. "Hak asuh anak aku serahkan padamu. Aku akan kirim uang bulanan yang lebih dari cukup. Kamu tidak akan kekurangan materi, Shila. Aku sudah menyiapkan semuanya."
Nicho mengambil koper yang ternyata sudah ia siapkan di dekat pintu—koper yang Shila pikir berisi berkas kerja untuk perjalanan dinas besok.
"Aku pergi sekarang. Pengacaraku akan menghubungimu besok," ucap Nicho datar.
Ia melangkah keluar rumah tanpa menoleh lagi. Suara deru mobil MPV putih itu—mobil yang dulu menjadi simbol kebahagiaan mereka—terdengar menjauh, meninggalkan keheningan yang mematikan di dalam rumah mewah tersebut.
Shila mendekap kedua anaknya di tengah ruang tamu, di antara kepingan lego yang berantakan dan surat cerai yang tergeletak di lantai. Sore itu, di rumah impiannya, Shila menyadari satu hal yang menghancurkan jiwanya: Nicho tidak hanya menceraikannya, tapi Nicho telah membunuh Shila yang lama tepat di saat Shila merasa paling dicintai.
Bom itu telah meledak, dan Shila harus belajar berjalan di atas puing-puing hatinya sendiri.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar