Pagi itu, suasana di rumah baru mereka terasa begitu tenang, namun bagi Shila, ketenangan itu terasa sedikit mencekam. Nicho sudah berangkat sejak pukul tujuh pagi dengan alasan ada kunjungan mendadak dari pihak kementerian ke gudang logistik. Shila berdiri di dapur, menatap sisa sarapan yang hanya dimakan separuh oleh suaminya.
Pesan di ponsel Nicho semalam masih menari-nari di ingatan Shila. βMasakan di Makassar ternyata lebih manis kalau dinikmati bersamamu.β Meskipun Nicho sudah memberikan penjelasan yang terdengar logis, ada insting seorang istri yang berbisik bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Shila mencoba mengalihkan pikirannya dengan mencuci piring, namun fokusnya terus terbelah.
Tiba-tiba, bel rumah berbunyi. Shila mengeringkan tangannya dan berjalan ke pintu depan. Di sana berdiri seorang kurir dengan sebuah kotak besar berhias pita satin merah.
"Ibu Shila? Ada kiriman paket," ujar kurir itu sopan.
Shila mengerutkan kening. "Dari siapa ya, Pak?"
"Di sini tertulis dari 'N'. Silakan tanda tangan di sini, Bu."
Setelah kurir pergi, Shila membawa kotak itu ke ruang tengah. Dengan tangan sedikit gemetar, ia membuka pitanya. Di dalamnya terdapat sebuah tas kulit keluaran desainer ternama yang harganya mungkin setara dengan cicilan mobil mereka selama tiga bulan. Di atas tas itu tergeletak sebuah kartu kecil dengan tulisan tangan yang sangat ia kenali.
"Untuk bidadariku yang selalu setia menunggu di rumah. Maaf kalau Mas sering pulang larut. Pakai tas ini untuk arisan besok ya. Love, Nicho."
Shila terduduk di sofa. Tas itu sangat indah, mengilat terkena cahaya lampu ruang tamu. Seharusnya ia merasa senang, tapi entah mengapa, setiap kali Nicho memberinya hadiah mewah akhir-akhir ini, ia merasa seperti sedang disuap agar tidak bertanya lebih jauh. Hadiah-hadiah ini seolah menjadi "uang tutup mulut" atas ketidakhadiran fisik dan emosional Nicho yang semakin terasa.
Sore harinya, Shila memutuskan untuk pergi ke supermarket. Ia ingin memasak menu istimewa sebagai bentuk terima kasih atas hadiah tersebut, sekaligus mencoba mencairkan kekakuan yang mulai merayap di antara mereka. Saat sedang memilih sayuran, ia tanpa sengaja berpapasan dengan Maya, istri dari rekan kerja Nicho saat masih di Kementerian Agraria dulu.
"Eh, Shila! Ya ampun, pangling banget!" seru Maya sambil mendekat. "Gaya kamu sekarang sudah beda ya. Tasnya baru, mobilnya juga ganti. Hebat banget Mas Nicho sekarang."
Shila tersenyum canggung. "Ah, biasa saja, May. Mas Nicho cuma lagi dapat amanah lebih di tempat baru."
"Iya, aku dengar program Makan Bergizi itu anggarannya luar biasa," Maya menurunkan suaranya, sedikit berbisik. "Tapi hati-hati lho, Shil. Suamiku bilang, lingkungan di dewan pengawas itu 'basah' banget. Bukan cuma soal uang, tapi godaan orang-orang di sekelilingnya. Mas Nicho kan sekarang sering rapat sama vendor-vendor besar, staf-staf milenial yang cantik-cantik..."
Jantung Shila mencelos. "Mas Nicho orangnya lurus, May. Kamu tahu sendiri gimana dia dulu."
"Iya, dulu," potong Maya pendek. "Tapi uang dan jabatan bisa mengubah warna kacamata seseorang, Shil. Pokoknya kamu harus sering-sering 'patroli'. Jangan terlalu percaya 100 persen."
Kata-kata Maya terngiang-ngiang sepanjang jalan pulang. Shila berusaha menepisnya, menganggap itu hanya bumbu iri hati. Namun, setibanya di rumah, ia melihat sebuah kemeja Nicho yang belum sempat ia cuci tergeletak di keranjang. Shila mengambilnya, bermaksud memasukkannya ke mesin cuci, namun ia terhenti saat melihat noda kecil di bagian kerah belakang.
Noda itu berwarna merah muda pucat. Lipstik.
Tangan Shila gemetar. Ia mendekatkan kerah itu ke hidungnya. Aroma parfum yang sama dengan yang ia cium malam itu kembali terendus. Manis, elegan, dan sangat feminin. Ini bukan aroma ruangan hotel. Ini aroma tubuh seseorang.
Malam itu, Nicho pulang lebih cepat dari biasanya, sekitar pukul delapan malam. Ia tampak ceria, bahkan sempat menggendong Meira dan membantunya mengerjakan PR mewarnai.
"Gimana tasnya? Kamu suka?" tanya Nicho sambil duduk di meja makan, menunggu Shila menyiapkan kopi.
Shila tidak langsung menjawab. Ia meletakkan cangkir kopi itu dengan perlahan, lalu duduk di hadapan Nicho. Matanya menatap tajam ke arah suaminya.
"Mas, tadi aku mau cuci kemeja batikmu yang dipakai kemarin ke kantor," ujar Shila dengan suara rendah.
Nicho menyesap kopinya, tampak tenang. "Oh, iya. Kenapa?"
"Ada noda lipstik di kerahnya. Dan baunya... bukan bau parfumku."
Suasana mendadak hening. Denting jam dinding terasa seperti dentuman keras di telinga Shila. Nicho meletakkan cangkirnya, ekspresinya tidak berubah, namun Shila melihat jakun suaminya bergerak turun, ia menelan ludah.
"Oh, itu..." Nicho terkekeh, meski terdengar sedikit dipaksakan. "Tadi siang di kantor ada syukuran kecil-kecilan karena target distribusi wilayah barat tercapai. Rekan-rekan kantor pada heboh, ada staf yang tidak sengaja menabrak Mas saat dia mau bawa kue. Mungkin itu kena kerah pas dia hampir jatuh. Namanya juga kantor lagi ramai, Sayang. Kamu nggak mikir yang macam-macam, kan?"
Nicho menjangkau tangan Shila di atas meja, menggenggamnya erat. "Shila, lihat Mas. Mas kerja banting tulang begini buat siapa? Buat kamu, buat Arka, buat Meira. Kalau Mas mau nakal, nggak mungkin Mas belikan kamu rumah, mobil, dan tas mahal itu. Mas pasti simpan uangnya sendiri."
Shila menatap mata Nicho, mencari kejujuran di sana. Nicho tampak begitu tulus, begitu meyakinkan. Kebaikannya selama ini, kejutan-kejutan kecilnya, dan sikap romantisnya menjadi benteng yang sangat kuat untuk menutupi kecurigaan apa pun.
"Aku cuma takut, Mas. Kita mulai dari nol, aku nggak mau kita hancur karena hal sepele," bisik Shila.
"Nggak akan, Sayang. Mas janji," Nicho berdiri, mengecup kening Shila lama. "Besok kan Sabtu, Mas sudah kosongkan jadwal. Kita ajak anak-anak ke taman hiburan yang baru buka itu, ya? Kita senang-senang bareng."
Shila mengangguk, mencoba tersenyum. Ia ingin percaya. Ia harus percaya. Karena jika ia tidak percaya, maka seluruh dunia indah yang baru saja mereka bangun ini akan runtuh seketika. Namun jauh di dalam lubuk hatinya, Shila merasa seolah ia sedang berjalan di atas lapisan es tipis yang mulai retak, dan di bawahnya, ada air yang sangat dingin yang siap menenggelamkannya.
Di balik senyum romantisnya malam itu, Nicho diam-diam merogoh ponsel di saku celananya, menghapus sebuah pesan singkat yang baru saja masuk: "Besok jadi kan? Aku tunggu di tempat biasa."
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar