Di sebuah kafe yang tenang, tersembunyi di balik partisi kayu mahoni dan tirai beludru ruang VIP yang remang, seorang wanita elegan mendorong sebuah amplop melintasi permukaan meja marmer. Di dalam amplop yang tak tertutup rapat itu, selembar cek dengan deretan angka nol yang bernilai ratusan juta rupiah mengintip angkuh. Ia menyorongkannya perlahan ke arah wanita asing yang duduk mematung di depannya.
Lalu dia berkata dengan nada yang teramat tenang, seolah sedang memesan secangkir kopi hitam:
“Aku ingin kamu menggoda suamiku.”
Hening menyergap ruangan itu seketika. Hanya terdengar sayup-sayup alunan musik jazz dari lantai bawah dan rintik hujan yang mulai memukul kaca jendela tebal.
Lyra Celestine Wardhana menatap amplop itu, lalu menaikkan pandangannya ke arah wanita di hadapannya. Tawa canggung lolos dari bibir Lyra, terdengar sumbang di ruangan yang kelewat mewah itu. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari letak kamera tersembunyi.
"Maaf, Nyonya..." Lyra menelan ludah, suaranya sedikit bergetar. "Apakah ini semacam lelucon untuk acara televisi? Atau prank orang kaya yang sedang bosan?"
Aurelia Viretta Maheswari tidak tersenyum sedikit pun. Wajahnya yang dipoles riasan sempurna layaknya porselen mahal tetap datar. Jemarinya yang dihiasi cincin berlian—cincin pernikahan yang mengikatnya dalam sangkar emas—terlipat anggun di atas meja.
"Aku terlihat seperti seseorang yang punya waktu untuk melucu, Nona Wardhana?" suara Aurelia meluncur dingin, mengiris sisa-sisa senyum di wajah Lyra.
Lyra terdiam. Ia menatap lekat-lekat wanita di depannya. Aurelia mengenakan blazer Dior berwarna broken white yang potongannya begitu presisi, seolah dirancang untuk membentengi dirinya dari dunia luar. Posturnya tegak, matanya yang tajam menatap Lyra bukan dengan tatapan merendahkan, melainkan tatapan menelanjangi. Membaca setiap celah kelemahan yang Lyra miliki.
"Ambil cek itu," perintah Aurelia, suaranya nyaris berbisik namun memancarkan otoritas mutlak. "Itu baru uang muka. Sisanya, tiga kali lipat dari jumlah itu, akan masuk ke rekeningmu setelah tugasmu selesai."
Tangan Lyra gemetar saat ia perlahan menarik amplop itu. Ia menarik lembaran cek di dalamnya. Napasnya tercekat melihat nominal yang tertera. Angka itu cukup untuk melunasi semua utang mendiang ayahnya, membiayai pengobatan adiknya, dan membebaskannya dari kehidupan malam yang mencekik.
Tapi insting bertahan hidup Lyra berteriak memperingatkan. Tidak ada uang sebesar ini yang datang tanpa risiko mematikan.
"Kenapa saya?" tanya Lyra akhirnya, suaranya kini lebih stabil, menuntut kejelasan. Ia meletakkan kembali cek itu ke atas meja, meski enggan melepaskan pandangannya dari sana. "Kita tidak saling kenal. Anda tiba-tiba menghubungi saya, mengundang saya ke tempat elit ini, dan menyuruh saya..." Ia memberi jeda, seolah kata-kata itu menjijikkan untuk diucapkan. "...menjadi pelakor untuk suami Anda sendiri?"
Aurelia mengambil cangkir teh Earl Grey-nya, menyesapnya perlahan sebelum menjawab.
"Karena kamu adalah kandidat yang paling masuk akal," jawab Aurelia santai. "Kamu cantik, Lyra. Tapi bukan cantik yang mengintimidasi. Kamu punya aura kepolosan yang membuat pria ingin melindungimu. Namun, di balik mata rusa yang ketakutan itu..." Aurelia menatap tepat ke manik mata Lyra, "...aku tahu ada ambisi yang kelaparan. Kamu butuh uang, dan kamu cukup pintar untuk tidak banyak bertanya jika harganya sepadan."
Lyra mengepalkan tangannya di bawah meja. "Anda menyelidiki saya."
"Tentu saja. Aku tidak melempar dadu untuk urusan sepenting ini."
Aurelia membuka tas clutch di pangkuannya, mengeluarkan sebuah foto seukuran kartu pos, dan membaliknya ke arah Lyra.
"Kenali targetmu," ucap Aurelia.
Lyra menunduk. Di foto itu, tampak seorang pria dalam balutan setelan jas charcoal tiga potong yang terlihat sangat mahal. Pria itu memiliki rahang yang tegas, hidung mancung, dan sepasang mata elang yang menatap tajam ke arah kamera. Meskipun hanya sebuah foto, Lyra bisa merasakan aura dominasi dan es yang memancar dari pria tersebut.
Mata Lyra membelalak saat ia menyadari siapa pria di foto itu. Semua orang di kota ini, bahkan yang hidup di jalanan sekalipun, tahu wajah itu.
"Adrian Halcyon Pratama..." gumam Lyra, darahnya terasa surut. "Pewaris tunggal Halcyon Group."
Lyra mengangkat kepalanya dengan cepat, menatap Aurelia dengan ngeri. "Anda gila. Anda... Nyonya Aurelia Halcyon. Anda istri sahnya."
"Tepat sekali."
"Kalau begitu Anda benar-benar gila!" Lyra setengah mendesis, mencondongkan tubuhnya ke depan. "Suami Anda adalah salah satu pria paling berkuasa di negara ini. Kalau dia tahu saya mencoba menjebaknya, dia bisa melenyapkan saya tanpa sisa! Dan Anda... kenapa Anda ingin menghancurkan rumah tangga Anda sendiri? Bukankah wanita lain di posisi Anda akan melakukan apa saja untuk menyingkirkan lalat, bukannya malah mengundang mereka masuk?"
Aurelia bersandar di kursinya, mengabaikan letupan kepanikan Lyra. Di dalam dadanya, ada kebas yang sudah lama menetap. Lyra tidak tahu apa-apa. Gadis ini tidak tahu bagaimana rasanya terjebak dalam pernikahan tanpa sentuhan selama tiga tahun. Ia tidak tahu dinginnya ranjang yang dibiarkan kosong, atau tatapan merendahkan dari keluarga besar Halcyon yang menganggap Aurelia hanyalah parasit pemoles citra.
Dan yang paling penting, Lyra tidak tahu bahwa Adrian—pria yang terlihat sempurna di luar sana—adalah monster tenang yang mengurung Aurelia dalam kebisuan.
Tapi Aurelia tidak perlu menjelaskan semua luka itu. Emosi adalah kelemahan, dan Aurelia sudah lama berhenti menjadi makhluk yang lemah.
"Itu bukan urusanmu, Lyra," potong Aurelia dengan nada yang mengakhiri semua bantahan. "Pekerjaanmu bukan untuk menganalisis pernikahanku. Pekerjaanmu adalah membuat suamiku menatapmu, tertarik padamu, dan akhirnya... membawa saksi bahwa dia mengkhianatiku."
"Bagaimana kalau saya menolak?"
"Kamu bisa berdiri sekarang, keluar dari pintu itu, dan kembali ke apartemen kumuhmu. Besok, penagih utang akan datang lagi, dan kali ini mereka mungkin tidak hanya mematahkan meja ruang tamumu." Aurelia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sama sekali tidak mencapai matanya. "Pilihan ada di tanganmu. Tapi penawaran ini hanya berlaku satu kali."
Ruangan itu kembali hening. Ketegangan menggantung tebal di udara, seolah menekan dada Lyra. Ia menatap wajah dingin Aurelia, lalu menatap cek di atas meja. Jutaan pikiran berkelebat di benaknya. Uang ini adalah jalan keluarnya. Tapi masuk ke dalam pusaran keluarga konglomerat ini sama saja dengan masuk ke kandang singa.
"Pria seperti Adrian Halcyon..." Lyra memulai lagi, mencari celah. "...dia tidak akan mudah tergoda. Dia pasti sudah melihat ratusan wanita yang jauh lebih cantik, lebih kaya, dan lebih agresif dari saya."
"Itu benar," Aurelia membenarkan. "Itulah sebabnya aku yang akan melatihmu."
Alis Lyra bertaut. "Melatih saya?"
"Aku istrinya. Aku menghabiskan tiga tahun mengamati setiap kebiasaannya, apa yang dia sukai, apa yang dia benci, bagaimana cara dia minum kopi, parfum apa yang membuatnya menoleh, dan tipe wanita seperti apa yang bisa meruntuhkan tembok arogansinya." Mata Aurelia sedikit menggelap, menyembunyikan kilatan manipulasi yang mematikan. "Pria seperti suamiku tidak jatuh cinta pada wanita baik-baik. Dia butuh teka-teki. Dan aku akan mengubahmu menjadi teka-teki yang paling memabukkan untuknya."
Lyra menggigit bibir bawahnya. Ada sesuatu yang mengerikan dari cara Aurelia membicarakan suaminya. Tidak ada cinta, tidak ada benci, hanya kalkulasi dingin seolah Adrian adalah sebuah bidak catur yang harus disingkirkan dari papan.
"Anda benar-benar ingin melihatnya hancur, ya?" gumam Lyra, lebih kepada dirinya sendiri.
"Aku hanya ingin mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku," jawab Aurelia penuh teka-teki.
Lyra mengembuskan napas panjang. Keputusasaan mengalahkan ketakutannya. Dengan gerakan pelan namun pasti, ia mengulurkan tangannya dan menarik amplop itu ke sisinya.
Melihat itu, bahu Aurelia sedikit mengendur, meski posturnya tetap kaku. Permainan telah resmi dimulai. Bidak pertamanya sudah melangkah ke dalam papan.
"Baiklah, Nyonya," ucap Lyra sambil menyimpan amplop itu ke dalam tasnya. Matanya kini menatap Aurelia dengan keberanian baru—keberanian seseorang yang tidak lagi punya apa-apa untuk dipertaruhkan. "Saya akan melakukannya. Saya akan membuat suami Anda bertekuk lutut."
Lyra bangkit dari kursinya. Namun sebelum ia melangkah pergi, sebuah pikiran mengganggunya. Ia menatap istri sah dari pria yang akan digodanya itu. Ada rasa penasaran yang menggelitik, sebuah lubang dalam logika rencana gila ini.
"Satu pertanyaan terakhir, Nyonya."
Aurelia mengangkat wajahnya. "Apa?"
Lyra mencondongkan tubuhnya, menatap lurus ke dalam mata Aurelia yang sedingin es. "Rencana Anda sangat rapi. Anda mengajari saya segalanya tentang dia. Tapi... Anda sadar kan, saya bermain dengan api? Bagaimana kalau rencana ini terlalu berhasil?"
Aurelia diam, wajahnya tidak menunjukkan emosi apa pun.
"Maksud saya..." lanjut Lyra, suaranya sedikit memelan, memancing reaksi. "...bagaimana kalau Adrian Halcyon benar-benar jatuh cinta pada saya? Bagaimana kalau pesona yang Anda ciptakan untuk saya ini membuat dia mabuk kepayang sampai dia rela membuang semuanya demi saya? Anda tidak takut kehilangan dia sungguhan?"
Bibir Aurelia sedikit melengkung ke atas, bukan sebuah senyum kebahagiaan, melainkan senyum miris yang membekukan darah. Suara hujan di luar seolah mereda, memberikan panggung utama pada kalimat balasan yang keluar dari bibir wanita itu.
Aurelia menatap mata Lyra tanpa berkedip, meletakkan cangkir tehnya dengan bunyi clink pelan namun tajam yang bergema di keheningan ruangan.
Aurelia berkata dengan tenang:
"Tenang saja… dia memang harus berselingkuh."
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar