Sudah tiga tahun Aurelia Viretta Maheswari menikah dengan Adrian Halcyon Pratama.
Namun bahkan para pelayan di rumah besar itu tahu satu hal yang tidak pernah dikatakan siapa pun dengan lantang.
Tuan dan Nyonya Halcyon tidur di kamar yang berbeda.
Sinar matahari pagi menembus celah gorden sutra setinggi langit-langit di Sayap Timur kediaman Halcyon. Aurelia duduk di depan meja riasnya yang terbuat dari kayu mahoni, menatap pantulan dirinya di cermin berbingkai emas. Tidak ada kantung mata, tidak ada kerutan lelah, tidak ada jejak emosi. Wajahnya adalah kanvas kesempurnaan yang telah dilatih selama ribuan jam.
Ia memoleskan lipstik berwarna nude ke bibirnya, sentuhan terakhir untuk melengkapi dress selutut berwarna navy yang melekat pas di tubuh rampingnya. Penampilannya pagi ini, seperti pagi-pagi lainnya, adalah sebuah baju zirah. Di rumah seluas seribu lima ratus meter persegi yang terasa seperti mausoleum marmer ini, Aurelia tidak pernah diizinkan menjadi manusia. Ia adalah trofi. Ia adalah Nyonya Halcyon.
Sayap Timur adalah wilayah kekuasaannya, sebuah ruang kedap suara di mana ia bisa bernapas tanpa diawasi. Sementara di seberang lorong panjang berlapis karpet tebal itu, di Sayap Barat, adalah wilayah Adrian. Tiga tahun lalu, tepat di malam pertama pernikahan mereka, Adrian mengantarnya ke pintu kamar Sayap Timur, tersenyum sopan di hadapan para asisten rumah tangga, lalu berbalik tanpa sepatah kata pun menuju Sayap Barat.
Sejak malam itu, garis batas tak kasatmata ditarik. Pernikahan mereka adalah transaksi bisnis yang dibungkus dengan pita sutra, dipertontonkan di majalah gaya hidup, namun membusuk di dalam.
Aurelia bangkit dari kursinya, mengambil jam tangan Cartier dari laci, dan memasangkannya di pergelangan tangan kiri. Ia menarik napas panjang, menahan oksigen itu di paru-parunya selama tiga detik, lalu mengembuskannya perlahan. Masker telah terpasang. Peran sudah siap dimainkan.
Ketika ia menuruni tangga melengkung yang menuju ruang makan utama, keheningan menyambutnya. Hanya terdengar detak jam lantai antik yang menggema di seluruh penjuru ruangan. Para pelayan menunduk hormat saat ia lewat, tak ada satu pun yang berani menatap langsung ke matanya. Mereka tahu aturan tak tertulis di rumah ini: jadilah tidak terlihat.
Di ujung meja makan panjang yang terbuat dari marmer hitam Italia, Adrian sudah duduk.
Pria itu mengenakan kemeja putih bersih yang digulung rapi hingga siku, dasi sutra berwarna abu-abu gelap terpasang sempurna di lehernya. Ia sedang membaca sesuatu di tabletnya, sementara tangan kanannya memegang secangkir kopi hitam—tanpa gula, tanpa krim. Kebiasaan yang sudah Aurelia hafal di luar kepala.
"Pagi," sapa Aurelia dengan nada datar yang terlatih. Suaranya memecah keheningan, memantul di dinding ruang makan yang terlalu luas untuk dua orang.
Adrian tidak segera mendongak. Ia membalik halaman di tabletnya sebelum akhirnya meletakkan perangkat itu di atas meja. Mata elangnya yang tajam dan gelap menatap Aurelia. Tatapan itu selalu sama: menelisik, menilai, namun tidak pernah benar-benar hangat. Ada ketenangan mutlak di dalam diri Adrian yang selalu membuat lawan bicaranya merasa sedang diinterogasi tanpa kata-kata.
"Pagi, El," balas Adrian santai. Ia meraih serbet kain dan menyeka sudut bibirnya. "Tidurmu nyenyak?"
El. Panggilan yang terdengar manis bagi telinga orang luar, namun bagi Aurelia, itu tak lebih dari sekadar formalitas.
"Seperti biasa," jawab Aurelia sambil duduk di kursi seberang, dipisahkan oleh jarak meja sepanjang dua meter dari suaminya. Seorang pelayan dengan sigap menuangkan teh chamomile ke cangkirnya dan menyajikan sepiring salad buah, lalu segera mundur menghilang ke dapur.
Hening kembali merayap. Terdengar denting garpu perak yang beradu dengan piring porselen saat Aurelia menusuk sepotong stroberi. Di matanya, Adrian adalah teka-teki berdinding baja. Selama tiga tahun, Aurelia mencoba mencari kelemahan pria ini, celah dalam pertahanannya, namun Adrian selalu satu langkah di depan. Pria ini tidak pernah marah secara meledak-ledak, tidak pernah mabuk, tidak pernah membawa wanita lain ke rumah. Ia adalah pewaris konglomerat yang nyaris tanpa cela.
Dan justru kesempurnaan itulah yang paling mencekik Aurelia.
"Aku melihat tagihan kartu kreditmu dari butik Dior kemarin," Adrian memecah keheningan, suaranya bariton dan tenang. Tangannya meraih gelas air putih. "Ada acara khusus yang perlu aku ketahui?"
Aurelia tidak menghentikan kunyahannya. Ia menelan buahnya dengan anggun sebelum menjawab, "Hanya beberapa helai pakaian untuk melengkapi koleksi musim gugur. Ibu memintaku menemaninya ke acara amal yayasan lusa. Kau tahu bagaimana Nyonya Besar Halcyon tidak suka melihat menantunya memakai gaun yang sama dua kali."
Penyebutan nama ibu Adrian membuat suhu ruangan terasa turun beberapa derajat. Adrian menatap istrinya sedikit lebih lama. Mata pria itu menyipit, sebuah gestur kecil yang hampir tak terlihat jika Aurelia tidak menghabiskan tiga tahun hidupnya mempelajari pria ini. Adrian adalah seorang observer ulung. Ia menyerap setiap detail, setiap perubahan nada suara, setiap kedipan mata.
"Ibu memang terkadang terlalu menuntut," ucap Adrian pelan. "Tapi kau selalu tahu cara menanganinya, bukan?"
Kata-kata itu bukan pujian. Itu adalah sebuah pernyataan fakta, mungkin sedikit peringatan. Aurelia membalas tatapan suaminya tanpa berkedip. Di bawah meja, jemarinya mengepal kuat, menancapkan kuku-kuku berlapis cat kuku transparan itu ke telapak tangannya sendiri.
Ya, aku tahu cara menanganinya, batin Aurelia. Sama seperti aku tahu cara menangani putranya yang arogan ini.
"Ngomong-ngomong," Adrian kembali berbicara, menyela pergolakan batin istrinya. Ia melirik arloji Patek Philippe di pergelangan tangannya. "Besok malam adalah perayaan ulang tahun ke-40 Halcyon Group di ballroom hotel Ritz. Pastikan jadwalmu kosong. Kita akan menyapa para pemegang saham bersama. Media akan hadir."
"Tentu," jawab Aurelia mulus. "Apakah ada dress code warna tertentu yang ingin kau padankan denganku, Adrian?"
Adrian berdiri dari kursinya. Ia mengancingkan jasnya dengan gerakan elegan yang efisien. Pria itu menatap Aurelia dari atas, sebuah posisi dominan yang sangat disukainya.
"Pakai saja sesuatu yang... memukau. Berikan mereka ilusi Nyonya Halcyon yang sempurna," ucap Adrian datar.
Ia melangkah mendekati kursi Aurelia. Aroma parfum Tom Ford Oud Wood miliknya yang khas—kombinasi kayu, rempah, dan sesuatu yang maskulin namun dingin—langsung menyeruak, menginvasi indra penciuman Aurelia. Adrian berhenti tepat di belakang kursi istrinya.
Udara di sekitar mereka mendadak terasa padat. Aurelia menahan napasnya, tubuhnya menegang saat ia merasakan kehadiran suaminya begitu dekat. Sangat jarang Adrian melanggar batas ruang personal di antara mereka.
Tangan Adrian terulur, jemarinya yang panjang dan dingin menyentuh ringan puncak kepala Aurelia, seolah merapikan sehelai rambut yang bahkan tidak berantakan. Sentuhan itu tidak bermakna kasih sayang; itu adalah klaim kepemilikan. Gestur seorang majikan kepada burung kenari di dalam sangkar emasnya.
"Sampai jumpa nanti malam, El," bisik Adrian tepat di atas kepalanya.
Aurelia tidak menjawab. Ia hanya memejamkan mata sampai ia mendengar suara langkah kaki pantofel mahal Adrian menjauh, bergema di sepanjang lorong, dan akhirnya diikuti oleh suara pintu utama yang ditutup rapat.
Begitu mobil Maybach hitam yang membawa Adrian meninggalkan pelataran rumah, bahu Aurelia langsung merosot. Masker porselennya retak seketika. Ia mendorong piring saladnya yang baru tersentuh sedikit hingga bergeser kasar di atas meja marmer. Dadanya naik turun dengan cepat.
Tiga tahun kebisuan ini menggerogotinya dari dalam. Keluarga Halcyon memperlakukannya bak pajangan tak bernyawa, sementara suaminya sendiri memperlakukannya sebagai pion dalam papan catur bisnisnya. Dokumen perjanjian pranikah itu masih tersimpan rapi di brankas pribadinya—sebuah dokumen yang dengan licik mengikat tangan dan kakinya, memastikan Aurelia tidak akan mendapatkan satu sen pun jika ia mengajukan cerai tanpa alasan yang "dapat diterima oleh publik dan hukum".
Tapi jika Adrian yang melakukan kesalahan fatal? Jika pria sempurna itu tertangkap basah menghancurkan janji pernikahan mereka di depan mata dunia? Klausul itu akan berbalik. Halcyon Group akan berdarah, dan Aurelia akan menari di atas puing-puingnya.
Aurelia bangkit, meninggalkan ruang makan yang terasa makin dingin. Ia berjalan cepat menuju ruang kerja pribadinya di lantai dua. Ia mengunci pintu kayu jati padat itu dari dalam, memastikan tidak ada satupun pelayan yang bisa mengganggu.
Ruangan itu adalah satu-satunya tempat di mana ia memiliki kendali absolut. Di atas meja kerjanya, tersebar dokumen, profil perusahaan, dan beberapa map berwarna merah. Aurelia melangkah ke arah jendela besar yang menghadap ke taman belakang, menatap taman mawar yang tertata sempurna—indah di luar, penuh duri di dalam. Sama seperti hidupnya.
Ia meraih ponsel rahasianya dari dalam laci meja yang terkunci, sebuah ponsel prabayar yang tidak terdaftar atas namanya. Jemarinya dengan cepat menekan deretan angka yang baru dihafalnya kemarin.
Nada panggil terdengar tiga kali sebelum sebuah suara yang sedikit serak menjawab dari seberang sana.
"Halo, Nyonya Aurelia." Suara Lyra terdengar hati-hati, ada jejak keraguan yang kentara.
Aurelia tersenyum tipis. Senyum seorang sutradara yang sedang melihat aktor utamanya memasuki panggung.
"Lyra. Kuharap kau sudah mencairkan cek yang kuberikan kemarin," ucap Aurelia santai, sambil memutar kursi kulitnya.
"Sudah. Hutang-hutang ayah saya sudah lunas pagi ini. Dan... seperti kesepakatan kita, saya siap." Terdengar helaan napas panjang di ujung sana. "Apa langkah pertamanya? Anda bilang Anda akan melatih saya."
"Langkah pertama adalah menghancurkan penampilan murahmu," jawab Aurelia tanpa basa-basi, suaranya tajam seperti belati. "Sore ini, asisten kepercayaanku akan menjemputmu. Dia akan membawamu ke salon, dokter kulit, dan butik. Buang semua pakaian di lemarimu. Mulai detik ini, kau tidak memakai apa pun selain sutra dan kasmir."
"Nyonya, saya—"
"Dengarkan aku baik-baik, Lyra," potong Aurelia, nadanya merendah, penuh intimidasi. "Adrian Halcyon bukanlah pria yang bisa kau goda dengan rok mini dan belahan dada rendah. Dia membenci hal-hal yang vulgar. Dia menyukai keanggunan. Dia menyukai wanita yang terlihat seolah mereka tidak membutuhkan perhatiannya."
Aurelia bangkit, mondar-mandir di depan meja kerjanya. Matanya berkilat oleh antisipasi yang gelap. Rencana ini sudah disusunnya berbulan-bulan, menghitung setiap probabilitas, memetakan setiap reaksi psikologis suaminya.
"Saat kau melihatnya nanti, jangan langsung menatap matanya. Pria itu terbiasa dikejar. Kau harus menjadi pihak yang menarik diri. Biarkan dia yang penasaran. Biarkan dia yang bertanya-tanya siapa dirimu." Aurelia berhenti melangkah. Ingatannya melayang pada kebiasaan-kebiasaan kecil Adrian, pada detail-detail renik yang ia kumpulkan selama tiga tahun menjadi istri pajangannya. "Dan satu hal lagi... minta penata riasmu menggunakan lipstik berwarna crimson red, tapi tepuk-tepuk dengan tisu agar terlihat seperti rona alami. Suamiku punya ketertarikan aneh pada warna merah yang tidak terlalu mencolok."
Hening sejenak di seberang sana. Lyra jelas sedang mencerna semua instruksi itu. Menyadari betapa menakutkannya wanita yang sedang berbicara dengannya. Aurelia menelanjangi psikologis suaminya sendiri dan menyajikannya di atas piring perak untuk dirobek oleh wanita lain.
"Anda benar-benar mengenalnya dengan sangat baik," bisik Lyra, separuh kagum, separuh ngeri. "Jika Anda sangat memahaminya, mengapa hubungan kalian..." Lyra tidak melanjutkan kalimatnya, sadar bahwa ia mungkin melewati batas.
"Tugasmu bukan untuk mempertanyakan pernikahanku, Lyra. Tugasmu adalah menjadi kehancurannya," desis Aurelia. Hatinya berdenyut nyeri sejenak, sebuah rasa sakit tumpul yang sudah lama ia sangkal, namun ia segera menekan emosi itu dalam-dalam. Tidak ada ruang untuk hati yang lemah dalam permainan ini.
Ada keheningan panjang, hanya terdengar deru halus pendingin ruangan di ruang kerja Aurelia. Dinamika kekuasaan sudah terbentuk; Aurelia memegang tali boneka, dan Lyra hanyalah marionet yang akan menari mengikuti iramanya.
"Lalu... kapan saya harus mulai bergerak?" tanya Lyra akhirnya, suaranya kini lebih mantap, seolah telah menerima nasibnya dalam skenario berdarah dingin ini.
Aurelia berjalan ke arah kalender meja, menatap tanggal yang dilingkari dengan tinta merah tebal. Matanya menyipit, membayangkan wajah sempurna suaminya saat pertahanannya runtuh nanti. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Adrenalin dari manipulasi ini mulai menguasai aliran darahnya.
Aurelia menutup telepon setelah berbicara dengan Lyra.
Dengan suara tenang dia berkata pada ruang kosong:
“Besok malam ada pesta besar di Halcyon Group.”
Dia berhenti sejenak sebelum menambahkan dengan nada dingin yang mengiris keheningan kamarnya:
“Di situlah kamu pertama kali bertemu suamiku.”
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar