Lyra Celestine Wardhana tahu bahwa ini adalah momen yang menentukan.
Di depannya berdiri Adrian Halcyon Pratama — pria yang menjadi pusat dari seluruh rencana aneh yang disusun oleh istrinya sendiri.
Tatapan Adrian tenang, tajam, dan seolah mampu membaca lebih banyak dari yang seharusnya.
“Kita pernah bertemu sebelumnya?” tanyanya lagi dengan suara rendah.
Waktu seakan melambat. Tangan besar Adrian masih mencengkeram lengan atas Lyra, sebuah sentuhan yang mengirimkan sengatan listrik asing ke kulitnya yang terbalut sutra zamrud. Aroma Tom Ford Oud Wood—kombinasi kayu yang maskulin, dingin, dan mahal—menguar dari tubuh pria itu, mengintimidasi namun entah bagaimana begitu memabukkan.
Satu detik.
Lyra menahan napasnya, menatap lurus ke dalam sepasang mata elang yang sedingin dasar lautan itu.
Dua detik.
Ia tidak menunduk. Ia membiarkan kilat terkejut di matanya memudar, digantikan oleh raut wajah datar yang elegan. Persis seperti yang diajarkan Nyonya Halcyon.
Tiga detik.
Dengan gerakan lambat dan halus, Lyra menarik lengannya dari cengkeraman Adrian. Tidak ada kepanikan, tidak ada jeda canggung, dan tidak ada permintaan maaf yang terbata-bata. Ia hanya merapikan letak gaunnya sekilas, lalu membalas tatapan pria itu dengan alis sedikit terangkat.
"Saya rasa tidak, Tuan," jawab Lyra. Suaranya diatur pada nada terendah yang ia bisa, meluncur tenang di bawah hiruk-pikuk musik gesek Vivaldi yang mengalun dari panggung utama. "Jika kita pernah bertemu, saya pasti mengingatnya."
Itu adalah jawaban yang dirancang untuk menjadi pedang bermata dua. Sopan, namun menolak dominasi Adrian secara halus.
Mata Adrian sedikit menyipit. Ada kilatan observasi yang sangat tajam di sana, seolah ia sedang menguliti setiap lapisan ekspresi Lyra. Pria itu melirik gelas sampanye di tangan Lyra yang isinya sedikit bergoyang akibat insiden kecil tadi, lalu kembali menatap wajahnya.
"Begitukah?" Sudut bibir Adrian berkedut, membentuk senyum asimetris yang sangat tipis. Sebuah senyum yang entah mengapa membuat pria itu terlihat jauh lebih berbahaya daripada saat ia memasang wajah datar. "Ingatanku biasanya tidak pernah salah untuk wajah yang... menarik."
Lyra merasakan jantungnya memukul tulang rusuknya dengan keras. Dia memakan umpannya. Namun, Lyra tahu ia tidak boleh lengah. Ia teringat peringatan Aurelia di ruang fitting VIP: Jangan biarkan dia merasa sudah memenangkanmu. Biarkan dia yang mengejar.
"Mungkin Anda salah mengingat saya dengan orang lain," Lyra membalas santai, memutar tubuhnya sedikit, bersiap untuk pergi. "Ada banyak wajah menarik di ruangan ini malam ini. Permisi."
Lyra baru melangkah setengah ayunan ketika suara bariton itu kembali menahannya.
"Tunggu."
Langkah Lyra terhenti. Ia menoleh dari balik bahunya, membiarkan gaun sutra berpotongan punggung terbuka itu melakukan keajaibannya—sebuah statement visual yang dirancang khusus untuk merobek perhatian Adrian dari apa pun di ruangan megah ini.
"Anda hampir menumpahkan sampanye Anda karena kecerobohanku," ucap Adrian. Pria itu memberi isyarat tanpa suara pada seorang pelayan yang kebetulan melintas dengan nampan. Dengan gerakan elegan, Adrian mengambil dua gelas Dom Pérignon baru. "Biarkan aku menggantinya. Setidaknya, sebagai bentuk permintaan maaf karena telah menghalangi jalanmu."
Lyra menatap gelas kristal yang disodorkan padanya. Ia ragu sejenak—sebuah keraguan murni, karena aura intimidasi Adrian benar-benar terasa menyesakkan dada. Akhirnya, ia menerima gelas itu, memastikan ujung jemarinya tidak bersentuhan dengan kulit Adrian.
"Terima kasih," ucap Lyra singkat.
"Adrian," pria itu mengulurkan tangan kirinya, memperkenalkan diri secara formal. "Adrian Halcyon."
Tentu saja Lyra tahu. Seluruh orang di kota ini tahu siapa dia. Namun Lyra memasang raut wajah biasa saja, menolak untuk terkesiap atau menyanjung nama besar itu. Ia menyambut uluran tangan itu dengan jabat tangan singkat yang mantap. Kulit Adrian terasa hangat, sebuah ironi yang kontras dengan sikapnya yang dingin.
"Lyra," jawabnya pendek. Sesuai instruksi Aurelia: Jangan berikan identitasmu dengan mudah. Jangan sebutkan nama belakangmu.
"Hanya Lyra?" Adrian mengangkat sebelah alisnya.
"Hanya Lyra," ulangnya dengan tenang.
Pria itu memiringkan kepalanya sedikit. Mata tajamnya menelisik gaun zamrud yang dikenakan Lyra, merayap naik ke lehernya yang polos tanpa perhiasan, dan akhirnya mengunci kembali pada manik matanya. Lyra merasa seperti sedang di-X-ray. Tidak ada pria yang pernah menatapnya dengan cara seperti ini—sebuah analisis mendalam, bukan sekadar tatapan sarat nafsu.
"Kau tidak memakai perhiasan di acara sebesar ini, Lyra," komentar Adrian santai, menyesap sampanyenya tanpa memutus kontak mata sedetik pun. "Sengaja ingin tampil beda, atau kau merasa tidak ada perhiasan yang pantas untuk melengkapi gaun itu?"
Lyra tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh rahasia yang ia latih berjam-jam di depan cermin apartemen kumuhnya. "Saya selalu percaya bahwa wanita yang membutuhkan berlian untuk menarik perhatian, sebenarnya tidak memiliki apa pun untuk ditawarkan selain hartanya."
Kata-kata itu meluncur tajam, sebuah hinaan terselubung bagi mayoritas tamu sosialita di ruangan ini. Namun alih-alih tersinggung, tawa pelan yang dalam meluncur dari tenggorokan Adrian. Pria itu benar-benar tertawa tipis.
"Jawaban yang sangat berani," gumam Adrian.
Dan tepat pada detik itu, Lyra melihatnya.
Tangan kiri Adrian yang memegang gelas sedikit turun, lalu ibu jarinya bergerak perlahan... mengusap kancing manset ganda di pergelangan tangannya.
Strike.
Dada Lyra membuncah oleh kemenangan. Aurelia benar! Insting predator pria ini telah terpancing. Adrian tertarik. Ia merasa tertantang oleh wanita misterius tak bernama yang berani menceramahinya tentang berlian di pestanya sendiri.
Tanpa sadar, mata Lyra melirik melintasi ruangan ballroom. Di sudut yang sedikit redup, bersandar anggun di dekat pilar berukir es, berdiri sosok Aurelia Viretta Maheswari. Wanita itu sedang menatap ke arah mereka, menyesap sampanyenya dengan gerakan pelan nan elegan. Dari jarak sejauh ini, Lyra tidak bisa melihat ekspresi matanya, namun postur tubuh Aurelia meneriakkan kepuasan mutlak seorang sutradara yang melihat aktornya mengeksekusi naskah tanpa celah.
Lyra kembali memusatkan perhatian pada Adrian. Permainan belum selesai. Ia harus terus mengulur benang layang-layang ini hingga ke batas maksimal sebelum memutuskannya.
"Berani, atau hanya jujur?" Lyra merendahkan suaranya, membiarkan aura misterius membungkus setiap kata-katanya. "Di dunia Anda, batas antara keduanya mungkin sudah sangat bias, Tuan Halcyon."
"Mungkin kau benar," Adrian melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka satu sentimeter lebih dekat. Udara di sekitar mereka mendadak terasa padat. Tamu-tamu lain, hiruk-pikuk obrolan bisnis, dan alunan Vivaldi seolah memudar menjadi latar belakang abu-abu yang tidak penting. "Di duniaku, sangat sulit menemukan sesuatu yang... murni. Semuanya adalah transaksi. Semuanya memiliki agenda."
"Lalu apa agenda dari obrolan kita malam ini?" Lyra membalas tatapannya, tidak mundur selangkah pun. Ia membiarkan dagunya sedikit terangkat, menantang pria itu secara terbuka.
Adrian menatap bibir merah Lyra sejenak sebelum kembali menatap matanya. "Waktumu. Aku ingin tahu lebih banyak tentang wanita yang berani menabrakku dan menolak memberikan nama belakangnya."
Lyra merasa berada di atas angin. Rencana ini berjalan terlalu sempurna. Ia telah berhasil menjerat perhatian pria paling arogan di ruangan ini, memisahkannya dari istri sempurnanya, dan membuat pria itu sendirilah yang meminta lebih. Ini adalah puncaknya.
"Maaf mengecewakan Anda, Tuan Halcyon," Lyra mengulas senyum terbaiknya—senyuman menawan yang memancarkan penolakan halus. "Tapi seperti yang saya bilang, saya tidak merasa kita pernah bertemu, dan saya tidak berniat memperpanjang obrolan dengan pria yang sudah memiliki cincin di jari manisnya."
Itu adalah pukulan telak. Penolakan pamungkas untuk mengunci rasa penasaran Adrian hingga ke ubun-ubun. Lyra memutar tubuhnya, bersiap meninggalkan Adrian yang pastinya akan terdiam, tercengang, dan kemudian mencarinya dengan gila-gilaan esok hari.
Lyra mengambil satu langkah. Kemenangan sudah berada di pelupuk matanya.
Namun, Adrian tidak membiarkannya pergi.
Dengan gerakan yang sangat cepat dan presisi tinggi hingga tak menarik perhatian tamu di sekitar mereka, Adrian melangkah menyamping, memblokir jalan Lyra sepenuhnya. Pria itu kini berdiri begitu dekat, menginvasi ruang personal Lyra tanpa ragu. Aura yang dipancarkannya bukan lagi ketertarikan seorang pria yang tergoda oleh visual cantik, melainkan dominasi absolut seorang predator yang telah mengunci mangsanya di sudut tebing.
Napas Lyra tercekat. Matanya membelalak sedikit saat ia mendongak menatap wajah Adrian. Tidak ada senyum geli di sana. Tidak ada raut pria arogan yang egonya terluka karena ditolak.
Yang ada hanyalah raut wajah sedingin es, setajam silet yang siap menyayat. Mata elang itu menatap lurus ke kedalaman jiwa Lyra, menembus dinding pertahanan, dan melucuti semua topeng misterius yang ia kenakan susah payah malam ini.
Jantung Lyra berpacu gila-gilaan. Insting jalanannya berteriak memperingatkan. Ada yang salah. Sesuatu yang sangat salah.
Adrian menundukkan wajahnya. Pria itu menyandarkan sedikit tubuhnya ke arah Lyra, memberikan ilusi visual kepada siapa pun yang melihat dari jauh bahwa mereka sedang berbagi bisikan mesra di tengah pesta. Bau mahalnya memenuhi paru-paru Lyra, mencekiknya dengan kepanikan yang mendadak melumpuhkan kerongkongannya.
Adrian tiba-tiba melangkah lebih dekat pada Lyra.
Begitu dekat hingga suaranya hampir seperti bisikan.
Kemudian dia berkata dengan nada tenang yang membuat jantung Lyra berhenti berdetak sejenak.
“Istriku yang mengirimmu, kan?”
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar