Malam itu adalah malam pertama seorang istri dengan sengaja mencoba menghancurkan pernikahannya sendiri.
Aurelia Viretta Maheswari berdiri di tengah ballroom mewah yang dipenuhi lampu kristal dan para tamu elite.
Di sampingnya, Adrian Halcyon Pratama tampak seperti pewaris sempurna yang dikagumi semua orang.
Tidak ada seorang pun di ruangan itu yang tahu bahwa malam ini adalah awal dari permainan yang berbahaya.
Kilatan blitz kamera dari deretan wartawan ekonomi dan majalah sosialita menyambar bertubi-tubi sejak kaki Aurelia melangkah turun dari Rolls-Royce Phantom hitam. Udara malam kota metropolitan yang sedikit lembap langsung tergantikan oleh aroma parfum mahal, mawar putih, dan sampanye saat mereka berjalan menyusuri karpet merah menuju pintu utama Ritz Hotel.
Tangan kanan Adrian melingkar posesif di pinggang Aurelia. Di mata puluhan pasang mata dan lensa kamera, cengkeraman itu terlihat seperti pelukan protektif seorang suami yang memuja istrinya. Namun bagi Aurelia, jemari Adrian yang menekan gaun sutra hitamnya terasa seperti rantai besi.
"Senyummu terlalu kaku, El. Kamera majalah Tatler ada di arah jam tiga," bisik Adrian. Suaranya rendah dan mengalun merdu, kontras dengan perintah dingin yang disampaikannya. Pria itu bahkan tidak menoleh ke arahnya, tetap mempertahankan senyum karismatik ke arah para wartawan.
Aurelia memiringkan kepalanya sedikit, seolah sedang mendengarkan bisikan mesra. "Aku sedang memikirkan harga saham Halcyon Group yang turun setengah persen pagi ini, Adrian. Bukankah itu pantas mendapat senyum yang sedikit kaku?"
"Saham kita akan naik dua persen besok pagi setelah mereka melihat betapa harmonisnya pernikahan pewaris utama," balas Adrian tenang, merapatkan tubuh Aurelia ke sisinya hingga bahu mereka bersentuhan. "Kecuali kau berniat merusak pertunjukannya malam ini."
"Aku selalu menyelesaikan pekerjaanku dengan sempurna, Sayang," desis Aurelia pelan, mengulas senyum memukau tepat ke arah kamera majalah Tatler sebelum melangkah masuk ke dalam lobi utama.
Pintu ganda ballroom menjeblak terbuka, menyuguhkan pemandangan kemewahan absolut dari perayaan ulang tahun ke-40 Halcyon Group. Empat pilar es berukir logo perusahaan berdiri megah di sudut ruangan, sementara pelayan berseragam putih bergerak layaknya bayangan, membagikan gelas-gelas Dom Pérignon di atas nampan perak. Kuartet gesek di atas panggung kecil memainkan alunan Vivaldi yang mengiris kebanggaan orang-orang kaya di ruangan itu.
Baru lima langkah mereka memasuki ruangan, seorang pria paruh baya dengan jas tuxedo yang sedikit kesempitan menghampiri mereka dengan tawa menggelegar.
"Adrian! Aurelia! Ah, pasangan emas malam ini akhirnya tiba," sapa pria itu, mengulurkan tangan.
"Pak Haris," sapa Adrian dengan jabat tangan erat dan senyum yang tak mencapai mata. "Saya dengar istri Anda baru saja membuka galeri seni di Kemang. Selamat."
"Ah, kau tahu sendiri bagaimana wanita, Adrian. Selalu butuh mainan untuk menghabiskan waktu," kekeh Haris. Matanya beralih pada Aurelia, menatapnya dari atas ke bawah dengan penilaian terang-terangan yang membuat Aurelia muak. "Dan Nyonya Aurelia selalu terlihat luar biasa. Gaun hitam yang sangat... berani. Adrian, kau harus berhati-hati menjaga istrimu malam ini."
Aurelia mengukir senyum sopannya. "Terima kasih, Pak Haris. Dan jangan khawatir, Adrian menjaga asetnya dengan sangat ketat. Bukankah begitu?"
Aurelia menoleh pada suaminya, melempar pandangan penuh arti.
Adrian menatap istrinya sejenak, matanya sedikit menyipit—sebuah reaksi mikroskopis yang menangkap sinisme di balik kalimat wanita itu. "Istriku bukan sekadar aset, Pak Haris. Dia adalah fondasi kemampuanku untuk fokus pada bisnis. Dia menangani segala hal dengan... sangat rapi."
"Tentu, tentu! Kalian memang luar biasa," tawa Haris canggung, menyadari udara di antara suami istri itu mendadak terasa sedikit tajam. "Baiklah, saya tidak akan menahan kalian. Para menteri sudah menunggu di meja VVIP."
Begitu Haris berlalu, Aurelia menarik pinggangnya selangkah menjauh dari jangkauan Adrian.
"Pujian yang bagus, Adrian," ucap Aurelia, mengambil segelas sampanye dari pelayan yang lewat. "Fondasi, rapi, aset. Kosakatamu sangat romantis malam ini."
"Aku menyesuaikan diri dengan lawan bicara," jawab Adrian santai. Ia melirik arlojinya, lalu menatap kerumunan tamu. "Ibu ada di meja bundar sebelah kanan, sedang berbicara dengan keluarga Cendana. Kau harus menyapanya sebelum media membuat narasi bahwa kau menantu yang tidak berbakti."
Aurelia menahan dengusan. "Tentu. Aku akan memastikan untuk menunduk cukup rendah saat mencium tangannya."
"Lakukan dengan anggun, El. Jangan biarkan dia melihat durimu," bisik Adrian sebelum akhirnya berbalik karena seorang investor asing memanggil namanya dari arah meja champagne.
Aurelia berdiri sendirian di dekat pilar. Ia menyesap sampanyenya perlahan, membiarkan gelembung alkohol itu mendinginkan kerongkongannya. Pandangannya menyapu seluruh penjuru ballroom. Ia tersenyum, mengangguk pada beberapa istri pejabat yang meliriknya, namun pikirannya sepenuhnya fokus pada pintu masuk.
Lima belas menit berlalu. Percakapan demi percakapan basa-basi telah ia lewati.
Lalu, pintu ballroom kembali terbuka.
Di situlah dia.
Aurelia nyaris tersenyum miring saat melihat sosok yang baru saja melangkah masuk. Lyra Celestine Wardhana.
Wanita itu mengenakan gaun silk slip berwarna emerald green persis seperti yang Aurelia perintahkan di ruang ganti kemarin. Tidak ada berlian mencolok di lehernya, tidak ada riasan mata yang berlebihan. Rambut panjangnya ditata bergelombang jatuh ke satu sisi, mengekspos leher jenjang dan punggungnya yang mulus. Di tengah lautan wanita-wanita konglomerat yang berlomba memamerkan kekayaan dengan payet dan perhiasan, kesederhanaan Lyra justru membuatnya bersinar seperti batu zamrud di tengah tumpukan kaca.
Aurelia mengamati bagaimana beberapa pria di dekat pintu masuk menghentikan obrolan mereka, mata mereka secara naluriah tertarik pada sosok Lyra. Wanita itu tidak membalas tatapan mereka. Ia melangkah masuk dengan ketenangan yang sedikit gugup—sebuah kombinasi mematikan antara kerentanan dan keanggunan. Sempurna, batin Aurelia. Dia mengingat latihannya dengan baik.
Seorang sosialita muda, Siska, tiba-tiba muncul di samping Aurelia dan mengikuti arah pandangannya.
"Siapa wanita itu?" bisik Siska, matanya memicing menilai gaun Lyra. "Aku belum pernah melihatnya di acara yayasan mana pun. Gaunnya... astaga, dia bahkan tidak memakai kalung. Siapa yang membawanya masuk?"
"Mungkin dia putri salah satu klien baru dari luar kota," jawab Aurelia santai, tidak mengalihkan pandangannya dari Lyra. "Lagipula, kesederhanaan terkadang lebih menyita perhatian daripada berlian seberat lima karat, Siska."
Siska mendengus tersinggung sambil menyentuh kalung berlian tumpuk di lehernya. "Adrian di sebelah sana, ngomong-ngomong. Sedang dikelilingi oleh hiu-hiu properti. Kau tidak menemaninya, Rel?"
"Biarkan dia bekerja. Adrian selalu benci jika konsentrasinya diganggu saat membahas angka," kilah Aurelia. "Permisi, aku butuh udara segar."
Meninggalkan Siska yang kebingungan, Aurelia bergerak perlahan, memposisikan dirinya di sudut ruangan yang sedikit redup di dekat balkon pilar. Dari titik ini, ia memiliki pandangan tanpa halangan ke arah meja bundar utama tempat aneka minuman disajikan. Tempat di mana Adrian baru saja menyelesaikan diskusinya dan berjalan menuju meja champagne.
Jantung Aurelia mulai berdetak lebih cepat. Sensasi ini aneh. Ada ketegangan tajam yang merambat di sepanjang tulang belakangnya. Ia sedang menyaksikan suaminya sendiri digiring ke dalam jebakan mematikan yang ia bangun dengan tangannya sendiri.
Di seberang ruangan, Lyra menyadari posisi Adrian. Wanita bergaun hijau itu menatap lurus ke depan, pura-pura tidak menyadari kehadiran pewaris Halcyon Group tersebut. Sesuai instruksi Aurelia, Lyra berjalan lambat ke arah meja champagne yang sama, mengambil rute yang memotong jalur Adrian.
Aurelia menahan napas. Jemarinya mencengkeram kaki gelas kristal di tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.
Jangan menunduk. Jangan menunduk, Lyra, perintah Aurelia dalam hati saat jarak kedua orang itu semakin terkikis.
Adrian sedang menoleh ke arah seorang pelayan yang menawarkan nampan canapé, konsentrasinya terpecah selama dua detik. Waktu yang sangat krusial.
Lyra mempercepat langkahnya sedikit, menghitung presisi benturan.
"Maaf, Pak, apakah menu truffle-nya masih—" Adrian sedang berbicara pada pelayan itu.
Di detik yang sama, bahu telanjang Lyra bertabrakan dengan dada bidang Adrian.
Ketegangan di dada Aurelia meledak dalam antisipasi. Waktu di sekelilingnya terasa berjalan dalam gerak lambat.
Lyra berpura-pura tersandung dan hampir menjatuhkan gelas sampanye.
Adrian refleks menahannya sebelum gelas itu jatuh. Tangan kirinya yang besar dan kuat dengan cepat mencengkeram lengan Lyra yang terbalut sutra tipis, menarik wanita itu agar tidak kehilangan keseimbangan dan menumpahkan cairan keemasan itu ke karpet.
Napas Lyra sedikit tertahan, sebuah reaksi murni karena terkejut akan kekuatan cengkeraman Adrian. Bukannya menunduk sambil menggumamkan permintaan maaf yang panik seperti wanita pada umumnya, Lyra perlahan mendongak, persis seperti yang dilatihkan Aurelia.
Untuk beberapa detik, mata mereka bertemu.
Aurelia mengawasi dari kejauhan dengan tatapan elang. Ia melihatnya. Di tengah lautan manusia dan suara musik klasik yang mengalun, Adrian Halcyon terpaku. Pria yang tidak pernah kehilangan fokusnya itu membiarkan tangannya berada di lengan Lyra satu detik lebih lama dari yang dibutuhkan untuk sebuah kesopanan.
Adrian menatap Lyra dengan ekspresi sulit ditebak. Tatapan matanya yang biasanya tajam dan mengintimidasi kini menyipit, dipenuhi oleh observasi mendalam. Rahangnya sedikit mengeras saat ia menelisik mata Lyra yang menatapnya balik dengan keberanian yang rapuh. Tiga detik kontak mata yang mematikan berlalu tanpa satupun dari mereka memutus pandangan.
Aurelia melihat ibu jari tangan kiri Adrian perlahan bergerak, menyentuh kancing manset di pergelangan tangannya sendiri. Gestur bawah sadar itu muncul. Strike. Pria itu tertarik.
Kemudian dia berkata dengan nada tenang:
“Kita pernah bertemu sebelumnya?”
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar