Aurelia Viretta Maheswari menatap Lyra dari seberang meja dengan ekspresi tenang.

Kemudian ia berkata sesuatu yang membuat Lyra hampir menjatuhkan cangkir kopinya.

“Pria seperti suamiku tidak pernah jatuh cinta pada wanita baik-baik.”

Udara di dalam ruang fitting VIP butik haute couture itu mendadak terasa lebih dingin dari yang seharusnya. Lyra menelan ludah, buru-buru meletakkan cangkir porselen berbingkai emas itu kembali ke atas tatakannya sebelum isinya tumpah menodai karpet Persia yang diinjaknya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin tiga sisi, lalu kembali menatap Aurelia yang duduk anggun di sofa beludru, menyesap teh tanpa mengalihkan pandangan.

Saat ini, Lyra mengenakan gaun malam berwarna merah marun dengan belahan leher rendah dan potongan yang mengekspos paha kirinya. Untuk ukuran wanita simpanan atau penggoda kelas atas, gaun ini adalah senjata mematikan. Namun, di mata Aurelia, gaun itu tidak lebih dari sekadar tumpukan kain murahan yang gagal.

"Ganti gaun itu," perintah Aurelia, suaranya datar namun tak terbantahkan.

"Tapi, Nyonya..." Lyra menyentuh kerah gaunnya dengan ragu. "Warna merah selalu berhasil menarik perhatian pria. Bukankah Anda sendiri yang kemarin bilang suamimu punya ketertarikan pada warna merah?"

"Aku bilang warna merah yang tidak mencolok. Bukan merah menyala yang berteriak meminta perhatian dari ujung ruangan," potong Aurelia cepat, jemarinya yang lentik memberi isyarat pada asisten butik yang langsung bergegas mendekat. "Pria biasa, ya, mereka akan meneteskan liur melihat gaun seperti itu. Tapi Adrian Halcyon bukanlah pria biasa. Dia mengelola kerajaan bisnis bernilai triliunan. Setiap malam, dia menghadiri jamuan makan di mana lusinan wanita memakai gaun yang jauh lebih terbuka, jauh lebih mahal, dan jauh lebih agresif darimu."

Aurelia bangkit dari sofa, langkahnya gemulai namun penuh otoritas. Ia berjalan memutari Lyra, matanya menyapu siluet wanita muda itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tatapannya begitu mengintimidasi, membuat Lyra secara naluriah menahan napas.

"Pria seperti Adrian membenci hal yang mudah ditebak. Dia membenci keputusasaan. Dan gaun itu," Aurelia menunjuk pantulan Lyra di cermin, "menjeritkan keputusasaan. Gaun itu mengatakan, 'Lihat aku, sentuh aku, aku milikmu malam ini.' Adrian tidak butuh wanita yang menyerahkan diri padanya. Dia butuh wanita yang membuatnya merasa harus menaklukkan."

Aurelia menarik sebuah gaun silk slip berwarna emerald green dengan punggung terbuka dari rak. Potongannya sangat sederhana, tidak memiliki payet atau kristal, mengandalkan kualitas sutra murni yang akan jatuh memeluk lekuk tubuh dengan sangat natural.

"Pakai ini," Aurelia menyodorkan gaun itu. "Hijau zamrud akan menonjolkan warna kulitmu, dan punggung yang terbuka memberikan kesan rentan namun elegan. Dari depan, kau akan terlihat tertutup dan misterius. Namun saat kau berbalik pergi, kau akan meninggalkan jejak visual yang tidak bisa dia lupakan."

Lyra mengambil gaun itu tanpa membantah dan melangkah ke balik tirai ganti. Di dalam bilik sempit itu, tangannya sedikit gemetar saat melepas gaun merahnya. Kata-kata Aurelia terngiang di telinganya. Istri ini tidak sekadar menyiapkan skenario; dia sedang memahat Lyra menjadi senjata psikologis.

Beberapa menit kemudian, Lyra melangkah keluar. Sutra hijau itu membalut tubuhnya bagai air. Tidak berlebihan, namun setiap kali ia bergerak, kain itu mencetak lekuk tubuhnya dengan cara yang sangat memancing rasa penasaran.

Aurelia memperhatikan dalam diam. Matanya sedikit menyipit, mengukur proporsi siluet tersebut.

"Jauh lebih baik," gumam Aurelia. "Sekarang, duduk di kursi itu. Kita harus bicara tentang bahasamu."

Lyra menurut, duduk berhadapan dengan Aurelia. Ketegangan merambat di tulang belakangnya. Di ruangan yang dipenuhi gaun-gaun seharga mobil mewah ini, Lyra merasa seperti sedang diinterogasi di ruang bawah tanah.

"Besok malam, di ballroom Halcyon Group, kau tidak akan mendatanginya. Kau akan membiarkan takdir—atau lebih tepatnya, skenario yang kususun—yang mempertemukan kalian," Aurelia mulai menjelaskan, suaranya mengalun seperti melodi mematikan. "Akan ada insiden kecil. Kau akan menabraknya di dekat meja champagne."

"Menabraknya? Bukankah itu terlalu klise, Nyonya?" Lyra beranikan diri untuk protes.

"Terdengar klise jika kau meminta maaf dengan gugup dan memungut gelas yang pecah," bantah Aurelia dingin. "Tapi kau tidak akan melakukan itu. Saat bahumu menabrak dadanya, kau tidak akan menunduk. Kau akan mendongak."

Aurelia mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap tepat ke manik mata Lyra, memberikan contoh langsung.

"Jangan menatapnya dengan panik. Tatap matanya dengan sedikit rasa terkejut, lalu ubah ekspresimu menjadi datar. Tahan kontak mata itu maksimal tiga detik. Tidak lebih, tidak kurang. Pria arogan seperti suamiku terbiasa melihat wanita menundukkan pandangan, atau menatapnya terlalu lama dengan penuh pemujaan. Tiga detik adalah waktu yang cukup untuk menunjukkan kau menyadari keberadaannya, namun tidak cukup peduli untuk terpesona."

Lyra terpaku. Ia menatap mata Aurelia yang tenang, kelam, dan tidak terbaca. Wanita di depannya ini mengetahui setiap inci kelemahan psikologis suaminya.

"Setelah tiga detik," lanjut Aurelia, bersandar kembali ke kursinya, "kau berbalik dan pergi. Jangan menoleh ke belakang."

"Saya pergi begitu saja?" Lyra mengernyit. "Lalu bagaimana dia bisa tertarik kalau saya meninggalkannya?"

"Karena kau baru saja menolak otoritasnya secara diam-diam," jawab Aurelia santai. "Adrian adalah seorang predator alpha di dunia bisnis. Jika ada mangsa yang lewat di depannya tanpa menunjukkan rasa takut atau ketertarikan, insting berburunya akan menyala. Dia akan mencarimu di kerumunan itu. Dia yang akan datang padamu."

Sebuah keheningan panjang menggantung di udara. Hanya terdengar detak jam dinding antik di sudut ruangan. Lyra menelan ludah, mengusap telapak tangannya yang mendadak berkeringat ke kain sutra gaunnya.

"Lalu, saat dia mendatangi saya? Apa yang harus saya bicarakan?"

"Sedikit mungkin," jawab Aurelia cepat. "Saat kau berbicara, gunakan nada suara yang rendah. Jangan biarkan suaramu naik meski kau sedang gugup. Pria yang menghabiskan waktunya berteriak di ruang rapat tidak suka mendengar suara melengking. Bicaralah seolah kau memiliki rahasia yang tidak ingin didengar orang lain di ruangan itu. Dan jika dia bertanya siapa namamu..."

Aurelia memberi jeda yang dramatis, matanya memancarkan kilat berbahaya.

"...jawab dengan pertanyaan lain. Jangan berikan identitasmu dengan mudah. Biarkan dia menggunakan koneksinya untuk mencari tahu siapa dirimu. Semakin banyak usaha yang dia keluarkan untuk menemukanmu, semakin tinggi nilai investasinya padamu."

Lyra tidak bisa menyembunyikan rasa takjub yang kini bercampur dengan kengerian. Ia menyilangkan kakinya, menatap wajah cantik Aurelia yang tidak memiliki emosi.

"Bagaimana saya tahu kalau rencana ini berhasil, Nyonya? Bagaimana saya tahu dia benar-benar tertarik?" tanya Lyra, suaranya kini nyaris berupa bisikan.

"Perhatikan tangan kirinya," jawab Aurelia tanpa ragu sedetik pun. "Adrian selalu memakai jas dengan manset kancing ganda. Jika dia merasa tertarik, tertantang, atau sedang merencanakan sesuatu untuk menaklukkan lawan bicaranya... dia akan menyentuh kancing manset kirinya dengan ibu jarinya. Itu adalah tell-nya. Gestur bawah sadar yang tidak pernah dia sadari, tapi tidak pernah luput dari pandanganku."

Lyra mematung. Kata-kata itu menghantamnya dengan telak. Tangan kiri. Kancing manset. Gestur bawah sadar. Suasana di ruangan itu perlahan berubah. Lyra tidak lagi merasa seperti sedang dilatih oleh seorang wanita yang ingin membalas dendam pada suami yang dibencinya. Ia merasa sedang melihat seorang pemahat yang hafal setiap serat kayu dari mahakaryanya.

"Anda mengenalnya dengan sangat baik," gumam Lyra, kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibirnya sebelum ia sempat menyaringnya.

Aurelia tidak menjawab, hanya mengangkat cangkir tehnya dengan gerakan lambat dan elegan.

"Maksud saya..." Lyra mencondongkan tubuhnya ke depan, mengabaikan hierarki di antara mereka, terdorong oleh rasa penasaran yang tak tertahankan. "Anda tahu berapa detik dia menatap orang, Anda tahu nada suara seperti apa yang menenangkannya, Anda bahkan tahu kebiasaan jemarinya saat dia sedang tertarik. Nyonya, tidak ada wanita yang menghafal suaminya sedetail ini jika dia... jika dia tidak benar-benar memperhatikannya."

Tangan Aurelia yang memegang cangkir teh terhenti di udara selama sepersekian detik. Sebuah gestur yang sangat kecil, nyaris tak kasat mata, namun Lyra yang baru saja diajari tentang observasi berhasil menangkapnya.

"Observasi adalah alat bertahan hidup, Lyra," jawab Aurelia dingin, meletakkan cangkirnya dengan bunyi klik yang tajam. "Aku hidup di sangkar emas Halcyon. Jika aku tidak mengenali pergerakan predator di sekitarku, aku sudah hancur sejak tahun pertama pernikahanku. Jangan tertukar antara kewaspadaan dengan cinta."

Namun Lyra tidak mundur. Insting bertahannya sebagai wanita yang besar di jalanan memperingatkannya bahwa ada teka-teki yang sengaja disembunyikan Aurelia darinya.

"Tapi tetap saja..." Lyra menatap pantulan mereka berdua di cermin. Seorang istri yang sangat sempurna, dan seorang penggoda yang diciptakan dari cetakan pikiran sang istri itu sendiri. "Jika Anda tahu persis bagaimana cara meruntuhkan dinding pertahanannya, kenapa Anda tidak melakukannya sendiri? Kenapa Anda tidak memakai gaun hijau ini, menatapnya tiga detik, dan membuatnya jatuh cinta pada Anda? Kenapa Anda butuh saya untuk melakukan pekerjaan kotor ini?"

Rahang Aurelia mengeras. Udara di sekitarnya seolah membeku. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, Lyra melihat ada emosi mentah yang menembus topeng porselen Nyonya Halcyon. Bukan kemarahan yang meledak-ledak, melainkan luka yang sangat dalam, begitu dalam hingga telah bermutasi menjadi racun yang mematikan.

"Karena Adrian tahu aku adalah istrinya. Dia tahu siapa aku, dari keluarga mana aku berasal, dan untuk alasan bisnis apa pernikahan ini terjadi," suara Aurelia terdengar sangat pelan, nyaris mendesis, namun setiap suku katanya membawa beban kebencian yang berat. "Di matanya, aku bukanlah sebuah misteri. Aku adalah aset perusahaan yang sudah dia taklukkan dan dia simpan di brankasnya. Pria seperti suamiku tidak mengejar apa yang sudah menjadi miliknya."

Aurelia berdiri dari kursinya, berjalan mendekati Lyra. Aroma parfum Baccarat Rouge yang mewah dan berat menguar dari tubuh Aurelia, mengintimidasi indra penciuman Lyra.

"Kau adalah elemen kejutan, Lyra. Kau adalah anomali dalam hidupnya yang tertata rapi. Kau bukan berasal dari lingkaran sosialnya, kau tidak peduli pada saham Halcyon Group, dan yang terpenting... kau tidak memiliki masa lalu dengannya," ucap Aurelia, berhenti tepat di samping Lyra. Ia menatap pantulan wajah Lyra di cermin, lalu memegang pundak polos wanita itu. Sentuhannya dingin.

"Aku butuh suamiku menghancurkan dirinya sendiri dari dalam. Dan kau, Nona Wardhana, adalah racun manis yang akan kusuapkan ke mulutnya."

Lyra menatap wajah Aurelia dari pantulan cermin. Ada sesuatu yang sangat gelap di balik mata cantik majikannya itu. Rencana ini jauh lebih besar dari sekadar mencari alasan untuk bercerai. Ada manipulasi tingkat tinggi, sebuah permainan catur mental di mana Lyra hanyalah pion rapuh yang sewaktu-waktu bisa dikorbankan.

Beban dari tugas ini tiba-tiba terasa mencekik leher Lyra. Ia akan berhadapan dengan Adrian Halcyon, pria yang bahkan kebiasaan bawah sadarnya saja begitu mengintimidasi. Dan ia harus melakukannya sambil diawasi oleh istri pria itu sendiri—istri yang tahu segalanya.

Lyra akhirnya tidak bisa menahan pertanyaannya.

Dia menatap Aurelia dengan ragu sebelum berkata:

“Bagaimana kalau suamimu benar-benar jatuh cinta padaku?”

Aurelia tersenyum tipis.

Kemudian menjawab dengan suara yang sangat tenang.

“Itu justru yang aku inginkan.”