Aku tidak ingat bagaimana caraku bernapas selama sisa sore itu.
Setelah mendengar percakapan di balik partisi dapur, refleks pertamaku adalah mundur kembali ke dalam toilet. Aku mengunci pintunya nyaris tanpa suara. Tanganku mencengkeram tepi wastafel marmer begitu kuat hingga buku-buku jariku memutih.
Rizky? Senayan City? Gandengan tangan?
Otakku berusaha menolak memproses deretan kata itu. Pasti ada Rizky yang lain. Rizky suaminya Sinta dari blok depan? Rizky mantannya Maya waktu kuliah? Tapi suara Siska terngiang jelas: "Kasihan banget dia... padahal dia sering banget muji-muji Rizky di depan kita."
Hanya aku yang bersuami bernama Rizky di grup ini. Hanya aku yang selalu berkata, "Mas Rizky emang nggak romantis, tapi dia selalu pulang tepat waktu," setiap kali kami berkumpul.
Aku menatap cermin. Wajahku memucat. Mataku terlihat panik, seperti hewan yang terperangkap lampu kendaraan di tengah jalan. Aku mencoba menarik napas panjang, memasukkan oksigen paksa ke paru-paruku yang terasa menyusut.
Aku tidak boleh keluar dengan wajah seperti ini. Kalau aku keluar dengan mata berkaca-kaca atau marah, mereka akan tahu bahwa aku sudah mendengar. Dan entah kenapa, rasa malu membayangkan mereka menatapku dengan belas kasihan jauh lebih mengerikan daripada rasa marah saat ini.
Aku menyalakan keran lagi, mencuci muka, merapikan sedikit bedak yang mulai luntur. Aku menarik sudut bibirku di depan cermin. Berlatih tersenyum. Sekali. Dua kali. Sampai senyum itu terlihat cukup meyakinkan untuk menutupi gemuruh di dadaku.
Saat aku keluar dari toilet dan kembali ke teras belakang, percakapan mereka langsung terhenti sejenak sebelum dilanjutkan dengan intonasi yang terlalu ceria.
"Nah, ini dia yang ditunggu-tunggu! Pudingnya udah gue potongin nih, Wi. Ayo makan," seru Rina dengan tawa yang terlalu lebar. Ia menyodorkan piring kecil berisi puding puyo ke arahku.
Semua orang menatapku. Senyum mereka merekah lebar, terlalu lebar hingga mata mereka menyipit, berusaha keras terlihat natural.
"Makasih, Rin," ujarku, memaksakan senyum yang sama. Aku duduk di posisiku semula.
Sisa waktu satu jam di arisan itu terasa seperti siksaan neraka. Setiap kali aku mengangkat wajah, aku memergoki salah satu dari mereka sedang mencuri pandang ke arahku. Saat aku menoleh, mereka langsung membuang muka atau tiba-tiba sibuk mengaduk minuman.
Setiap kali aku bercerita tentang Daffa yang baru masuk TK, Nisa merespons dengan anggukan yang terlalu antusias. "Wah, pinter banget Daffa ya! Anak hebat emang!" Nadanya berlebihan. Seperti orang dewasa yang mencoba menghibur anak kecil yang baru saja menjatuhkan es krimnya.
Mereka semua memperlakukanku seolah aku terbuat dari kaca tipis yang akan pecah jika disenggol sedikit saja.
Pukul lima sore, aku menggunakan alasan Daffa rewel untuk pulang lebih awal. Tidak ada satu pun yang menahanku. Bahkan Siska mengantarku sampai ke pagar dengan wajah penuh kelegaan karena kecanggungan ini akhirnya berakhir.
Keesokan paginya, matahari bersinar terlalu terang seakan mengejek malamku yang tanpa tidur.
Semalam, Rizky pulang pukul sebelas malam. Aku sudah pura-pura tidur dengan membelakanginya. Dari balik selimut, aku mendengarkan setiap gerakannya. Suara ia meletakkan kunci mobil. Suara jasnya yang disampirkan ke kursi. Suara langkahnya ke kamar mandi. Dan saat ia merebahkan diri di sebelahku, wangi parfum woody-nya bercampur dengan bau asap rokok tipis—padahal Rizky tidak merokok dan ia bilang pertemuannya di dalam restoran tertutup.
Pagi ini, Rizky sudah berangkat kerja sebelum aku benar-benar siap menghadapinya. Ia sempat mencium keningku saat aku sedang menggoreng telur di dapur.
"Aku berangkat agak pagi ya, ada briefing jam 8," katanya tadi. Tidak ada yang aneh. Suaranya seratus persen stabil.
Kini, aku berdiri di halaman depan, menyiram aglonema koleksiku dengan selang air. Pikiranku masih tertinggal di percakapan Siska dan Maya. Apakah aku berhalusinasi? Apakah aku salah dengar? Mungkin aku hanya overthinking. Rizky tidak mungkin melakukan itu. Dia bahkan menabung gajinya ke rekening bersama yang aku pegang ATM-nya. Orang selingkuh butuh uang, kan?
"Pagi, Mbak Dewi!"
Sebuah suara melengking membuyarkan lamunanku. Aku menoleh. Mbak Nita, tetangga sebelah rumah yang punya bisnis catering rantangan, sedang berdiri di balik pagar. Ia membawa rantang susun pesanan langganannya.
Mbak Nita adalah pusat informasi RT kami. Kalau ada ayam tetangga yang hilang, Mbak Nita tahu siapa yang mengambilnya bahkan sebelum lapor RT. Dia tipe orang yang bisa berdiri di pagar selama setengah jam hanya untuk membahas mertua orang lain.
Aku mematikan keran air. "Pagi, Mbak Nita. Tumben udah rapi jam segini? Mau antar pesanan ya?"
Aku berjalan mendekati pagar, bersiap menerima obrolan panjangnya tentang harga cabai yang naik atau asisten rumah tangganya yang malas.
Namun, saat mataku bertemu dengan mata Mbak Nita, senyum di bibir wanita gempal itu mendadak kaku. Ia membenarkan letak jilbabnya dengan gestur gugup. Matanya melirik ke arah rumahku, lalu ke jalanan kosong, menghindari kontak mata denganku.
"Eh... iya nih, Wi. Mau antar ke blok C. Anu... ngejar waktu, ibunya mau berangkat kantor," jawabnya terbata-bata.
Aku mengerutkan kening. Mbak Nita tidak pernah terburu-buru. "Oh gitu. Mau mampir dulu nggak, Mbak? Aku baru bikin teh manis nih. Sini duduk dulu sebentar."
"Aduh, nggak usah, Wi. Kapan-kapan aja ya. Ini... eh, takut keburu dingin sayurnya." Ia tertawa pelan, tawa yang terdengar sangat kering.
Ini aneh. Mbak Nita biasanya akan memaksa masuk kalau ditawari minum.
"Tumben banget sih, Mbak. Biasanya juga Mbak Nita yang ngajakin ngerumpi pagi-pagi," godaku, mencoba mencairkan suasana.
Mbak Nita menggeser berat badannya dari kaki kiri ke kaki kanan. Tangannya yang memegang gagang rantang terlihat mencengkeram terlalu erat. "Iya... lagi banyak urusan aja, Wi."
Ia terdiam. Hening sejenak. Angin pagi meniup daun mangga di halaman rumahku, menimbulkan suara gemerisik.
Mbak Nita menelan ludah. Ia menatapku dengan sorot mata yang sulit kuartikan. Matanya menyusuri wajahku, dari rambut yang kuikat asal, turun ke daster batinku, lalu kembali ke mataku.
Ada kilat kasihan di sana. Kilat yang persis sama dengan tatapan Nisa di meja arisan kemarin.
"Wi..." panggil Mbak Nita pelan. Suaranya berubah. Tidak ada lagi nada melengking ceria.
"Iya, Mbak? Kenapa?" Jantungku mulai berdebar lebih cepat.
"Mas Rizky... akhir-akhir ini sibuk banget ya?" tanyanya hati-hati. Terlalu hati-hati, seperti sedang berjalan di atas ladang ranjau.
Aku menahan napas. "Iya, Mbak. Kerjaan kantor lagi banyak. Semalam aja pulangnya jam sebelas, ada meeting sama klien katanya. Kenapa emang, Mbak?"
Mbak Nita terdiam lagi. Mulutnya setengah terbuka, seolah ada kalimat yang sudah berada di ujung lidahnya dan siap dilontarkan. Ia menatapku lekat-lekat, rahangnya menegang. Ia hampir mengatakannya. Aku tahu dia hampir mengatakannya.
"Mbak? Ada apa?" desakku. Suaraku tanpa sadar sedikit naik.
Mbak Nita seolah tersadar. Ia buru-buru menutup mulutnya rapat-rapat, lalu menggelengkan kepala dengan cepat. Senyum palsu itu kembali terpasang secara paksa di wajahnya.
"Enggak, enggak apa-apa, Wi." Ia menepuk lenganku pelan dari balik pagar. "Cuma mau bilang... kamu yang sabar ya, Wi."
Kalimat itu menghantamku seperti godam.
"Sabar? Sabar kenapa, Mbak?" tanyaku menuntut, tanganku tanpa sadar mencengkeram besi pagar.
"Ya... sabar ngurus rumah, ngurus Daffa. Namanya ibu rumah tangga kan capek, pasti kadang ngerasa... ah, pokoknya yang sabar, yang kuat ya, Wi. Banyak berdoa. Suami didoain terus biar kerjanya bener." Mbak Nita berbicara tanpa jeda, semakin lama semakin cepat, seakan ingin segera kabur dari situasi ini. "Udah ya, Wi. Aku pamit dulu. Assalamualaikum!"
Tanpa menunggu jawabanku, Mbak Nita berbalik setengah berlari menuju motor matic-nya yang terparkir tak jauh dari situ.
Aku berdiri mematung di balik pagar.
"Kamu yang sabar ya."
Kenapa dia menyuruhku sabar? Kenapa dia menyuruhku mendoakan agar suamiku kerjanya 'bener'?
Aku berbalik, berjalan gontai masuk ke dalam rumah. Rumah ini mendadak terasa begitu sunyi dan dingin. Aku duduk di sofa ruang tamu. Tanganku merogoh saku daster, mengeluarkan ponsel.
Dengan tangan sedikit gemetar, aku membuka WhatsApp. Aku mencari nama Rizky di daftar kontak paling atas. Terakhir dilihat: 5 menit yang lalu.
Aku menekan tombol panggilan suara.
Satu nada sambung. Dua nada sambung. Tiga—
"Halo, Sayang?"
Suara Rizky mengudara. Begitu tenang. Begitu hangat. Di latar belakang, kudengar suara keyboard komputer yang diketik. Ia benar-benar sedang di kantor.
"Mas..." suaraku terdengar serak. Aku berdeham untuk menjernihkannya. "Lagi sibuk ya?"
"Lumayan nih, lagi nyiapin berkas buat meeting jam sepuluh nanti. Kenapa? Ada yang lupa diomongin tadi pagi? Atau kamu minta ditransfer buat belanja bulanan?" tanyanya ringan, diselingi kekehan kecil.
Aku memejamkan mata. Mendengar suaranya yang begitu normal membuatku merasa seperti orang gila. Apakah aku yang kehilangan kewarasanku?
"Enggak... cuma nanya aja. Mas, semalam... pertemuannya lancar?"
"Lancar dong. Kliennya agak rewel sih minta revisi desain, makanya sampai malam. Untung deal. Oh iya, nanti pulang aku bawain martabak manis kesukaan Daffa ya. Semalam mau beli tapi udah pada tutup."
Rizky berbohong atau dia jujur? Tidak ada sedikit pun nada ragu dalam penjelasannya. Ia terdengar seperti suami sempurna yang sedang bekerja keras untuk keluarganya.
"Iya... Mas. Ya udah, lanjutin kerjanya. Hati-hati ya," ujarku lemah.
"Oke, Sayang. Love you."
"Iya." Aku langsung memutus sambungan tanpa membalas ucapan cintanya.
Aku meletakkan ponsel di atas meja kaca. Kepalaku pening. Mungkin semua ini memang hanya kebetulan. Mungkin Nisa dan Siska sedang membicarakan orang lain. Mungkin Mbak Nita memang sedang simpati pada kelelahanku mengurus anak.
Aku mencoba menenangkan diri. Aku berdiri, berniat kembali ke halaman untuk membereskan selang air.
Namun, saat aku melirik ke luar dari jendela ruang tamu yang sedikit terbuka, langkahku terhenti.
Mbak Nita tidak langsung pergi naik motor. Ia kini sedang berdiri di depan rumah Bu RT yang berjarak dua rumah dariku. Keduanya tampak sedang mengobrol serius.
Dan saat aku terus menatap dari balik tirai tipis... Bu RT tiba-tiba menoleh, menatap tepat ke arah rumahku dengan pandangan nanar. Mbak Nita ikut menoleh, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. Bu RT menepuk bahu Mbak Nita pelan, seolah sedang menyetujui sesuatu yang menyedihkan.
Mereka membicarakanku.
Dadaku naik turun. Napasku kembali memburu. Aku mundur selangkah dari jendela, kakiku menabrak meja kaca hingga berbunyi nyaring.
Semua orang di perumahan ini, semua teman arisanku... mereka menatapku dengan mata yang sama. Mata yang menyimpan rahasia, rasa kasihan, dan kebohongan.
Aku menunduk, menatap layar ponselku yang gelap. Pantulan wajahku sendiri terlihat di sana. Wajah seorang istri yang selama delapan tahun merasa hidupnya sempurna, tanpa sadar bahwa ia sedang ditertawakan oleh dunia di belakang punggungnya.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar