Detik jarum jam dinding di ruang tengah terasa seperti pukulan palu godam di kepalaku. Satu. Dua. Tiga. Waktu seolah membeku, meninggalkan kami bertiga dalam keheningan yang mencekik.

Mata Rizky yang biasanya teduh kini membelalak. Jakunnya bergerak naik turun dengan susah payah. Tangannya yang masih berada di atas kepala Daffa terlihat kaku, seolah lupa cara bergerak.

Aku menatapnya. Tanpa berkedip. Menunggu.

"Ayah?" panggil Daffa lagi, menarik ujung kaus Rizky karena tidak mendapat jawaban. "Kok Ayah diam? Daffa mau main mobil-mobilan yang di laci mobil Ayah."

Rizky tersentak pelan. Seperti orang yang baru saja ditampar hingga sadar dari mimpi buruk. Ia buru-buru menarik tangannya dari kepala Daffa. Senyum itu kembali muncul. Sebuah senyum yang dipaksakan hingga urat di pelipisnya terlihat menegang. Tawa sumbang meluncur dari mulutnya, terdengar begitu kering dan menggema aneh di ruangan itu.

"Hahaha... aduh, jagoan Ayah ini ngelindur ya?" Rizky menoleh padaku, matanya bergerak liar mencari persetujuan, tapi tidak berani menatap tepat ke pupil mataku. "Daffa kebanyakan nonton YouTube nih kayaknya, Yang. Masa tiba-tiba nanyain tante wangi. Tante siapa coba?"

Aku menekan kuku-kukuku semakin dalam ke telapak tangan hingga terasa perih, menggunakannya sebagai jangkar agar aku tidak kehilangan kendali. Aku harus bermain cantik. Kalau aku meledak sekarang, dia akan berkelit. Dia pembohong yang terlalu cerdas untuk diserang tanpa bukti yang kuat.

"Oh... gitu ya?" ujarku. Suaraku keluar lebih tenang dari yang kuduga, meski terdengar agak serak. Aku memaksakan otot-otot wajahku untuk rileks, menarik sudut bibirku sedikit. "Bunda juga tadi bingung, Mas. Tiba-tiba Daffa cerita makan es krim sama tante-tante cantik. Aku pikir beneran."

Rizky menghela napas panjang, sebuah kelegaan yang begitu nyata terpancar dari wajahnya. Otot bahunya yang tadi menegang perlahan mengendur. Ia kembali menatap Daffa, kali ini dengan tatapan memperingatkan yang dibalut nada bercanda.

"Tuh kan, Bunda aja bingung. Kapan Ayah bawa kamu jalan-sama sama tante-tante? Orang kemarin kita cuma keliling timezone berdua, ya kan? Es krimnya juga kita beli yang di depan timezone itu, yang bapak-bapak yang jual." Rizky mencubit hidung Daffa agak keras. "Anak Ayah mimpinya kejauhan nih."

Daffa mengerutkan kening. Ia menepis tangan ayahnya dengan raut wajah kesal. "Ih, Ayah bohong! Kan beneran ada tante yang rambutnya ikal! Ayah suruh Daffa manggil Tante Rara—"

"Daffa." Nada suara Rizky mendadak turun satu oktaf. Dalam. Menekan. Tidak ada tawa di sana.

Daffa terdiam, matanya mengerjap kaget mendengar perubahan suara ayahnya.

"Ayah kan udah bilang, itu cuma orang lewat yang kebetulan bantuin Ayah bawain barang. Bukan jalan-jalan sama kita. Nggak usah ngarang cerita aneh-aneh di depan Bunda. Ngerti?"

Kata-katanya diucapkan dengan tenang, tapi aku bisa melihat bagaimana ujung jari Rizky mencengkeram lututnya sendiri. Ia sedang mengancam anak berusia lima tahun secara mental di depan mata ibunya sendiri.

Darahku mendidih. Aku ingin menendang meja kaca ini, meraih kerah bajunya, dan meludahi wajahnya. Rara. Nama wanita itu Rara. Dan suamiku baru saja membenarkan keberadaannya, mengubah narasinya menjadi 'orang lewat yang membantu membawakan barang'.

"Udah, udah, Mas," potongku cepat, berpura-pura menengahi sebelum Daffa menangis. Aku menggeser dudukku, menarik Daffa ke dalam pelukanku. "Namanya juga anak kecil, Mas. Imajinasi dia lagi tinggi. Mungkin dia gabungin memori orang lewat sama tontonan kartunnya. Nggak usah dimarahin gitu."

Aku mengusap punggung Daffa yang mulai menegang. "Udah ya, Sayang. Nggak apa-apa. Nanti kita beli es krim stroberi sama Bunda aja, ya?"

Rizky mengusap wajahnya dengan kedua tangan, membuang napas kasar. "Bukan marah, Yang. Aku cuma... kaget aja. Nanti kamu mikir yang aneh-aneh. Tahu sendiri kan, di kantor aku banyak urusan sama supplier luar, kadang ada aja yang sok akrab nyapa di jalan. Aku takut kamu salah paham."

"Salah paham gimana?" tanyaku pelan, menatap matanya dalam-dalam. "Emangnya ada yang perlu disalahpahami, Mas?"

Mata Rizky berkedip cepat. Ia memaksakan senyum lagi. "Ya enggak ada lah. Cuma jaga-jaga aja. Namanya gosip kan cepat nyebarnya."

Gosip. Kata itu berdenging di telingaku, mengingatkanku pada arisan kemarin. Rizky berdiri dengan canggung, mengambil handuk yang tadi terjatuh di karpet. "Ya udah, aku mandi dulu deh. Gerah banget. Habis ini kita cari bubur ayam, ya?"

Tanpa menungguku menjawab, ia berbalik dan setengah berlari menuju kamar utama. Meninggalkanku dengan Daffa yang masih merengut di pelukanku.

"Bunda... Daffa nggak bohong," bisik Daffa pelan, wajahnya tenggelam di bahuku.

"Bunda tahu, Sayang. Bunda tahu," bisikku membalasnya, suaraku nyaris tak terdengar, tenggelam oleh suara gemercik air shower dari kamar mandi.

Hari Senin tiba dengan rutinitas yang menyesakkan. Setelah mengantar Daffa ke TK, aku tidak langsung pulang. Alih-alih memutar mobil kembali ke rumah, aku mengarahkan kemudi menuju sebuah kedai kopi kecil bernuansa kayu yang letaknya tak jauh dari sekolah Daffa.

Aku sudah mengirim pesan pada Maya sejak pagi. Aku butuh mengobrol dengannya. Bukan di rumah arisan yang ramai, tapi empat mata. Maya adalah teman terdekatku di antara mereka berlima. Kami sudah saling kenal sejak sebelum aku menikah dengan Rizky. Jika ada satu orang yang mungkin memiliki sedikit sisa hati nurani untuk mengatakan kebenaran padaku, itu pasti Maya.

Kedai kopi itu masih sepi karena baru buka. Aku memilih meja di sudut ruangan yang menghadap ke jalanan, jauh dari meja kasir. Udara AC yang dingin menabrak kulit wajahku, tapi tidak bisa mendinginkan kepalaku yang terus berputar memikirkan nama 'Rara'.

Sekitar sepuluh menit kemudian, lonceng di atas pintu berbunyi. Maya masuk dengan kemeja oversized berwarna hijau sage dan celana kulot. Wajahnya terlihat tergesa-gesa. Ia celingukan sebentar sebelum matanya menangkap keberadaanku.

Senyumnya terlihat kaku saat ia berjalan mendekat.

"Hai, Wi. Sorry ya agak telat. Tadi jalanan depan komplek gue ada yang tabrakan dikit," ujarnya sambil menarik kursi di depanku. Ia meletakkan tas selempangnya di kursi kosong sebelahnya, dan menaruh ponselnya di atas meja dengan posisi layar menghadap ke atas.

"Nggak apa-apa, May. Gue juga baru nyampe kok. Udah gue pesenin pesenan lo biasa, iced caramel macchiato less sugar." Aku menunjuk gelas plastik berembun di depannya.

"Wah, thanks, Wi. Lo emang paling hafal," balas Maya, mengambil gelas itu dan mengaduknya pelan dengan sedotan. Matanya sibuk memperhatikan es batu yang berputar, sengaja menghindari tatapanku.

Kami terdiam selama beberapa menit. Maya sibuk menyesap kopinya seolah itu adalah air suci yang menyelamatkan nyawanya dari kehausan luar biasa, sementara aku hanya memutar-mutar cangkir hot latte-ku yang masih utuh.

"May," panggilku akhirnya.

Maya sedikit tersentak, bahunya menegang. "Y—ya, Wi? Kenapa?"

"Gue mau nanya sesuatu sama lo. Dan tolong, lo jawab jujur." Aku menatap lurus ke arahnya. "Lo temen gue dari zaman kita masih cari kerja ke sana-sini, May. Kita udah kenal jauh sebelum gue kenal Rizky."

Maya meletakkan kopinya. Wajahnya perlahan memucat. Ia menelan ludah dengan susah payah. Matanya mulai bergerak ke kiri dan ke kanan, gelisah. "Wi... lo... lo mau nanya apa? Kok serius banget tumben."

Aku menarik napas panjang, mencondongkan tubuhku ke depan. "Kemarin pas arisan di rumah Siska... gue dengar obrolan kalian dari balik partisi dapur, waktu gue di toilet."

Mata Maya membelalak. Mulutnya terbuka sedikit. Tangannya yang berada di atas meja mulai gemetar. Ia refleks menarik tangannya dan menyembunyikannya di bawah meja.

"Wi... gue..." Suara Maya tercekat.

"Gue denger, May. Gue denger Nisa hampir keceplosan. Gue denger Rina marahin Nisa. Dan gue denger lo bilang... sepupu lo lihat Rizky di Senayan City gandengan tangan," ucapku dengan suara rendah yang menuntut penjelasan. Dadaku terasa sesak saat mengulangi kalimat itu, mengutuk diriku sendiri karena membiarkan telingaku mendengarnya kembali dari mulutku sendiri.

Maya membeku. Wajahnya pias. Ia menggeleng pelan, panik. "Wi... i—itu... lo salah denger kali, Wi. Sumpah, kita... kita nggak ngomongin Mas Rizky kok. Lo salah paham."

"Salah paham?" Aku tersenyum pahit, meraskan mataku mulai memanas. "Lo pikir gue tuli, May? Lo sebut nama suami gue jelas-jelas."

"Enggak, Wi! Maksud gue... Rizky yang lain! Kemarin kan kita bahas—" Maya mulai meracau, suaranya naik setengah oktaf karena panik. Ia mulai mencari-cari alasan, persis seperti yang Rizky lakukan kemarin. "Iya, Rizky... Rizky mantan gue! Lo ingat kan? Si Rizky anak teknik itu. Iya, gue cerita ke anak-anak kalau sepupu gue lihat dia di Senayan City sama cewek lain padahal dia mau nikah. Iya, itu!"

Aku menatapnya dengan tatapan kosong. Kebohongan yang sangat buruk. Sangat transparan. Maya tidak pernah menyebut nama mantannya selama sepuluh tahun terakhir.

"May, please," suaraku bergetar. Pertahananku mulai runtuh. "Gue cuma butuh lo jujur. Cuma satu orang aja yang jujur sama gue. Apa benar suami gue... ada perempuan lain?"

Maya menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dadanya naik turun dengan cepat. Ia tidak berani menatap mataku. Kesunyian yang tercipta di antara kami menjadi jawaban paling lantang yang tidak pernah ia ucapkan.

"May... jawab gue." Aku memohon, suaraku nyaris pecah menjadi isakan.

"Wi, gue..." Maya menarik napas terputus-putus, mengangkat wajahnya yang kini tampak dipenuhi rasa bersalah. Matanya berkaca-kaca. "Gue nggak bisa, Wi. Gue nggak berani. Lo... lo tanya langsung aja ke Rizky. Jangan paksa gue."

"Kenapa nggak berani?!" suaraku meninggi tanpa sadar, membuat beberapa pelanggan di seberang ruangan menoleh ke arah kami. Aku buru-buru menurunkan volume suaraku. "Lo temen gue, May! Kalau lo tahu suami gue brengsek, kenapa lo diam aja? Kenapa kalian semua seolah ngetawain gue di belakang?!"

"Kita nggak ngetawain lo, Wi!" Maya ikut setengah berbisik dengan nada memohon. Air matanya menetes di pipi. "Kita kasihan sama lo! Tapi ini urusan rumah tangga lo, Wi. Kita orang luar. Siska bilang kita nggak boleh ikut campur, takutnya lo malah mikir kita mau ngerusak rumah tangga lo. Apalagi... apalagi Mas Rizky kelihatannya sempurna banget di depan lo."

"Jadi bener?" air mataku akhirnya tumpah, menetes hangat di pipiku. Nafasku tersengal. "Bener ada perempuan lain?"

Maya menutup wajahnya dengan kedua tangannya, terisak pelan. "Gue... gue ke toilet dulu, Wi. Gue minta maaf. Gue beneran minta maaf."

Ia berdiri dengan tergesa-gesa, mendorong kursinya ke belakang, dan berjalan setengah berlari menuju kamar mandi di belakang kasir. Ia tidak sanggup menghadapiku. Ia tidak membantah. Itu sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa kewarasanku belum hilang, bahwa instingku benar.

Aku mengusap air mataku dengan kasar menggunakan tisu meja. Dadaku terasa seperti ditindih balok beton berton-ton. Jadi semuanya benar. Rizky bermain di belakangku. Orang-orang di sekitarku tahu. Keluarganya tahu. Teman-temanku tahu.

Ting! Ting!

Suara notifikasi beruntun membuyarkan tangisku. Suara itu bukan dari ponselku, melainkan dari ponsel Maya yang tergeletak begitu saja di atas meja. Layarnya menyala terang, menampilkan deretan pesan pop-up WhatsApp.

Maya lupa mengunci ponselnya saat tadi sibuk beralasan.

Biasanya aku tidak akan pernah menyentuh barang pribadi orang lain. Tapi saat ini, keputusasaan dan rasa penasaran meracuni akal sehatku. Dengan tangan gemetar yang dingin bagai es, aku menggeser ponsel itu mendekat.

Layarnya masih menyala. Ada pop-up dari grup bernama "Bukan Arisan Biasa (4)". Aku yakin itu grup arisan tanpa aku di dalamnya. Siska, Nisa, Rina, dan Maya.

Mataku tertuju pada pesan terakhir yang masuk. Dari Nisa.

Nisa: May, lo jadi ketemuan sama Dewi? Jangan sampai keceplosan loh.

Siska: Iya, awas aja lo. Biarin dia cari tahu sendiri. Kita pura-pura bego aja.

Tanganku semakin bergetar. Dadaku bergemuruh membaca betapa kejinya teman-temanku sendiri. Mereka menganggap kehancuran rumah tanggaku sebagai tontonan.

Ting!

Satu pesan baru masuk lagi ke pop-up. Dari Rina.

Rina: Eh, by the way, si Rara update status WA tuh. Gila ya, makin berani aja pelakor satu ini. Untung nomornya belum gue block dari zaman project itu.

Jantungku berhenti berdetak sesaat. Rara. Nama yang sama persis dengan yang diucapkan Daffa.

Dengan tangan gemetar yang hampir tidak bisa kukontrol, aku menyentuh layar ponsel Maya. Notifikasi itu menghilang, membuka langsung aplikasi WhatsApp ke ruang obrolan grup tersebut.

Layar menunjukkan percakapan mereka. Napas kasarku memburu. Aku menggulir layar sedikit ke atas.

Di sana, Rina baru saja meneruskan (forward) sebuah foto yang ia screenshot dari status WhatsApp wanita bernama Rara itu.

Mataku terpaku pada foto itu. Waktu benar-benar berhenti. Suara grinder kopi, suara musik jazz dari speaker kedai, semuanya hilang. Tersedot ke dalam ruang hampa di kepalaku.

Itu adalah foto sepasang tangan yang saling menggenggam erat di atas meja restoran. Posisinya diambil dari sudut pandang wanita tersebut. Tangan wanita itu lentik, dengan kuku bercat merah maroon.

Namun, bukan tangan wanita itu yang membuat duniaku hancur berkeping-keping.

Tangan laki-laki yang menggenggamnya—tangan yang kokoh dengan urat-urat yang menyembul khas. Tangan itu mengenakan jam tangan silver dengan dial biru navy. Jam tangan edisi terbatas yang aku belikan dengan tabunganku sendiri sebagai hadiah ulang tahun Rizky ke-30.

Lalu, di jari manis tangan laki-laki itu, melingkar sebuah cincin emas putih dengan ukiran garis diagonal kecil. Cincin pernikahan kami.

Di bawah foto itu, ada caption kecil yang ditulis dengan font estetik: "Minggu siang yang sempurna. Makasih buat waktunya, kesayangan. P.S: Makasih juga buat si kecil yang pinter banget nemenin kita makan es krim. 🍓❤️"

Ponsel di tanganku terasa panas seperti bara api. Pandanganku mengabur oleh air mata yang tak terbendung lagi.

Si kecil. Es krim. Minggu siang. Cincin pernikahan. Jam tangan.

Ini bukan lagi sekadar omongan orang. Ini bukan gosip. Ini adalah bukti nyata yang menampar wajahku dengan kekuatan penuh. Suamiku bermesraan dengan wanita lain, membawa darah dagingku, dan dengan bangga membiarkan wanita itu memamerkannya.

"Wi... lo..."

Suara panik Maya terdengar dari arah belakangku. Ia baru saja keluar dari toilet dan melihatku memegang ponselnya.

Aku tidak berbalik. Aku tidak melepaskan pandanganku dari foto itu. Cengkeraman tanganku di tepi meja semakin kuat hingga buku-buku jariku memutih pucat. Sebuah perasaan yang belum pernah aku rasakan seumur hidupku perlahan bangkit dari dasar perutku. Kegelapan yang mencekik, amarah yang membakar.

Duniaku baru saja runtuh, tapi anehnya, aku tidak merasa ingin menjerit. Aku merasa... mematikan.