Hari Minggu pagi biasanya adalah waktu yang paling aku tunggu. Ini adalah satu-satunya hari di mana tidak ada alarm yang berbunyi pukul lima pagi. Tidak ada rutinitas menyetrika kemeja kerja Rizky dengan tergesa-gesa. Kami biasanya akan sarapan agak siang, lalu bermalas-malasan di ruang tengah sementara Daffa menonton kartun.

Tapi pagi ini, sinar matahari yang masuk lewat celah gorden ruang TV terasa menusuk mataku yang perih akibat semalaman terjaga.

Di luar, suara semprotan air dan sikat yang beradu dengan velg mobil terdengar berirama. Rizky sedang mencuci sedan hitamnya di carport. Sesekali kudengar ia bersiul riang, menyanyikan lagu The Beatles. Ia terlihat begitu lepas, begitu ringan tanpa beban. Seolah-olah ancaman dingin yang ia lontarkan kepada ibunya sendiri tadi malam hanyalah halusinasiku belaka.

Aku duduk bersila di atas karpet bulu di ruang tengah, ditemani secangkir teh chamomile yang sudah dingin. Di depanku, Daffa sedang tengkurap dengan setumpuk krayon dan buku gambar tergelar di lantai. Anak laki-laki berusia lima tahun itu sibuk mewarnai gambar pemandangan gunung dengan krayon biru tua.

"Bunda," panggil Daffa tiba-tiba, suaranya kecil dan menggemaskan.

"Iya, Sayang? Kenapa? Krayon birunya patah lagi?" tanyaku dengan suara serak, memaksakan diri memfokuskan pandangan pada anakku.

Daffa menggeleng. Poni rambutnya yang mulai memanjang bergoyang menutupi sebelah matanya. Ia meletakkan krayon biru itu, lalu menopang dagunya dengan kedua tangan kecilnya. Matanya yang bulat—mata yang sangat mirip dengan mata Rizky—menatapku dengan polos.

"Bunda... kenapa Ayah sering pergi sama tante itu?"

Pertanyaan itu terlontar begitu saja. Santai. Polos. Tanpa tedeng aling-aling. Sama seperti saat ia bertanya kenapa langit berwarna biru atau kenapa kucing suka makan ikan.

Tapi bagiku, pertanyaan itu seperti bom berdaya ledak tinggi yang dijatuhkan tepat di tengah ruang tamuku.

Tanganku yang sedang memegang cangkir teh mendadak kaku. Cairan teh di dalamnya sedikit berguncang. Bunyi televisi yang sedang menayangkan kartun Spongebob tiba-tiba terasa senyap, teredam oleh dengungan panjang yang tiba-tiba bersarang di telingaku.

Aku menatap Daffa. Aku berusaha mencari tanda bahwa ia sedang mengarang cerita atau salah mengingat film yang baru saja ia tonton. Tapi wajahnya serius, menungguku memberikan jawaban logis yang biasa ia dapatkan.

Kutarik napas dalam-dalam secara perlahan, berusaha menekan tangan kiriku yang mulai bergetar ke atas paha. Aku tidak boleh terlihat panik di depannya. Aku tidak boleh membuatnya takut.

"Tante... tante siapa, Sayang? Tante Maya temen Bunda?" tanyaku lembut. Suaraku terdengar seperti suara orang lain. Mengambang di udara.

Daffa mengerutkan kening mungilnya, seolah aku baru saja mengucapkan hal bodoh. "Bukan Tante Maya, Bunda. Tante yang rambutnya wangi. Yang rambutnya panjang ikal." Ia membuat gerakan memutar dengan jari telunjuknya di samping kepala, memperagakan bentuk rambut.

Jantungku memukul-mukul rongga dadaku dengan brutal. Aku meletakkan cangkir teh ke atas meja kaca sebelum cangkir itu terjatuh karena tanganku yang semakin gemetar. Aku beringsut mendekati Daffa, menyentuh bahunya dengan lembut.

"Daffa... ketemu tante itu di mana? Kapan main sama Ayah dan tante itu?" tanyaku hati-hati. Aku memaksakan sebuah senyuman, seolah kami sedang membicarakan teman bermain barunya.

Daffa mengubah posisinya menjadi duduk bersila di hadapanku. Ia mengambil krayon merah, mulai mencoret-coret pinggiran kertas gambarnya secara acak.

"Waktu Bunda pergi arisan ke rumah Tante Siska. Kan Ayah ajak Daffa pergi ke mall yang besar banget. Yang ada mainan keretanya," ceritanya dengan lancar.

Itu mall di daerah Senayan. Tempat Maya bilang sepupunya melihat Rizky.

"Oh... ke mall." Tenggorokanku terasa seperti diisi pasir. Kering dan perih. "Terus, tantenya ikut main kereta sama Daffa?"

"Enggak," Daffa menggeleng kuat-kuat. "Tantenya cuma nungguin di luar pagar. Ayah juga. Daffa main kereta sendiri."

"Terus, habis main kereta?" Aku terus memancing, meski setiap kata yang keluar dari mulut mungil anakku seolah mengiris kulitku pelan-pelan.

"Habis itu kita makan es krim. Tantenya beliin Daffa es krim stroberi yang besar! Terus tantenya usap-usap kepala Daffa, bilang Daffa anak pinter." Daffa tersenyum lebar, mengingat momen itu. Ia tampak senang. "Terus... tantenya peluk Ayah dari belakang waktu Ayah bayar es krim."

Peluk Ayah dari belakang.

Dadaku sesak luar biasa. Rasa panas menjalar dari leher naik ke mataku. Aku meremas ujung bajuku kuat-kuat, menancapkan kuku-kukuku ke telapak tangan untuk mengalihkan rasa sakit di dada.

Anakku sendiri. Rizky membawa anakku sendiri untuk menemui perempuan itu. Dia menggunakan waktu di mana aku percaya suamiku sedang menjaga anak kami di rumah, untuk berkencan. Dan dia membuat anak berusia lima tahun ini menjadi saksi bisu perselingkuhannya. Betapa kotor dan teganya laki-laki itu.

"Oh... gitu," gumamku dengan suara bergetar. Air mataku menggenang, tapi aku mendongak dengan cepat, berkedip berkali-kali untuk menahannya agar tidak jatuh. "Tantenya... cantik, Nak?"

Daffa mengangguk antusias. "Cantik! Bibirnya merah kayak Bunda. Terus bajunya wangi banget, kayak bunga." Ia terdiam sejenak, wajahnya menyiratkan kebingungan khas anak-anak. "Bunda... tante itu teman kerja Ayah, ya? Kenapa Ayah pegang tangan tante itu terus waktu jalan ke mobil? Kan Ayah biasanya pegang tangan Bunda."

Pertanyaan terakhir itu akhirnya meruntuhkan pertahananku. Setetes air mata lolos, meluncur melewati pipiku. Cepat-cepat kuhapus dengan punggung tangan, lalu aku tersenyum lebar—senyum paling palsu, paling menyakitkan yang pernah kubuat seumur hidupku.

"Iya... teman kerja Ayah, Sayang. Jalannya kan licin, mungkin Ayah takut tantenya jatuh," jawabku dengan kebohongan yang membuatku muak pada diriku sendiri.

Daffa tampak puas dengan jawaban itu. Ia kembali berbaring tengkurap, melanjutkan mewarnai gunungnya dengan krayon biru. "Daffa suka sama tantenya. Tantenya kasih Daffa mainan mobil-mobilan baru. Kata Ayah, Daffa nggak boleh bilang-bilang Bunda. Mainannya disimpen di laci mobil Ayah."

Dunia di sekelilingku seolah berputar. Nggak boleh bilang-bilang Bunda. Rizky mengajari anaknya berbohong. Mengajari anaknya menyembunyikan bangkai dari ibunya sendiri. Rasa sakit hati yang sejak kemarin bersarang di dadaku kini perlahan berubah. Mendidih. Mengeras menjadi sebuah amarah yang pekat dan gelap.

Aku tidak tahu sudah berapa lama aku mematung menatap punggung kecil anakku. Pikiranku berkecamuk hebat. Membayangkan wanita itu membelai kepala Daffa. Membayangkan wanita itu memeluk suamiku di depan anakku.

"Bunda?" Daffa mendongak, menatapku bingung karena aku tak kunjung bersuara.

Tepat pada detik itu, suara decit pintu kaca geser yang menghubungkan carport dengan ruang tengah terdengar terbuka. Hembusan angin luar membawa bau sabun cuci mobil masuk ke dalam ruangan.

Langkah kaki berat melangkah masuk.

"Wah, anak jagoan Ayah lagi gambar apa nih?"

Suara ceria Rizky menggelegar. Ia berjalan mendekat sambil mengeringkan rambutnya yang sedikit basah karena keringat dengan handuk kecil. Ia memakai kaus oblong putih polos dan celana pendek selutut. Wajahnya berseri-seri, senyumnya hangat.

Rizky berjongkok di samping Daffa, mengacak-acak rambut anak itu dengan penuh kasih sayang. Sama persis dengan sosok ayah idaman yang selama ini aku banggakan di depan teman-temanku.

"Gambar gunung, Yah!" jawab Daffa antusias.

"Keren banget! Besok kita pajang di kulkas ya." Rizky menoleh ke arahku. Matanya melengkung membentuk bulan sabit saat ia tersenyum. "Kamu kenapa diam aja, Yang? Mandi sana gih, mumpung aku udah selesai nyuci mobil. Habis ini kita cari sarapan di luar yuk? Daffa mau makan bubur ayam di depan kompleks nggak?"

Aku menatap wajah suamiku. Wajah yang selama delapan tahun ini kupikir aku kenal luar dalam. Kulitnya yang bersih, rahangnya yang tegas, matanya yang menatapku seolah akulah satu-satunya wanita di dunianya.

Semuanya palsu.

Aku merasakan dadaku bergemuruh. Ada dorongan luar biasa kuat untuk berteriak tepat di depan wajahnya. Untuk menampar wajah tenangnya itu, memecahkan barang-barang di sekitarnya, menuntut penjelasan siapa wanita yang ia bawa ke mall bersama Daffa. Aku ingin menarik kerah bajunya dan bertanya bagaimana bisa ia mengajari anaknya berbohong, membohongiku, membohongi semua orang.

Tanganku mengepal erat di atas pangkuan. Kuku-kukuku menancap tajam hingga telapak tanganku terasa perih. Aku menatap matanya dalam-dalam.

"Ayah..." Suara Daffa memecah ketegangan tak kasatmata di antara kami berdua.

Rizky menunduk menatap anaknya. "Iya, jagoan? Kenapa?"

Daffa meletakkan krayonnya. Dengan wajah polos yang sama seperti saat ia bertanya padaku, Daffa berucap lantang.

"Ayah, kapan kita jalan-jalan sama tante cantik yang wangi itu lagi? Daffa mau es krim stroberi lagi."

Waktu seolah berhenti berdetak.

Gerakan tangan Rizky yang sedang mengusap kepala Daffa mendadak kaku. Senyum lebar di wajahnya membeku seketika, mengeras seperti semen kering. Handuk kecil yang tersampir di bahunya perlahan merosot dan jatuh ke atas karpet.

Matanya yang tadi ceria, kini melebar dalam kepanikan yang tak bisa disembunyikan. Ia menelan ludah dengan susah payah, jakunnya naik turun. Detak jantungnya seakan bisa kudengar menggedor-gedor rongga dadanya sendiri.

Perlahan, sangat perlahan, dengan gerakan yang terlihat patah-patah... Rizky mengangkat wajahnya. Matanya bertemu dengan mataku.

Tidak ada senyum teduh di sana. Tidak ada ketenangan yang biasa ia andalkan. Yang kulihat di sepasang bola mata itu hanyalah ketakutan murni.

Aku tidak berteriak. Aku tidak menangis. Aku hanya duduk diam di sana, membalas tatapannya dengan sorot mata sedingin es. Menunggu kalimat apa yang akan keluar dari mulut pembohong ulung ini.