Wiper mobil bergerak ke kiri dan ke kanan, menyapu rintik gerimis yang mulai membasahi kaca depan. Suara gesekannya berpadu dengan alunan lagu dari radio yang sengaja dinyalakan Rizky. Ia mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di kemudi, mengikuti irama lagu lama milik Sheila On 7, sesekali ikut bersenandung pelan.
"Masih macet aja nih jalanan padahal udah jam tujuh malam," keluh Rizky santai. Ia menoleh ke arahku sekilas, tersenyum. "Kamu kedinginan, Yang? AC-nya aku kecilin, ya."
Tanpa menunggu jawabanku, tangannya terulur memutar knop AC. Perhatian yang sangat kecil, tapi dulu selalu berhasil membuatku merasa diperhatikan. Kini, sentuhannya di dashboard mobil itu hanya membuat perutku melilit.
"Nggak apa-apa, Mas. Nggak terlalu dingin kok," jawabku pelan. Pandanganku lurus ke depan, menatap deretan lampu rem mobil yang memerah di sepanjang jalan.
Di kursi belakang, Daffa sudah tertidur pulas sejak lima belas menit yang lalu, memeluk mainan robotnya. Malam ini adalah jadwal rutin kami makan malam di rumah orang tua Rizky, atau lebih tepatnya, rumah ibunya—Mama Sarah—karena ayah Rizky sudah meninggal tiga tahun lalu. Di sana juga ada Mbak Tari, kakak perempuan Rizky yang belum menikah dan masih tinggal bersama Mama.
Biasanya, kunjungan malam minggu ke rumah mertua adalah hal yang selalu membuatku sedikit tegang. Bukan karena aku membenci mereka, tapi Mama Sarah adalah tipikal ibu mertua yang perfeksionis. Ada saja komentarnya. Mulai dari caraku menyisir rambut Daffa, berat badanku yang menurutnya terlalu kurus untuk ukuran ibu beranak satu, sampai pilihan bajuku yang katanya kurang cerah. Belum lagi Mbak Tari yang ceplas-ceplos dan sering membandingkan masakanku dengan masakan katering langganannya.
Tapi malam ini, aku bahkan tidak peduli apakah lipstikku luntur atau kemejaku kusut. Pikiranku masih tertinggal di percakapan Siska dan Nisa, juga tatapan penuh iba dari Mbak Nita pagi tadi.
"Kamu diam aja dari tadi, Wi. Sakit kepala?" Suara Rizky memecah lamunanku. Tangannya yang bebas dari kemudi kini meraih tangan kiriku, menggenggamnya hangat.
Aku menatap tangannya yang membungkus tanganku. Tangan yang sama yang memakaikan cincin pernikahan di jari manisku delapan tahun lalu. Tangan yang kata Maya, dilihat sepupunya sedang menggandeng wanita lain di Senayan City.
Aku perlahan menarik tanganku dengan alasan ingin membetulkan letak duduk.
"Sedikit, Mas. Kurang tidur kayaknya," alasanku, memaksakan seulas senyum tipis.
Rizky mengangguk maklum. "Nanti sampai rumah Mama, kamu langsung istirahat aja di kamar tamu. Biar Daffa aku yang pegang. Jangan dipaksain kalau emang capek."
Sempurna. Terlalu sempurna. Bagaimana bisa dia berakting sebaik ini jika semua rumor itu benar? Atau jangan-jangan, akulah yang sudah gila karena terlalu memercayai obrolan arisan?
Setengah jam kemudian, mobil kami memasuki pekarangan rumah Mama Sarah yang asri di kawasan Bintaro. Baru saja mesin mobil dimatikan, pintu utama rumah sudah terbuka. Mama Sarah berdiri di teras, mengenakan daster batik kesayangannya, dengan wajah berseri-seri. Mbak Tari mengekor di belakangnya, ikut tersenyum.
Aku turun dari mobil, sementara Rizky menggendong Daffa yang masih setengah terlelap.
"Assalamualaikum, Ma, Mbak," sapaku sambil berjalan mendekat, menyodorkan punggung tangan untuk menyalimi Mama Sarah.
Biasanya, Mama akan mengomel halus. "Aduh Wi, ini anak kok dibiarin tidur di jalan sih? Nanti masuk angin loh." Atau, "Kamu tuh bajunya gelap terus, kayak orang mau takziah."
Namun malam ini, tangan Mama Sarah justru menarik lenganku dengan lembut. Ia tidak hanya menerima salamku, tapi juga menarikku ke dalam pelukan. Pelukannya erat. Sangat erat. Wangi bedak tabur dan minyak kayu putih menguar dari tubuhnya.
"Waalaikumsalam... Ya ampun, Dewi. Kamu kelihatan capek banget, Nak. Masuk, yuk, masuk. Udah Mama masakin ayam bumbu rujak kesukaanmu," ucap Mama dengan suara yang... bergetar?
Aku membeku di dalam pelukannya. Nak? Mama hampir tidak pernah memanggilku 'Nak' kecuali saat hari raya Idul Fitri.
Aku melirik ke arah Mbak Tari dari balik bahu Mama. Mbak Tari yang biasanya menyapaku dengan nada tinggi dan sinis, kini hanya tersenyum canggung. Ia menghindari kontak mataku, malah sibuk mencubit pipi Daffa yang ada di gendongan Rizky.
"I—iya, Ma. Makasih," balasku agak terbata. Aku melepaskan pelukan itu perlahan.
Saat mataku bertemu dengan mata Mama Sarah, aku melihat sesuatu yang aneh. Mata yang sudah dihiasi keriput halus itu tampak berkaca-kaca. Ada tatapan yang sulit kujelaskan. Bukan tatapan mertua yang sedang mengawasi menantunya. Itu adalah tatapan orang yang menyimpan rasa bersalah sangat besar.
"Ayo, langsung ke ruang makan aja. Tari tadi udah angetin sayurnya. Kamu pasti lapar kan, Wi?" Mbak Tari tiba-tiba menimpali, nadanya kelewat ramah. Ia bahkan mengambil alih tas selempang dari bahuku. "Sini tasnya Mbak bawain, kamu cuci tangan aja langsung."
"Eh, nggak usah Mbak, aku bawa sendiri aja—"
"Udah, nggak apa-apa. Sini." Mbak Tari menarik tas itu dengan paksaan yang halus.
Rizky yang sedang menurunkan Daffa ke sofa ruang TV, menoleh. "Tumben nih pada baik banget sama istriku. Ada maunya ya, Ma? Mau minta anterin ke Tanah Abang lagi?" godanya sambil tertawa.
Tawa Rizky menggema di ruangan itu, tapi tidak ada yang ikut tertawa. Senyum Mama Sarah terlihat kaku. Mbak Tari mendadak sibuk merapikan taplak meja makan yang sebenarnya sudah sangat rapi.
"Kamu ini, ngomongnya sembarangan. Namanya sama mantu sendiri, masa nggak boleh baik?" balas Mama Sarah, nadanya sedikit lebih tinggi dari biasanya, seolah mencoba menutupi kegugupannya sendiri. Ia menoleh padaku. "Ayo, Wi. Duduk sini deket Mama."
Aku melangkah ke meja makan dengan perasaan tidak karuan. Ada simpul tegang di perutku yang semakin lama semakin mengeras. Segala sesuatunya terasa salah. Ruang makan ini, makanan yang tersaji, senyum mereka—semuanya terasa seperti pertunjukan teater yang naskahnya baru saja dihafal.
Aku duduk di kursi yang ditunjuk Mama. Piringku sudah diisi nasi. Sebelum aku sempat mengambil lauk, tangan Mama Sarah dengan sigap menyendokkan sepotong dada ayam bumbu rujak yang paling besar dan meletakkannya di piringku.
"Dimakan yang banyak ya, Wi. Kamu tuh badannya makin habis. Kurang gizi apa gimana sih ini anak? Rizky ngasih uang belanja kurang ya?" Mama mengomel, tapi omelannya tidak terasa tajam. Ia terdengar... sedih.
"Cukup kok, Ma. Cuma lagi banyak kegiatan aja di rumah," jawabku sambil tersenyum tertahan. Kuambil sendok dan garpu, memotong kecil daging ayam itu. "Mbak Tari tumben masak ayam bumbu rujak? Biasanya kan bikin ikan pesmol kesukaan Mas Rizky."
Tari yang baru duduk di seberangku, mendadak berhenti menuangkan air ke gelasnya. Airnya nyaris tumpah.
"Oh... itu. Iya, lagi bosen aja pesmol terus. Sekali-sekali ngikutin selera kamu, Wi," jawab Tari cepat. Ia menatap ke arah piring kosongnya sendiri.
"Masakan Mbak Tari selalu enak kok," pujiku mencoba mencairkan suasana.
Tari hanya bergumam pelan sebagai balasan, sama sekali tidak membalas tatapanku. Padahal biasanya, jika dipuji, ia akan dengan bangga menceritakan resep rahasianya panjang lebar.
Acara makan malam itu berlangsung dalam keheningan yang menyiksa. Hanya terdengar denting sendok yang beradu dengan piring porselen. Rizky sesekali membuka obrolan tentang pekerjaannya, yang hanya ditanggapi dengan anggukan singkat oleh Mama dan Tari. Mereka tidak banyak bertanya padaku. Mereka mengisolasiku dalam kebaikan yang mencekik.
Setelah selesai makan, aku berinisiatif mengumpulkan piring-piring kotor.
"Biar aku yang cuci, Ma," ujarku saat Mama Sarah hendak mengambil piring dari tanganku.
"Eh, jangan! Nggak usah, Wi. Biar Mbak Tari aja yang cuci, atau nanti Mama. Kamu temenin Daffa aja di depan, atau nonton TV sama Rizky," cegah Mama panik. Tangannya menahan lenganku.
"Nggak apa-apa, Ma. Cuma piring beberapa biji doang kok. Aku nggak enak kalau datang cuma numpang makan," selaku keras kepala. Aku berjalan menuju wastafel di dapur bersih, meninggalkan Mama yang berdiri mematung di dekat meja makan.
Aku mulai menyabuni piring. Bunyi gemercik air keran mendominasi dapur. Beberapa saat kemudian, aku merasakan kehadiran seseorang di belakangku. Aku menoleh dari balik bahu. Mama Sarah berdiri di sana, jaraknya hanya sekitar satu meter dariku. Ia sedang meremas kedua tangannya sendiri di depan perut, wajahnya gelisah.
"Ma? Kenapa? Ada piring lagi?" tanyaku.
Mama menggeleng pelan. Ia melangkah maju satu tindak. Matanya menatapku lekat-lekat, menyusuri seluruh wajahku. Dadanya naik turun seiring dengan tarikan napas yang berat.
"Wi..." panggilnya. Suaranya nyaris seperti bisikan.
"Iya, Ma?" Aku mematikan keran air. Tanganku yang penuh busa sabun kubiarkan menggantung di atas bak cuci. Perasaan tidak enak kembali menyergapku. Perasaan yang sama saat Mbak Nita menyuruhku sabar di depan pagar rumah.
"Kamu... kamu bahagia kan nikah sama Rizky?"
Pertanyaan itu meluncur begitu saja. Sederhana, tapi nadanya sarat akan beban yang teramat berat.
Aku mengerutkan dahi. "Maksud Mama? Ya bahagia dong, Ma. Mas Rizky suami yang baik, tanggung jawab, sayang banget sama Daffa. Kenapa Mama tiba-tiba nanya gitu?"
Mama Sarah menelan ludah. Mata rentanya mulai memerah. Ia membuka mulutnya, mencoba mengucapkan sesuatu, tapi suaranya seakan tertahan di tenggorokan. Bibirnya bergetar. Tangannya terulur, seolah ingin menyentuh lenganku, tapi kemudian ia menariknya kembali.
"Mama cuma... Mama cuma mau kamu tahu, Wi," suaranya pecah di ujung kalimat. "Apapun yang terjadi, kamu itu anak Mama. Cucu Mama itu Daffa. Nggak akan ada yang bisa gantiin posisi kalian di rumah ini. Nggak akan pernah ada."
Darahku berdesir. Bulu kudukku meremang.
Nggak akan ada yang bisa gantiin? Apapun yang terjadi?
"Ma, ini ada apa sih sebenarnya? Mama mau ngomong sesuatu sama aku?" Aku membalikkan badan sepenuhnya menghadap wanita itu. Aku tidak peduli lagi dengan busa sabun yang menetes ke lantai. Jantungku berdetak liar di dalam rongga dada. "Semua orang hari ini aneh banget. Temen-temen arisan, Mbak Nita tetangga depan rumah, sekarang Mama... ada apa yang aku nggak tahu, Ma?"
Mama Sarah terkesiap saat aku menyebut nama teman arisan dan tetangga. Wajahnya langsung memucat pucat pasi. Ia menatapku dengan panik, matanya bergerak-gerak liar.
"Nggak... nggak ada apa-apa, Wi. Mama cuma kangen aja, ngerasa makin tua, makin mellow—"
"Ma, please," pungkasku pelan tapi tegas. "Aku bukan anak kecil. Kalau ada masalah sama Mas Rizky, tolong kasih tahu aku."
Mama Sarah memejamkan mata, setetes air mata lolos jatuh ke pipinya yang keriput. Ia menarik napas panjang, membuka matanya, dan menatapku dengan tekad bulat. Ia membuka mulutnya.
"Dewi... Rizky itu—"
"Loh, kok malah pada nangis-nangisan di sini?"
Sebuah suara bariton yang santai memotong kalimat Mama. Kami berdua tersentak dan menoleh secara bersamaan.
Rizky berdiri di ambang pintu dapur. Ia bersandar santai di kusen pintu, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana jeans-nya. Wajahnya tenang, senyumnya tetap terpasang sempurna. Tapi matanya—saat matanya menatap Mama Sarah—ada sebuah peringatan tajam yang kilat melintas di sana. Dingin dan menusuk.
Mama Sarah langsung mundur selangkah, menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Ng... nggak, ini Mama kelilipan debu tadi pas beresin meja. Mama mau ambil tisu ke kamar dulu."
Tanpa menatapku atau Rizky lagi, Mama Sarah berjalan cepat melewati kami, menghilang ke arah lorong kamarnya.
Rizky berjalan mendekatiku. Ia meraih handuk kecil yang menggantung di dekat kulkas, lalu meraih tanganku yang masih penuh busa, mengelapnya dengan lembut dan telaten.
"Mama ngomong apa sama kamu?" tanyanya lembut. Terlalu lembut.
Aku menatap bagian atas kepala Rizky yang menunduk mengelap tanganku. Tanganku sedikit gemetar dalam genggamannya.
"Nggak ngomong apa-apa. Cuma nanya aku bahagia atau nggak nikah sama kamu," jawabku, berusaha menjaga nada suaraku senormal mungkin.
Rizky berhenti mengelap. Ia mendongak, menatap lurus ke dalam mataku. Ekspresinya tidak berubah sedikit pun. Tetap teduh. Tetap suami yang aku kenal selama delapan tahun.
"Terus, kamu jawab apa?" tanyanya sambil tersenyum kecil.
"Aku jawab... bahagia."
Senyum Rizky melebar. Ia mencium punggung tanganku yang sudah kering. "Syukurlah. Aku juga bahagia banget sama kamu, Wi."
Ia berbalik mengambil gelas bersih, menekan dispenser untuk mengambil air dingin. Ia meminumnya dalam satu tegukan panjang.
"Aku mau buang air kecil bentar ya, Mas," ujarku beralasan. Aku butuh keluar dari ruangan itu sebelum dadaku meledak karena sesak.
Aku berjalan cepat menuju toilet yang terletak tak jauh dari dapur, dekat lorong kamar Mama Sarah. Aku masuk ke dalam, menutup pintu, tapi tidak menguncinya. Aku menyandarkan telinga ke daun pintu kayu. Jantungku berdetak memburu, menabrak tulang rusuk dengan keras.
Dari celah pintu, aku mendengar langkah kaki berat menyusuri lorong. Itu langkah Rizky. Langkah itu berhenti.
"Ma." Suara Rizky terdengar, tertahan namun sarat akan penekanan. Ia pasti sedang berdiri di depan pintu kamar Mama.
Hening sejenak. Lalu terdengar suara isakan tertahan Mama Sarah dari dalam kamarnya.
"Kamu mau sampai kapan, Ky?" Suara Mama Sarah terdengar bergetar hebat, bercampur dengan tangis. "Mama nggak tega lihat mukanya Dewi. Dia baik banget sama keluarga kita. Dosa, Ky... dosa besar kita nutupin ini semua!"
Napas di tenggorokanku seolah terputus. Tanganku meremas kain dasterku sendiri. Tubuhku terasa dingin dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Mama diam aja. Ini urusan Rizky." Suara Rizky membalas. Tidak ada nada tinggi. Tidak ada bentakan. Suaranya sangat tenang, dingin, dan nyaris datar. Benar-benar menakutkan. "Mama nggak usah ikut campur. Semua aman selama Mama dan Mbak Tari nggak buka mulut. Ngerti kan, Ma?"
Tidak ada jawaban dari Mama selain isakan yang semakin terdengar memilukan.
"Rizky cuma peringatin sekali lagi, Ma. Jangan ada yang coba-coba ngomong ke Dewi. Rizky yang atur semuanya," tegas Rizky sebelum akhirnya terdengar langkah kakinya menjauh dari lorong.
Aku merosot turun hingga duduk di lantai toilet yang dingin. Mataku menatap kosong ke arah ubin putih di depanku.
Semua aman selama mereka tidak buka mulut. Rizky yang atur semuanya.
Bukan hanya arisan. Bukan hanya tetangga. Keluarganya sendiri... darah dagingnya sendiri... bersekongkol menipuku di dalam satu rumah ini. Dan suamiku, laki-laki yang setiap malam memelukku, adalah dalang yang mengancam keluarganya sendiri demi menutupi bangkai yang entah sudah membusuk sejak kapan.
Air mata yang sejak kemarin kutahan, entah mengapa tidak mau keluar. Yang tersisa hanyalah rasa mual yang luar biasa hebat, dan kesadaran mengerikan bahwa aku benar-benar sendirian.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar